Istri Tercinta Pak Dosen

Istri Tercinta Pak Dosen
BAB 22 : Lembur


__ADS_3

Ponsel milik Rafa berdering, saat ia lihat ternyata yang menelepon adalah William. Dia adalah sahabatnya dan Nanta. Kebetulan juga Willi juga berprofesi sebagai dosen di kampus yang merupakan milik keluarga Baskara.


Rafa menggeser layar datar itu dengan sedikit keluhan. Pasalnya ia sedang bicara serius dengan Zely, tapi jika tak dijawab takutnya malah ada hal penting  yang akan diinfokan oleh Willi.


“Apa?”


“Kenapa lo sewot?” tanya Willi yang merasa kalau Rafa sedang tak mood.


“Langsung bicara, gue sibuk.”


“Sama istri tercinta, ya?”


Perkataan Willi membuat Rafa makin jengah. Ya siapa lagi pelakunya kalau bukan Nanta yang memberikan informasi pada Willi tentangnya dan Zely.


“Lo nelpon gue ada apa?”


“Gue tadi ngirim file makalah. Jangan sampai lupa kalau itu buat besok pagi, Raf.”


Rafa menarik napasnya panjang saat Willi malah mengirim kerjaan untuknya. “Gue besok pagi ada meeting. Lo malah kirim tugas ke gue. Ini juga nggak bisa ngerjain malam ini, Wil.”


“Kan elo yang minta kemarin, Bapak. Makanya gue fokusin ngerjain yang satu lagi, karena bertepatan sama acara reunian malam ini.”


“Lah, trus gimana dong?”


“Bukan salah gue, ya.”


“Nanta mana?”


“Yakali ngasih tugas makalah sama dia. Bisa-bisa semua dia tulis resep obat dan tata cara membelah isi perut.”


Rafa mendadak merasakan ada yang menghantam kepalanya. Melirik waktu yang ada di pergelangan tangannya, tampak jarum jam sudah berada di angka delapan lewat sepuluh.


“Gimana?” tanya Willi memastikan.


“Ntar gue coba selesaiin, tapi buat besok pagi, gue nggak bisa hadir. Paling gue masuk di jam siang.”


Meskipun rasanya keteteran banget, tapi ini bukan salahnya Willi juga. Toh, kemarin ia yang menyodorkan diri untuk membantu. Sekarang otomatis mau tak mau ya harus lanjut. Siapa juga yang bisa menebak akan ada kejadian seperti ini antara dirinya dan Zely.


“Oke. Nanti kabari saja kalau sudah jadi.”

__ADS_1


Percakapan terhenti saat Rafa menutup sambungan telepon itu. Tiba-tiba ia bisa melihat sekian jam ke depan akan ada yang namanya lembur dadakan.


“Otak gue mau pecah,” keluhnya.


Mengarahkan pandangannya pada Zely. Padahal mau menjadikan gadis ini agar menggunakan otak saat bersikap, bukan hanya mengandalkan rasa nyaman hingga malah tampak begitu bodoh. Sekarang malah tertunda lagi karena harus dihadapkan pada sebuah kerjaan.


Menyambar tisu yang ada di nakas, kemudian menghapus air mata di pipi dia. “Aku keluar bentar.”


“Lagi?”


“Ke mobil doang ngambil laptop.”


“Yakin cuman ke mobil?” Menatap Rafa dengan penuh ekspressi menelisik.


“Ya ampun ini cewek nggak percayaan banget, sih.”


“Pulang, ngambil hp. Endingnya kamu ngapain?”


Rafa merasa kalau Zeli ini begitu bodoh dihadapan Bella, tapi jika berhadapan dengannya malah jadi berbanding terbalik. Cerewet, nggak bisa dikasih komentar dan suka seenaknya.


“Harusnya kamu seperti ini pada tantemu, bukan padaku. Dasar! Bocah,” umpat Rafa berlalu dari hadapan Zely. Menyambar kunci mobil dan keluar dari ruangan itu.


Kali ini Rafa lebih jujur. Mungkin hanya kisaran sekian menit, dia sudah kembali dengan sebuah laptop di tangan. Meletakkan benda itu di meja dan menghampiri Zely.


“Zel, mau makan?”


Zeli menatap Rafa dengan muka jutek. “Tuh, kan … katanya tadi cuman ngambil laptop doang ke mobil. Kenapa pas balik udah sama makanan aja.”


