
Vita terus terisak seraya memohon ampun. Semua nya di sana diam termasuk Alula. Aulia hanya memandang ibu nya dengan sedih. Ia tidak tega, namun kesalahan ibu nya sudah cukup fatal untuk sekedar di maafkan.
Alula terdiam mendengar semua ucapan ibu tirinya. Tangan nya perlahan memegang pundak Vita dengan lembut. " Jangan gini. " Cicit nya pelan.
Vita mendongak menatap wajah Alula yang memandang kosong ke arah.
" Jangan gini. " Cicit nya kembali lalu tangan nya bergerak memundurkan kursi roda nya. Mencoba menjauh dari Vita dengan kepala menggeleng cepat.
Dimas dengan sigap memegang kursi roda Alula karena melihat tubuh anak nya bergetar. " Lula sayang tenang. " Ucap Nathan mencoba menenangkan. Ia ingin memeluk Alula, namun masih ada bayi dalam gendongan nya.
Alula menatap wajah Nathan dengan sendu. " Mau pulang hiks. " Ujar nya dengan isakan. Sepertinya ia masih belum siap bertemu dengan Vita. Luka hebat nya.
" Oke kita pulang yah. " Ucap Dimas seraya mendorong kursi roda Alula untuk menjauh.
Sebelum benar-benar pergi Dimas sempat menatap wajah Vita beberapa detik dengan berkata. " Saya sudah urus surat perceraian kita dan itu akan datang beberapa hari lagi. "
Vita terduduk lemas di lantai dengan pandangan kosong. Hancur. Semuanya telah hancur. Kejahatan yang selama ini ia simpan dengan rapat hancur begitu saja. Apa yang ia harus lakukan sekarang.
Aulia dan Riko tetap tinggal. Aulia menatap iba pada ibu nya. Ia bersimpuh di hadapan ibu nya.
" Mama harus kuat di sini. Jadikan semuanya pembelajaran untuk mama yah. Lia emang kecewa tapi Lia gak bisa benci mama karena mama Lia bisa hidup sampai sekarang walaupun dengan kelicikan yang mama perbuat. " Perkataan Aulia membuat Vita mendongak menatap nya. Ia menggenggam kedua tangan anak nya dengan lembut.
__ADS_1
" Mama sayang Lia. Lia yang mama punya sekarang. Lia jangan pergi ya sayang. " Ucapnya. Aulia memeluk erat tubuh ibu nya.
Riko tersenyum tipis melihat ibu dan anak yang sedang berpelukan tersebut. Ia mengelus puncak kepala anak nya dengan lembut. Anak nya ternyata cukup baik. ia jahat karena hasutan ibu nya.
Aulia melepaskan pelukannya lalu mencoba berdiri dengan di bantu oleh Aulia. Ia tersenyum menatap Riko. Orang yang telah menghamilinya saat itu.
" Saya minta maaf sama kamu. Saya sudah kejam dengan memfitnah kamu dan membuat persahabatan mu hancur. Dan maafkan saya selama ini saya tidak mengizinkan kamu untuk bertemu Aulia. anak kandung kamu. " Ucapnya nya dengan penuh penyesalan.
Riko tersenyum lembut. " Saya sudah memaafkan kamu. Renungkan dirimu di sini. Ini pelajaran sekaligus hukuman atas kejahatan yang kamu buat. Semoga setelah ini kamu bisa menjadi lebih baik lagi. " Nasehat nya.
Vita mengangguk sebagai jawaban.
Sebelum pergi Vita tersenyum menatap anak nya. " Lia jaga diri baik-baik ya sayang. " Pesan nya sebelum pergi.
Aulia mengangguk dengan senyuman. ia merapatkan tubuhnya ke Riko saat ayah nya tersebut merangkul bahu nya.
" Ayo kita pulang. besok-besok kita ke sini lagi. " Ajak Riko yang di jawab anggukan oleh Aulia.
Mereka pergi meninggalkan perasaan yang mengganjal pada hati masing-masing.
...****...
__ADS_1
Nathan menghela nafas nya melihat Alula sedari tadi melamun di balkon kamar mereka. Alula memang tidak lagi berada di rumah sakit. Ia hanya perlu beberapa kali ke sana untuk mengecek keadaan nya saja.
Tadi saja saat ia tengah menyusui anak laki-laki nya, Alula tidak sadar jika anak nya hampir jatuh dalam gendongan jika tidak mendengar teriakkan Nathan. Untung anak nya tidak menangis.
" Sayang. "
Alula tersentak ketika mendapatkan pelukan erat di pinggang nya. Ia menatap sekilas ke arah sang suami lalu kembali melihat ke arah depan.
Nathan kembali menghela nafas nya. " Jangan melamun terus sayang. Ingat kata dokter kamu gak boleh stres karena itu bisa mempengaruhi keluar nya asi kamu. " Nasehat nya lembut yang membuat wajah Alula berubah sedih.
Alula berbalik lalu memeluk Nathan dengan wajah yang terbenam di dada bidang Nathan. " maaf. " Lirih nya.
Nathan membalas pelukan istri nya. tangan nya dengan lembut membelai rambut Alula. " It's okey mas gak marah sama kamu tapi kamu juga ingat kamu sekarang Uda jadi ibu jadi harus lebih ngerti lagi oke. " Ucapnya lembut yang di balas anggukan samar pada Alula dalam pelukan Nathan.
Alula mengangkat kepalanya tanpa melepas pelukannya. " Aku bingung. Di satu sisi aku pengen maafin mereka tapi di satu sisi aku masih takut. 18 tahun aku hidup penuh siksaan dari nya. 18 tahun aku merasakan sakit fisik maupun mental mas. Aku bingung sekaligus takut hiks. " Ujar nya dengan isakan yang tidak tertahan.
Nathan tersenyum. Ia menangkup wajah Alula dengan lembut agar mau menatap nya. Lihat lah wajah penuh air mata tersebut membuat hati Nathan tidak tega. " Mas tau ini berat buat kamu. Mas tau karena 18 tahun itu gak waktu yang singkat. Mas tau sayang. Susah buat kita lupain masa lalu begitu saja. Tapi ingat, kalo kita terus menerus kayak gini kamu bakalan stres sayang. " jelas Nathan.
Alula tidak kuasa menahan air mata nya. Ia menangis menghilangkan segala rasa sakit yang ada di hati nya.
Bersambung.....
__ADS_1