Istri Tercinta Pak Dosen

Istri Tercinta Pak Dosen
BAB 8 : Hal Yang Tak Terduga


__ADS_3

Seperti perkiraan Zely semalam, kalau dirinya tak akan bisa tidur dengan tenang. Ya gimana mau tidur kalau otaknya tak henti-henti memikirkan masalah pernikahan gila yang akan dihadapi di depan mata. Biasanya hanya memikirkan tugas kampus, sekarang harus memikirkan rumah tangga. Tak bisa dibayangkan betapa sulitnya kehidupan seperti itu.


Hanya memandang ke arah luar jendela kamar seperti seseorang yang sedang kena mental. Dari cuaca gelap gulitanya malam, kini sudah terang benderang karena munculnya cahaya matahari pagi. Seakan tak berniat untuk beranjak dari kasur, bahkan hidup pun rasanya begitu malas.


“Non Zely!”


Panggilan dan ketukan pintu kamarnya memecah keheningan di kamar. Padahal tak berharap ada yang datang apalagi membangunkannya, tapi harapannya tak sesuai dengan kenyataan.


“Memulai hari yang berat,” keluhnya bangun dari posisi tidur dan berjalan menuju pintu kamar. Ketika pintu terbuka, tampak Bik Anik sudah berdiri menyambutnya dengan senyuman cerah. Secarah hari ini, tapi tidak dengan hatinya.


“Apa, Bik?”


“Non, beneran mau nikah hari ini?”


Zely menyenderkan punggungnya di daun pintu, ketika pertanyaan itu menghampirinya. Berpikir ada hal penting atau apa gitu … hingga Bik Anik sampai membangunkannya. Ternyata malah membahas perkara pernikahan.


Menghembuskan napas beratnya, seberat beban di dalam otaknya. “Bibik pagi-pagi buta ke sini cuman buat nanyain hal nggak penting itu?”


“Kok nggak penting, sih, Non? Harusnya itu kabar yang membahagiakan. Ini nikah, loh, Non. Pertanda kalau Non Zely benar-benar sudah berada di tahap dewasa.”


“Iya, kalau nikahnya sama kekasihku dan laki-laki pilihanku. Bibik nggak tahu saja permasalahannya seperti apa hingga membuat aku terpaksa menikah.”


Bik Anik tampak bingung ketika ia katakan terpaksa menikah. Rasanya ingin sekali bercerita dan berbagi masalah, tapi sepertinya itu bukanlah hal yang aman. Takut jika tantenya marah saat semakin banyak orang yang tahu tentang kejadian yang dirinya alami.


“Non nikah bukan sama laki-laki yang Non cintai?”

__ADS_1


“Udahlah, Bik. Jangan dibahas lagi. Oiya, Bik. Jangan menggangguku untuk sekian jam ke depan, ya. Aku pusing karena nggak tidur semalaman dan sekarang mau istirahat.” Langsung menutup pintu kamarnya dan kembali merebahkan badan di kasur.


Sekian menit berlalu, tetap saja matanya tak bisa tidur karena otaknya sedang berkeliaran kemana-mana. Kembali bangun dan merogoh tas nya yang ada di nakas. Mengeluarkan sesuatu dari dalam sana. Sebuah botol kaca berukuran kecil dengan isi butiran obat.


“Berharap pingsan sekalian,” gumamnya menelan beberapa butir obat dan meneguk air minum agar benda-benda berukuran kecil itu segera memasuki lambungnya.


Meletakkan botol itu di nakas dan kembali ke posisi tidur. Awalnya memang nggak berpengaruh, tapi persekian menit kemudian ketika efek obat bekerja, semuanya pun lenyap dari pandangannya dalam sekejap.


Zely berada di alam tidur nyenyak, sementara Rafa dari semalam menjadi bahan omelan dan emosi dari orang tua dia setelah menceritakan semua kejadian itu. Terlebih lagi setelah mengetahui jika dia akan menikah dengan Zely karena harus bertanggungjawab.


“Jantung mama rasanya mau copot, Nak. Rasanya pengen nelan kamu biar masuk ke dalam perut mama lagi.”


Wanita paruh baya bernama Diana itu sudah tak tahu lagi kemana mau meluapkan rasa kesal dan emosi akan tindakan yang sudah dilakukan oleh putra satu-satunya. Biasanya jadi anak kebanggaan, sekarang malah membuat ulah yang begitu memalukan.


