
Beberapa saat kemudian, Nanta memanggil Rafa agar ikut masuk bersamanya ke dalam ruang IGD.
“Kenapa?” tanya Rafa penasaran.
“Calon istri lo berulah,” jawab Nanta.
“Dia ngapain?”
“Dia udah sadar, tapi kondisinya masih lemah, apalagi zat-zat obat itu masih ada di dalam tubuhnya. Kita lagi maksa dia buat muntah, tapi malah ditahan. Gimana bisa pulih, kalau dia menahan racun-racun itu tetap ada di dalam perutnya. Bisa-bisa mlaha makin fatal akibatnya kalau menahan muntah.”
Rafa menghela napasnya panjang, ketika dihadapkan pada seorang gadis yang menurutnya suka bikin kesal. Ini baru permulaan, entah apalagi yang akan dia lakukan setelah ini. Asal jangan membuatnya khawatir seperti tadi saja.
Mengikuti langkah Nanta ke dalam ruang IGD, kemudian keduanya berlanjut menuju posisi paling ujung. Di mana terlihat Zely dengan seorang suster yang berada di samping dia.
Muka jutek Zely langsung tercetak, ketika dihadapkan pada Rafa. Tapi tiba-tiba ia kembali merasa mual dan langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan untuk meredam rasa itu.
“Jangan ditahan,” komentar Rafa menarik tangan Zely yang menutupi mulut dia. “Kalau kamu tahan terus, kapan bisa pulih. Mau lebih lama lagi berada di rumah sakit ini, hem?”
Berhasil menarik tangan dia yang menutupi mulut, langsung cairan-cairan yang dari tadi sengaja ditahan mendesak keluar. Suster langsung siap, dengan alat untuk menampung.
Rafa menyibak rambut sepunggung Zely ke arah belakang, mengumpulkan jadi satu agar dia lebih merasa nyaman. Kemudian menggosok tengkuk gadis itu dengan lembut.
Air matanya sampai keluar, saat rasa mual itu seolah terus mendesak. Isi perutnya seperti diobok-obok dengan paksa, hingga rasanya ingin muntah terus menerus, padahal kepalanya terasa sangat pusing.
“Udah, udah … aku udah nggak sanggup lagi,” rengeknya ketika badannya terasa benar-benar lemas tak ada tenaga. Cairan dalam tubuhnya seolah dikuras habis seperti menguras bak mandi hingga kering.
Rafa menyambar tisu yang ada di nakas samping, kemudian menghapus air mata dia yang mengalir membasahi pipi. Wajah putih itu sampai memerah.
“Masih mual?” tanya Rafa memastikan kalau dia sudah mendingan.
Zely belum merebahkan badannya, belum juga menjawab pertanyaan Rafa, tapi untuk kesekian kalinya rasa mual itu kembali muncul. Tak menahan lagi, tapi langsung mengeluarkan semua desakan itu hingga merasa benar-benar habis tak tersisa.
Keringat membasahi wajah dia, seperti habis lari marathon sekian puluh kilometer. Rafa mengelap wajah Zely dengan tisu.
“Gimana?” tanya Rafa.
“Aku capek, pusing, dan perutku sakit,” ungkapnya dengan nada tak bersemangat. Ya, perutnya terasa keram dan sakit.
Spontan menyenderkan kepalanya di badan Rafa yang berdiri di sampingnya. Rasanya tak tahan lagi jika harus duduk terlalu lama.
__ADS_1
“Mualnya?”
“Udah mendingan,” jawab Zely dengan kedua mata yang ia pejamkan.
Suster beranjak dari sana, setelah kondisi Zely mulai tenang.
Kalau kondisinya dalam keadaan sehat, mungkin akan ia singkiran tangan Rafa yang sedang menyentuhnya. Hanya saja sekarang malah sebaliknya, sentuhan lembut dia malah membuatnya merasa nyaman. Lebih parahnya justru malah menjadikan dia tempat bersandar.
Tiba-tiba Zely malah menangis, tentu saja sikap dia membuat Rafa bingung.
“Kok nangis? Apa masih mual?”
“Aku capek, udah boleh tidur nggak, sih?”
“Udah, silakan berbaring,” jawab Nanta.
Zely langsung merebahkan badannya begitu saja. Bukan mengantuk yang ia rasakan, tapi justru lemas dan tak bertenaga.
Rafa menarik selimut dan menutupi tubuh Zely agar tertutup. Seakan tak terima jika tubuh dia diumbar begitu saja. Kalau bukan karena dadakan dan kondisi mendesak, mana mungkin gadis ini ia biarkan keluar dengan pakaian seperti ini.
Nanta mengecek kondisi Zely secara detail. Apalagi setelah muntah-muntah barusan, otomatis tubuh dia akan mengalami kelelahan dan bisa dehidrasi jika tak dibarengi dengan cairan yang masuk.
