Istri Tercinta Pak Dosen

Istri Tercinta Pak Dosen
BAB 42 : Perhatian


__ADS_3

Mungkin kisaran dua puluh menit setelah keduanya bicara di telepon, Rafa datang. Seperti biasa, kali ini pun dia sukses mencuri perhatian para sahabat Diana. Apalagi sekarang, malah lebih parah lagi. Itu karena mereka tahu jika Rafa ternyata sudah menikah.


Saat sampai, fokus utama Rafa adalah pada Zely yang tampak duduk pada sebuah kursi di samping Diana, mamanya. Memang tak tampak mau mengeluh, tapi dari wajah pun bisa ia lihat kalau dia kelihatan capek.


“Wah, udah dijemput sama suami,” ujar Rika.


Rafa menyambar dan mencium tangan Diana.


“Maaf tante, aku ganggu acaranya,” ucap Rafa pada Rika dan yang lainnya.


“Ya ampun, Rafa … kayak sama siapa aja ngomongnya,” respons Rika. “Kan udah bisa juga anter jemput mama. Sekarang gimana, nih … mau jemput mama atau istri?”


“Mama masih mau di sini, Raf. Kamu sama Zely pulang aja duluan.”


“Iya, Rafa. Nanti mama kamu bareng sama Tante aja pulangnya. Kan, kami satu arah,” terang salah satu dari ibu-ibu yang menanggapi.


Rafa mengangguk dengan senyuman simpul, kemudian fokus pada mamanya.


“Kalau gitu, Ma, aku bawa Zely pulang, ya.”


Diana mengangguk. “Hati-hati, ya.”


Rafa mengarahkan pandangannya pada Zely. “Ayok,” ajaknya.


Zely mengangguk dan beranjak dari posisi duduknya. “Ma, aku pulang duluan, ya,” pamitnya mencium punggung tangan Diana dengan tas mini ransel yang sudah berada di punggungnya.


“Langsung istirahat ya, Nak.”


Zely mengangguk. Kemudian lanjut mengarah pada ibu-ibu yang lain. “Tante semuanya. Makasih banyak jamuan dan sambutannya. Maaf, kalau aku datang tanpa undangan.” Bagian paling nggak enaknya ini. Karena tiba-tiba muncul padahal tak diundang.


“Nanti kalau ada acara lagi, datang ya, Sayang.”


Seketika Zely dibuat terpental. Hanya saja berusaha untuk tetap tenang di tengah gempuran para emak-emak.


“Iya, Tante,” jawabnya dengan ramah.


Setelah pamit, Rafa dan Zely meninggalkan area restoran tempat di mana acara itu diadakan. Rafa berjalan lebih dulu satu langkah dari Zely, sedangkan Zely berada di belakang.


Mengedarkan pandangannya ke sekitar. Biasanya ia berada di pusat perbelanjaan paling dengan Jean dan Renata. Sekarang justru dengan Diana sebagai mertua dan Rafa sebagai suami. Terkadang apa yang direncanakan memang tak akan pernah ada yang tahu hasilnya. Siapa juga yang sampai kepikiran jika ia dan Rafa akan memiliki hubungan yang dadakan begini.


Zely mengaduh dan langkahnya terhenti seketika saat ia menabrak sesuatu, pun kepalanya terbentur.


“Ih, Rafa kamu apaan, sih. Berhenti kok dadakan,” umpatnya pada Rafa yang malah dengan sengaja berhenti dihadapannya. Ya maklum, pandangan dan pikirannya sedang berpencar kemana-mana, jadi nggak sadar jika Rafa ada di depannya.

__ADS_1


“Kalau jalan, yang fokus.”


“Siapa juga yang nggak nabrak, kalau kamu nya berhenti di depanku.”


“Apa yang kamu pikirkan?”


“Nggak ada,” jawab Zely. “Ayok, pulang.” Kini justru ia yang memilih jalan lebih dulu. Hanya saja beberapa langkah berjalan, sebuah sentuhan tiba-tiba terasa di tangannya. Bukan hanya menyentuh, tapi menggenggam.


Awalnya fokus ke tangan, tapi kini fokus pada si pemilik tangan.


“Temani aku sebentar,” ajak Rafa.


“Kemana?”


“Toko buku.”


Zely memasang suka masam. Ini cowok sedang menguji nyalinya sebagai seseorang dengan nilai akademik yang lumayan atau gimana, sih. Ngajakin kok ke toko buku. Hanya jadi seorang istri yang penurut kemanapun suaminya mengajak. Meskipun sejujurnya ia tak suka toko buku.


Keduanya menuju toko buku yang berada tak jauh dari posisi mereka. Sampai di dalam, Rafa mulai mencari-cari buku yang sedang ia butuhkan. Sedangkan Zely hanya jadi pengikut yang setia karena mengekor di belakang Rafa.


