
Kini Al membawa Olivia ke rumah sakit agar tangan nya cepat di obati oleh dokter karna luka di tangan Olivia cukup dalam dan beruntung tak mengenai urat tangan nya.
Al menunggu Olivia di luar ruangan yang sekarang tangan Olivia sedang di tangani oleh dokter. Tak lama dokter yang menangani Olivia keluar dari ruangan nya.
"Bagaimana keadaan istri saya"ucap Al datar.
"Nyonya Olivia baik-baik saja tuan namun sekarang ia harus di rawat semalam ini di sini"ucap dokter tersebut sopan karna tahu siapa lelaki berkuasa di depan nya tersebut,ia juga sedikit bingung mendengar ucapan Al yang mengatakan istri karna tak tahu jika Al sudah menikah.
"Hmm"dehem Al segera masuk ke dalam ruangan tersebut untuk melihat langsung keadaan Olivia.
Terlihat Olivia sedang tidur mungkin saat menjahit luka di tangan nya dokter tadi membius nya hingga membuat nya tertidur agar tak merasakan sakit saat tangan nya di obati.
Ck wanita ini membuat ku khawatir saja,bagaimana jika tadi aku tak datang tepat waktu mungkin ia bisa kehilangan nyawa nya karna kekurangan darah,batin Al.
Ia memilih duduk di sofa yang ada di ruangan Olivia sembari menunggu Olivia bangun dari tidur nya. Al mengambil ponsel nya untuk menghubungi Arga yang sedang di perusahaan yang pasti nya sedang menunggu kedatangan nya karna ia belum juga tiba di perusahaan.
"Hallo gua gak masuk hari ini tangani semua nya di sana"ucap Al setelah mengangkat telpon dari nya.
"Apa ada masalah"tanya Arga karna Al baru pertama kali nya tak masuk ke perusahaan biasa nya Al akan masuk walaupun dalam keadaan demam sekalipun.
"Urus saja perusahaan hari ini"ucap Al mematikan sambungan telpon nya jika tak di matikan Arga akan menanyakan banyak hal seperti ibu cerewet.
Setengah jam kemudian Olivia bangun dari tidur nya ia menatap sekeliling yang ternyata ada di rumah sakit.
__ADS_1
"Sudah bangun"ucap Al membuat Olivia menoleh ke asal suara tersebut,dapat ia lihat Al duduk di sofa dengan melipat tangan di dada nya sambil menatap diri nya tajam.
"Hmm"dehem Olivia.
"Bagaimana tangan mu masih sakit"tanya Al.
"Sudah membaik"ucap Olivia.
"Maka nya jangan berbuat nekat seperti itu jika saja aku tak datang mungkin kau sudah kehilangan nyawamu karna kehabisan darah"ucap Al ketus membuat Olivia diam saja,ia mengingat kembali percakapan nya dengan papa nya saat di ruangan nya.
"Mungkin jika kau tak datang aku kehilangan nyawa ku dan akan bertemu dengan ibu ku"ucap Olivia dengan tatapan kosong membuat Al menghela nafas kasar mendengar ucapan Olivia.
"Lupakan saja,kau ingin makan sesuatu"tanya Al bangkit dari duduk nya mendekati Olivia yang masih terbaring.
"Jangan berbuat macam-macam Olivia"ucap Al berubah dingin.
"Aku tak akan berbuat apa pun aku hanya ingin sendiri"ucap Olivia memalingkan wajah nya ke samping.
Al menatap datar Olivia dan berlalu keluar dari ruangan tersebut,ia akan menunggu di luar sampai Olivia dapat menenangkan diri nya,ia takut Olivia akan berbuat hal aneh yang akan membahayakan nya.
Di dalam ruangan Olivia tak dapat membendung air mata nya lagi,akhir nya ia menangis juga dada nya sesak seakan tak kuat lagi menghadapi semua yang terjadi pada nya,tak mudah bagi nya untuk hidup seperti itu dari dulu ia belajar dan bekerja keras untuk mencapai kesuksesan nya hanya untuk membuktikan jika diri nya bisa hidup tanpa bantuan seorang ayah,ia bekerja keras kadang tampa mengenal lelah bahkan ia sampai tak tidur dua malam hanya mengerjakan pekerjaan perusahaan untuk menarik perusahaan lain bekerja sama dengan perusahaan milik nya dan usaha nya tak sia-sia kerja keras nya membuahkan hasil yang kini perusahaan nya berkembang pesat di berbagai bidang.
"Apa sekarang setelah ia hampir kehilangan semua nya baru sadar jika ia mempinyai seorang putri lagi,putri yang tak pernah ia lihat selama belasan tahun dan kini ia datang setelah tahu aku mempunyai segala nya"gumam Olivia palan manangisi diri nya sendiri,mungkin jika ia tak mempunyai apapun apakah seseorang yang memanggil diri nya dengan sebutan ayah itu akan mengenal diri nya.
__ADS_1
Olivia menangis sesegukan di ruangan tersebut hingga terdengar ke luar di mana Al berdiri dan melihat Olivia menangis dari balik kaca jendela ruangan Olivia.
"Aku akan memberikan kalian pelajaran membuat istri ku menangis seperti itu"gumam Al mengepalkan tangan nya kuat.
Ia berjalan meninggalkan ruangan Olivia namun sebelum benar-benar pergi ia menyuruh dua orang perawat untuk menjaga Olivia dari luar dan memeriksa keadan Olivia dengan baik untuk berjaga-jaga Olivia tak melakukan hal aneh yang akan menyakiti diri nya.
Al mengendarai mobil nya menuju kediaman Permana untuk menemui tuan Permana di sana yang sudah pulang dari perusahaan Olivia,tiba di sana ia segera masuk ke dalam rumah tersebut di sambut istri dan putri tuan Permana sedangkan tuan Permana hanya diam saja di sana.
"Selamat datang di kediaman kami tuan Aldino"ucap istri tuan Permana dengan senyuman lebar.
"Silahkan duduk tuan"ucap putri tiri tuan Permana.
"Saya ke sini ada urusan penting dengan anda tuan Permana"ucap Al dingin menatap tajam tuan permana tanpa menghiraukan kedua wanita tersebut.
"Urusan apa tuan Aldino"ucap tuan Permana sedikit takut melihat tatapan tajam Al.
"Aku peringatkan pada mu jangan pernah menemui Olivia lagi jika itu terjadi kau akan menerima akibat nya dari ku dan satu lagi peringatkan juga pada mereka berdua agat tak mengganggu Olivia,kalian tahu bukan aku tak pernah main-main dengan ucapan ku"ucap Al dingin membuat mereka diam sekaligus bingung terutama tuan Permana karna tadi ia melihat langsung bagaimana Al menggendong Olivia membuat nya bertanya-tanya apa hubungan antara kedua nya.
"Olivia putri ku tuan Al"ucap tuan Permana.
"Oh ya bukan kah tadi ia sudah tak menganggap mu sebagai ayah nya lagi bahkan ia melukai tangan nya agar tak ada lagi ikatakan di antara kalian"ucap Al sinis membuat tual Permana diam.
"Ini peringatan untuk kalian semua nya jangan pernah temui istri ku jika aku tahu kalian menemui nya atau mengganggu nya maka rasakan saja akibat nya dari ku"ucap Al menatap ketiga nya tajam,tanpa membuang waktu lagi ia segera keluar dari rumah tersebut.
__ADS_1