Istri Tak Di Anggap Tuan Muda

Istri Tak Di Anggap Tuan Muda
Bab 19


__ADS_3

Pagi hari yang cerah Olivia terbangun dari tidur nya membersihkan tubuh nya di kamar mandi,lalu ia pun ke dapur melihat bik Inah sedang memasak sarapan untuk mereka.


"Pagi bik"sapa Oliv.


"Pagi non"jawab bik Inah.


"Bibik masak apaan"tanya Olivia.


"Ini non makanan kesukaan non"ucap bik Inah.


"Bibik tahu saja Oliv ingin makan itu"ucap Olivia.


"Mumpung non ada di sini besok-besok non jarang ke sini jadi sebelum non pergi bibik ingin masak makanan ke sukaan non Oliv"ucap bik Inah.


"Makasih bik"ucap Olivia tersenyum manis.


"Sama-sama non bibik senang memasak makanan kesukaan non"ucap bik Inah.


Selesai bik Inah memasak Olivia sudah duduk manis di kursi menunggu bik Inah menghidangkan makanan kesukaan nya, setelah di hidangkan benar saja ia makan dengan lahap membuat bik Inah geleng kepala di buat nya.


"Non Oliv seperti anak kecil jika sudah makan itu takut orang lain mengambil nya saja"ucap bik Inah hanya di balas cengengesan dari Olivia.


Selesai makan Olivia keluar dari dalam rumah ingin jalan-jalan sebentar sebelum ia meninggalkan rumah nenek nya namun langkah nya terhenti saat ia sudah berada di luar,wajah nya berubah datar melihat seseorang di depan nya yang menatap nya dengan perasaan bersalah dan juga rindu.


Olivia sendiri menatap benci dan juga rindu namun,ia mengepalkan tangan nya kuat agar bisa menguasai diri nya sendiri.


"Olivia"ucap orang tersebut.


"Olivia sudah mati"ucap Olivia.


"Saya sudah mengatakan jangan pernah tunjuk kan wajah anda di depan saya lagi"tambah Olivia.


"Maafkan papa Oliv"ucap pria paruh baya tersebut membuat Olivia tertawa sumbang mendengar kata maaf dari ayah nya tersebut.

__ADS_1


"Untuk apa anda meminta maaf pada saya tuan"ucap Olivia membuat papa Olivia menatap putri nya tak percaya.


"Olivia maaf kan papa nak"ucap papa Olivia.


"Kenapa anda harus meminta maaf tuan,memang nya apa salah anda pada saya hingga anda meminta maaf begitu"ucap Olivia.


"Ini papa Olivia kenapa kamu memperlakukan papa seperti orang asing nak"ucap papa Olivia lirih.


Olivia menatap sebentar lelaki yang dulu ia banggakan tersebut,ingin sekali ia berlari memeluk nya dan mengatakan jika ia begitu merindukan pria paruh baya tersebut, Olivia memaling kan wajah nya ke samping.


"Pergi lah jangan pernah temui saya lagi anggap saja saya tidak pernah ada sama seperti sebelum nya,jika anda menganggap saya tidak ada selama ini maka saya pun seperti itu telah menganggap anda mati"ucap Olivia.


"Oliviaa"ucap papa Oliv dengan suara sedikit meninggi tak terima dengan ucapan Olivia, ia memandang Olivi dengan tatapan penyesalan.


"Anda keberatan jika saya mengatakan itu,bukan kah apa yang saya katakan adalah kebenaran nya"ucap Olivia.


"Maafkan papa nak"ucap papa Olivia.


Sementara papa Olivia menatap pintu yang sudah tertutup tersebut dengan perasaan bersalah dan penyesalan,ia meninggalkan kediaman nenek Olivia dengan perasaan campur aduk,semua kesalahan nya hingga putri nya sendiri bersikap seperti itu pada nya bahkan menganggap nya seperti orang asing yang lebih menyakitkan lagi putri nya itu tak mau memanggil nya dengan sebutan papa.


"Nak Oliv"ucap bik Inah memeluk Olivia yang menangis sesegukan di lantai,ia melihat dan mendengarkan semua nya.


"Bik dia datang bik"ucap Olivia memeluk bik Inah erat.


"Tenang dulu non"ucap bik Inah mengelus punggung Olivia agar lebih tenang.


"Untuk apa dia datang sekarang bik,kemana ia dulu bik saat Olivia masih membutuh kan nya,sekarang ia baru datang untuk melihat Olivia bik"ucap Olivia menangis sesegukan.


Bik Inah hanya diam mendengar kan ucapan Olivia,sesekali ia menghapus air mata nya yang turun mengerti bagaimana perasaan Olivia.


Lelah menangis di pelukan bik Inah Olivia tertidur dengan air maga yang masih tersisa di pipi nya.


"Non Oliv pasti kuat menghadapi semua ini non tidak sendirian ada den Al yang menjaga non serta mertua non yang menyayangi non Oliv"gumam bik Inah mengelus rambut Olivia.

__ADS_1


Ia sudah menganggap Olivia sebagai putri nya karna saat Olivia kecil berusia sepuluh tahun ia sudah ikut mengurus Olivia membantu nenek Olivia hingga sekarang Olivia tumbuh menjadi gadis cantik dan cerdas,ia juga tahu bagaimana Olivia maka dari itu ia sangat sedih melihat Olivia yang sekarang terlihat begitu rapuh.


Sementara di perusahaan Aldino sibuk mengurusi perusahaan nya yang bermasalah hingga ia melupakan Olivia yang masih berduka. Ia bahkan tidak kembali ke rumah dan tidur di perusahaan beruntung ia memiliki ruangan pribadi di dalam ruangan nya yang berisi lengkap keperluan nya.


"Ini makan siang nya tuan"ucap Arga meletak kan makan siang untuk Aldino.


"Iya"ucap Aldino tanpa mengalihka pandangan nya dari komputer di depan nya.


"Kalau begitu saya keluar dulu tuan jika butuh sesuatu hubungi saya saja"ucap Arga di angguki Aldino,kedua nya akan bersikap profesional jika masih dalam jam kerja.


Saat jam menunjuk kan jam dua siang ponsel Aldino bergetar membuat nya mengalihkan pandangan nya,ia segera mengangkat telpon tersebut.


"Hallo Alya"ucap Aldino dengan mata yang masih tertuju ke komputer satu tangan nya bergerak di keyboart komputer tersebut.


"Kak kenapa kak Oliv belum juga kembali bukan kah harus nya kak Oliv sudah kembali sekarang"ucap Alya membuat tangan Al terdiam.


"Dia belum kembali"tanya Al kembali bertanya.


"Belum kak"ucap Alya.


"Tunggu saja di rumah kakak akan ke sana memeriksa nya"ucap Al segera mematikan sambungan telpon tersebut bergegas mengambil kunci mobil nya,ia segera keluar dari ruangan nya.


"Aku balik duluan"ucap Al pada Arga segera berlari menuju lift.


Tiba di lantai bawah Al segera keluar dari perusahaan masuk ke dalam mobil nya,ia melajukan nya menuju kediaman nenek Olivia untuk memastikan keadaan wanita tersebut.


Sampai di sana ia segera mengetuk pintu rumah nenek Olivia di buka bik Inah yang kebetulan ada di ruang tamu.


"Den Al"ucap bik Inah melihat Al.


"Oliv dimana bik"tanya Al langsung.


"Non Oliv baru saja tidur den"ucap Bik inah menunjuk Olivia yang berbaring di sofa ruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2