
" Selamat kak atas pernikahan nya. " Ucap alula seraya cipika-cipiki dengan Aulia di altar.
" Makasih Lula. " Aulia ikut membalas pelukan adik nya.
" Tante Lia selamat menikah. " Ucapan putri kecil Nathan itu mengalihkan atensi semua yang ada di altar.
Aulia melepaskan pelukannya lalu sedikit merunduk untuk bisa mengacak rambut liliya. " Makasih princess Tante. "
" Ih Tante jangan dirusak, mommy nanti capek benerin nya. " Protes nya dengan bibir mengerucut kesal.
" Gemesin banget sih. " Aulia mencubit pipi Liliya membuat liliya semakin mengerucutkan bibir nya.
" Udah udah nanti cucu opa makin ngambek. " Ucap Dimas seraya menggendong tubuh Liliya.
" Opa yang terbaik. "
Cup.
Liliya mengecup singkat pipi kakek nya yang langsung mengundang kekehan geli dari semuanya.
" Tante selamat yah. " Ucapan itu berasal dari Niko yang sedari tadi hanya diam melihat interaksi semua nya.
Aulia tersenyum. " Makasih boy. "
" Ayo ayo foto bareng. " Ajak suami Aulia. Mereka semua memposisikan diri mereka dan berfoto bersama.
__ADS_1
Selesai acara sesi foto, mereka turun karena masih banyak tamu yang ingin mengucapkan selamat kepada pengantin.
" Mommy Liliya ingin kue. " Liliya menarik ujung gaun sang ibu membuat Alula menunduk melihat nya.
" Liliya ingin kue?. " Tanya Alula kembali yang mendapat anggukan dari anak nya.
" Yaudah liliya tunggu sini biar mommy ambil dulu kue nya. "
Liliya menggeleng kecil. " Biar liliya aja yang ambil. " Setelah mengatakan itu, liliya berlari kecil ke arah meja yang di penuhi dengan kue. Mata nya berbinar ketika melihat aneka kue warna warni yang tersedia di atas meja.
" Tau tugas mu boy? " Mendengar pertanyaan ayah nya yang menuju ke arah perintah, Niko langsung mengangguk dan mengikuti adik nya dari belakang. Sejahil apapun Niko pada adik nya, ia akan tetap menjaga liliya tanpa adik nya ketahui.
" Gak kerasa ya Uda beberapa tahun berlalu. Rasa nya masih gak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. " Ucap alula seraya menyenderkan kepalanya di bahu suami nya.
Nathan tersenyum tipis mendengar ucapan istri nya. Tangan nya dengan lembut mengelus Surai Alula. " Percaya gak percaya tapi inilah takdir yang kamu lewati Alula. "
Nathan mengecup singkat pelipis Alula. " Hmm aku juga ikut bahagia kalau kamu bahagia. "
Kembali dengan aktivitas liliya. Liliya mendorong kursi ke arah meja lalu naik ke atas kursi agar bisa menggapai kue-kue yang ia inginkan. Setelah mengambil kue yang ia inginkan, ia duduk dan menikmati makanan di hadapannya.
" Nyam nyam enak. " Gumam nya dengan mulut belepotan. Selesai mengisi perut nya, liliya akan turun, namun karena tubuh nya cukup pendek, ia hampir terjatuh jika...
" AAAA. " Liliya berteriak seraya menutup mata nya erat. Satu detik. Dua detik. Namun ia tidak merasakan sakit apapun.
Liliya mengintip dari sela-sela tangan nya. Bisa ia lihat sosok anak kecil yang umur nya bisa ia tebak di atas dirinya itu tengah menahan kursi Liliya. Wajah tampan membuat Liliya terpesona.
__ADS_1
" Gak papa?. " Tanya anak laki-laki itu seraya membantu Liliya turun. Liliya masih diam, masik asik memandangi wajah anak laki-laki itu.
" Ganteng banget. " Celetuk Liliya membuat anak tersebut mengangkat alis nya bingung.
" You okey? " Tanya anak itu lagi.
Seakan tersadar dari keterpakuannya, Liliya mengangguk. " Liliya oke, Makasih kakak ganteng. " Ucapnya seraya tersenyum manis.
Laki-laki hanya menatap datar wajah imut liliya. Sebelum suara menginstruksi mereka.
" Liliya! " Niko berlari menghampiri adik nya dan memutar tubuh Liliya. " Kamu gak papa Liliya? " Tanya nya khawatir. Ia melihat bagaimana Liliya akan jatuh tadi, namun belum sempat ia menolong, anak laki-laki di depan nya sudah sigap menolong adik nya.
" Ih Liliya pusing tau. Liliya baik-baik aja! " Ucapnya kesal karena di putar-putar oleh kakak nya.
Niko bernafas lega. Ia menarik tangan adik nya. " Ayo balik sama mommy Daddy. " Lalu mata nya beralih menatap anak laki-laki tadi yang masih menatap mereka. " Makasih telah menolong adik ku kami permisi. " Ucapnya lalu pergi dari sana dengan tangan menarik adik nya.
Liliya kesal di tarik pergi oleh kakak nya padahal ia belum mengenal nama dari kakak yang menolong nya tadi. Centil kamu ya Liliya.
" Dadah kakak ganteng. Kita jumpa kapan-kapan. " Teriaknya seraya melambaikan tangan nya.
" Tuan muda di sini. Saya mencari anda tadi. " Ucap seorang pria dengan setelan hitam-hitam kepada anak laki-laki tadi.
Anak itu mengabaikan ucapan asisten pribadinya. Mata nya terus menyoroti punggung kecil bocah kembar tadi. Tidak lebih tepatnya punggung liliya yang kian menjauh dari mata nya.
" Paman aku ingin dia. " Ucapnya datar dengan pandangan penuh arti.
__ADS_1
End.
Sampai jumpa di cerita selanjutnya :)