
Cerita nya selesai namun kehidupan mereka tetap berjalan. Hari-hari yang mereka lewati penuh dengan ketenangan. Tidak ada dendam ataupun ancaman masa lalu yang saling menghantui. Semua hidup saling berdampingan.
Dendam dan kebencian adalah perasaan yang bisa menggerogoti hati dengan kegelapan. Berdamai adalah cara terbaik mengusir kegelapan tersebut.
" NIKO!!!! " Teriakan itu berasal dari si bungsu Alexander yang berada di kamar nya.
Dengan wajah penuh kekesalan, gadis kecil berusia 8tahun itu berjalan menuju kamar kembaran nya yang berada tepat di samping kamar nya.
Brakk.
" Niko!! Kamu kan yang ngambil karet rambut aku!!. " Teriaknya setelah membanting pintu dengan kencang.
Sosok laki-laki yang di sebut Niko tersebut merasa tak terganggu dan malah asik memejamkan mata nya di balkon kamar seraya mendengarkan lagu dari headphone nya.
Merasa terabaikan, gadis kecil bernama liliya tersebut berjalan ke arah sang kembaran lalu melepas paksa headphone nya membuat Niko langsung membuka mata nya dan memandang malas ke arah liliya.
" Apalagi kali ini?. " Tanya nya jengah dengan sang adik yang selalu merecoki nya.
" Kamu kan yang mengambil karet rambut ku!!. " Tuduh nya dengan raut wajah penuh kekesalan yang terlihat menggemaskan.
Tubuh Niko sempat menegang dan mata nya sekilas melirik nakas yang terdapat karet rambut warna-warni yang ia gunakan untuk mengikat mainan nya.
" Hem jangan asal nuduh kamu! " Elak nya setengah berteriak.
" Kalo bukan kamu siapa lagi!! Kamu yang sering ngambil barang di kamar aku. " Wajah Niko semakin pias saat liliya hendak menoleh ke arah nakas.
" Jangan asal nuduh! mending kamu keluar sana!! " Ia mendorong tubuh kembarannya keluar.
__ADS_1
Liliya memberontak, sebelum ia mendapatkan karet rambut nya, ia tidak akan keluar dari sini. Ia yakin jika benda milik nya itu ada di sini karena kembaran ini suka sekali mengambil barang nya.
" Lepasin Niko!! " Liliya terus memberontak, bahkan tangan nya sudah berada di rambut sang kakak dan menarik nya dengan kencang.
" Liliya sakit!! " Teriak Niko mencoba melepaskan jambakan adik nya.
" Liliya. Niko. " Suara dengan nada rendah tersebut menghentikan pertengkaran kecil antara mereka. Kedua anak kembar tersebut membalik tubuhnya ketika melihat siapa yang ada di sana, mereka berdua menelan ludah kasar.
Nathan darendra Alexander, Ayah dari kedua bocah kembar yang asik bertengkar sedari tadi.
" Masalah apa lagi kali ini. " Tanya nya mengintimidasi membuat kedua bocah kembar tersebut menunduk. Nathan memang sedikit keras mendidik anak ketika mereka salah, namun di luar itu Nathan sangat menyayangi kedua anak nya.
Nathan berjalan masuk dan berdiri tepat di depan anak nya dengan tangan terlipat di dada. " Kenapa diam? Ayo jawab siapa yang salah kali ini. "
Dengan mantap, Liliya langsung menunjuk Niko yang langsung mendapatkan pelototan dari kakak kembar nya.
" Niko... "
" Maksudnya Abang Niko, dia mencuri karet rambut ku. " Tatapan mata Nathan langsung mengarah ke arah anak pertama nya.
" Benar apa yang di katakan adik mu Niko? " Niko dengan sedikit takut mengangkat kepala nya.
" Aku cuma mengambil satu Daddy. Lagipun karet rambut nya dia banyak. " Bela nya di depan ayah nya.
Liliya menatap sinis ke arah Niko. " Tetap saja itu mencuri. Kamu mengambil tanpa seizin ku. "
Nathan menghela nafas melihat kelakuan kedua anak nya yang jarang sekali akur. " Niko minta maaf. " Titah nya.
__ADS_1
Dengan wajah tidak ikhlas, Niko mengulurkan tangan nya ke hadapan Liliya. " Kamu tidak ikhlas jadi aku tidak akan maafkan. " Ucap liliya.
" Niko!. " Peringatan dari ayah nya membuat Niko memaksakan senyum nya. " Liliya aku minta maaf telah mencuri karet rambut mu. "
Liliya pun menjulurkan tangannya. " Di maafkan. " Balas nya seraya tersenyum.
Nathan tersenyum melihat tingkah kedua anak nya. Ia berjongkok, mensejajarkan tubuh nya di hadapan anak nya. " anak baik. " Puji nya seraya mengacak rambut kedua bocah kembar itu.
" Daddy rambut liliya sudah bagus jangan di gituin. " Kesal liliya pada sang ayah.
Nathan terkekeh pelan melihat raut wajah kesal anak nya. " Oke oke ayah Daddy minta maaf. "
" Hei semua nya sudah siap?. " Pertanyaan dari arah pintu membuat ketiga manusia berbeda umur itu menoleh. Terlihat di sana alula berdiri dengan balutan gaun pesta yang pas di tubuh nya.
" Mommy. " Liliya berlari ke arah sang ibu dan memeluk kaki Alula.
" Hei cantik, sudah siap? " Liliya mengangguk dengan senyuman lebar nya yang terlihat menggemaskan.
Alula mendongak menatap kedua pria yang berjalan ke arah nya. " Ayo. nanti kita terlambat. " Ajak nya yang di angguki ketiga nya.
Alula melirik ke arah Niko lalu melangkah mendekat. " Anak mommy kenapa rambut nya tidak rapi begini. " Ucapnya seraya merapikan rambut putra nya.
" Tadi sedikit ada masalah. " Jawab nya yang membuat alula menaikkan sebelah alisnya seperti bertanya.
" Sudah ayo kita pergi. " Ajak Nathan. Mereka berempat melangkah pergi menuju ke tempat acara.
Yah, hari ini adalah hari bahagia Aulia dimana ia akan menikah dengan pujaan hati nya yang ia temui saat ia menjalankan studi S2 nya di Belanda.
__ADS_1
Awalnya para keluarga tidak setuju karena yang Aulia kenalkan pada mereka adalah pria beda agama. Namun itulah jodoh. Setahun kemudian pria itu datang kembali dengan keyakinan yang kuat. Ia pindah agama dan berhijrah ke arah yang benar.
End