I 'LL BE THERE FOR YOU

I 'LL BE THERE FOR YOU
Bab 44.


__ADS_3

" Ya, Ahma. Cheni akan mendengarkan pesan dan saran Ahma untuk bekal Cheni di Kota Xiamen untuk kunjungan ke panti jompo yayasan sosial keluarga Wandani sebagai wakil Ahma. "


Ruby menjawab semua arahan dari Nyonya besar Wandani untuk bekal perjalanannya ke kota Xiamen yang akan dilakukannya pada akhir pekan kedua kedatangannya di rumah keluarga Wandani.


Jemarinya di remas lembut oleh suaminya yang tersenyum dan berdiri untuk mengajaknya pergi mengantarkan putra mereka pergi ke sekolah usai sarapan pagi mereka bersama dengan para anggota keluarga Wandani.


" Ruby, ingat hari ini aku akan pulang kerja jam lima sore dan kamu siap untuk menemani aku ke sebuah acara perjamuan penting dengan klien ku pada malam hari ini ya? " Devano Wandani mengecup dahinya sebelum berangkat kerja.


" Ya, suamiku. " Jawab Ruby tersenyum manis untuk suaminya di hadapan seluruh keluarga Wandani di ruang makan.


Ziko melompat ke pelukan Devano Wandani yang langsung menggendong anak itu untuk di bawa ke mobilnya yang terparkir di depan pintu utama oleh supirnya.


" Sayang, mari kamu masuk dan duduk di samping aku dan Ziko." Kata Devano Wandani menepuk-nepuk jok mobil di sampingnya untuk Ruby.


Ruby masuk dan duduk di samping Devano Wandani yang langsung merangkul pinggang kecil Ruby dengan senyuman khasnya yang seakan-akan dunia ini miliknya.


Di rumah kecil. Soledad memegangi perutnya yang kram karena pikirannya yang sibuk dengan mencari cara untuk memisahkan Ruby Yolanda dengan Devano Wandani pria yang diinginkan olehnya itu.


" Auw..! Sayang, kamu tak boleh nakal sama Mamamu di usia mu yang masih terlalu kecil di perut Mama...! " Kata Soledad yang mengelus- elus bagian bawah perutnya yang agak keras itu.


" Kamu harus melakukan cek konsultasi untuk mengetahui janin di perutmu itu, Soledad. " Kata Eduardo Wandani yang melompat menubruk nya di ranjang.


" Apaan sih kamu ini? Pergi sana! Jangan sampai orang-orang di sini ngeliat kamu ada di rumah ku! Aku bisa di usir dari rumah ini dan aku takkan pernah bertemu dengan Devano Wandani lagi ayah kandung dari janin ku ini..! " Soledad mengusir pria yang pernah meniduri dirinya itu.

__ADS_1


"Aku masih sangsi dengan janin mu itu, Soledad. Apakah kamu yakin bahwa janin mu itu adalah anaknya Devano Wandani? " Eduardo Wandani malah merengkuh Soledad di depan pintu rumah kecil dan tangan pria ini sudah masuk ke dalam kaos yang di pakai oleh Soledad.


" Aahh! Jangan sentuh aku..!" Soledad menepis tangan pria yang meraba-raba sepasang gunung kembar di balik kaos nya itu.


" Ah, kamu jangan menolak ku..! Aku ini calon ayah sambung untuk janin mu itu..! " Kata Eduardo Wandani yang meraba bagian lain di tubuh Soledad.


" Ayah sambung? Katamu! Ouh, aku tak sudi memilih kamu sebagai ayah sambung calon buah hatiku dengan Devano Wandani karena Ia masih mempunyai seorang papa yang sehat dan sukses serta luar biasa hebatnya daripada kamu si pria pecundang..! " Kata Soledad dengan nada kasar seraya menendang Eduardo Wandani keluar dari rumah kecilnya.


Lirikan matanya terarah kepada Devano Wandani yang membukakan pintu mobil untuk Ruby dan Ziko di depan pintu utama rumah keluarga Wandani. Ia menjadi geram dan membanting pintu rumah kecil lalu melemparkan barang di rumah itu untuk mengusir rasa kesalnya melihat Devano Wandani begitu mesra terhadap Ruby.