Rafa merasa jadi seorang calon suami beneran. Iya, memang benar jika Zely adalah calon istrinya. Hanya saja kali ini sikapnya seakan membingungkan dirinya sendiri. Rasanya ingin terus memberikan sentuhan pada dia agar merasa lebih nyaman dan tenang. Apalagi saat Zely menangis, spontan hatinya malah ikutan sedih.
“Selanjutnya gimana?”
“Dia akan dipindahkan ke ruang rawat inap. Mungkin untuk beberapa hari ke depan akan dirawat dulu. Sambil memantau efek dari sisa-sisa obat yang ada di dalam tubuhnya.”
Rafa mengarahkan pandangannya pada Zely yang mode merem.
“Zel, kamu beneran mau bunuh diri, ya?”
Zely membuka kedua matanya saat mendapatkan pertanyaan itu, menatap kesal pada Rafa yang ada di sampingnya.
“Siapa yang mau bunuh diri, sih, Rafa. Kan kamu yang bilang semalam, kalau bunuh diri itu nggak akan berhasil kalau belum waktunya aku tewas. Pas nanya Bibik, ternyata bunuh diri tanpa rasa sakit juga nggak ada. Yakali aku nekad.”
Tawa Nanta seakan menyembur saat mendengar balasan yang diberikan Zely pada Rafa. Tadi mode jutek dan menyedihkan, tapi saat kondisi dia mulai pulih ternyata aslinya cerewet. Mana jawaban yang dia berikan bikin lawak.
“Kalau nggak berniat bunuh diri, itu kenapa kamu sampai overdosis obat tidur?”
__ADS_1
“Pengin tidur lebih lama,” jawab Zely jujur.
“Astaga! Dasar bocah. Kamu bukan hanya tidur lebih lama, tapi nyaris tidur selamanya, tahu nggak,” balas Rafa memberikan ledekan.
“Aku tidur selamanya, trus kita nggak jadi nikah. Enak dong, kamu bisa bebas kalau aku nggak ada. Ntar aku bakalan jadi hantu dan gentayangin kamu seumur hidup biar nggak tenang.” Memasang muka mode horor.
“Dongeng sebelum tidur,” ledek Rafa akan perkataan Zely yang terlalu mengada-ada.
Nanta berdehem, membuat perdebatan dua insan yang katanya akan menikah itu terhenti. Tadi masih berpikir jika Zely benar-benar calon istri Rafa. Melihat adegan baku hantam di depan matanya, malah membuatnya ragu jika mereka adalah pasangan.
“Jadi, berapa butir obat tidur kamu konsumsi?” tanya Nanta untuk memastikan.
Zely sedikit berpikir. “Aku nggak langsung nelan banyak.”
“Totalnya, Zelysta?”
“Sekitar dua …”
“Dua butir masa iya bikin overdosis.” Rafa langsung berpikir panjang. Ia juga pernah mengkonsumsi obat tidur, tapi kalau dua butir mah masih aman.
“Dua puluh,” lanjut Zely sambil menggigit bibir bawahnya, lengkap dengan senyuman manis yang sengaja ia buat agar sedikit mencairkan raut kaget di wajah Rafa.
Rafa menghela napasnya panjang, seakan sedang mengontrol rasa kesalnya akan sikap gadis ini. Hanya saja hatinya tak akan tenang kalau belum mengomeli dia.
Tak jauh berbeda dengan Rafa, bahkan Nanta saja ikut kaget. Zely menelan dua puluh butir obat tidur, dan sekarang saat perlahan pulih, malah tampak cengengesan seolah tak terjadi apa-apa. Dia tak tahu saja jika tadi Rafa begitu khawatir.
“Kamu tahu nggak kalau tadi kondisimu itu udah kritis. Minum dua puluh butir obat tidur? Harusnya bisa berpikir dong, Zel … efeknya gimana?”
Zely memejamkan matanya lagi. “Aku capek, semalaman nggak bisa tidur. Rasanya begitu tertekan. Tadinya nggak ada niat mau bunuh diri, tapi aku tadi pagi cuman berharap kalau nggak akan bangun lagi.”
“Iya, nyaris saja harapanmu terkabul,” umpat Rafa.
“Pantas saja kondisimu kritis,” komentar Nanta. “Kalau Rafa telat sedikit saja bawa kamu ke sini, benar-benar efeknya akan tidur selamanya.”
Rafa tak berminat lagi berdebat dengan Zely. Ia sudah begitu khawatir, tapi yang dikhawatirkan ternyata berharap tak selamat.
“Kamu tak tahu saja betapa khawatirnya Rafa tadi saat bawa kamu ke sini,” ungkap Nanta.
“Heh,” sindir Rafa akan perkataan Nanta.
__ADS_1
“Lah, yang gue omongin kan benar.”