
Rafa duduk di kursi yang berada di samping Zely, tiba-tiba ia malah diberikan tatapan aneh dan menelisik oleh gadis itu.
“Ada apa?”
“Boleh aku tanya sesuatu?”
“Hmm, apa?”
Menghembuskan napasnya lelah. “Nggak jadi deh.” Kembali mengurungkan niatnya untuk bertanya.
Zely mau bertanya perihal adegan peluk-peluk yang dikatakan Bik Anik padanya. Lebih tepatnya hanya memastikan kebenaran akan hal itu. Tetapi pikirannya kembali mundur. Iya kalau beneran, bisa-bisa dipermalukan dirinya oleh Rafa. Masa iya kesal sama dia, tapi saat tidur malah meluk.
“Aneh,” respon Rafa.
Rafa menyiapkan makanan di piring. Sedangkan Zely masih diam dengan wajah penuh pikiran.
“Zel.”
“Hmm,” responnya langsung mengarahkan pandangannya pada Rafa yang ada di sampingnya.
Zely pikir Rafa memanggil karena apa. Ternyata saat melengong, satu sendok makanan sudah ada di depan mulutnya.
“Kamu mikir saja sampai puas.”
“Ngeledek kamu?”
“Ya dari tadi kamu cuman bengong nggak jelas. Aku takutnya kamu kesambar.”
“Kesambar petir?”
“Bisa jadi,” jawab Rafa.
“Ini aku udah stanby nyuapin kamu makanan, loh,” ujar Rafa ketika Zely malah menganbaikan sikapnya.
“Aku sampai heran. Bukan, lebih tepatnya aku kaget tiba-tiba kamu jadi berubah,” ungkap Zely menerima suapan makanan dari Rafa.
Rafa tak membalas perkataan Zely. Terserahlah dia mau berpikir seperti apa. Anggap saja sekanrang ia mulai menyadari sesuatu kalau ternyata dirinya adalah suami dari seorang gadis bernama Zely. Yang nyatanya adalah pemilik dari kampus tempatnya mengajar. Sulit dipercaya, tapi memang begitulah nyatanya.
Setelah selesai makan, keduanya segera menuju kediaman Rafa. Sebenarnya ia sudah pernah mengatakan pada kedua orang tuanya untuk pindah dan tinggal di rumah yang berbeda, hanya saja yang namanya orang tua, tetap saja tak memberikan ijin.
__ADS_1
Diana merasa jika Rafa terlalu sibuk dengan pekerjaan, bahkan dua profesi dijalani dalam waktu bersamaan. Ingin kasihan, tapi mau bagaimana lagi. Sebagai anak tunggal, dia harus memahami dan otomatis akan melanjutkan usaha keluarga. Dan sebagai dosen, itu merupakan permintaan Malik.
Dalam perjalanan keduanya hanya diam tanpa berniat untuk buka suara. Apalagi Zely, dia sibuk dengan ponsel di tangannya karena sedang chattingan dengan Renata dan Jean di grup chat.
“Rafa, kamu ngajar di kampus mana?”
“Milikmu.”
“Haa?” Zely sampai tak yakin dengan jawaban Rafa.
“Kenapa kaget gitu?”
“Yang diurus sama tante Bella?”
“Iya, aku ngajar di sana. Dan mulai sekarang kamu akan lanjut kuliah di sana.”
“Mateng gue,” umpatnya langsung saat mengetahui itu semua.
Pertama, jujur saja, ya … ia tak pernah berniat bisa sampai kuliah di kampus itu. Ya, kampus yang nyatanya adalah milik keluarganya. Lebih tepatnya untuk saat ini dirinyalah yang jadi pewaris utama.
Kedua, ia menghindari itu karena tak ingin dibayang-bayangi oleh status kepemilikan. Takut saja jika semua orang tahu, otomatis pasti bakalan menganggap jika ia masuk lewat orang dalam. Padahal orang dalam itu adalah dirinya sendiri.
“Harusnya kamu senang saat melanjutkan pendidikan di tempat di mana kamulah pemiliknya.”
“Gimana mau senang. Nanti orang mikirnya aku masuk lewat jalur ninja. Apalagi tante Bella, bisa dimata-matai semua kegiatanku.”
Zely ingin bertanya lebih banyak pada Rafa. Terlebih kenapa dia sampai tahu kalau ia adalah pewaris dari Baskara group. Padahal selama ini Bella pun tak pernah membuka identitasnya sebagai anak tunggal.
