I 'LL BE THERE FOR YOU

I 'LL BE THERE FOR YOU
Bab 52.


__ADS_3

Angin malam berhembus begitu menusuk tulang membuat sepasang muda dan mudi itu harus berdiri rapat di halte bus di kota Ningbo sebelum mereka berpikir untuk mencari tempat tinggal di kota asing bagi mereka berdua.


" Kau menjauhlah dariku! " Usir Soledad Zevanya kepada Eduardo pria muda yang pergi ke kota Ningbo di luar rencananya. Pasalnya, Soledad Zevanya dan Eduardo sama sekali tidak ada rencana untuk pergi bersama -sama ke kota Ningbo karena mereka seharusnya berada di kota dan negara yang berbeda sesuai amanat atau perintah dari Tuan besar Wandani pria tua renta yang sangat berkuasa itu.


" Kau yang mulai mendekat kepada aku! Maka kamu saja yang pergi jauh -jauh dari aku..!" Balas Eduardo yang mendelik judes kepada Soledad Zevanya.


" Uuh, sombongnya kau ini..! Hush! Hush! Sana jauh -jauhlah dari ku..!!! " Teriak Soledad Zevanya kepada Eduardo seraya berjalan ke arah kanan dari halte bus itu.


" Jehh, gadis sinting dasar..! " Umpat Eduardo yang pergi ke arah kiri dari halte bus.


Eduardo merasa perutnya keroncongan yang membuat dia harus menepi ke warung terdekat di pinggir jalan untuk membeli semangkuk mie instan cup dan sekaleng softdrink di warung itu.


" Ah, akhirnya aku bisa makan dan minum di suasana yang tenang. " Kata Eduardo yang tak banyak bicara lagi langsung melahap makanan sederhana nya itu.


Lalu, datanglah seorang gadis cantik rambut panjang yang menenteng koper dan memesan makanan dan minuman yang sama dengan makanan dan minumannya.


" Ya, Pa. Aku lagi bersama dengan Ren Hai pacar aku yang paling manis sedunia. "Kata gadis cantik itu yang mengobrol di HP dengan pria tua yang di panggil Papa oleh gadis itu.


Eduardo mendengarkan percakapan mereka dengan asyik sendiri. Lalu, Eduardo melirik ke gadis cantik itu yang ternyata menangis sedih sekali usai berbicara dengan Papa gadis itu.


" Papa, maafkan aku yang sudah berdusta padamu dengan bilang Ren Hai adalah pria paling manis sedunia bagi ku tetapi kenyataan yang harus aku terima adalah pria itu telah diam -diam menikah dengan gadis lain dan telah meninggalkan aku seperti kertas tisunya saja. " Kata gadis itu menangis pilu.

__ADS_1


" Nona, kau mabuk ya? " Tanya Eduardo kepada gadis itu.


" Aku tak mabuk, tahu..! Ah, kepala aku pusing..! "Kata gadis itu yang sempoyongan dan jatuh ke pangkuan Eduardo.


" Ei, jangan kamu mencari kesempatan dalam kesempitan dengan wanita lain ya??? " Suara teriakan Soledad Zevanya mengejutkan Eduardo.


" Loh kok kamu menyusul aku ke sini??? " Ucap Eduardo yang di tarik Soledad Zevanya dari sisi gadis cantik yang sedang mabuk itu sampai gadis itu jatuh dari bangku dengan posisi nyungsep ke bawah bangku.


" Heii, dia nyaris jatuh tuh..?! " Kata Eduardo yang terus saja di ajak Soledad Zevanya pergi dari warung itu tanpa memperdulikan gadis cantik asing itu.


" Biarin saja dia bukan siapa-siapa kamu 'kan? " Tanya Soledad Zevanya kepada Eduardo yang di belakangnya.


" Aku Mama dari bayi yang aku kandung saat ini dan bayi itu adalah anakmu, Eduardo..! Maka, Aku ini calon istrimu. " Jawab Soledad Zevanya yang menangis sedih di depan Eduardo dengan tetap membelakangi pria itu.


