Istri Tercinta Pak Dosen

Istri Tercinta Pak Dosen
BAB 37 : Kampus


__ADS_3

Rafa Kembali dan masuk mobil dengan sebuah kantong yang berisi beberapa barang. Tentu saja Zely begitu menelisik benda-benda yang ada di dalam kantong itu, karena apa yang dikatakan Rafa tak sesuai dengan apa yang dia bawa.


“Lah, obatnya mana?”


“Buat tanganmu. Ntar nyampe kampus tutup pake kain kasa aja dikit, biar nggak terkena debu juga,” terang Rafa mengenakan sabuk pengamannya dan kembali melajukan kendaraan lanjut menuju kampus.


Sejujurnya Zely sedang menahan senyumannya, karena sikap Rafa padanya tampaknya mulai mencair. Ya, meski dari awal pun dia bersikap lumayan baik, tetap saja ada kalanya ketika kumat, bawaannya dia pengin ngajakin berantem terus.


Mobil memasuki gerbang utama kampus, kemudian lanjut menuju parkiran. Zely menanggalkan sabuk pengaman, berniat untuk langsung turun, tapi di saat yang bersamaan ponsel miliknya berdering.


“Rena,” gumamnya saat melihat nama Renata yang tertera di layar datar itu.


Segera menggeser layar dengan sebuah tanda ikon berbentuk gagang telepon berwarna hijau yang ada di sana untuk menjawab.


“Hallo,” sahutnya.


“Zel, gue dapat info dari sesemakhluk.”


Dahi Zely tampak berkerut merespon kata-kata Renata.


“Trus, urusannya info itu sama gue apaan?”


“Karena yang jadi fokus utama dalam info itu adalah elo.”


“Gue?”


Zely fokus bicara di telepon dengan Renata, tiba-tiba Rafa malah menyambar tangannya. Hanya saja dia malah tak sengaja memegang jarinya yang sakit hingga membuat gadis itu mengaduh.


“Sakit, Rafa,” ringisnya spontan menarik tangannya dari pegangan Rafa.


“Maaf,” ucap Rafa yang kali ini memang tak sengaja. Kemudian kembali fokus pada tangan Zely.


“Lo sama siapa?”


“Gue lagi sama …” Zely tak langsung menjawab, tapi pandngannya ia arahkan pada Rafa yang sedang fokus menutupi jarinya yang sakit dengan kain kasa dan plester setelah mengoleskan sebuah obat di sana. “Lo di kampus, kan?”

__ADS_1


Zely tak menjawab pertanyaan Renata, tapi justru mengalihkan pembicaraan. Bukan tak ingin menjawab, tapi lebih tepatnya ia belum memberikan penjelasan apa-apa perkara hubungannya dan Rafa kenapa bisa sampai terjadi.


“Iya, gue sama Jean udah di kampus. Nungguin dosen yang super duper … intinya perfect banget.”


Renata sampai sebegitunya memuji dosen tersebut, tapi fokus Zely entah kenapa malah tertuju pada Rafa yang justru fokus pada tangannya.


“Nanti ketemuan, ya. Gue lagi di kampus.”


“Kampus? Kampus mana?”


Tak menjawab pertanyaan yang diajukan Renata padanya, Zely langsung menutup pembicaraan dan menutus sambungan telepon dengan sobatnya itu. Bertepatan dengan Rafa yang sudah selesai dengan fokus dia di tangannya barusan.


Memerhatikan tiga jari tangannya yang sudah aman tertutupi oleh kain kasa. Tak terlalu melilit dengan tebal, hanya sekadar agar objek itu tertutup dengan aman.


“Makasih, Bapak,” ucap Zely terkekeh dengan panggilan yang ia gunakan pada Rafa.


“Suamimu loh ini.”


“Kan di sini kampus, mau kamu kalau ada yang tahu kalau aku ini istrimu? Sudah ikhlas menerima?”


Rafa turun dari mobil dengan sebuah tas ransel yang ia teteng. Yap, isinya lengkap mulai dari laptop dan semua yang ia butuhkan saat mengajar. Kemudian berjalan memutari mobil dan membukakan pintu mobil untu Zely turun.


“Trus, aku kemana ini, Raf?”


“Kita temui dosen yang bersangkutan dulu untuk permasalahan yang di maksud sama tante Bella.”


