
"Bu Jessi?". Mata Alula terbuka sempurna. Iya terkejut melihat siapa yang ada di hadapannya sekarang.
" Kaget hmm?. " Jessica memperlihatkan smirk nya. Iya mundur beberapa langkah dan menghela nafas nya.
" Huhh sudah lama saya ingin menghentikan sandiwara ini. " Ucapnya santai seperti baru melepaskan beban nya yang berat.
Selama ini Jessica sengaja menyamar sebagai guru home schooling ketika mendengar dari mata-matanya jika Nathan mencari guru untuk istrinya. Awal nya ia cukup terkejut mendengar fakta bahwa Nathan menikahi gadis SMA tapi setelah tahu apa penyebabnya ia langsung paham. Ia bersandiwara dengan apik tanpa ada yang tahu. Dan tentang teror yang terjadi di rumah Nathan itu juga dia pelaku nya.
Alula masih tidak menyangka ternyata otak di balik ini semua adalah orang yang pernah ia anggap saudara nya sendiri.
" Kenapa harus ibu?. " Tanya nya lirih.
Jessica mendengus lalu menatap tajam ke arah Alula. " Karena saya ingin membalaskan dendam saya kepada suami kejam mu itu!. " Desis nya tajam.
Alula mendongak. Ia bisa melihat ada guratan kesedihan yang terpancar di wajah mantan guru home schooling nya tersebut. Apa yang sebenarnya terjadi?.
" Kamu tau Alula..." Jessica menjeda ucapan nya. Ia mengitari tubuh Alula dengan menyeringai tajam. " Nathan itu iblis! " Ucapnya tajam. Ia berhenti di belakang Alula dengan tangan merangkul bahu Alula membuat tubuh Alula bergetar.
" Dia pembunuh! Dia sudah membunuh saudara saya satu satu nya! " Bisik nya lemah.
" Jadi...." Jessica menegakkan tubuh nya. " Lets the game Alula. " Ucapnya yang langsung menimbulkan ketakutan dalam diri Alula. Sungguh dia sangat ketakutan saat ini. Ia takut anak nya akan dalam bahaya.
Jessica keluar dari ruangan tersebut. Biarlah pekerjaan nya di ambil terlebih dahulu oleh orang yang sama-sama menyimpan dendam seperti nya.
Brakk.
Alula terlonjak kaget mendengar dobrakan pintu tersebut. Tidak lama muncullah seorang wanita paruh baya.
" Mama?!. "
****
" Sial cincin nya jatuh. " Nathan menggenggam erat cincin yang berada di tangan nya dengan erat menyalurkan emosi nya. Sungguh hati nya tidak tenang dari tadi karena memikirkan nasib istri dan calon buah hati nya.
" Seperti nya cincin nya terjatuh karena Alula memberontak atau karena mereka tahu jika di cincin tersebut terdapat alat pelacak. " Ucap Dimas seraya mengamati keadaan sekitar yaitu pinggiran hutan.
" Tuan seperti nya mereka menyekap nona di Dalam hutan. Lihat ada jejak kaki dan mobil yang mengarah ke dalam hutan. " Tunjuk Danis ke arah jejak mobil yang tertempel di tanah.
__ADS_1
Nathan menegakkan tubuh nya. Ia menatap tajam ke arah depan. " Utus beberapa bodyguard di sini dan selebihnya ikut masuk ke dalam. " Perintah nya yang langsung di berikan anggukan tegas oleh Danis.
Nathan kembali memasuki mobil di ikuti oleh Dimas. Mereka melaju ke dalam hutan rimbun tersebut untuk menemukan tempat penyekapan Alula.
Sedangkan di sisi lain di sebuah ruangan yang cukup sempit. " Mereka sudah masuk?. " Tanya Jessica yang sedang berdiri di depan jendela.
" Sudah nona. " Jabwa salah satu bodyguard nya.
Jessica tersenyum sinis. Rencananya berhasil. Akhirnya mereka masuk ke dalam permainan nya.
Jessica sengaja membiarkan mereka tahu lokasi di mana Alula tersekap. Karena apa? Karena ia ingin Nathan merasakan bagaimana rasanya orang yang ia sayangi di siksa di depan mata nya sendiri. Ia ingin Nathan merasakan apa yang ia rasakan dulu saat kakak nya di siksa begitu kejam di depan mata nya oleh orang-orang suruhan Nathan. Dengan tidak berperikemanusiaan nya mereka membunuh kakak nya.