" Oh, Soledad bukankah kamu bilang bahwa kamu tak mau aku sebagai lelaki mu karena kamu inginnya Devano Wandani untuk menjadi lelaki mu?" Tanya Eduardo kepada Soledad Zevanya yang terlihat sempoyongan di depan sepasang matanya dan nyaris jatuh ke aspal jika tak ada Eduardo yang menangkapnya dengan tepat waktu.


" Hei, Soledad. Kamu tak apa -apa? " Tanya Eduardo kepada Soledad Zevanya dengan nada cemas.


Lalu, Eduardo menggendong Soledad Zevanya sambil memanggul tas besar Soledad Zevanya dan menyeret kopernya juga sebelum berjalan ke arah timur kota Ningbo.


******

__ADS_1


Richard Evander merapikan rambut panjang dari Sonya Wandani istrinya yang tersenyum manis di pelukannya. Mereka berdua menghabiskan waktu bersama di salah satu hotel di ibukota Beijing usai Sonya Wandani di usir dari rumah keluarga Wandani karena gadis itu memilih untuk menikah dengan Richard Evander yang di nilai derajatnya jauh di bawah keluarga Wandani.


" Richard, terimakasih untuk cinta kamu yang tulus kepada aku dengan menerima aku yang berpenyakitan ini menjadi istri mu." Kata Sonya Wandani yang menatap dagu kekar Richard Evander.


" Seharusnya aku yang harus berterimakasih kepada mu, Sonya. Kamu memilih seorang pria yang kelasnya di bawah kamu untuk menjadi suami mu dan pria mu. " Kata Richard Evander yang menahan kepedihan hatinya sendiri.


" Ric, aku sekarang ini menjadi milik mu.Apakah kamu masih belum ingin memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani ku sebagai istrimu? " Tanya Sonya Wandani yang tibatiba menginginkan Richard Evander untuk melakukan tugasnya sebagai seorang suami terhadap istrinya yang sah.


" Aku masih lelah untuk berhubungan badan dengan mu, Sonya. Lagipula kamu sedang masa pemulihan pasca menjalani operasi di kepala mu dan juga kemoterapi yang menjadi rutinitas mu untuk penyakit mu bisa di hilangkan dari kepala mu. " Jawab Richard Evander yang mencari alasan yang tepat untuk menghindari keinginan istrinya itu. Karena Ia masih menyimpan rasa cinta yang dalam kepada Ruby Yolanda isteri dari Kakak tiri Sonya Wandani yakin Devano Wandani.


" Hmm, baiklah. Kita akan menundanya sampai batas tiga bulan masa pemulihan ku selesai. " Kata Sonya Wandani yang akhirnya mengerti suaminya.


" Maaf, Sonya. Aku masih belum bisa memiliki cinta di hatiku untuk kamu karena seluruh hati dan cinta aku sepenuhnya telah aku berikan pada Ruby Yolanda gadis pertama yang telah hadir di dalam hatiku yang kosong. " Batin Richard Evander sambil memeluk Sonya Wandani di ranjang namun pikirannya itu ada pada seorang Ruby Yolanda.


Kenangan indah pertama kali Richard Evander berjumpa dengan Ruby Yolanda di perairan laut Inchidoney, Irlandia Utara. Dan, kenangan itu selalu membekas di hati Richard Evander sampai hari dimana Ia menikah dengan seorang Ruby Yolanda yang saat itu sedang mengalami hilang ingatan pasca koma hampir setahun lebih di rumah sakit cherry orchard, Dublin.


"Aku sejak saat itu telah jatuh ke jurang yang paling dalam di dasar sekali sampai aku tak pernah bisa melupakannya. " Batin Richard Evander.


Pria itu memandang kosong langit-langit kamar hotelnya sambil memeluk Sonya Wandani yang tertidur pulas di pelukannya. Lalu, Ia meraih HP di atas meja kecil di samping kanan ranjang hotel dan menghubungi seseorang di luar sana sebelum Ia membaringkan Sonya Wandani di posisi yang benar di sisi lain ranjang dan turun dari ranjang untuk berbicara dengan nada pelan kepada temannya di luar sana.


Bersambung!

__ADS_1


__ADS_2