
Atap Sekolah
Diandra menundukkan kepala nya, air mata nya berjatuhan satu persatu. Diandra tersenyum miris. "Gini amat ya," gumam Diandra sambil terkekeh.
Diandra naik ke pembatas atap sekolah, walaupun ia phobia ketinggian, ia sedikit berani.
"Diandra!!!" Suara pekikan itu membuat Diandra terdiam, dan menoleh kebelakang.
Jessica, Lea, Diva, Dean, Leri, dan Roy. Diandra menatap Lea dkk. dan Dean dkk. dengan datar.
Jessica memekik, "Diandra!!! Jangan bunuh diri lu sendiri!!"
"GUA CAPEK!!" teriak Diandra.
Lea menatap Diandra, "Diandra inget!! Mamah lu meninggal karena bunuh diri, dan sekarang lu mau contoh hah?!" tanya Lea.
Air mata Diandra kembali jatuh dengan deras.
Dean hendak maju selangkah.
"Maju selangkah, gua jatoh in diri sendiri!" ucap Diandra.
Diva berteriak, "Diandra!! Inget kita!! Kita yang bikin hari-hari lu jadi berwarna!! Kita yang bikin lu bahagia! Kita yang bikin lu senyum! Kita yang bikin lu ketawa! DAN LU MAU BUNUH DIRI HAH!?"
Diandra menggeleng, "NGGAK, JANGAN BENTAK ARGH!"
Dean berujar, "Diandra, istighfar! Nyebut lu!!!"
Diandra terdiam. Diandra memegangi kepala nya yang pusing.
Diandra mulai oleng. Dengan cepat, mereka semua langsung berlari kearah Diandra. Beruntung, Diandra oleng ke sisi depan (arah sahabat nya) dari pada oleng ke belakang (arah jatoh).
...***...
- Rumah Sakit
Jessica, Lea, dan Diva dengan setia menunggu Diandra sadar dari pingsan nya. Sudah dari jam 09.40. sampe 18.00. Diandra masih belum sadar.
Jessica mengacak-acak rambut nya, "Ck, Diandra napa bisa ada pikiran buat bunuh diri sih, astaghfirullah." ucap Jessica.
__ADS_1
"Dia depresi dari kecil, Jess. Makanya dia pengen bunuh diri." jawab Lea.
Ketiga nya menghela napas.
Ceklek..
Sontak, mereka bertiga langsung menoleh ke arah pintu.
"Lah? Ngapain lu?" tanya Jessica.
Dean dkk. berdecak, "Heh oncom. Balik gih. Dah hampir malem, nanti di cariin ortu." ucap Leri dan Roy.
"Dian belum sadar,"
Jessica mengangguk setuju, "Lagi pula ortu gua masih di luar negri urusin kerjaan,"
"Ortu gua juga sama," tambah Lea dan Diva.
"Terserah sih," balas ketiga nya.
...***...
Diandra menggerakkan jari nya satu-persatu. Lantas, Jessica yang sendirian di sendirian di ruangan langsung melotot kaget.
Jessica tersenyum, "Lu udah sadar?"
Diandra mengangguk, lalu menoleh ke kanan ke kiri. "G-gua d-dimana?" tanya Diandra.
"Lu di rumah sakit, karena lu pingsan lama banget." jawab Jessica.
"Yang lain?" tanya Diandra.
"Lea ke toilet, Diva temenin Lea, Dean sama Leri nyari makanan, terus si Roy juga ke toilet, jagain si Lea Diva." jawab Jessica.
Diandra mangut-mangut.
"Lu mau minum? makan?" tanya Jessica.
"Minum aja," jawab Diandra.
Jessica langsung memberikan air ke Diandra, setelah minum air. Diandra pun memanggil Jessica.
"Jess,"
Jessica menoleh, "Ya, kenapa?"
__ADS_1
"Mereka kenapa belum balik?" tanya Diandra.
"Mereka mah kebiasaan, lama." jawab Jessica.
Diandra menggeleng, "Bukan,"
Jessica bertanya, "Saha?" tanya Jessica.
(Siapa).
"Kakak gua," jawab Diandra.
Jessica bungkam. "G-gua nggak tau," balas Jessica.
"Mau gue telpon?" tanya Jessica.
Diandra terbelalak, "N-nggak usah, Jess. Nanti aja." jawab Diandra.
Jessica mengangguk. "Woy, Yandra." panggil Jessica.
*Yandra: panggilan sayang dari sahabat nya Diandra.
Diandra mengangkat sebelah alis nya.
Jessica menuju Diandra, lalu memeluk Diandra. "Heh oncom! Lu kok ada pikiran sih buat bunuh diri sih? Gua gatak bener lu sekali lagi bener!"
Diandra tersenyum, lalu mengangkat kepala Jessica. "Woy, lu ngelawak tong?" tanya Diandra.
Jessica melotot, "Heh, gua serius astaghfirullah."
Diandra tertawa.
Jessica mencibir, "Ayok war sama gua nanti abis lu sembuh!"
"Okeh ayo, gua pake meja jati." jawab Diandra.
"Nggak jadi," balas Jessica.
Ceklek..
"What! Lu udah sadar Diandra!? Parah si Jess, kagak kasih tau!!"
Pekikan dari Lea dan Diva membuat Jessica dan Diandra memutar kedua bola mata karena mereka cempreng nya kebangetan.
...***...
__ADS_1