Tanpa sadar air mata Jessica menetes. Ia memandang ke luar dengan tajam dan tangan nya mengepal dengan erat ketika mengingat kejadian tersebut. Kejadian yang membuat dendam itu muncul dalam diri Jessica perlahan.
" Kamu akan segera merasakan nya Nathan!. " Desis nya tajam seraya keluar dari ruangan tersebut untuk menyaksikan penyiksaan Alula oleh ibu tiri nya sendiri.
****
" Mama?!. "
Tubuh Alula menegang mendengar ketukan heels yang beradu dengan lantai tersebut. Apalagi ketika melihat apa yang di bawa ibu tiri nya tersebut. Ingatan-ingatan masa lalu dimana Vita selalu menyiksa dirinya masuk ke dalam memorinya. Tanpa bisa di cegah tubuh nya gemetar dan keringat dingin mengucur di kening nya, siksaan demi siksaan tersebut meninggalkan trauma yang cukup mendalam dalam benak Alula.
Vita berdiri tepat di hadapan Alula. Ia menempelkan pisau nya di pipi Alula membuat sensasi dingin di pipi Alula.
" Ma-mama. " Ucapnya bergetar.
Vita tersenyum sinis. " Kan sudah saya bilang jangan pernah Panggil saya mama!. " Ucapnya tenang seraya menggores kan pisau nya di pipi Alula membuat Alula meringis tertahan.
" KARENA SAYA BUKAN MAMA KAMU!. " Bentak nya seraya melempar pisau ke dinding membuat pisau tersebut menancap begitu saja.
Alula memejamkan mata nya. Ia terisak hebat. Dalam hati nya ia selalu menggumamkan nama Nathan, suami nya.
Vita mengambil cambuk yang berada di bawah kursi Alula lalu ia mundur beberapa langkah. " Masih ingat cambuk ini Lula?!. " Ia mengelus cambuk tersebut dengan seringai tajam nya.
Alula semakin terisak hebat melihat cambuk tersebut.
Ctass.
__ADS_1
" Akhhh. " Alula berteriak kesakitan ketika Vita mengayunkan cambuk nya ke kaki milik nya.
Ctass.
" Akhhh."
" ITU BUAT KAMU YANG SUDAH BIKIN SUAMI SAYA BERUBAH!!. "
Ctass.
" Akhhh. Ma-mama sakit mama!!. " Alula menangis kencang akibat sakit dan perih bercampur satu. Apalagi perut nya terasa keram karena ia banyak memberontak sedari tadi.
Ketika akan mengayunkan kembali cambukan nya, Vita terkejut ketika melihat asap yang mengepul dari luar.
" Sial!!. " Ia melempar cambuk tersebut dan langsung berlari keluar.
Alula yang tengah menunduk terkejut mendengar Vita membanting cambuk nya. Ia mendongak. Kening nya berkerut melihat mama tiri nya berlari keluar. Tetapi ketika melihat asap dari pintu ia langsung panik.
" MAMA JANGAN TINGGALIN LULA MAMA!!. " Ia memberontak, mencoba melepaskan ikatan yang mengikat tangan nya. Tubuh kembali bergetar karena merasakan kepanikan.
" MAMA!!. Arghh." Tubuh Alula terjatuh membentur lantai. Perut nya pun semakin terasa sakit.
" Hiks jangan tinggalin Lula uhukk. " Alula terbatuk karena asap yang semakin banyak bahkan ia bisa melihat jika api mulai merayap ke dalam ruangan dia berada sekarang.
" Ayah hiks tolong. Mas Nathan uhukk uhukk. "
" Maafin Lula gak bisa jaga bayi nya hiks. "
" Lula Uda gak tahan. " Alula berucap lirih. Ia sudah pasrah apa yang akan terjadi kepada nya sekarang. Ia hanya bisa berdoa kepada Tuhan jika ia masih di berikan kesempatan hidup, ia hanya ingin bahagia bersama keluarga kecil nya nanti. Tapi jika memang ini sudah takdir nya ia untuk meninggalkan dunia ini semoga semua nya ikhlas dan ia bisa bertemu dengan Bunda nya di akhirat nanti.
Mata nya semakin lama semakin gelap, dada nya juga terasa sesak karena api dan asap yang sudah cukup besar, belum lagi perut nya yang terasa sakit. Ia bisa merasakan ada darah yang mengalir di pangkal paha nya.
Sebelum kegelapan merenggut nya, ia bisa mendengar seseorang meneriaki nama nya.
" ALULA!. "
BERSAMBUNG......
__ADS_1