
Sesudah sarapan pagi bersama dengan seluruh anggota keluarga Wandani di ruang makan, baik Ruby Yolanda maupun Devano Wandani. Mereka berdua menepati janji mereka berdua kepada Ziko putra mereka untuk mengantarkan putra mereka ke sekolah.
" Papa dan Mama, Ziko amat senang sekali karena pagi hari ini Papa dan Mama sudah mau mengantarkan aku ke sekolah aku bersama - sama. " Kata Ziko di pangkuan Ruby di dalam mobil limousine keluarga Wandani.
" Iya, nak. Kami juga senang hati mengantarkan kamu ke sekolah kamu. " Kata Devano Wandani di sebelah Ruby dengan nada lembut kepada Ziko putra mereka berdua.
Ziko tidak pernah berhenti mengecup pipi Mama dan Papanya silih berganti untuk kedua orang tuanya itu bisa saling berbicara satu sama lain di dalam mobil keluarga mereka.
"Sayang, apakah kamu pergi untuk menemani aku untuk minum kopi di kafe dekat kantor ku setelah kita mengantarkan Ziko ke sekolahnya? " Devano Wandani membuka percakapan dengan lembut kepada Ruby.
" Hmm, aku masih ada urusan di rumah. " Kata Ruby dengan nada kaku kepada suaminya.
" Zik, lihat tuh Mama mu tak mau menemani Papa minum kopi di kafe dekat kantor Papa..! " Kata Devano Wandani dengan suaranya amat memelas kepada Ziko..
Ziko menatap Mamanya yang meliriik Papanya dengan sengit tetapi Papanya malah mengambil dia dari Mamanya dan menggeser duduknya untuk mendekati Mamanya dan menyuruhnya untuk menutupi kedua matanya.
" Siap, Pa. " Jawab Ziko melalui matanya kepada Papanya yang nyengir lebar untuk memujinya.
" Ziko..! " Kata Ruby yang menatap putranya itu dengan gemas tetapi Devano Wandani malah menciumnya berulang-ulang sampai Ziko turun dari pangkuannya dan pindah tempat duduk ke pengasuh nya di dekat supir.
"Mau apa kamu? " Tanya Ruby yang berusaha untuk menjauhkan diri dari Devano Wandani itu malah di belenggu oleh pelukan satu lengan kuat Devano Wandani di sampingnya.
__ADS_1
Devano Wandani mengabaikan Ruby yang terus menerus bersikap dingin kepadanya, ia tetap berusaha untuk mendapatkan kembali Ruby dan juga hati Ruby yang telah berubah dingin kepada dirinya.
" Hmm, siapakah Richard Evander yang kemarin kamu sebutkan namanya saat aku mencumbu mu? " Tanya Devano Wandani di dalam hatinya sambil menundukkan tatapan matanya kepada Ruby yang tak mau membalasnya.
Mereka tiba di sekolah Ziko dan bersikap seperti sepasang suami-istri yang harmonis dan hangat di hadapan para guru dan wali murid serta para orangtua dari teman-teman sekolah Ziko.
" Wah, lihat Papa dan Mama nya Ziko masih muda sekali dan mereka berdua merupakan pasangan yang ideal sekali dan juga ramah pada orangtua teman-teman sekolahnya Ziko." Kata wali murid dari kelasnya Ziko yang menyapa mereka di pintu kelasnya Ziko.
" Terimakasih untuk Ibu guru yang mengajar Ziko dan teman-teman nya di sekolah juga seorang guru yang baik dan penyayang murid-murid nya. " Kata Devano Wandani yang meminta Ruby untuk membawakan tas sekolahnya Ziko untuk di taruh di loker belakang tempat duduk murid-murid di kelas.
" Sama-sama , Tuan Wandani. Anda sungguh pria yang baik dan suaminya yang sangat memperhatikan istrinya dengan baik serta anda juga seorang Papa yang menyayangi putranya dengan mengantarkan Ziko ke sekolah bersama dengan Nyonya Ruby. " Kata wali murid kelasnya Ziko dengan senyuman kagum kepada Devano.
