
Hari ini Lila di perbolehkan pulang,namun harus tetap konsultasi dengan dokter spikiater untuk bisa mengendalikan emosi Lila yang kadang masih teringat hari dimana dia mendapatkan pelec*han yang di lakukan Gunawan.
Seingat Ray dia pernah memaksa atau di bilang memperk*sa nya,namun mungkin traumanya berbeda.
Ray dan Lila sampai di depan rumah sederhana, terlihat Deeba dan beberapa temannya asyik bermain di halaman luas itu.
" Kita keluar, dan senyumlah untuk anak kita. Kasihan dia jika kamu terlihat sedih, kita akan hadapi semua masalah yang ada bersama-sama. Kamu nggal. sendiri lagi, ada aku dan Deeba bersamamu." ucap Ray pada Lila sebelum mereka keluar dari dalam mobil.
" I.. iya, tapi.. aku masih merasa...
" Ssssttt.. aku akan disamping kamu hemmm?" ucap Ray mengusap lembut punggung tangan lila dan menciumnya.
" Senyum dong, mommy cantik kalau senyum.. oke? " ucap Ray dengan menggoda Lila dengan kata manisnya kebiasaan Cassanova kampret.
Mereka keluar dari dalam mobil dan Ray menggenggam erat tangan Lila dengan mengulas senyum manisnya kearah Lila memberi kode supaya Lila melakukan yang sama.
Deeba baru menyadari kehadiran kedua orang tuanya. Melihat dua orang yang tadinya tak. mau dekat-dekat tapi, sekarang dia melihat kedua orang tua nya terlihat sangat dekat.
__ADS_1
"Mommy... Daddy..!!!" seru Deeba dan berlari kearah kedua orangtuanya.
Ray dengan cepat meraih tubih kecil sang putri dalam gendongannya.
" Uhhhh... rindunya daddy , Mommy sama princes cantik nih.." ucap Ray sambil menciumi wajah Deeba.
Dengan terkekeh Deeba menjauhkan wajah sang Daddy yang terasa geli karena di tumbuhi bulu-bulu halus di wajahnya.
"Hahahaha... ampun dad, geli... ampun.. ampun..!! Mommy tolong... tolong..!! " pekik Deeba dengan kelakuan daddynya dan meminta tolong pada sang mommy.
" Daddy, sudah.. kasihan anaknya!!" ucap Lila dengan memukul lengan kokoh Ray.
Dan melihat Deeba menjauh dari tempat mereka berdiri,lantas meraih tangan Lila dan menggandengnya ke dalam rumah.
" Aku nggak papa kok, udah sehat.." ucap Lila dengan mencoba melepaskan tangan Ray darinya.
" Percaya.. mommy kan memang wanita yang kuat." ucap Ray dan perlahan melepaskan genggamannya.
__ADS_1
Mereka masuk kedalam rumah dan Lila masuk dalam kamarnya, di ikuti oleh Ray dengan membawa tas besar pakaian yang mereka bawa ke Rumah Sakit.
" Mas... ka.. kamu ngapain? " tanya Lila tanpa sadar menyebut suaminya dengan sebutan 'Mas'
" Mas? kamu panggil aku mas? " tanya Ray memastikan pendengarannya
" I-iya.. apa yang salah, aku menghormati kamu sebagai...
" Sebagai..? Ray mendekatkan wajahnya pada Lila
Lila yang mendapat perlakuan seperti itu memundurkan tubuhnya yang merasa tak nyaman saat nafas Ray yang terasa di depan wajahnya.
Melihat interaksi Lila, akhirnya Ray tersadar dengan perlakuannya.
" Maaf.. ,kamu istirahat biar Deeba aku yang urus, buat makan siang aku sudah suruh Citra buat masak lebih buat kita,aku keluar kalau kamu butuh sesuatu bisa panggil aku yaa..? " ucap Ray mengusap lembut kepala Lila.
Lila dengan ragu mengangguki penuturan Ray. Setelah mendapatkan jawaban walaupun tak ada kata yang terucap dari Lila Ray paham akan isyarat yang lila berikan. Akhirnya Ray keluar dari kamar Lila dan menemui Deeba.
__ADS_1
Bersambung.