Istri Tercinta Pak Dosen

Istri Tercinta Pak Dosen
BAB 15 : Sudah Terbiasa


__ADS_3

Zely yang matanya terpejam, seketika melek mendapatkan pertanyaan itu dari Rafa. Padahal ia pikir dia sudah pergi barusan, ternyata masih di sini.


“Kenapa masih di sini?” tanya Zely masih dengan muka cemberut.


Hesty dan Diana menahan tawa mereka saat melihat sikap Rafa pada Zely. Keduanya tahu jika tak ada rasa apalagi cinta di antara dua insan itu. Hanya saja, boleh kan jika harapan orang tua begitu besar kalau mereka benar-benar memiliki rasa itu.


“Jawab pertanyaanku saja bisa, kan?”


“Yang mana?”


“Mau makan apa?”


“Nanti kamu kasih makanan lembek itu lagi,” balas Zely menebak.


“Itu aku lagi nanya, loh, Zel.”


Zely yang awalnya masih mode rebahan, langsung duduk seketika. Wajah juteknya juga berubah sumringah.


“Bebas, kan?” tanyanya memastikan.


“Tergantung.”


“Ish,” umpatnya.


“Harus bersih, sehat. Intinya tetap aman buat pencernaan kamu.”


“Yasudah, terserah kamu sajalah. Apapun akan ku makan, asal jangan makanan lembek seperti tadi lagi.” Pasrah, toh nggak bisa memilih makanan apa yang ia suka juga, kan.


“Ada titipan yang lain?” tanya Rafa memastikan. “Jangan sampai saat aku balik, kamu minta ini itu dan lain hal lagi. Capek tau bolak balik ngurusin kamu. Hariku terbuang percuma cuman buat ngurusin kamu.”


Seketika sebuah bantal menghantam kepalanya dengan sangat cepat. Heran, ini bocah benar-benar tak menghargai dirinya yang lebih dewasa. Tadi, menggeplak lengannya dengan santai. Sekarang malah berani menerjang kepalanya dengan bantal.


“Apaan, sih, Zel. Ini aku udah mode paling baik, loh, bantuin kamu.


“Baik apanya, kalau ujung-ujungnya kamu mengumpat terus. Aku kan juga nggak minta bantuan. Ingat, kan, kamu yang nawarin barusan? Kalau nggak mau yasudah, sana pergi. Aku juga nggak mau bikin orang lain repot. Karena aku udah biasa apa-apa sendiri. Paham kamu!”


Diana dan Hesty niatnya mau kembali keluar dari ruangan itu. Hanya saja langsung balik, bergegas menghampiri Rafa dan Zely ketika mendengar perdebatan itu.


“Aduh, aduh … ini kenapa, sih, ribut terus?” tanya Diana.


Wajah Zely tampak begitu kesal, begitupun dengan Rafa yang memasang muka jutek.


“Kamu ngapain lagi, sih, Raf?” tanya Hesty memastikan.


Zely mengarahkan pandangannya pada Diana dengan raut serius. Menyambar tangan wanita paruh baya itu. “Tante, maaf … kalau sikapku kurang sopan atau lancang. Tapi bisa nggak, biarin aku istirahat dulu. Aku nggak apa-apa sendirian di sini. Aku udah biasa. Daripada ditemani, tapi terpaksa. Aku takut jika menjadi beban semua orang.”

__ADS_1


“Sayang, siapa yang berpikir jika kamu beban, sih? Kami di sini benar-benar ingin jangain kamu,” balas Diana.


“Nggak ada,” jawab Zely. “Aku hanya mau sendirian di sini. Tante lihat tanteku, kan. Beliau nggak ada di sini denganku. Itu karena aku memang dibiasakan mandiri dari kecil. Jadi saat sendiri pun, aku akan baik-baik saja.”


Diana dan Hesty terdiam. Kata-kata Zely membuat mereka berdua bingung harus memberikan tanggapan seperti apa. Baru bertemu hari ini, membuat keduanya belum terlalu memahami betul seperti apa dia aslinya.


“Tapi, Zel …”


“Tante tenang saja,” sanggahnya langsung pada kata-kata Diana. “Nanti kalau semuanya beres, silakan masuk. Toh mau menghindar ataupun menolak, aku juga nggak akan bisa lakuin. Intinya aku dan dia tetap akan nikah hari ini.”


Rafa berlalu pergi dari sana dengan langkah cepat, membuka pintu dan menutup kembali dengan kasar, hingga menimbulkan suara hempasan.


Selama ini tak pernah berurusan dengan wanita sampai separah ini. Sekarang dengan Zely yang bahkan bisa dikatakan dirinya jauh lebih dewasa, malah sukses membuat otaknya seakan meledak.


“Raf, lo ngapain?”


Rafa yang berjalan tanpa melihat ke sekitarnya sampai dibuat kaget karena Nanta tiba-tiba menepuknya dari arah belakang.


“Astaga! Pikiran lo ngelag, ya. Gue udah panggil-panggil nggak nyaut,” oceh Nanta pada Rafa.


“Sorry, nggak fokus,” balas Rafa.


“Gimana dia, udah aman, kan?”


Rafa bersidekap dada, dengan hembusan napas berat yang ia lepaskan.