Jongkok, bersandar, sampai duduk di lantai … semua dia lakukan saat menunggu Rafa yang sibuk seakan tak pernah usai mencari buku yang dia butuhkan. Entah dia memang berniat membeli, atau malah justru menumpang baca gratis.


“Masih lama, ya? Aku capek banget ngekorin kamu terus,” keluhnya bersandar di rak buku. “Kalau tadi langsung pulang, mungkin sekarang aku sedang berkeliling dalam mimpi.”


“Anggap saja ini kamu lagi mimpi. Lagi keliling juga, kan.”


“Iya, keliling sampai kaki gempor. Nanti harus tanggung jawab pokoknya. Nyampe rumah, kamu harus pijitin kakiku,” umpatnya kesal.


Zely yang posisinya duduk di lantai dan bersandar pada rak buku, mengulurkan tangannya pada Rafa. Cowok itu langsung menyambut uluran tangannya, membantu untuk bangkit.


“Akhirnya,” lega Zely saat keduanya keluar dari toko buku itu.


Zely berpikir jika Rafa membeli sekian puluh buku, tapi ternyata tidak sama sekali. Sudah bolak balik, mondar mandir, dari duduk, jongkok, berdiri … hingga kakinya terasa pegal dan kesemutan. Alhasil, hanya dua buku yang dia beli. Kebangetan nggak, tuh.


“Kamu mau beli apa?”


“Beli apa?”


“Itu pertanyaan, Zel … kenapa malah kamu balik tanya.”


“Oo,” respons Zely. “Nggak ada. Aku sekarang cuman mau pulang dan tidur nyenyak.” Harapannya dari sekian jam yang lalu dan sekarang sudah melewati waktu sore malah.


“Mumpung lagi di sini.”

__ADS_1


“Gampang lah kalau aku. Nanti kapan-kapan juga bisa, kan.”


“Mumpung aku lagi sama kamu.”


Masih dalam pikirannya, untuk kesekian kalinya Rafa seolah jadi orang lain yang tiba-tiba memiliki sikap berbeda. Zely sampai heran, ini Rafa kenapa. Masih bisa mengingat seperti apa sikap menyebalkan dia padanya, sekarang malah sebaliknya.


“Nggak berminat mau belanja? Pakaian atau keperluan kamu atau apapun gitu?”


Zely menggeleng.


“Kenapa malah jawabnya enggak?”


“Rafa, kebanyakan cowok tuh paling nggak suka sama cewek yang doyan belanja. Lah, ini kamu nggak ada angin nggak ada hujan, malah nawarin.”


“Kebanyakan, kan. Itu berarti aku masuk di list yang sedikitnya,” respons Rafa. “Barang-barang kamu nggak ada di rumah, daripada bolak-balik bawa, mending beli baru aja.”


“Capek,” keluhnya.


“Aku bantuin.”


Sepertinya pikiran Rafa sedang bermasalah. Ia yang ditawari shooping, menolak. Tapi malah justru Rafa yang kukuh.


Akhirnya Rafa dan Zely sampai di dalam sebuah toko pakaian wanita. Berbagai busana harian maupun formal lengkap semua di dalamnya. Mulai memilah milih mana yang cocok. Meskipun posisinya sekarang Rafa yang lebih antusias.


“Ini,” girang Zely menunjukkan sebuah rok pendek berwarna hijau tosca ke arah Rafa.


Tak memberikan jawaban, tapi lirikan mata Rafa sudah memberikan sebuah jawaban yang meyakinkan.


“Ada pilihan yang lain?” tanya Rafa.


“Warna?”


“Ukuran, Zely. Itu terlalu pendek. Ukurannya di atas lututmu.”


“Kan memang modelnya begini, Rafa. Namanya juga mini skirt. Itu artinya, pendek. Kalau long skirt, baru deh panjang.”


“Minimal seukuran yang kamu pake sekarang. Udah, no debat lagi. Mau mengumbar tubuhmu di depan umum? Masa iya kamu buka sampai atas lutut.”


“Ya ampun, Bapak. Kan tergantung suasana dan kondisi juga makenya. Kalau ke kampus, ya nggak mungkin juga aku pake. Paling enak tuh kalau jalan. Ya kayak sekarang ini misalnya.”


“Ingat, ya. Seorang wanita itu hanya boleh mengumbar tubuh di depan suaminya. Bukan di depan umum.”


Mulai deh, Rafa mengomel lagi. Tapi kali ini lumayan terdengar indah. Lebih ke peringatan akan Zely agar menjaga pakaian dia, bukan seperti omelan tak berbobot seperti sebelumnya yang justru lebih ke mirip ajakan baku hantam.

__ADS_1


Tiba-tiba Zely merasa tersadar akan kalimat yang dikatakan Rafa. Terlalu fokus pada omelan, membuatnya tak menyadari kalimat Rafa langsung.


“Kamu minta aku mengumbar tubuh di depanmu, begitukah?”


__ADS_2