
" kak Bagas! Kak! " Teriak nya seraya mengejar Bagas yang sudah keluar dari rumah Nathan.
Bagas tidak memperdulikan teriakan Maya. Ia terus berjalan memasuki mobil. Ketika akan menjalankan mobil, ia langsung menolehkan kepala nya ketika mendengar pintu samping di buka lalu di tutup kembali. Ternyata Maya ikut masuk ke dalam dengan wajah yang sudah sembab.
" Keluar!. " Usir nya dengan suara datar dan wajah menatap lurus ke depan. Tangan nya mencengkeram kuat setir mobil.
" Ka-kak hiks. " Maya menatap Bagas dengan wajah sendu. Ia tidak ingin berpisah dengan Bagas. Ia sudah terlalu nyaman bersama Bagas yang memiliki sifat humoris walaupun terkadang menyebalkan.
" Keluar gue bilang!!. " Teriak nya tepat di depan wajah Maya membuat Maya memejamkan mata nya erat.
" Kak Maya mohon hiks. Dengerin dulu penjelasan dari sisi Maya. " Ucap nya dengan tangan mencoba menggenggam tangan Bagas.
Dengan kasar Bagas menepis tangan Maya dengan kuat membuat tubuh Maya ikut terhempas ke pintu mobil membuat kepala nya terbentur dan mengeluarkan darah.
Bagas terkejut. Tadi nya ia tidak ada niatan melukai Maya Seperti ini, ia hanya tidak ingin berbicara dengan Maya saat ini.
Maya memegang kening nya yang berdenyut, ia tidak percaya Bagas akan berbuat kasar seperti ini kepada nya.
Ketika Bagas akan menyentuh Maya, Maya langsung menepis tangan Bagas seraya menahan nyeri di kepala nya. " Gak usah pegang-pegang! Kamu mau aku pulang kan?!. " Ia menatap sengit ke arah Bagas. " Aku pulang sekarang!. " Setelah mengatakan itu, Maya langsung keluar dari mobil dan menutup pintu nya dengan keras membuat Bagas tersentak kaget.
Setelah sadar akan situasi yang semakin runyam. Bagas turun dari mobil, menghampiri Maya yang sudah hampir keluar gerbang.
Ia berlari dan langsung memeluk tubuh Maya dari belakang dengan erat. " Maaf. " Ucap nya lirih.
Maya hanya diam dengan suara isakan yang masih terdengar jelas di telinga Bagas. Bagas semakin merapatkan pelukan nya dan meletakkan wajah nya di bahu Maya yang bergetar.
" Maaf. Maaf Uda lepas kendali kaya gini. " Lirih nya.
Tangis Maya semakin kencang. Ia memutar tubuh nya dan langsung memeluk tubuh Bagas dengan erat. " Jahat!. " Ucap nya seraya memukul dada Bagas.
__ADS_1
" Iya maaf. " Bagas mengelus lembut rambut Maya mencoba menenangkan kekasih nya.
Sedangkan di teras rumah, Alula dan Nathan melihat ke arah mereka berdua dengan senyuman, sebenarnya hanya Alula karena Nathan masih asik bergelayut di pelukan Alula. Ia malas melihat drama Asisten nya tersebut.
" Sebenarnya Maya itu baik tau dulu nya sama aku. Cuma pas dia sahabatan sama Aulia dia jadi jahat gitu sama aku. " Beritahu nya kepada Nathan walaupun Nathan tidak bertanya.
" Hmm. " Nathan hanya bergumam saja karena ia tidak peduli. Jika Maya berani melukai istri nya, Maya akan menderita seumur hidup nya.
Alula menggeleng pelan melihat respon suami nya. Memang jika Nathan di ajak bicara tentang seseorang, ia hanya menjawab dengan singkat karena Nathan tidak mau mempedulikan orang lain selain keluarga nya sendiri.
...****...
" Mas!. " Panggil Alula setelah masuk ke dalam kamar dengan membawa sebuah kotak yang ia tidak tahu isi nya apa. Ia sedikit susah berjalan karena perut nya cukup besar karena ia sedang mengandung anak kembar.
