
Hari hari terus berlalu, meninggalkan kenangan-kenangan yang sudah hampir berlalu. Hari ini masih seperti biasa, namun bedanya sifat Dimas yang cenderung menjauh dari keluarga sangat terasa di benak Vita. Dimas yang dulu nya selalu menyempatkan waktu untuk berkumpul dengan nya dan Aulia sekarang seperti sudah musnah. Vita terkadang berfikir ulang apa salah nya sehingga suaminya terasa asing bagi nya. Semenjak Dimas pergi keluar kota, suaminya itu langsung berubah.
" mau kemana kamu mas?. " Vita bangkit dari duduk nya ketika melihat suami nya melangkah keluar rumah.
Dimas mengacuhkan nya. Ia terus berjalan menuju garasi untuk mengambil mobil nya.
" Mas!. " Vita mengejar Dimas yang nampak mengacuhkan nya, namun terlambat, Dimas sudah masuk ke dalam mobil dan mulai menancapkan gas.
" Sial!. " Vita mengusap wajah nya gusar. Selalu seperti ini, Suaminya seperti susah ia gapai kembali.
Aulia yang baru pulang dari hari ospek pertama nya menatap bingung ibu nya yang berdiri di dekat garasi dengan wajah tak enak. " Mama ngapain?. " Tanya nya.
Vita tersentak lalu membalikkan tubuhnya. " Kamu Uda pulang?. " Aulia mengangguk menjawab pertanyaan ibu nya.
Ibu satu anak tersebut tersenyum lalu menghampiri anak nya. " Gimana semua nya lancar?. " Tanya nya lembut seraya menuntun anak nya masuk ke dalam rumah.
Aulia mengangguk dengan senang. " Lancar dong ma. Aku juga Uda dapet temen baru. Tapi aku sedih karena Maya gak ada. " Ucap nya sendu di akhir kalimat seraya duduk di sofa.
Vita mengelus sayang rambut putri nya. " Uda gak papa sayang. mungkin Maya nya lagi ada masalah jadi hilang gitu aja. " Ucap nya menenangkan.
Aulia mengangguk lesu. " Yaudah Sekarang kamu mandi habis itu makan. " ucap Vita. Aulia mengangguk lalu pergi menuju kamar nya.
Setelah Aulia hilang dari pandangan nya. Vita langsung merubah raut wajah nya menjadi datar lalu mengambil ponsel nya untuk menghubungi nomor seseorang.
__ADS_1
" Halo. " Ucap nya setelah panggilan tersambung.
" Saya terima tawaran dari kamu waktu itu. "
Setelah mengucapkan hal tersebut. Vita langsung memutuskan sambungan telepon nya. dan melempar ponsel dengan asal.
" Saya yakin kali ini kamu akan hancur Alula. Kamu sudah merebut apa yang seharusnya milik anak saya. Seharusnya kami mati dari dulu. " Ucap nya penuh dendam dengan tangan terkepal erat.
...****...
" Semua sudah beres. " Alula menepuk-nepuk kedua tangannya ketika telah selesai merawat bunga bunga nya di taman belakang rumah. Padahal baru sebentar tapi rasa nya sangat melelahkan karena ia sedang mengandung besar
Alula di temani oleh para pelayan di belakang nya dan beberapa bodyguard yang setia melindungi nya. Hari ini Nathan ada pekerjaan di luar kota jadi ia tidak bisa menemani istrinya tercinta nya.
" Haus. " Ucap nya pelan. Ia berjalan ke arah meja yang terletak di bawah pohon.
" Anak mama capek yah. " Ucap nya seraya mengelus lembut perut nya yang langsung mendapatkan respon berupa tendangan dari sang bayi yang ada di perut nya. Alula tersenyum kecil mendapatkan respon dari anak nya di dalam sana.
" Yaudah kita istirahat dulu ya sayang. " Lalu ia memejamkan mata nya sejenak untuk menghilangkan lelah di tubuh nya. Semenjak memasuki kandungan ke tujuh, ia sering sekali merasakan lelah walaupun hanya bergerak sedikit.