" Ya, Bu guru. " Kata Devano yang meraih jemari Ruby sesudah berpamitan dengan Ziko untuk bersekolah dengan patuh kepada gurunya.
" Hei..! " Teriak Devano yang berusaha untuk membujuk Ruby untuk menemaninya minum kopi di kafe dekat kantornya.
" Sial...! Kenapa kamu mengabaikan aku? Aku suamimu..! " Devano melampiaskan kemarahan nya itu dengan menendang mobilnya sendiri.
Supirnya menjauh darinya agar tak menjadi tempat pelampiasan amarahnya namun ia tidak meneruskan emisinya karena Ia ingat bahwa ia harus sabar untuk mendapatkan kepercayaan dari Ruby.
" Steve, ayo kita berangkat ke kantor..! " Perintah Devano Wandani akhirnya kepada supirnya.
__ADS_1
" Iya.. Ya, Tuan muda..! " Jawab Steve supirnya dengan wajah tegang dan takut kepadanya.
Di mobil taxi online, Ruby terisak -isak seorang diri teringat peristiwa kemarin sore hingga malam hari kemarin. Dimana ia merasakan sakit karena cinta yang di berikan oleh Devano suami nya sendiri sama sekali tidak semanis yang di pikirkan olehnya.
" Kau mencintai apa, Dev? Kau sama sekali tidak pernah mencintai ku! Karena yang kamu cintai adalah kekuasaan dan harta dari keluarga mu! Aku ini kau jadikan mainan mu saja bukan cinta! Dan, sikap mu ini membuat aku teringat kepada Richard Evander pria yang mencintaiku dengan sepenuh jiwa dan raganya namun aku telah mengabaikan perasaannya untuk kamu yang ku harapkan bisa berubah menjadi seorang yang lebih baik dan mencintaiku seperti aku yang mencintaimu sejak aku kecil. Apakah kamu bisa mengingat masa kecil kita di panti asuhan yang kamu kunjungi bersama dengan keluarga mu? Di depan patung Bunda Maria kamu telah berkata bahwa kamu akan menikah dengan aku ketika aku dewasa dan kamu akan mencintai aku serta menjaga ku dengan sepenuh hati mu..! "
Airmata Ruby mengalir deras bak hujan di dalam mobil taxi online yang mengantarkannya ke museum Istana terlarang untuk dirinya dapat menghibur dirinya di tempat wisata yang amat terkenal di Ibukota Beijing.
" Diriku seperti seorang Permaisuri yang berada di istana dingin di tangan Kaisar yang arogan dan kasar seperti mu, Dev.. Aku berharap di suatu hari nanti aku bisa terbebas dari mu untuk selamanya..!" Kata Ruby yang mencengkram batu kepala singa di depan istana terlarang.
" Kau bebas darinya, Ruby. " Kata seseorang yang muncul di sampingnya di antara keramaian pengunjung di tempat wisata sejarah peradaban Tiongkok dari berbagai dinasti.
Ruby menengok untuk mengetahui orang yang menyapanya itu dan Ia termangu melihat pria yang pernah hadir di kehidupannya di saat Ia mengalami hilang ingatan akibat perbuatan dari Devano Wandani.
" Richard Evander...? "
" Ya, aku datang ke Beijing untuk kamu cinta ku yang harus aku perjuangkan sampai tetes darah penghabisan ku melawan Devano Wandani dan keluarganya. " Jawab Richard Evander dengan senyuman khasnya kepada Ruby.
" Kau ngawur sekali kalau bicara tak pakai logika mu yang jenius..?! " Ucap Ruby kepada Richard Evander dengan tatapan mata menganggap pria ini mencari susah sendiri untuk melawan Devano Wandani.
"Ya, aku ngawur tapi aku punya semangat juang tinggi untuk mendapatkan mu dari Devano Wandani si pria tak layak menjadi suami dan pria mu..! " Kata Richard Evander dengan senyuman yang membuat Ruby sedikit bingung terhadap dirinya sendiri.
__ADS_1
Bersambung!