
Sekonyong-konyong sebuah tangan halus telah mendarat di pipi Soledad Zevanya yang telah mengatakan hal buruk mengenai Ruby Yolanda istri sah dari Devano Wandani dari arah samping kanan Soledad Zevanya.
Plakk!
Soledad Zevanya kaget setengah mati ketika ia merasakan pipinya amat perih sekali dan ia pun menoleh ke samping kanannya dan menemukan Nyonya besar Wandani lah yang sudah memukul wajahnya.
"Wanita j***** berani sekali kau mengatakan hal buruk mengenai diri cucu menantu ku yang amat mulia! " Bentak Nyonya besar Wandani dengan suara keras kepada Soledad Zevanya.
" Nyo... Nyonya besar Wandani tolong anda jangan tertipu dengan mulut manis dan wajah polos dari cucu menantu mu yang jelas -jelas dia itu mempunyai kebusukan di luar perkiraan anda dan keluarga anda. " Kata Soledad Zevanya yang tetap memegang teguh ucapannya itu mengenai Ruby Yolanda kepada Nyonya besar Wandani.
" Diam kamu atau aku akan memerintah orang ku untuk menyegel mulut kotor mu itu dengan semen..! " Kata Nyonya besar Wandani dengan nada dingin kepada Soledad Zevanya.
" Ya, untuk saat ini saya akan diam tetapi saya akan memberikan bukti kebenaran dari ucapan saya untuk anda dan keluarga anda mengetahui siapa sebenarnya cucu menantu anda yang suci dan mulia itu. " Kata Soledad Zevanya yang tahu bahwa ia harus menahan diri untuk rencananya itu.
" Ouh, aku tidak akan pernah mempercayai orang miskin seperti mu yang biasanya cuma mencari keuntungan dari orang kaya jujur dan polos seperti cucuku yang kau jebak dengan rayuan hina mu sampai kau hamil anaknya agar kamu dapat di akui di keluarga Wandani. Begitukah ide di otakmu itu? Cih, jangan pernah kamu berharap untuk bisa menjadi anggota dalam keluarga besar Wandani. " Kata Nyonya besar Wandani dengan nada dingin kepada Soledad Zevanya.
Soledad Zevanya terpaksa menelan hinaan yang di lontarkan oleh Nyonya besar Wandani pada dirinya itu. Ia segera meninggalkan teras rumah keluarga Wandani untuk kembali ke rumah kecil yang seperti kandang sapi baginya itu.
" Lihat saja nanti aku akan membuat mu melihat kebenarannya dan kamu akan memohon -mohon kepada ku untuk menerima ku sebagai cucu menantu mu yang berkualitas tinggi. " Kata Soledad Zevanya dengan nada sinis seraya jari tangannya mengelus-elus perut yang masih rata itu.
Di dalam kamarnya sendiri, Ruby Yolanda lebih memilih untuk menghabiskan waktunya dengan menyulam sejumlah pakaian untuk anaknya dan dirinya sendiri dari bahan-bahan pakaian yang di belinya dari perusahaan bahan wol, sutra dan lainnya melalui jasa online.
__ADS_1
" Ziko, lihatlah Mama sedang membuatkan mu topi cupluk yang manis untuk kamu pakai di luar rumah di musim gugur yang amat berangin kencang di luar sana. " Kata Ruby Yolanda yang menggoyangkan ranjang bayi Ziko dengan ujung sandal rumahnya yang sangat halus itu.
Semilir angin dari luar jendela kamarnya yang menandakan bahwa musim gugur di tahun ini akan di lewati olehnya dan anaknya di Ibukota Beijing untuk pertama kalinya sebagai seorang menantu di keluarga Wandani.
"Ruby, apakah kamu tak mau membantu kami membuat kue bulan dan dimsum hangat di dapur? " Seorang sepupu dari suaminya telah mendatanginya dengan mengetuk pintu kamar tidurnya dengan cukup lembut.
" Ya, aku mau membantu kalian membuat kue bulan dan dimsum hangat di dapur. " Jawab Ruby Yolanda yang segera menaruh peralatan dan perlengkapan menyulam nya di meja di dekat tempat tidurnya.
Lalu, ia meminta pelayan nya untuk menjaga Ziko di kamarnya sebelum Ia pergi ke dapur bersama dengan sepupu suaminya itu yang di Ketahuil olehnya bernama Amanda Laurencia Wandani.
" Namamu aslinya siapa? " Tanya Ruby Yolanda kepada Amanda sambil membuat adonan kue bulan di dalam baskom di meja dapur.
" Ya, Amanda Laurencia Wandani. " Jawab Amanda Laurencia Wandani dengan nada ramah kepada Ruby Yolanda.
" Oh, namaku Ahui, Ruby. " Jawab Amanda Laurencia Wandani dengan senyuman manisnya kepada Ruby Yolanda.
