
Setelah membersihkan tubuh nya di kamar mandi, Dimas keluar dengan pakaian Santai nya. Bisa ia lihat Vita sedang duduk di sofa di dalam kamar nya.
Vita yang melihat suami nya keluar dari kamar mandi langsung bangkit dari duduk nya dan menghampiri Dimas. " Sayang kamu uda siap? ayo kita makan dulu. " Ajak Vita seraya menggenggam tangan sang suami.
Dimas melepaskan tangan nya dari tangan Vita. " Tidak perlu saya sudah makan. " Ucap nya datar lalu berjalan menuju walk in closed untuk mengambil sesuatu.
Vita terdiam sebentar mendapat perlakuan seperti itu. Lalu tersadar ketika melihat Dimas berjalan keluar. " Mas mau kemana?. " Tanya Vita setengah berteriak.
Dimas tidak menghiraukan nya, ia tetap berjalan keluar. Rasa nya ketika melihat Vita, rasa sakit dan penyesalan itu semakin menggerogoti isi hati nya. Mengapa ia dulu terlalu percaya akan permainan wanita itu menyebabkan ia kehilangan istri nya dan menyia-nyiakan sang anak dari kecil.
Dimas berhenti di depan pintu sebuah ruangan yang selama ini memang sengaja ia kunci dan tidak ada yang boleh memasuki ruangan ini seorang pun.
Ia membuka kunci nya dan masuk ke dalam ruangan yang berisikan barang-barang yang tertata rapi, namun berdebu.
Dimas duduk di tepi kasur yang sedikit berdebu tersebut. Ruangan ini memang sengaja ia buat dulu ketika akan pindah ke Jakarta untuk mengenang almarhum istri nya bahkan semua barang yang berada di rumah lama nya sengaja ia taruh di ruangan ini yang tentu nya tanpa sepengetahuan Vita. Ruangan ini pun tidak pernah di masuki oleh seseorang kecuali dirinya oleh sebab itu ruangan ini sedikit berdebu karena jarang ia bersihkan.
Dimas termenung di sana, mata nya memindai seluruh ruangan yang berisikan barang barang peninggalan sang istri. Ia melihat ke arah nakas yang berada di samping nya dan mengambil frame foto yang ada di sana.
__ADS_1
Dimas tersenyum sendu memandang seorang wanita yang ada dalam foto tersebut sedang menggendong bayi mungil yang baru lahir.
" Andai saat itu aku mempercayai kamu sayang pasti kita hidup bahagia di sini bersama anak kita. " Ucap nya lirih dan tanpa sadar meneteskan air matanya.
" Andai kamu masih disini pasti kamu akan kecewa melihat aku Uda buat anak kita yang sangat kita nantikan dulu menderita di rumah ini. Andai hiks aku hanya bisa berandai-andai saat ini sayang hiks " Dimas tidak sanggup untuk melanjutkan ucapannya karena merasakan sesak yang teramat di dada nya. Rasa Penyesalan seakan datang bertubi-tubi untuk meremukkan hati nya.
Dimas menangis tersedu-sedu seraya memeluk foto yang berisikan istri dan anak nya tersebut. Rasanya ia ingin mengutuk dirinya yang sudah salah paham dan mengakibatkan istri nya meninggal lalu membuat anak nya menderita dari kecil di rumah nya sendiri. Selama ini Dimas tidak membenci Alula, namun jika melihat wajah Alula, Dimas selalu terbayang wajah istri nya yang sudah berhianat dengan sahabat nya.
Selama ini memang ia tidak pernah melukai fisik anak nya kecuali kejadian ketika ia mengusir anak nya ketika tahu putri nya hamil tanpa seorang suami. Namun selama ini ia hanya diam dan menyaksikan dengan wajah datar jika istri dan anak tirinya menyiksa Alula fisik maupun batin.
Dimas mencoba mengontrol sesak di dada nya. Ia menghela nafas secara perlahan lalu mengusap air mata nya yang masih menggenang di pipi nya.