Nanta sampai bingung mendengar curhatan Rafa. Seperti cowok yang sedang baku hantam dengan kekasihnya.


“Gue nggak paham,” balas Nanta. “Lo bilang kalau gadis bernama Zely itu adalah calon istri. Sekarang kenapa malah berasa kayak musuh bebuyutan gini, sih? Tadi khawatir banget itu muka, berasa hidup dia udah di ujung tanduk. Sekarang malah seperti elu yang habis kena seruduk.”


Rafa ingin menceritakan semua masalahnya pada Nanta, tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat.


“Dia boleh makan makanan dari luar rumah sakit nggak, sih?” tanya Rafa mengalihkan pertanyaan Nanta.


“Nggak mau makan makanan dari rumah sakit?”


Rafa menggeleng.


“Lo bisa ke restoran yang ada di samping rumah sakit. Mereka khusus nyediain makanan sehat dan steril pastinya. Di sana juga bisa riquest,” jelas Nanta memberikan info pada Rafa.


“Oke. Makasih infonya. Gue ke sana dulu,” ujar Rafa langsung berlalu pergi dari hadapan Nanta.


Nanta memasang muka jutek, rasanya seakan ingin melempar sobatnya itu dengan sepatu. Pertanyaannya tak dijawab sama sekali.


“Barusan kesal pada Zely, seperti ada tanduk di kepala dia. Sekarang jadi perhatian lagi kayak beneran calon istri. Heran, itu mereka sebenarnya punya hubungan apa tidak, sih,” gumam Nanta bicara sendiri.

__ADS_1


Baru juga mau melangkah pergi, sekarang giliran Nanta dihadapkan pada Malik yang datang bersama beberapa orang yang tak dikenal.


“Nanta, kamu lagi tugas nggak?”


“Baru selesai, Om. Makanya aku mau nyamperin ke sini,” ujarnya. Mengarahkan pandangannya pada seorang laki-laki yang datang bersama Malik. “Maaf, Om … Bapak ini siapa, ya?”


“Ini Bapak penghulu. Beliau yang akan menikahkan Rafa dan Zely.”


“Hah?” Nanta sampai dibuat ternganga mendengar jawaban yang diberikan Malik. “Maksudnya gimana, Om? Rafa memang bilang kalau Zely adalah calon istrinya. Tapi, masa iya nikahnya sekarang?”


“Iya, Rafa dan Zely memang akan menikah sekarang. Nanti saja Om jelaskan, ya. Waktunya sudah mepet. Kamu sudah bebas tugas, kan. Jadi, bisa ikut Om?”


Nanta mengangguk saja. Meskipun otaknya masih mode ngelag dengan semua kejadian ini. Perasaan menghadapi pasien tak separah ini otaknya berpikir, tapi masalah Rafa dan Zely malah tak paham sama dirinya.


Sampai di depan ruangan Zely, mendapati Diana dan Hesty duduk di kursi tunggu yang ada di dekat pintu masuk.


“Loh, kok nggak masuk?” tanya Malik pada dua wanita itu.


“Itu loh, Mas … anak kamu bikin ulah lagi,” ujar Hesty pada Malik.


“Rafa?”


“Kan anak kita cuman satu. Gimana, sih,” balas Diana pada pertanyaan suaminya.


“Rafa barusan pergi, Tante. Katanya mau ke restoran sebelah beli makanan buat Zely,” jelas Nanta.


“Kamu yakin, Nan?” tanya Diana agak ragu. Ya gimana nggak ragu, tadi sama Zely sampai bertengkar. Sekarang Nanta bilang kalau dia beli makanan untuk gadis itu.


“Lah iya. Itu tadi katanya Zely nggak mau makan makanan dari rumah sakit. Makanya ku kasih info restoran sebelah yang sediain makan sehat.”


Diana dan Hesty malah tersenyum sumringah mendengar perkataan Nanta. Baguslah kalau memang begitu. Setidaknya meskipun kesal atau bersikap seenaknya pada Zely, tapi tetap saja dia perhatian.


Di saat yang sama, Bella datang menghampiri semuanya.


“Semuanya sudah siap, kan, Mbak?” tanya Bella pada Diana.


“Iya, sudah,” jawab Diana. “Tapi, apa nggak bisa ditunda dulu agak sebentar. Ya, mungkin kisaran satu jam.”


Barusan menunjukkan wajah ramah, tiba-tiba wajah Bella kembali dingin seakan tak setuju dengan apa yang diusulkan oleh Diana.


“Apa ada masalah lagi?” tanya Bella.


“Bukan,” jawab Diana. “Bukan masalah. Hanya saja Zely sepertinya butuh sedikit waktu istirahat. Dari tadi dia nggak sempat tidur sama sekali. Kondisinya juga lagi nggak sehat, kan.”


Bella tak mendengarkan penjelasan Diana. Ia langsung saja berlalu dari sana dan masuk ke dalam ruangan di Zely tanpa komentar atau sepatah kata pun.

__ADS_1


“Astaga! Dia sama sekali nggak mikrin ponakannya,” keluh Diana.


“Betah banget Zely punya tante kayak dia,” umpat Hesty mulai kesal dengan sikap Bella yang terkesan egois. “Kalau bukan tantenya Zely, udah ku bejek-bejek itu wanita.”


__ADS_2