Istri Tercinta Pak Dosen

Istri Tercinta Pak Dosen
BAB 10 : Niat Yang Buruk


__ADS_3

Sebelum tidur, Zely mengkonsumsi obat agar bisa membuatnya tidur. Bukan hanya satu butir, tapi justru beberapa butir obat langsung dikonsumsi. Karena berharap benar-benar tidur dan istirahat dengan tenang demi menghilangkan pikiran dan masalah yang sedang dihadapi.


Ketukan pintu dan panggilan yang lebih cocok disebut teriakan seakan bersahut-sahutan di depan pintu kamar. Bahkan tak membuat si pemilik kamar terbangun atau terganggu.


“Bik, ini Zely kok nggak buka pintu kamarnya. Saya takut dia kenapa-kenapa,” ujar Bella pada Bik Anik yang dari tadi bersamanya menggedor-gedor pintu kamar.


“Bibik juga bingung, Nyonya. Apa jangan-jangan Non benar-benar ngelakuin hal itu, ya,” pikirnya mengingat niat Zely tadi malam.


“Niat apa, Bik?”


“Non bilang mau bunuh diri,” ungkapnya sedikit ngeri. “Tapi kayaknya Non nggak mungkin senekat itu juga, kan, Nyonya?”


“Bibik jangan nakut-nakutin saya dong,” respon Bella malah jadi ngeri membayangkan kalau ponakannya benar-benar melakukan hal itu.


Bella sudah rapi, karena siap menyambut Rafa dan keluarga yang sebentar lagi akan datang. Namun, sekarang malah Zely yang membuatnya pusing. Sudah sepuluh menit ia menunggu dan menggedor-gedor pintu kamar, tapi gadis itu tak memberikan respon apa-apa.


“Ini bentar lagi Rafa pasti nyampe,” ujarnya.


“Bik, panggil pak satpam ke sini, ya,” pinta Bella pada Bik Anik.


“Baik, Nyonya.”


Wanita paruh baya itu langsung bergegas melakukan apa yang diminta oleh majikannya. Menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, bahkan sampai di bawah ia dengan sedikit berlari menuju ke halaman depan. Lebih tepatnya menuju Pak satpam yang berada di pos depan.


Di saat yang bersamaan, laki-laki paruh baya itu tampak bergegas membukakan pagar pembatas ketika dua mobil sudah berada di depan sana.


“Waduh, itu pasti tamunya sudah datang,” gumam Bik Anik makin bingung. Karena Zely yang akan jadi fokus utama, masih belum jelas kondisinya.


Pagar terbuka lebar, dua mobil beriringan memasuki pekarangan rumah. Bik Anik langsung melanjutkan niatnya, menghampiri Pak satpam sesuai permintaan Bella.


“Pak, dipanggil sama Nyonya. Cepetan.” Ia sampai menarik paksa laki-laki paruh baya itu setelah kembali menutup pagar, agar segera mengikuti langkahnya.


“Ada apa, sih, Bik? Saya berasa kayak kambing ditarik-tarik gini.”


“Dipanggil Nyonya, itu non Zely nggak keluar-keluar dari kamarnya dari tadi. Udah digedor-gedor, saya sama nyonya juga udah teriak-teriak tapi nggak direspon.”


“Baik, Bik … kalau gitu saya langsung ke atas, ya.”

__ADS_1


“Iya, langsung ke atas. Saya mau nyambut tamu dulu, bilang nyonya sekalian, ya.”


Barusan susah diseret, sekarang Pak satpam langsung bergegas memasuki rumah saat mendengar info yang diberikan Bik Anik.


Rafa yang baru turun dari mobil, sempat dibuat bingung melihat sikap Pak Satpam dan asisten rumah tangga keluarga Zely. Hanya saja mau bertanya langsung rasanya juga nggak enak.


Seorang supir membukakan pintu mobil yang satu, hingga dua orang wanita paruh baya tampak keluar dari kendaraan itu. Mereka adalah Diana, bersama Hesty yang merupakan tante dari Rafa … adik dari Diana.


Bik Anik menghampiri semua tamu.


“Tuan, Nyonya dan Aden … silakan masuk dulu,” ajak Bik Anik sopan.


Semuanya masuk ke dalam rumah mengikuti arahan Bik Anik. Terlebih lagi Malik, merasa seakan balik ke masa lalu. Ya, dulu saat masih muda sering sekali datang berkunjung ke rumah ini. Tak ada yang berubah, hanya saja beberapa bagian bangunan tampak diperbaharui mengikuti perkembangan jaman yang lebih modern.


Diana dan Hesty tampak kagum dengan penampakan rumah, terlebih bagian dalam yang begitu mewah. Warna yang dominan putih, seolah menambah kesan minimalis dari setiap sudut ruangan.