" Hai, kalau aku Bayu Wandani. " Kata cowok ganteng yang memiringkan wajahnya untuk di lihat oleh Ruby Yolanda seraya mencaplok buah tomat ceri di dalam mangkuk di meja dapur di samping kanan Ruby.
" Oh, salam kenal juga Bayu. Aku baru mengenali mu sekarang ini semenjak dua tahun lebih aku menjadi salah satu dari anggota keluarga besar Wandani ya kau tahu sendiri 'kan karna aku baru kembali dari perjalanan bulan madu ku yang amat menyedihkan itu ke rumah ini. " Kata Ruby Yolanda kepada Bayu Wandani yang selalu mengangguk-angguk mendengarkan setiap perkataannya itu.
Sebuah tangan lain merangkulnya dari belakang dan Ia dengan otomatis menengok untuk melihat siapa yang telah merangkulnya itu dan sebuah ciuman mendarat di bibirnya.
__ADS_1
" Aku akan mengubah bulan madu kedua kita dengan segala sesuatu yang manis dan indah untuk mu sebagai permintaan maaf ku telah merusak bulan madu pertama kita dengan sikap ku yang amat bodoh itu. " Kata Devano Wandani yang membalikkan dirinya dengan cepat lalu tak memberinya kesempatan untuk bicara karena mulutnya telah di bungkam oleh ciuman hangat Devano Wandani.
"... " Gumam Ruby Yolanda yang menatap sengit Devano Wandani yang tak menghentikan ciuman yang semakin lama semakin sesuka hati pria itu terhadap rongga mulut Ruby Yolanda dan juga menggigit lembut leher Ruby Yolanda.
Ruby Yolanda mengambil pisau dari belakang nya dan mengarahkannya kepada Devano yang segera mundur dengan teratur tetapi merampas pisau dapur di tangan Ruby Yolanda dengan sigap sekali lalu melemparkannya ke lantai dapur.
" Jangan menggunakan benda tajam yang amat membahayakan nyawamu mu, sayang. Aku tak kan pernah membiarkan mu dalam bahaya lagi sejak kamu berhasil aku dapatkan kembali. "Kata Devano Wandani yang memanggul Ruby Yolanda di pundak.
" Hei, lepaskan aku....! " Teriak Ruby Yolanda yang di bawa ke kamar tidur oleh Devano yang langsung membaringkan Ruby di tempat tidur nya lalu mulai menjelajahi wajah Ruby Yolanda dengan ciumannya yang menghujani wajah manis Ruby Yolanda.
" Jangan..! Jangan pernah kamu menyentuh aku lagi..! " Ruby Yolanda meronta -ronta di bawah Devano Wandani yang menyelusuri tiap tubuh indahnya di sore menjelang jam makan malam di hari kedua Ruby Yolanda berada di rumah keluarga besar Wandani.
Ruby Yolanda menatap sinis Devano Wandani yang berdiri di tepi tempat tidurnya sambil merapikan kembali pakaian rumah yang baru dari ruang pakaian. Ruby Yolanda menangis kesal kepada Devano Wandani yang telah kembali mendapatkannya lagi di sore hari itu.
" Tak perlu menangis seperti itu kepada ku, sayang. Bukankah kamu menikmatinya juga dan kita ini suami istri ya wajar dong jika kita sering kali berhubungan mesra seperti tadi kita lakukan bersama? " Devano Wandani meraih rahangnya lalu menciumnya dengan penuh gairah sekali.
" Aku baru sadar bahwa kamu sungguh luar biasa manisnya dan indah luar biasa melebihi seluruh wanita yang pernah aku temui loh.Aku Devano Wandani sungguh takluk kepadamu, Cheni. Aku mencintaimu..! " Kata Devano Wandan yang meraihnya kembali dan melakukan hal itu kembali kepadanya.
Soledad Zevanya di rumah kecil di bagian lain di kawasan rumah besar Wandani terlihat amat merana karena wanita ini sangat tersiksa dengan kebenciannya yang semakin besar untuk Ruby Yolanda usai Ia mengetahui dari salah satu sepupu Devano Wandani yang menjadi kolega nya itu memberitahukan nya tentang kemesraan yang terjadi di antara Devano Wandani dan Ruby Yolanda di dapur.
"Sialan sekali tuh wanita yang katanya ia tak suka dan tak cinta kepada Devano Wandani tapi Ia malah terlena dengan sentuhan Devano pada nya.. Ihh dasar munafik..! " Geram Soledad.
__ADS_1
" Aku tahu hatimu panas mendengar hal yang tak menyenangkan itu. Karenanya aku meminta mu untuk bekerjasama dengan ku untuk mengusir Ruby Yolanda dari rumah ini dan hidup Devano Wandani yang seharusnya menjadi milikmu. " Kata sepupunya Devano Wandani yang telah menyusun rencana bersama dengan Soledad di rumah kecil tempat tinggal Soledad Zevanya di kawasan lain di rumah besar Wandani.
Bersambung!