I Love You, Tuan Muda.

I Love You, Tuan Muda.
Part 6


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Setelah perdebatan antara Firanda, Ayah nya dan juga kakek nya, akhir nya Firanda lah orang yang menang di perdebatan itu.


Saat ini Firanda tinggal di apartemen bekas Ayah nya dulu, dia tidak tinggal sendiri di apartemen itu. Seperti perjanjian satu minggu yang lalu, Firanda saat ini di temani oleh seorang pembantu yang memang sudah lama bekerja di keluarga besar Mahendra.


Hari ini rencana nya Firanda akan melamar pekerjaan di perusahaan perusahaan terbesar yang ada di Kanada. Firanda memutus kan untuk menutupi jati diri nya dari semua orang, dia tidak ingin semua orang tau kalau dia adalah Cucu dari Mahendra, seorang pengusaha terbesar dan terkenal di dunia.


"Apa semua nya sudah kau siapkan Firanda?" tanya Ayah Firanda.


Sebenarnya Ayah Firanda sudah kembali ke Indonesia tiga hari yang lalu, tapi saat mendengar kabar bahwa anak nya akan melamar pekerjaan, dia memutus kan untuk kembali ke Kanada untuk menemani anak nya melamar. Padahal Firanda sudah menolak nya, tapi Ayah Firanda tetap kukuh ingin menemani Firanda melamar pekerjaan. Akhir ny Firanda pun hanya bisa pasrah dan mengizinkan Ayah nya ikut dengan nya.


"Sudah Ayah." balas Firanda sambil berteriak, karena saat ini dia sedang berada di dalam kamar nya untuk mengganti pakaian. Sedangkan Ayah nya sedang duduk di ruang TV sendirian, karena saat ini pembantu yang menemani Firanda sedang pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan sehari hari.


Tak lama Firanda pun datang dengan pakaian formal nya, dan rambut yang di kuncir kuda.


"Ayo kita berangkat." ujar Firanda pada Ayah nya yang sibuk memainkan ponsel nya.


"Sudah selesai semua nya?" tanya Ayah nya sambil berdiri dari duduk nya dan memasuk kan ponsel milik nya ke dalam saku celana panjang nya.


"Sudah." jawab Firanda.


Mereka pun akhir nya keluar dari apartemen dan pergi menuju perusahaan yang akan Firanda lamar.


Sesampai nya di perusahaan yang di tuju, Firanda dan Ayahnya pun melangkah masuk menuju meja resepsionis.


"Selamat siang tuan dan nyonya." sapa resepsionis itu dengan ramah menyambut kedatangan Firanda.

__ADS_1


"Selamat siang juga. Apa kami bisa bertemu dengan Boss anda nyonya?" tanya Firanda pada resepsionis itu.


"Apa anda sudah membuat janji sebelumnya?" tanya resepsionis itu masih dengan nada bicara yang sopan dan ramah.


"Ya saya sudah membuat janji dengan Boss anda." balas Firanda.


Resepsionis itu pun mengangguk dan mengambil gagang telpon untuk menelpon asisten Boss nya dan memberitahu bahwa di bawah ada tamu. Setelah mendapat izin resepsionis itu membawa Firanda dan Ayah nya menuju lantai paling atas di mana hanya ada ruangan Boss nya, Asisten dan juga Sekertaris nya saja.


Sesampainya di lantai paling atas, resepsionis itu pergi setelah mengantarkan Firanda dan Ayah nya ke ruangan sang Ceo.


"Selamat siang Tuan." sapa Firanda dan Ayah nya dengan ramah.


"Selamat siang, silahkan duduk." balas sang Ceo itu dengan mempersilahkan tamu nya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan nya.


"Saya dan Ayah saya tidak akan basa basi. Kami ke sini untuk melamar pekerjaan seperti yang perusahaan ini sediakan, dan ini berkas berkas sebagai persyaratan nya." ucap Firanda dengan menyerahkan berkas berkas yang dia bawa tadi kepada sang Ceo.


Sang Ceo pun mengambil berkas berkas itu dan mulai membaca nya dengan teliti. Setelah selesai dia pun menyimpan berkas itu di atas meja yang ada di hadapan nya.


Sedangkan Firanda dan Ayah nya hanya mengangguk saja pertanda mengerti.


"Baiklah kalau begitu kami permisi Tuan, senang bisa bertemu dengan anda. Dan saya harap bila kita bertemu kembali, ada kabar baik." ucap Firanda sebelum pergi.


"Ya, saya juga senang bertemu dengan kalian. Dan semoga saja minggu depan kabar baik itu berpihak pada anda nyonya." balas sang Ceo itu dengan suara tegas nya.


Setelah berpamitan Firanda dan Ayah nya pun pergi meninggal kan perusahaan itu dan pergi menuju masion Mahendra.


"Apa kau yakin dengan keputusan mu itu Firanda?" tanya Ayah nya sambil fokus pada kemudi nya, karena saat ini dia sedang berada di dalam mobil.

__ADS_1


"Apa maksud Ayah? Apa di wajah ku terlihat bahwa aku menyesal dengan keputusan ku?" ucap Firanda berbalik tanya pada Ayah nya.


"Bukan begitu maksud Ayah Firanda, Ayah hanya khawatir jika kamu bekerja di perusahaan itu." ungkap Ayah nya.


"Apa yang Ayah khawatir kan?" tanya Firanda lagi


"Ayah hanya khawatir jika kamu bekerja di sana, kamu akan tertekan." ucap Ayah nya membuat Firanda menyerit heran menatap sang Ayah.


"Memang nya apa yang membuat Ayah berfikiran kalau aku akan tertekan jika bekerja di perusahaan itu?"


"Di lihat dari sikap laki laki itu, membuat Ayah takut kalau nanti kau akan tertekan." ucap Ayah nya.


"Ayah jangan khawatir, aku bisa menjaga diri ku sendiri nanti di sana." ucap Firanda menenangkan sang Ayah.


"Ya Ayah percaya pada mu." balas Ayah nya sambil melirik sekilas pada putri nya dan kembali fokus dengan kemudi nya.


Akhirnya mobil yang di kendarai oleh Ayah Firanda pun sampai di kediaman keluarga Mahendra. Mereka pun melangkah masuk dan di sambut hangat oleh Tuan besar keluarga Mahendra, siapa lagi kalau bukan dan tak lain adalah kakek nya Firanda.


"Kita baru bertemu satu hari, tapi kau memutuskan untuk pergi kembali." ucap kakek Firanda pada cucu nya.


"Mau bagaimana lagi Opah, aku hanya ingin mandiri dan tidak ingin bergantungan pada kalian." balas Firanda.


"Tapi tidak dengan bekerja nak." balas Kakek nya.


"Aku ingin bekerja bukan karena untuk mencukupi kebutuhan ku Opah, tapi aku bekerja untuk mengisi waktu luang. Jika aku tidak bekerja, maka aku akan jadi orang malas. Oleh sebab itu aku memutus kan untuk mencari pekerjaan agar diri ku tidak malas." ucap Firanda terus saja beralasan.


"Kau ini memang seperti Nenek mu sekali." ucap Kakek nya dengan menggelengkan kepala nya tak habis fikir dengan alasan cucu nya itu.

__ADS_1


Sedangkan Ayah Firanda hanya tersenyum saja saat mendengar perdebatan antara Ayah nya dan juga anak nya yang selalu membahas tentang pekerjaan.


"Memang nya Nenek ku seperti apa?" tanya Firanda membuat Ayah dan Kakek nya menyurutkan senyuman nya.


__ADS_2