Bukan mengagumi keluarga Baskara yang kaya raya, karena sebagai istri dari seorang pengusaha ia juga sudah biasa dengan semua kemewahan. Tapi karena anaknya cowok, otomatis ya kesan rumahnya justru lebih simple.


Semenjak Malik menceritakan kisah masa lalu tentang keluarga ini, justru itulah yang membuatnya penasaran. Seperti apa sosok gadis yang akan jadi menantunya. Karena Rafa pun tak menunjukkan foto dia padanya.


“Silakan duduk Tuan, Nyonya dan Aden,” ujar Bik Anik pada semua. “Saya akan panggilkan Nyonya dulu.”


“Kenapa, Raf?” tanya Malik melihat gelagat putranya yang tak biasa.


“Enggak, Pa,” elaknya.


Bik Anik segera bergegas menuju lantai atas, menemui Bella dan Pak satpam yang ternyata masih sibuk mendobrak pintu kamar. Benar-benar masalah yang tiba-tiba, padahal di bawah sudah ada keluarga Rafa, sedangkan Zely belum jelas kondisi dia sekarang.


“Nyonya, di bawah sudah ada keluarga dari calon suaminya non Zely,” ujar Bik Anik.


“Tapi pintunya belum kebuka, Bik. Ya ampun, ini perasaan saya kok makin nggak enak, ya. Takut kalau Zely kenapa-kenapa,” ungkapnya dengan wajah cemas.


“Nyonya, ini kunci cadangannya nggak ada? Susah banget didobrak,” ujar Pak Satpam. Entah tubuhnya yang tak bertenanga, atau justru pintu ini yang begitu kokoh tak bisa didobrak. Tulangnya seakan remuk menghantam, bahkan tak membuat pintu itu beringsut.


“Kunci cadangannya di dalam.”


Bella bingung sekarang. Terserah apa yang akan dipikirkan oleh pihak keluarga Rafa, tapi sepertinya ia akan meminta bantuan Rafa.

__ADS_1


Rafa duduk, sesekali ia arahkan pandangannya ke arah anak tangga. Entah kenapa fokusnya tetap ke sana, seolah sedang terjadi sesuatu. Apalagi baik Bella maupun Zely juga belum turun dan menemui.


Ponselnya berdering, saat ia lihat ternyata Bella yang menelepon.


“Tante Bella?”


Rafa sampai bingung, kenapa Bella malah meneleponnya. Padahal dirinya sedang berada di rumah ini.


Menggeser layar datar itu untuk menjawab panggilan telepon dari Bella.


“Ya, Tante?”


“Rafa, cepetan ke atas, ya. Ini Zely dari udah dari pagi nggak keluar dari kamarnya.”


Tak membalas perkataan Bella, Rafa langsung beranjak dari posisi duduknya dan berlari menuju lantai atas.


“Rafa, mau kemana, Nak?” tanya Diana pada putranya, hanya saja pertanyaannya tak mendapatkan jawaban dari putranya.


“Dia kenapa?” tanya Hesty.


“Apa ada masalah, ya?”


 Malik berpikir begitu karena sudah sekian menit mereka sampai, tapi belum ada yang menghampiri. Dan sekarang Rafa malah tampak khawatir dan bergegas menuju ke arah dalam rumah.


Padahal Rafa tak ada hubungan apa-apa dengan Zely, tapi herannya feelingnya sudah tak enak dari tadi perihal dia.


Sampai di atas, tampak Bella bersama Bik Anik dan Pak Satpam berada di depan pintu kamar dengan raut cemas. Kemudian ia menghampiri semuanya.


“Kenapa, Tante?”


“Zely dari tadi pagi belum keluar dari kamarnya,” jawab Bella. “Ini kita udah gedor-gedor dan panggilin dari tadi, tapi nggak ada respon apa-apa.”


“Tadi Pagi Bibik bangunin, Non Zely masih baik-baik aja, Den. Cuman langsung tutup pintu dan masuk lagi, katanya mau tidur karena semalam nggak tidur,” jelas Bik Anik.


Rafa mencoba menelepon Zely. Yap, terhubung. Tetapi tak ada jawaban dari si pemilik ponsel. Jujur, ini pikirannya malah jadi buruk. Jangan-jangan dia beneran melakukan apa yang dikatakan padanya kemarin.


“Maaf, Tante. Aku terpaksa dobrak pintu kamar ini.”

__ADS_1


“Iya, silakan.”


Rafa menghantam pintu itu dengan badannya. Satu kali percobaan hasilnya gagal. Karena pintu ini benar-benar kokoh. Tak menyerah, kali ini ia kumpulkan tenaga dan kembali mencoba. Pintu seketika terhempas, begitupun dengan dirinya yang ikut terhempas ke lantai karena dorongan yang kuat.


__ADS_2