
Saat ini Rafa dan Zely sedang duduk berhadap-hadapan. Ia dengan sengaja meminta izin pada semuanya untuk bicara berdua dengan gadis itu. Tahu sendiri, kan … apalagi jika dihadapan Bella, bukan Zely yang bicara, tapi justru wanita itu yang seakan bersikukuh.
“Berhenti nangis, Zely.”
Dia tak menangis, tapi air mata yang jatuh membasahi pipi merah yang mendapat tamparan dari Bella tadi membuktikan kalau dia sedang bersedih. Tetap saja tak mengakui hal itu.
“Bicara sekarang! Jangan perdulikan aku mau ngapain.”
Zely merasa hingga detik ini emosisnya belum reda sama sekali. Jantungnya masih terasa berdetak lebih cepat saat mengingat kejadian barusan.
“Kita nikah.”
Pandangan Zely terarah pada Rafa yang duduk dihadapannya. “Itu memang keputusan dari kemarin, kan? Jadi kenapa juga harus kembali membahasnya denganku? Ku tolak, apa bisa terkabul?”
Awalnya Rafa memang tak berniat melakukan hal yang rasanya begitu konyol ini. Sebuah pernikahan yang harusnya sakral dengan landasan cinta, sekarang malah berasa jadi seperti permainan dengan jalur terpaksa.
“Apakah masih sakit?” Rafa hendak menyentuh pipi Zely, tapi dia malah mengelak ketika tangannya nyaris bersentuhan.
“Nggak,” jawabnya.
Rafa beranjak dari duduknya, berjalan menuju ke arah meja. Menyambar box makanan yang tadi ia taruh di sana, karena saat sampai malah disambut adegan yang bikin emosi.
Rafa kembali pada Zely, menyodorkan box makanan itu ke arah dia.
“Ini apa?”
“Kan tadi kamu bilang lapar.”
“Udah kenyang dengan semua permasalahan ini.”
Rafa tak mendengarkan perkataan Zely, ia buka tutup box itu dan menyiapkan makanan buat gadis itu. Dari pagi dan sekarang sudah jam siang, belum ada makanan yang memasuki perut dia. Apalagi tadi habis muntah-muntah, tentu saja semua yang ada dalam tubuh Zely seakan terkuras habis keluar.
Menyodorkan satu sendok makanan ke arah mulut Zely, hanya saja dia tak menerima suapan darinya.
“Buka mulutmu.”
“Aku nggak mau makan,” tolaknya.
“Sedikit saja juga tak apa,” pinta Rafa.
Zely menatap fokus pada Rafa yang ada dihadapannya. Kadang heran, kenapa juga ia harus menurut pada cowok ini yang bahkan tak ada hubungan apa-apa dengannya. Dia yang membuat masalah dengannya, tapi sekarang malah dia yang membuat otaknya yang sedang panas berasa disiram air.
__ADS_1
Awalnya menolak, tapi akhirnya Zely menuruti perkataan Rafa. Menerima satu suapan makanan yang disodorkan, tapi tetap dengan wajahnya yang ditekuk.
“Lagi,” ujar Rafa melanjutkan pada suapan berikutnya dan tetap dia terima.
Sebenarnya Rafa ingin tertawa karena sikap dia yang menurutnya benar-benar membingungkan. tapi takutnya Zely ngamuk lagi. Barusan kesal padanya, menolak makanan yang ia bawa. Sekarang memasang muka menyedihkan dengan makanan yang tetap dia nikmati.
Sudah cukup otaknya hari ini diberikan serangan dari segala arah, jangan ada tambahan serangan dulu dari gadis ini.
“Sudah,” tolak Zely mengelakkan satu sendok makanan yang sudah ada di depan mulutnya.
Rafa tak memaksa lagi, ini saja juga sudah lumayan dia makan. Kemudian menyambar satu gelas air minum yang ada di nakas dan memberikan pada gadis itu.
“Kenapa mukamu masih ditekuk gitu, sih,” komentar Rafa saat Zely masih mode sendu.
“Haruskah aku tersenyum?”
Rafa beridekap dada dihadapan Zely, menatap dua manik mata yang masih tampak cairan yang menggenang di sana. “Kita mau nikah, kamu nggak mau memberikan sedikit senyuman buatku? Nanti aku dikira memaksa anak gadis orang buat nikah, loh.”
“Ya memang kenyataannya begitu, kan?”
Rafa menghela napasnya panjang. Rasanya mumet sekali kalau baku hantam dengan gadis ini. Nggak dibalas, rasanya kesal. Dibalas, melihat wajah dia yangg menyedihkan itu membuatnya tak tega.
“Udah, ya … lain kali kita lanjutkan perdebatan ini. Aku nggak akan bertanya lagi, tapi aku sedang membertahukan kamu kalau kita akan nikah.”