“Makanya itu muka jangan jutek terus. Aku udah bawa makanan dari tadi pas balik dari rumah.”


“Benarkah?”


“Jadi, mau makan atau enggak? Atau, kamu mau makan makanan rumah sakit aja?”


“Aku nggak mau makanan rumah sakit.”


Jadilah, Rafa kembali ke mode seorang suami yang tampak begitu perhatian pada istri. Iya, yang orang lihat mungkin akan seperti itu. Hanya saja mereka tak tahu jika keduanya sedang baku hantam, itu sudah seperti Tom and Jerry.


Keduanya makan masing-masing. Zely juga sudah merasa baikan, apalagi tak ada infus yang membuatnya ribet harus ngapa-ngapain.

__ADS_1


Zely mencomot makanan milik Rafa. Terlihat menggoda, kenapa juga Rafa harus membeli makanan yang berbeda. Jadinya ia bingung harus memilih yang mana miliknya.


“Sudah punya masing-masing, kenapa punyaku yang kamu comot terus, sih,” kesal Rafa dengan sikap Zely.


“Salahmu, kenapa juga membeli makanan yang berbeda. Aku kan jadi bingung karena dua-dua nya ternyata enak.”


Mengalah untuk yang kesekian kalinya adalah hal yang dilakukan Rafa jika bersama dengan Zely. Layaknya kobaran api, jika dia mengomel apinya seketika padam.


“Besok aku mau pulang,” ujarnya setelah makan dan Rafa fokus pada layar laptop.


“Berpulang maksudmu?”


“Sadis banget! Begini-begini aku ini istri kamu. Sudah berniat jadi duda kamu?” Langsung mengomel ketika Rafa mempermainkannya.


“Duda keren sekarang laris manis daripada bujangan,” ungkap Rafa tak mengalihkan pandangannya dari layar laptop.


Zely yang sudah rebahan di tempat tidur, tiba-tiba langsung bangun dan turun dari sana. Menghampiri Rafa dan duduk di sebelah dia yang begitu fokus dengan pekerjaan. Iya, saking fokusnya saat bicara saja dia tanpa mengarahkan pandangan padanya.


“Awas, ya, jangan main fisik. Aku lagi kerja loh ini,” peringatkan Rafa pada Zely.


Zely itu suka sekali main geplak, menabok dan mencubit secara dadakan. Rafa yang baru bertemu dua hari ini saja sudah jadi korbannya dia beberapa kali. Makanya ia peringatkan itu sebelum Zely melakukannya lagi.


“Jadi, bagaimana dengan kuliahku?”


“Nanti kita bahas, ya … jangan sekarang.”


Zely memasang muka cemberut, kemudian menaikkan kedua kakinya ke atas kursi dan menyenderkan punggungnya di sana. Iya, di sebelah Rafa yang fokus pada kerjaan dia.


Awalnya masih diam, jadi seorang penonton yang baik saat Rafa fokus pada layar datar di depan dia dan sesekali mengecek layar ponsel. Hingga akhirnya semua lenyap dari pandangan matanya saat rasa kantuk datang.


“Pindah ke tempat tidur, ya, kalau ngantuk,” ujar Rafa mengingatkan Zely, tanpa berniat mengarahkan pandangan ke sebelahnya.


Perkataannya tak mendapatkan respon apa-apa. Mengarahkan pandangannya ke samping dan mendapati gadis itu ternyata sudah tidur, dengan kedua kaki yang dia tekuk ke atas seperti seseorang yang tengah kedinginan.


“Selalu saja menyusahkan,” ujar Rafa menarik napasnya panjang.


Beranjak dari kursi, kemudian menggendong Zely ala bridal style dan memindahkan dia ke tempat tidur agar merasa lebih nyaman.


Menarik selimut dan menutupi badan dia agar tak merasa kedinginan. Maklum saja, ini rumah sakit. Bahkan tanpa AC pun, hawa dinginnya akan jauh lebih berasa menusuk kulit.

__ADS_1


Malam yang panjang, karena di saat Zely sudah tidur nyenyak Rafa justru akan menghabiskan malam ini dengan setumpuk pekerjaan. Sebenarnya ini bukan dadakan, tapi karena tiba-tiba muncul masalahnya dan Zely, makanya jadi mendadak harus dikerjakan.


__ADS_2