
Zely spontan menarik tangannya dari pegangan Rafa, ketika dia fokus pada jarinya yang ada luka di sana.
“Ini masih perih.”
Rafa menyambar kembali tangan Zely, kemudian meniup luka yang tampak masih terbuka di jari dia. Tak terlalu lebar, hanya saja darah yang keluar lumayan banyak. Mungkin karena terjepit, hingga menekan cairan itu keluar.
Zely awalnya terlentang, tapi kini mengubah posisinya jadi miring menghadap Rafa yang kembali mengompres jarinya. Sesekali terasa hembusan napas dia yang menerpa kulitnya. Memang sakit, apalagi saat bagian luka itu terkena sentuhan, tapi seakan lenyap ketika dia perlahan meniup-niupnya.
“Gimana, Zel … udah enakan?” tanya Rafa.
Pertanyaan itu tak mendapatkan jawaban dari si pemilik nama, membuat Rafa yang hanya fokus pada luka dan jari dia yang tampak membiru dan bengkak, kini bearalih ke arah sampingnya.
Menghela napasnya singkat. Bagaimana pertanyaannya bisa mendapatkan jawaban, Zely saja sudah dalam kondisi tidur.
“Akhirnya kamu bisa tenang,” gumam Rafa merasa lega.
Bagaimana Rafa tak lega. Mendapati Zely menangis dan menahan sakit seperti tadi jujur saja ia ikutan cemas. Apalagi ini dirinya lah yang membuat dia sampai terluka. Sebagai seseorang yang berstatus suami, meskipun tak ada rasa, tetap saja rasa cemas sebagai sesama manusia juga akan muncul secara spontan.
Rafa meletakkan handuk yang ia gunakan untuk kompres itu ke dalam baskom. Kemudian perlahan beranjak dari posisi duduknya, tapi niatnya tertahan saat Zely spontan memeluknya.
“Untung statusmu adalah istriku,” gumam Rafa.
Rafa akhirnya memilih untuk pasrah beberapa saat. Anggap saja dirinya jadi sebuah guling yang nyaman untuk dipeluk. Bagaimana tidak, gadis yang tadinya hanya merangkul, kini bahkan semakin menariknya dekat.
“Inimah namanya nyari kesempatan, Zel. Iya, tidur … tapi masa nggak bisa merasakan, sih, mana suami dan mana guling.”
Hanya geleng-geleng dengan raut tak bersemangat. Menyenderkan punggungnya di sandaran tempat tidur dengan Zely yang tidur di sebelahnya. Tidak, lebih tepatnya dia tidur dalam posisi memeluknya.
Awalnya merasa biasa, tapi kenapa lama-lama rasanya jadi aneh. Biasanya Zely selalu saja nyari perkara dengannya, layaknya singa betina yang kelaparan. Sekarang bersikap seperti kucing anggora yang manis.
“Ya ampun, otakku mulai bermasalah.” Memejamkan kedua matanya seperti memikirkan hal yang tidak-tidak. Ingin beranjak dari posisi itu, tapi tetap saja tak tega.
Rafa tiba-tiba tersenyum saat sebuah ide jahil muncul di otaknya. Menyambar ponsel miliknya yang ada di nakas, kemudian mengaktifkan mode kamera.
__ADS_1
“Senjata buat ngelawan kamu ini, Zel,” gumamnya tersenyum jahil, kemudian memotret lengan Zely yang sedang memeluknya dengan posesive. “Makanya lain kali jangan jadikan aku layaknya guling.”
Sebuah ketukan pintu membuat Rafa tersentak kaget.
“Ya, masuk,” sahut Rafa pada seseorang di depan pintu kamar.
Pintu itu terbuka, tampak Bik Anik yang ternyata datang menghampiri.
“Maaf, Den. Bibik ganggu,” ucap Bik Anik merasa tak enak karena datang di saat yang tak tepat. Ya gimana ia tak merasa begitu, mendapati Zely yang sedang tidur dalam posisi memeluk Rafa, tentu saja tak biasa baginya.
“Ada apa, Bik?” tanya Rafa kembali meletakkan benda pipih itu di nakas.