“Kamu nggak langsung masuk kelas?”


Rafa melirik waktu di jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Masih ada lima belas menit lagi.”


Dulu saat masih kecil, Zely pernah beberapa kali datang ke kampus ini. Paling karena ikut orang tuanya saat ada acara anniversary kampus, atau menemani saat acara syukuran antara pada staff pengajar. Setelah itu tak pernah lagi, karena memang dirinya tak stay di sini.


Sebagai seorang dosen, Rafa adalah salah satu dosen muda dengan segala kelebihan. Bukan hanya dalam mengajar, tapi juga kelebihan dia dalam menarik perhatian seisi warga kampus.


Wajah rupawan, menawan, tentu saja sosok Rafa jadi damdaan kaum hawa. Intinya, setiap pergerakan yang dia lakukan, seperti memiliki efek. Tak pernah terlihat dekat dengan seorang gadis, sekarang rafa justru datang ke kampus dengan Zely. Sudah bisa ditebak, kan, seperti apa hasilnya.

__ADS_1


Zely seperti flasback ke zaman di mana dirinya datang ke kampus ini dulu. Saat pandangannya bergerilya, tiba-tiba langkahnya terhenti saat merasakan ada yang aneh pada kakinya. Menghentikan langkah dan fokus pada bagian bawah.


Pantas saja berasa longgar, ikatan tali sepatunya ternyata lepas. Efek susah mengikat tadi, makanya sekarang gampang lepas. Berniat untuk jongkok, tapi Rafa lebih dulu berjongkok dihadapannya.


“Kamu nggak ada sepatu lain, Zel … kenapa juga harus yang pake tali.” Menirukan gaya Rafa saat saat meledeknya.


Zely langsung menyerang Rafa yang sedang memasang ikatan tali sepatunya. Terkekeh sendiri, karena sudah menebak komentar apa yang akan dikatakan oleh cowok ini padanya.


“Nyebelin kamu,” umpatnya Rafa singkat.


Tahan emosi dan kekesalan. Ini kampus dan jaga sikap adalah hal yang paling utama. Entahlah, tapi jika berhadapan dengan Zely bawaannya Rafa suka lepas kendali. Padahal sebelumnya juga biasa saja, kenapa sekarang malah dirinya seperti berada dalam sebuah godaan.


Zely meletakkan dua telapak tangannya di atas kepala Rafa, lebih tepatnya agar wajah dia tak diserang panas matahari yang benar-benar terasa terik siang ini.


Merasa ada pergerakan di atas kepalanya, Rafa mendongak. Mendapati telapak tangan Zely ada di sana. Kembali melanjutkan ikatan tali di sepatu dia dengan senyuman mengembang. Sepertinya hatinya sedang tak baik-baik saja. Mendapatkan sikap manis seperti itu dari Zely, dirinya malah baper sendiri.


“Sudah.”


Selama perjalanan, bahkan melewatir lorong kelas saja seolah-olah fokus semua orang tertuju pada Rafa dan Zely. Apalagi masalahnya kalau bukan Rafa yang bersama dengan seorang gadis yang tak diketahui siapa dia.


“Rafa.” Zely semakin berjalan mendekat pada Rafa. Tadinya, sih, memilih untuk berada di belakang dia, karena sibuk selingak-celinguk ke segala arah.


“Ya?”


“Kok tiba-tiba perasaanku nggak enak, ya.”


“Efek jalan sama cogan, jadi bahan sorotan, kan kamu jadinya,” balas Rafa masih terlihat santai.


Tiba-tiba ada kesempatan, Zely dengan cepat dan sengaja mencubit lengan Rafa yang ada di sampingnya hingga dia mengaduh karena sikapnya.


“Zel, kamu …”


Zely tersenyum puas saat Rafa ingin mengumpat, tapi malah tertahan karena ingat kalau di sini adalah kampus. Ayolah, dia tak akan berani bersikap bar-bar jika di area in.


Iya, terlambat. Karena semenjak keduanya turun dari mobil tadi juga sudah mendapatkan sorotan utama. Apalagi ketika keduanya bersikap dan berjalan berdua di lorong lorong kelas. Duh, siapapun pasti akan berpikir jika mereka memang memiliki hubungan tak biasa.

__ADS_1


__ADS_2