Nathan keluar dari kamar mandi dengan keadaan rambut yang masih basah, Seperti nya ia baru selesai mandi. " Kenapa?. " Tanya nya seraya menghampiri sang istri.
Nathan mengambil kotak tersebut dengan dahi berkerut. Kotak ini berukuran kecil dengan bungkus berwarna emas, berbeda dengan kotak yang berisi teror selama ini yang berwarna hitam pekat. Apa peneror sudah merubah tampilan nya.
" Kenapa cuma di liatin sih?. " Tanya Alula bingung karena Nathan hanya melihat kotak tersebut tanpa mau membuka nya padahal kan ia penasaran.
Nathan mendongak menatap Alula lalu kembali menatap kotak tersebut. Ia duduk di tepi ranjang diikuti oleh Alula yang juga ikut duduk di sebelah Nathan. Ia juga penasaran sama itu isi kotak karena warna nya sangat cantik dan terbungkus dengan rapi tapi ia bingung nya mengapa kotak itu hanya tergeletak di belakang rumah.
Dengan perlahan Nathan membuka kotak tersebut dengan berhati-hati takut ada hal-hal berbahaya di dalam nya.
" Foto. " Gumam Nathan dan Alula ketika melihat sebuah figura foto wanita yang sedikit kusam. Nathan mengambil foto tersebut dan meletakkan kotak nya tadi di atas kasur.
Alula yang merasa kepo langsung mengambil tisu dan mengelap kaca figura yang berada di tangan suami nya.
deg.
__ADS_1
Jantung Alula berdegup kencang ketika melihat siapa yang ada di dalam foto tersebut. Alula tidak mengenal nya, namun wajah itu sangat mirip dengan nya saat ini. Bahkan sangat mirip. Mungkin jika mereka di sandingkan banyak yang mengira jika mereka kembar.
Sama hal nya dengan Nathan yang tak kalah terkejutnya melihat sosok yang ada di foto tersebut, beda nya foto ini kelihatan jadul dan kusam, Namun masih bisa di lihat dengan jelas.
Alula menatap Nathan dengan mata yang berkaca-kaca. " I-ini siapa mas?. " Tanya nya tergagap.
Nathan menggelengkan kepala nya. " Mas juga gak tau tapi dia mirip banget sama kamu Al. Bahkan sangat mirip. " Ujar nya seraya menunjuk foto tersebut.
Nathan membalikkan figura tersebut dan ternyata di sana ada sebuah catatan yang hampir pudar tapi masih bisa di baca.
" Wanita paling berharga sesudah ibu ku. D&D. " Gumam Nathan membaca catatan tersebut.
" D?. " Tanya Alula.
Nathan mengangguk lalu menunjukkan tulisan tersebut. " Berarti orang yang ada di dalam foto ini berinisial D. Kamu tau nama Almarhum mama kamu siapa?. " Tanya nya walaupun ia sebenarnya tahu nama ibu Alula tapi ia hanya tau nama depan nya saja.
Alula menggeleng. " Setiap aku nanya gak ada yang mau ngasih tau. " Ucap nya sendu karena memang benar selama ia hidup jika ia bertanya nama ibu nya atau foto ibu nya ia selalu mendapatkan hukuman dari mama tiri nya.
Nathan mengelus lembut punggung istri nya. " Uda gak usah di ingat-ingat. " Ucap nya.
Alula menghembuskan nafas nya lalu mengangguk. " Jadi sekarang kita harus apa? Karena kita gak tau ini siapa yang ngasih. " Tanya nya.
Nathan tersenyum ke arah Alula. " kamu tenang aja. Aku bakalan tau ini secepatnya. " Ia mengelus lembut rambut Alula mencoba membuat Alula tenang dan tidak memikirkan apapun.
Alula mengangguk dan ikut membalas senyuman suami nya. Ia yakin suami nya dapat mengatasi ini semua.
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE READERS
__ADS_1