“I-itu, Den. Barusan Nyonya Bella telepon, kata beliau kalau Non sudah pulang dari rumah sakit, diminta datang ke kampus hari ini untuk mengisi data perihal nilai.”
“Nanti biar aku yang urus, Bik,” balas Rafa.
“Baik, Den. Kalau gitu Bibik ke bawah dulu.”
Bik Anik berlalu pergi dari sana dan kembali menutup pintu kamar.
Tak mau nyari perkara. Apalagi perihal kerjaan yang tiba-tiba ia tinggalkan begitu saja tanpa pesan apapun tadi. Menyambar ponsel milik Zely yang ada di sebelah dia. Kemudian menelepon papanya.
Awalnya tak mendapatkan respon, tapi panggilan kedua terdengar sahutan dari sana.
“Pa, ini aku Rafa.”
“Loh, Raf. Ada apa? Kok pake HP nya Zely.”
“Itu, Pa … HP ku kehabisa daya.”
“Oo, begitu,” respon Malik. “Ada apa?”
“Papa lagi sibuk nggak?”
__ADS_1
“Nggak, sih. Ini Papa baru selesai ngurus kontrak sama pihak dari Surabaya kemarin,” terang Malik. “Memangnya kenapa, Raf?”
Sebenarnya Rafa tak enak hati jika harus minta bantuan pada papanya. Karena rasanya seperti anak yang tak tahu diri saja.
“Aku bisa minta tolong sama Papa, nggak? Gantiin aku untuk pertemuan. Waktunya setengah jam lagi, Pa. Tapi aku nggak bisa hadir karena lagi sama Zely.”
“Masih di rumah sakit?”
“Enggak, Pa. Ini sudah di rumah. Cuman tadi aku nggak sengaja bikin dia terluka, jadinya …” Rafa menghentikan kata-katanya. Mengarahkan pandangannya pada gadis yang tengah tidur sambil memeluknya. Ngeri kalau sudah perkara Zely. Karena kedua orang tuanya begitu perhatian pada gadis ini.
Rafa meletakkan telapak tangan dia di pucuk kepala Zely yang sedang tidur dan mengusap dengan lembut seolah sedang memberikan kenyamanan. Entah sikap spontan atau apa, yang jelas bisa membuat siapapun yang melihat akan memikirkan sesuatu sedang terjadi pada sebuah rasa.
“Aku merasa bersalah. Sekarang dia lagi tidur, tapi kok rasanya berat banget mau ninggalin dia sendiri.”
Terdengar helaan napas Malik saat Rafa mengatakan kondisi Zely.
“Papa nggak akan marah-marah atau bersikap seperti seorang ayah yang mengajari anak usia sembilan tahun bagaimana harus bersikap baik. Status kamu saat ini adalah seorang suami, jadi tolong bersikaplah sebagaimana harusnya seorang suami bersikap.”
Rafa terdiam. Padahal ia berpikir jika papanya akan langsung menyerangnya dengan amukan. Ternyata malah sebaliknya.
“Memang tak ada rasa cinta, tapi tolong bersikaplah baik pada dia. Itu saja yang Papa minta. Tak apa jika kamu tak sayang, tapi jangan sampai melukai dan menyakiti dia. Biar papa sama mama yang memberikan kasih sayang itu.”
Rafa merasa ada yang aneh. Padahal papanya hanya berkata demikian, tapi sukses membuat ada sentilan dalam dadanya.
“Kamu jaga dia baik-baik. Kalau ada apa-apa, kabari mama ataupun papa. Untuk urusan kantor, biar papa yang ambil alih hari ini.”
“Makasih, Pa,” ucapnya. “Maaf, kalau aku jadi ngerepotin.”
“Seorang suami, akan tetap jadi anak dari orang tuanya, ya.”
“Makasih, Pa.”
Percakapan terhenti saat sambungan telepon itu terputus. Rafa meletakkan ponsel milik Zely ke samping dia.
__ADS_1
Hanya beberapa kalimat, tapi berhasil membuatnya berpikiran panjang. Menatap Zely yang sedang tidur, justru rasa bersalahnya semakin besar saja. Sikapnya beberapa hari ini rasanya terasa begitu buruk pada dia.