
Ray bersumpah akan memberikan hukuman setimpal pada Gunawan, walaupun banyak bakingan dari background keluarganya yang merupakan salah satu keluarga terpandang.
Ray melihat wajah Lila yang terlihat pucat dan juga lemah tak berdaya.
" Assalamu'alaikum." Salam terdengar dari arah pintu ruang inap.
" Wa'alaikum salam, kalian..? " ucap Ray melihat kakak Iparnya masuk ke dalam ruang rawat Lila.
" Ray, gw bawain makanan buat lo. Pasti lo belum makan kan, jadi makan dulu gih.." ucap Nadia meletakkan box makanan diatas nakas
" Nanti aja Nad, belum laper juga.." tolak Ray membuat Nadia dan Riko pasrah.
" Gimana kalau kita kekantin, biar Nadia jaga Lila dulu.." tawar Riko
" Oke, yuk.. gw titip Lila dulu Nad.. " ucap Ray seraya bangkit dari kursi nya.
" Nggak usah khawatir, gw akan jaga adek gw kok.. sudah sana, mungkin kalian bisa diskusikan langkah apa yang akan diambil buat baji*gan itu." ucap Nadia dengan memandang wajah sang adik yang tak berdaya.
Akhirnya Ray dan juga Riko melangkahkan kaki mereka ke kantin Rumah Sakit, sekedar minum kopi dan merokok.
__ADS_1
" Gw sudah nyuruh Juno buat urus perkara ini, dan gw rasa ada sedikit kendala dia seorang anak pengusaha di Surabaya,dan orang ini termasuk Licik." ungkap Riko dengan menyesap kopinya
" Siapa dia,gw nggak akan takut siapa pun dia Rik." ucap Ray dengan wajah yang mengeras menahan emosinya.
" Adnan Birowo..lo pernah denger nggak? dia lumayan terkenal di kalangan pengusaha." ucap Riko.
" Hemmm... Adnan Birowo, pengusaha perhotelan, dan tersangkut kasus dugaan prostitusi, tapi.. nggak kesentuh." ucap Ray tersenyum devil seperti merencanakan sesuatu.
" Hati-hati sama dia Ray, gw nggak mau lo yang ancur." ucap Riko dengan memperingatkan Ray
" Tenang saja Rik, serahin sama gw soal ngancurin orang itu, dia mau main-main sama gw jangan salahin gw buat lebih dari apa yang dia pikirkan." ucap Ray dengan senyuman smirknya.
Riko tahu kekuasaan seorang Abraham dan perusahaan nya yang terkenal skala Internasional,dan tentunya akan bisa mengimbangi permaina licik Adnan.
.
.
Diruang rawat Lila dengan pandangan sendu Nadia memandang adik angkatnya itu, tak pernah dia bayangkan jika sang adik selalu dapat cobaan dalam hidupnya.
__ADS_1
" Laaa... kakak minta maaf nggak bisa jadi kakak yang baik buat kamu, nggak bisa selalu jagain kamu.Tapi,pasti kehadiran Ray di dunia mu lagi pasti kamu akan dia jaga sepenuh hati, Kakak yakin Ray sudah berubah,apalagi ada Deeba diantara kalian." ucap lirih Nadia dengan menggenggam tangan Lila.
" Emmmhhh... " Lenguhan Lila terdengar dan matanya pun terlihat sudah mulai terbuka.
" La.. ini kakak La, alhamdulillah kamu sadar juga,sebentar ..kakak panggilkan dokter sebentar." ucap Nadia dan langsung manggil dokter.
Akhirnya dokter Lukman di dampingi Dokter Naima seorang psikiater masuk, dan untuk Nadia di minta untuk menunggu di depan.
" Nad, gimana Lila? " tanya Ray saat melihat Nadia yanh duduk di bangku tunggh depan ruangan Lila.
" Lagi di periksa dokter, sama ada dokter spikiater juga. Emang kenapa Lila Ray?" tanya Nadia yang tadi sempat terkejut dengan penuturan dokter Lukman.
" Sebenarnya Lila sudah sempat siuman namun, tiba-tiba histeris dan Dokter Lukman menyarankan Lila di dampingi oleh spikiater." ungkap Ray dengan wajah terlihat sedih.
" Astaghfirullahal'azhim.. sampe segitunya Ray?" tanya Nadia tak memyangka akan nasib sang adik.
" Iya, maka dari itu.. aku harus berjuang keras buat hancurin Gunawan Birowo untuk bisa membalaskan kelancangan dia." ucap Ray dengan wajah terlihat emosi.
Ray mengingat, bagaimana histerisnya sang istri saat dia membuka mata pertama kali.
__ADS_1
Bersambung