Keduanya sampai di rumah orang tua Rafa. Turun dan langsung masuk ke dalam dengan barang-barang milik Zely dibawa oleh pak satpam yang dibantu oleh asisten rumah tangga.
Sampai di rumah tamu langsung disambut oleh Diana yang sepertinya masih mengkhawatirkan kondiri Zely karena tadi pergi dalam kondisi terluka.
“Ya ampun, Sayang … kamu benar-benar bikin mama khawatir tahu nggak.”
“Maaf, Ma,” ucap Zely merasa bersalah. Harusnya tadi ia tak pergi begitu saja, tapi karena kesal pada Rafa membuatnya lupa akan sopan santun dan pergi begitu saja tanpa pamit.
Zely tiba-tiba saja langsung memeluk Diana, sontak wanita paruh baya itu merasa bingung. Apa yang terjadi pada dia, hingga bersikap begini. Melirik ke arah Rafa, putranya itu malah menggeleng pertanda tak mengerti.
Memeluk sesaat, seakan merasakan kehangatan dan sentuhan seorang Ibu. Kemudian melepaskan pelukan itu.
__ADS_1
“Sebelumnya aku benar-benar minta maaf, Ma. Mungkin kehadiranku di sini akan membuat semua orang merasa direpotkan.”
“Hmm, aku salah satunya.”
Diana menatap horor ke arah Rafa Haruskah putranya ini selalu bikin suasana makin panas. Padahal berharap jika dia sedikit memberikan sikap baik pada Zely, tentunya meski tak ada cinta pun, keduanya tetap bisa akur.
“Maksudku, maaf karena aku menjadi salah satu yang bikin kamu nggak nyaman di sini,” lanjut Rafa. Setelah itu berlalu dari hadapan dua orang wanita itu.
“Rafa kenapa?”
“Daritadi sikap dia aneh,” respon Zely.
“Luka kamu gimana, Zel? Rafa tanggung jawab, kan? Dia nggak bikin kamu makin terluka, kan?”
Zely menggeleng cepat. “Enggak, Ma. Ini, udah dia obati tadi.” Menunjukkan jarinya yang masih tampak berwarna kebiruan dan ungu.
Tadi Diana tak sempat melihat luka yang dialami oleh Zely, sekarang tentu saja ia kaget dengan penampakan itu.
“Ya ampun, Nak … pasti sakit banget, ya. Rafa benar-benar keterlaluan sampai bikin kamu terluka. Apa kita periksa ke rumah sakit aja, ya. Mama takut kalau sampai ada apa-apa sama tangan kamu.”
“Enggak usah, Ma. Ini sakitnya udah berkurang, kok. Tadi Rafa udah kasih obat dan kompres juga biar bengkaknya nggak makin parah. Hanya butuh waktu buat memulihkan aja kayaknya,” terang Zely berusaha membuat Diana tenang.
Sebelum bertemu dengan Diana, Zely bahkan sempat berpikir jika dia adalah wanita seperti kebanyakan jenis mertua yang orang bilang. Apalagi ditambah dengan banyaknya drama di TV yang menyatakan jika mertua adalah salah satu hal paling utama sebelum meluluhkan hati anaknya.
Sekarang ia berpikir jika semua pandangan itu tak berlaku untuk semua mertua, karena dari awal bertemu dengan Diana, dirinya seperti menemukan sosok ibu dalam sikap dan perhatian yang dia berikan padanya.
“Aku mau bilang makasih banyak sama mama,” ujar Zely.
“Kok makasih?”
“Karena mama udah menerimaku di sini dengan penuh kasih sayang.”
Diana sampai dibuat terharu akan ucapan Zely.
“Mungkin karena aku udah lama nggak dapat perlakuan dan sayangnya mamaku juga, jadi pas dapetin dari mama Diana … aku merasa bahagia. Andai mamaku masih ada, mungkin kalian berdua akan memiliki sikap yang sama. Sayangnya mamaku sudah pergi duluan.”
“Jangan sedih, ya. Mama memang hanya mertua, tapi sayangnya mama ke kamu akan sama dengan sayang mama sama Rafa. Jadi jangan pernah sungkan tentang apapun. Kamu menginginkan sesuatu atau kamu merasa nggak nyaman, katakan saja.”
“Aku mau tanya satu hal sama mama. Boleh?”
__ADS_1
“Pandangan mama padaku saat Rafa bilang tentang masalah yang terjadi sama kita berdua di hotel itu, gimana?”