Istri Tercinta Pak Dosen

Istri Tercinta Pak Dosen
BAB 35 : Tutup Mata


__ADS_3

Mendengar permintaan Rafa begitupun penjelasan dia, Diana yang awalnya duduk dikursi langsung beranjak dan menggeplak lengan putranya itu dengan buku yang masih ia pegang.


“Rafa, kamu ini bisa nggak, sih, sedikit berpikir?”


“Itu aku udah pikirin loh, Ma. Nggak ada solusi lain.”


“Lama-lama kalau kamu masih berpikiran pendek begitu, mama tendang kamu ke dalam kolam,” kesal Diana. “Bisa-bisanya kamu minta mama buat bantu Zely pake baju, trus gunanya kamu sebagai suami apa?!”


“Tapi, Ma … kalau aku khilaf gimana?”


“Khilaf khilaf, kamu bikin dia hamil sekalipun nggak akan ada yang komplen karena dia istri kamu Rafa!”


“Siapa juga yang mau bikin dia hamil,” gerutunya memilih untuk berlalu dari hadapan mamanya.


Padahal berpikir tindakannya ini sudah yang paling benar. Karena kalau ia yang turun tangan, bukan tak mungkin kalau dirinya melakukan kesalahan. Pernah berpikir jika Zely terlalu muda dan tak menggoda sama sekali, tapi ketika dia diam dan bersikap manis, itu rasanya malah ada yang aneh dengan dirinya.


Membuka pintu kamar. Perlahan berjalan masuk sambil menjaga pandangan ke segala arah. Takut seperti tadi, tib-tiba dia nongol dengan hanya mengenakan handuk.


“Zel, kamu di mana?”


“Kamar mandi,” jawab Zeli yang menyahut.


Rafa menghela napasnya lega, ketika gadis itu tak berkeliaran di depannya.


“Mama mana?” tanya Zely tampak mencondongkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi.


“Mama nggak mau,” jawab Rafa yang duduk di pinggiran tempat tidur.


“Trus, gimana dong?”


“Malah mama minta aku yang pakein pakaian kamu.”


“Dih, aku nggak mau jadi korban kamu untuk yang kedua kalinya,” berengut Zely.


Ingin membungkam mulut Zely rasanya saat memberikan respon seperti itu, tapi kembali berpikir jika apa yang dia katakan memang benar juga, tapi tidak dengan korban. Karena keduanya adalah korban di malam itu.


“Aku tinggal aja, ya.”


“Tega banget, sih,” rengek Zely dari dalam kamar mandi. “Masa aku di sini, handukan doang gitu sampai tanganku sembuh.


“Trus gimana? Kamu beneran mau aku yang pakein baju kamu?”


Zely diam tak membalas pertanyaan Rafa. Siapa juga yang mau dipakein baju sama dia, tapi Diana malah menolak dan justru meminta Rafa yang turun tangan. Memusingkan sekali perkara tangan yang sakit. Mending kaki, setidaknya ia bisa melakukan apapun dengan tangannya.


“Baiklah,” respon Zely singkat.

__ADS_1


“Apanya yang baiklah?”


“Katanya kamu mau pakein, kan? Kenapa tiba-tiba jadi balik nanya.”


Rafa menelan salivanya sendiri. Padahal ia kan hanya sekadar bertanya, karena berpikir jika Zely tak akan mau. Nyatanya sekarang justru gadis itu malah menyetujui tindakannya.


“Kalau aku khilaf menyetuh yang tidak-tidak, jangan marah, ya.”


“Ku tendang kamu dari peredaran!” ancamnya. “Tutup matamu.”


“Haruskah?”


Zely keluar dari dalam kamar mandi. Masih dengan handuk yang membalut badannya. Lagi, untuk yang kedua kalinya Rafa dibuat kaget. Kenapa dia seolah tak perduli dengan kondisi otaknya sebagai laki-laki.


“Tutup matamu sampai ku bilang buka.”


“Mana bajumu?”


Rafa mengarahkan tangannya pada Zely, berharap benda yang ia minta dia berikan.


“Bentar, sebelum baju kamu harus bantu sesuatu dulu.”


“Zel, kamu benar-benar bikin aku seperti asisten, ya,” umpat Rafa ketika Zely dengan seenaknya memerintah.


 Kalau Rafa memang menginginkan, tak akan ia tutup matanya. Masalah dirinya tak ingin dihadapkan pada sesuatu yang memang bukan … lebih tepatnya Zely tak akan memberikan itu padanya.


