
Diandra melipat kedua tangannya. "Apaan?" ucap Diandra ketus.
"Kakak minta maaf," Rasyad dan Rasyid satu sama lain menunduk.
"Gini ya, gampang amat tuh ngomong. Enteng kek nggak ada beban sama sekali. Capek gua hadapin sikap kalian nih. Masa adek nya yang beda tiga tahun kudu nasihat in kakak nya? Nggak lucu weh!" ucap Diandra ketus.
"K-kita nggak bermaksud gitu, dek."
Diandra menendang meja yang ada di hadapan nya.
"Astaghfirullah, meja kayu jati di tendang ke geser." batin Dean.
Dean emang di situ, karena di suruh sama calon kakak ipar.
"Kita tau kamu kesepian," ucap Rasyid dan Rasyad.
Diandra gebrak meja, "Ya kalo tau gua kesepian, kenapa elu berdua kagak balik hah!? Gua sendirian dari kelas 4 SD. Kalian ikut ayah, sedangkan gua? Apaan! kagak ada! Setelah mamah meninggal karena bunuh diri, gua kesepian kak!" ucap Diandra dengan mata yang memerah.
"Kalian dengan seenak nya, malah bilang gua nggak sopan santun, nggak ada etika, belagu! Heh, kalian sendiri yang buat gua menganggap kalian orang asing!"
"Kalian sendiri! Tapi, kenapa gua yang selalu salah? Kenapa hah, kenapa setiap gua mau seneng-seneng tapi selalu salah lah?"
Rasyid mendongak, "Dek, tapi kamu bisa kan maafin kita?"
Diandra terkekeh sinis, "Bisa aja sih gua. Tapi, hati gua udah keburu benci sama kalian semua."
Rasyad mendongak, mata nya memerah. "Kenapa nggak mau maafin kita?"
Diandra menendang meja lagi, "Buat apaan di maafin kalo kalian nya aja masih ngulang kesalahan yang sama?" tanya Diandra penuh penekanan.
"Astaghfirullah, galak." batin Dean.
Diandra menatap kedua kakak nya, "Lu berdua kakak gua kan?"
__ADS_1
Rasyad dan Rasyid mengangguk.
Diandra bangkit, dan langsung menendang meja lagi. "KALO LU BERDUA KAKAK GUA, KENAPA KAGAK BANTU GUA WAKTU GUA SUSAH HAH!?"
Dean ikutan bangkit, "Diandra, sabar." bisik Dean.
Diandra tak menggubris bisikan Dean.
"Jan ganggu, gua mau sendiri." ucap Diandra lalu keluar.
Saat keluar unit, tak sengaja mata Diandra menangkap seorang gadis yang berdiri di depan pintu unit Dean.
"Bodoamat, sepupu nya kali." batin Diandra.
"Oh jadi dia yang punya unit sebelah sekaligus pemilik gedung apart," batin Caca.
Tiba-tiba, Dean keluar dari unit Diandra.
"Astaghfirullah," ucap Dean.
Caca bertanya, "Lu ngapain di unit pemilik gedung apart bang?"
"Nanti gua jelasin, masuk dulu, Ca." jawab Dean.
...***...
"Jadi, gimana elu bisa masuk ke unit pemilik gedung apart bang?" tanya Caca.
Caca mengambil minum nya.
"Jadi, dia tuh calon istri gua, nah, dia ada masalah sama kakak nya. Gua bisa di situ karena gua di suruh sama kakak nya buat di situ." jawab Dean.
Caca langsung tersedak karena jawaban dari Dean. "What the hek!?" pekik Caca.
__ADS_1
Dean menutup telinga nya, "Astaghfirullah, nyaring amat ya."
Caca masih menganga, "Kek apaan orang nya?"
Dean mengerutkan kening nya, "Emang lu tadi nggak ngeliat dia keluar dari unit sebelah?"
"Liat, tapi sekilas aja. Muka nya merah, matanya merah terus sembab juga." jawab Caca.
Dean menyeletuk, "Dia tadi tendang meja kayu jati loh,"
Caca langsung mangap lagi, "What the...?"
Dean terkekeh, "Dahan ah, gua mau tidur bye Caca permen,"
Caca berdecak. "Kambing," umpat Caca.
...***...
Diandra berjalan ke resepsionis, "Mbak," panggil Diandra dengan suara serak nya.
"I-iya kenapa bu?"
Diandra menunjukkan foto kedua kakak nya, "Mereka kakak saya. Tolong usir mereka, unit saya di 403." ucap Diandra.
Resepsionis itu mengangguk, "403, ibu pemilik gedung ya?"
Diandra mengangguk, "Tolong usir mereka, tapi jangan bilang kalo saya yang nyuruh."
"Baik bu,"
Diandra mengangguk. Lalu pergi.
...***...
__ADS_1