Pintu dibuka dari arah luar, tampak semuanya masuk termasuk penghulu yang akan menikahkan mereka. Berhubung papanya Zely sudah tiada dan tak memiliki saudara ataupun keluarga laki-laki, jadi wali hakim yang ditunjuk jadi walinya.
Sebagai pihak wanita, tentu saja Zely tak perlu mempersiapkan apa-apa. Mungkin kalau nikah normal, akan ada rasa bahagia dan deg-deg an. Tetapi sekarang hanya seperti adegan dalam sebuah drama sekolah saja.
Zely memilih untuk tetap tiduran. Efek bermasalah dengan Bella tadinya, sampai-sampai tekanan darah gadis itu ikutan naik. Nanta belum memeriksa lebih lanjut, hanya memberikan obat agar dia bisa tertidur saja.
Zely tengah berjalan di sebuah jalan tak berujung. Rasanya benar-benar panas dan melelahkan. Tak ada orang, bahkan benar-benar kosong dengan kiri kanan padang rumput yang tandus.
Dari kejauhan tampak mama dan papanya datang, kemudian menghampiri dirinya … menyodorkan air minum. Langsung menerima satu gelas air dan meneguknya hingga habis tak tersisa.
Hausnya reda, tapi tiba-tiba napasnya merasa sesak hingga batuk-batuk tanpa henti dan tersedak.
Rafa yang posisinya rebahan di sofa tiba-tiba kaget. Baru juga matanya terpejam karena mengatuk, malah langsung melek lagi saat mendegar Zely tersedak. Padahal gadis itu barusan sedang tidur.
“Kamu kenapa?” tanya Rafa.
Gimana Zely mau menjawab pertanyaannya, ini saja dia masih batuk tanpa henti. Sampai-sampai wajah putih itu memerah dan air mata dia mengalir.
__ADS_1
Rafa menepuk-nepuk punggung Zely agar batuk dia reda. Karena saat batuk dan tersedak, memberikan minum bukanlah cara yang tepat.
Tindakan Rafa ternyata lumayan berhasil. Perlahan batuknya mulai reda. Rasanya benar-benar sesak, seperti ada yang sedang mencekik lehernya, hingga membuatnya sampai tersedak.
Menyambar tisu yang ada di nakas, kemudian menghapus air mata dia yang membasahi pipi. Bahkan keringat memasahi wajah dan badan dia.
“Udah legaan?” tanya Rafa yang mendapat anggukan dari Zely.
Mendapatkan jawaban seperti itu, barulah Rafa berani menyodorkan air minum pada dia. Perlahan meneguk hingga habis satu gelas penuh. Kini Rafa menggosok-gosok tengkuk Zely, karena masih terlihat belum sepenuhnya reda.
Rasanya bebar-benar panas dan gerah. Seperti mimpinya barusan hingga benar-benar kehausan.
Zely mengedarkan pandangannya ke arah nakas, berharap ada ikat rambut atau gelang karet untuk mengikat rambutnya agar tak tergerai. Tetapi tak satupun benda yang bisa ia gunakan.
“Kamu nyari apa?”
“Nggak ada gelang karet atau apa gitu buat ikat rambut?”
Rafa malah menyambar sebuah sumpit di nakas, kemudian mengumpulkan rambut gadis itu dalam satu genggaman dan menggulung agak ke atas. Kemudian menusuk dengan menggunakan sumpit sebagai penyangga agar tak lepas.
“Belajar dimana?” tanya Zely sampai heran.
“Nyoba-nyoba doang.”
Zely memutar bola matanya saat mendengar jawaban Rafa. “Bilang aja efek sering berurusan sama rambut cewek. Sampai-sampai hapal caranya,” gumamnya.
Rafa gregetan sendiri dengan sikap Zely. Saking kesalnya dengan sengaja ia cubit pipi gadis itu, sampai dia mengaduh. Padahal nggak niat buat nyubit kuta-kuat, tapi ternyata malah merah bekas cubitan darinya.
“Sakit tahu, nggak,” keluhnya mendapatan serangan dari Rafa. Berniat membalas, tapi dia malah berhasil menghindari serangannya.
“Makanya kalau ngomong itu dipikir dulu. Kamu pikir aku pegawai salon, yang sering megang-megang rambut cewek.”
“Kamu …”
Zely yang berniat turun dari tempat tidur hendak membalas Rafa, seketika terhenti saat melihat benda asing yang melingkar di jari manisnya sebelah kiri.
“Kok ada cincin?”
“Pertanyaan macam apa itu,” gerutu Rafa.
Zely sejenak berpikir, tapi tiba-tiba matanya menatap fokus ke arah Rafa dengan sedikit raut tak percaya.
__ADS_1
“Kita udah nikah?!”