" Seharusnya aku yang kamu perlakukan dengan lembut dan penuh cinta, Dev.. Aku ini istrimu yang layak kamu perlakukan dengan semestinya seperti yang kamu lakukan terhadap si wanita **** Ruby..! " Kata Soledad dengan wajahnya itu penuh kebencian terhadap Ruby Yolanda.


Pintu mobil terbuka untuk Ziko yang akan di antarkan ke kelasnya oleh Ruby Yolanda mama nya. Anak ini berpamitan dengan Devano papa nya dengan kecupan hangat di kedua pipinya dari papanya sebelum mobil papanya melaju keluar dari lingkungan sekolahnya.


" Ya, Mama. Pasti..! " Jawab Ziko lantang kepada Ruby Yolanda yang mengecup dahinya sebelum anak itu masuk ke kelasnya dan mengikuti pelajaran di sekolahnya.


Ruby Yolanda meninggalkan kelas Ziko untuk pergi ke sebuah butik yang jaraknya tak begitu jauh dari sekolahnya Ziko. Ia ingin sekali membeli pakaian baru untuk hadiah ulang tahun Mamanya dan di butik itulah Ia menyukai salah satu produk pakaian yang di sukainya.


" Hai, Nyonya muda silakan Anda pilih pakaian apa yang Anda inginkan dari butik kami? " Sapa pemilik butik dengan ramah kepada Ruby.


" Baik, aku ingin lihat-lihat dahulu semua koleksi pakaian di butik mu ini sebelum aku berminat untuk membelinya. " Jawab Ruby Yolanda nada ramah kepada pemilik butik. Ia berkeliling butik sampai berjumpa dengan seorang wanita muda sebayanya yang juga ingin membeli dres yang di minati olehnya.


" Aku yang lebih dahulu mengambilnya untuk fashion aku di akhir pekan ini. " Kata wanita itu kepada Ruby Yolanda dengan tangannya sudah memegangi dres yang di inginkan oleh Ruby.

__ADS_1


" Ouh, oke.. Silakan. " Jawab Ruby Yolanda yang mengalah untuk memilih dres yang lainnya dan Ia memilih sebuah dres yang menurutnya cocok untuk Mamanya.


" Harganya sekitar dua ribu RMB. " Kata wanita itu dengan sepasang matanya melotot melihat dres pilihan Ruby Yolanda.


" Ya, memangnya kenapa?" Tanya Ruby Yolanda dengan senyuman cerah kepada wanita itu.


" Sangat mahal! Apakah kamu bisa membayar pakaian itu dengan penampilan mu yang sangat biasa -biasa saja seperti wanita kampungan..? " Wanita itu merendahkan Ruby Yolanda yang di nilainya tak sanggup membeli dres yang harganya mahal itu.


Seseorang mengambil dres di tangan Ruby dan melemparkan dres itu ke tempat sampah yang berada di depan butik sampai pemilik butik kaget setengah mati.


" Tu.. Tuan..? Anda! "


Devano Wandani mengeluarkan kartunya lalu menarik tangan Ruby Yolanda meninggalkan butik itu.


" Heii? "


" Butik sampah itu bukan level seorang Wandani lihatlah wanita sampah itu sampai meremehkan dirimu. " Kata Devano Wandani yang mengajak Ruby Yolanda ke sebuah perusahaan pakaian ternama di pusat Ibukota Beijing.


Di sana, semua orang membungkukan badannya begitu Devano Wandani masuk ke perusahaan tersebut dan pemilik perusahaannya pun dengan wajah penuh keringat dingin melihat kedatangan Devano Wandani ke perusahaannya.


" Yun Ki, buatkan satu pakaian untuk wanita usia lima puluh tahun yang elegan. " Perintah Devano Wandani kepada YunKi pemilik perusahaan pakaian ternama.


" Baik, Tuan Muda. Saya akan buatkan satu buah pakaian yang Anda inginkan." Jawab YunKi pemilik perusahaan pakaian ternama itu kepada Devano Wandani yang duduk santai di sofa di ruang kerjanya sambil merangkul Ruby Yolanda yang terperangah dengan sikap arogan dari suaminya itu.

__ADS_1


Bersambung!


__ADS_2