...****...
" Masih menginginkan sesuatu?. " Tanya Nathan seraya membersihkan noda di ujung bibir istri nya.
Alula yang baru menyelesaikan makan nya dan bersandar pada kursi menggelengkan kepala nya. Ia sudah kenyang dan sekarang mata nya memberat.
__ADS_1
"Aku ngantuk. " Ucap nya lirih seraya mengerjabkan mata nya menahan kantuk.
Nathan terkekeh ketika melihat istri nya menahan kantuk dengan wajah menggemaskan. Ia memanggil pelayan untuk membersihkan bekas makanan Alula lalu menggendong istri nya untuk menuju kamar mereka.
Alula hanya pasrah mendapatkan perlakuan seperti ini oleh suami nya karena saat ini memang ia sangat mengantuk dan mungkin tidak akan bisa berjalan.
Nathan membaringkan tubuh bumil tersebut di atas kasur dengan perlahan lalu ikut berbaring di samping istri nya seraya memeluk Alula.
" Tidurlah. " Ucap Nathan seraya mengelus lembut rambut Alula.
Alula hanya bergumam dengan tubuh yang mencari posisi ternyaman di dekapan suami nya lalu mulai memejamkan mata nya. Tubuh nya lelah karena ia belum ada istirahat. Setelah sampai di rumah tiba-tiba saja ia menginginkan sate Madura yang harus di belikan langsung oleh Nathan yang pastinya itu adalah keinginan sang baby, Jadi mau tak mau Nathan harus membelikan nya walaupun tubuh nya lelah.
Nathan tersenyum mendengar nafas teratur istri nya. Ia menunduk sedikit melihat wajah damai Alula. " sangat cantik. " Ucap nya lirih seraya menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah istri nya.
Ia jadi teringat peristiwa beberapa bulan yang lalu yang membuat dirinya dan Alula menjalin ikatan pernikahan. Sebenarnya ia sudah tahu siapa pelaku yang menjebak nya dan Alula. Sebenarnya bukan dia lah sasarannya, namun malam itu di hotel yang sama dengan Alula dan kamar yang bersebelahan dimana Alula terjebak, ia tidak sengaja meminum minuman yang terkandung sebuah obat yang membuat nya kehilangan akal. Ketika akan keluar dari ruangan untuk pulang kerumahnya, ia bertabrakan langsung dengan seorang wanita yang tersiksa menahan kegelisahan karena obat yang sama. Karena sudah di ambang batas kesadaran tanpa mereka sadari mereka memasuki kamar dengan keadaan intim dan melakukan apa yang seharusnya mereka tidak lakukan.
" Tapi aku tidak menyesal akan peristiwa itu karena aku yang melakukan nya dengan mu dan sekarang kita bersama bukan pria labil yang memang telah menjebak mu itu. " Ucap nya pelan seraya mengecup kening istrinya penuh kelembutan dengan mata terpejam, menerawang kejadian beberapa bulan yang lalu. Benar, jika bukan dia yang melakukan hal 'itu' dengan istri nya dulu, mungkin mereka tidak bisa bersama seperti ini dan merasakan kebahagiaan yang memang mereka incar serta mengisi kekosongan hati mereka masing-masing.
__ADS_1
Nathan merosot kan tubuh nya untuk bisa menjangkau perut buncit Alula. Ia menyingkap sedikit baju yang di kenakan Alula lalu mengecup perut tersebut yang tidak terhalangi apapun. " Ketika kalian sudah keluar, papa janji akan membahagiakan kalian dan membuat keluarga kecil yang bahagia. " Sekali lagi ia mengecup perut tersebut lalu setelahnya membenamkan wajahnya di perut istri nya dengan tangan yang ia lilitkan di seputaran pinggang Alula dan memejamkan mata nya mengikuti sang istri yang terlelap.
BERSAMBUNG.......