“Arahkan tanganmu ke depan, ada dua kaitan di sana, di bagian punggungku. Bisa kamu pasangkan itu.”


“Ngomong-ngomong, ini apa?”


“Pasang aja, sih.”


“Bukan baju?” tanya Rafa memastikan.


“Bukan,” jawab Zely.


Tak perlu berpikir panjang lagi, jawaban Zely membuat Rafa paham benda apa yang sedang jadi targetnya saat ini.


Perlahan mengarahkan tangannya ke depan, berpikir posisi Zely jauh dari jangkauan, ternyata malah tepat ada dihadapannya hingga tangannya malah salah sasaran menyentuh punggung gadis itu.


“Dilarang ngambil kesempatan,” komentar Zely sedikit tersentak saat tangan Rafa menyentuh punggungnya. Seperti sebuah batu es, tangan dia dingin banget.


“Mataku terpejam, mana ku tahu kamu sejauh apa dariku,” berengut Rafa ketika Zely malah menunduhnya yang bukan-bukan. Meskipun sebenarnya otaknya rada snewen saat tangannya menyentuh kulit dia.


Rafa menarik napasnya dengan sedikit kesal.

__ADS_1


“Apa semua punyamu seperti ini? Kenapa juga harus mengenakan yang ada kaitannya. Kan masih banyak model yang langsung pasang,” komentar Rafa.


Zely malah tertawa mendengar perkataan Rafa yang menurutnya terlalu random.


“Ada yang lucu?”


“Iya, kamu,” jawabnya. “Bisa-bisanya memahami banget bentuk dan jenis-jenis pakaian dalam wanita. Punya pengalaman dengan beberapa produk kah?”


Rafa spontan membuka matanya saat Zely meledeknya. Langsung terdiam saat dihadapkan pada punggung dia yang tak tertutup. Hanya saja kembali memejamkan mata saat menyadari ini tak boleh terjadi.


“Udah?”


“Hmm,” sahut Rafa singkat.


Saat kejadian di hotel, bahkan Zely juga dalam posisi seperti ini. Tapi kenapa justru sekarang dirinya yang malah dibuat panas dingin.


Zely menyambar bajunya yang ada di atas kasur, kemudian menyodorkan pada tangan Rafa yang posisi dia masih memejamkan mata.


“Jangan buka mata.”


“Lihat, kan … ini tertutup.”


Zely mengarahkan badannya pada lingkaran leher sebuah blouse yang sudah standby di tangan Rafa. Benda itu akhirnya terpasang di badan Zely, hanya saja karena resletingnya ada di bagian punggung, otomatis Rafa harus berurusan lagi dengan hal itu.


“Tarik resleting di bagian punggungku ke arah atas,” pinta Zely mengarahkan.


Seperti pencuri saja, padahal Zely ini adalah istrinya sendiri. Tersenyum kala kejahilannya kumat lagi. Saat Zely memunggunginya, lagi-lagi Rafa membuka kedua mata. Menyibakkan rambut sepinggang itu ke arah depan agar tak tersangkut saat resleting ia tarik ke atas.


Rafa merasa jika sikapnya ini salah, tapi entah  kenapa hatinya justru menginginkan. Cerewet, menyebalkan dan selalu tak mau mengalah darinya.  Akan tetapi, perkara fisik ia akui jika Zely memiliki bentuk sempurna dari seorang wanita.


“Udah?”


Rafa yang awalnya dibuat terdiam, langsung menarik resleting itu ke arah atas hingga menutup punggung dia.


“Udah,” jawab Rafa.


Tangan Zely menyambar rok selutut yang ada di kasur, kemudian mengenakan benda itu hingga akhirnya menutupi bagian pinggangnya ke bawah. Hanya saja kesulitan saat memasang kancing yang ada di bagian belakang pinggangnya.


“Jangan buka mata. Ada satu lagi.”


“Ya ampun, cewek ribet banget.”


Zely tak membalas perkataan Rafa. Ia kembali ke posisi seperti tadi, memunggungi dia.


“Pasang kancing rok di bagian belakang. Posisinya tepat ada di pinggangku.”

__ADS_1


Rafa mengarahkan dua tangannya ke depan, masih dengan posisi mata terpejam. Sayangnya pegangannya malah salah sasaran hingga jatuh ke arah depan dengan posisi yang otomatis memeluk Zely.


Mendongakkan kepalanya ke arah samping ketika wajah Rafa berada di lekukan lehernya. Hembusan napas itu seperti aliran listrik yang mengalir dalam tubuhnya, ketika Rafa berada sedekat ini. Perasaan yang sulit diartikan.


__ADS_2