Ketika membuka mata ia di kejutkan dengan para pelayan dan bodyguard yang tergeletak dengan darah dimana-mana. Alula langsung bangkit dari duduk nya, nafas nya tercekat melihat pemandangan mengerikan yang ada di depan nya. Tubuh nya bergetar hebat. Ia memeluk perut nya erat ketika mendengar suara injakan ranting di belakang. Mata nya mulai waspada ke arah sekitar. Dengan perasaan takut, ia mencoba melihat ke arah belakang. Beli sempat ia menoleh, ia tersentak ketika mulut nya di bekap dengan sapu tangan. Alula memberontak, ia mencoba melepaskan bekapan tersebut, namun nihil seperti nya sapu tangan itu di campur dengan obat bius yang membuat pandangan Alula menjadi buram sebelum kegelapan merenggut kesadaran nya.
" Lemah!. " Kata itu lah yang sempat ia dengar sebelum kesadaran nya terenggut.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain, Dimas yang baru saja sampai di rumah Nathan, mengerutkan kening nya bingung ketika melihat rumah tersebut sepi. Biasanya rumah ini di kelilingi oleh penjaga dan pelayan yang bekerja. Menyadari ada nya ke anehan di sini, Dimas segera masuk ke dalam dan betapa terkejutnya ia ketika melihat beberapa bodyguard dan pelayan terikat di tiang penyangga rumah dengan mulut tersumpal oleh kain. Dengan perasaan kalut, ia langsung melepaskan ikatan tersebut.
" Ada apa ini? dimana anak saya?. " Tanya nya ketika ia berhasil melepaskan ikatan para bodyguard.
" Rumah di serbu oleh beberapa orang asing tuan dan nyonya Alula tadi berada di taman belakang, saya tidak tahu keadaan nya sekarang tuan. " Ucap salah satu penjaga dengan perasaan takut dan wajah nya tertunduk dalam. Mereka merasa lalai dalam menjalankan tugas untuk menjaga nyonya mereka.
"Sial!. "
Dengan perasaan cemas bercampur panik, Dimas langsung berlari ke arah taman belakang untuk melihat kondisi anak nya. Lagi-lagi dia harus di kejutkan dengan ada nya tubuh beberapa pelayan dan penjaga yang sudah tergeletak tak bernyawa dengan darah yang tergenang. Bau amis menyeruak di Indra penciuman Dimas. Ia mulai menyusuri taman tersebut untuk mencari keberadaan anak nya, namun nihil, anak nya tidak bisa ia temukan di mana-mana. ia sudah berkali-kali memanggil nama Alula nya namun ia tidak mendengar jawaban apapun. para penjaga yang terikat tadi juga turut mencari di sekeliling rumah.
" Lula!. " Panggil nya dengan nada keras.
Langkah nya terhenti ketika ia merasa menginjak sesuatu. Sebuah kertas. Ia membungkuk mengambil kertas tersebut yang berisi beberapa kata dengan beberapa tetesan darah.
Alula bersama kami. Jika ingin ia selamat cepatlah cari dia. Jika terlambat satu menit saja maka nyawa wanita kesayangan kalian akan pergi bersama anak nya yang belum lahir itu.
Selamat mencari.
Dimas meremas kertas tersebut. rahangnya mengeras. wajah nya pun memerah menahan amarah. " BAJINGAN!!. " umpat nya keras.
" PENJAGA CEPAT CEK CCTV DAN HUBUNGI NATHAN SEGERA!!. " perintah Dimas dengan nada keras yang langsung di laksanakan oleh para penjaga di sana.
" Sialan! siapa yang berani berbuat seperti ini!. " Ucap nya geram. Ia melempar kertas yang sudah tidak berbentuk tersebut ke sembarang arah lalu melangkahkan kaki nya masuk ke dalam rumah untuk mengecek CCTV rumah ini.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....
MAAF TELAT POST...