Rafa juga ikut pusing perihal semua tuduhan yang dilontarkan oleh orangtuanya, terutama mamanya. Padahal sudah berkali-kali ia katakan kalau dirinya dijebak, tapi tetap saja berpikir jika dirinya yang salah. Bahkan kalau dicatat dari awal, sepertinya sudah memenuhi satu buku tulis penjelasannya.


“Pa, bisa katakan pada mama nggak … aku dijebak. Jadi tolong dong, jangan memposisikan diriku sebagai pelaku dalam kejadian ini.”


“Mau Papa bantu apa, Raf? Bantu mengatakan kalau semua ini bukan salah kamu dan tak menyetujui permintaan pertanggungjawaban dari keluarga gadis itu?”


Padahal Rafa berharap sedikit ada pembelaan dari papanya, ternyata salah. Makin dikasih omelan yang ada. Sudahlah, kalau begini ia bisa apalagi kalau bukan menerima semua itu. Terlebih lagi mamanya, melihat beliau sampai menangis karena kecewa saja sudah membuat ia berasa jadi seorang anak yang durhaka.


“Aku benar-benar minta maaf, Ma. Demi apapun aku nggak berniat melakukan hal seburuk itu. Terserah sekarang Mama sama Papa mau percaya ataupun tidak padaku. Sebagai seorang anak, aku sudah jujur dengan semua perkataanku.”


Sebagai seorang ayah, Malik mempercayai semua pengakuan putranya. Hanya saja mau berkilah dengan cara apapun, tetap saja tak akan bisa menolak tuntutan dari pihak keluarga gadis itu.

__ADS_1


Malik juga memahami, efek buat seorang gadis tentu lebih parah dari apa yang dialami oleh Rafa. Entah alur seperti apa yang akan menyambut kehidupan putranya di depan sana, tapi sekarang sebagai seorang laki-laki, Rafa memang tetap harus bertanggung jawab.


Malik duduk di sebelah Diana, mencoba menenangkan sang istri yang terus menangis karena masalah Rafa.


“Sudahlah, Ma … jangan nangis terus. Rafa itu laki-laki, dia harus ingat tanggung jawab. Kalau Mama berada di posisi Ibu dari gadis itu, mungkin kesedihan mama jauh lebih parah dari ini karena resiko yang dia tanggung justru jauh lebih berat dari putra kita.”


“Namanya Zelysta. Orang tuanya sudah tiada. Jadi, diasuh oleh tantenya dari kecil. Sekarang yang menuntutku adalah tantenya,” ungkap Rafa.


Bukan sengaja mencari tahu, tapi Rafa dapatkan informasi ini langsung dari Bella. Semalam wanita paruh baya itu menghubunginya dan mendesak agar melaksanakan pernikahan langsung hari ini juga. Otomatis ia tentu bertanya seluk beluk terpenting dari keluarga Zely. Ya, salah satunya perihal orang tua dia.


Diana tiba-tiba merasa tersentak hatinya saat mendengar perkataan Rafa tentang orang tua gadis yang akan menjadi menantunya itu.


“Rafa, ini nikah. Mama nggak mau kalau kehidupan kamu sampai hancur karena memiliki pasangan yang nggak jelas bibit bebet dan bobotnya. Terserah, mau dia gadis miskin, kalangan bawah, lulusan SD atau apapun. Yang jelas bagi mama keluarganya jelas. Sekarang kamu bilang kalau orang tua dia sudah tiada. Kamu yakin dengan semua info itu. Jangan-jangan dia cuman …”


“Dia putri dari pemilik kampus tempatku mengajar,” ungkap Rafa.


“Apa?!”


Baik Diana maupun Malik sampai dibuat kaget dengan apa yang diungkap oleh Rafa.


“Jangan bercanda, Raf.”


“Sebenarnya aku nggak mencari tahu karena merasa itu juga nggak penting. Aku juga nggak perduli tentang siapa dia dan … fokusku hanya tanggung jawab. Itu saja. Setidakanya dia aman dari omongan orang-orang perihal kejadian itu. Cuman aku mulai fokus pada nama belakangnya dia.”


“Pemilik kampus saat ini adalah Bella dan dia belum menikah. Jangan bilang kalau gadis ini adalah putri dari Almarhum Ryan Baskara dan Indira Jihan?”

__ADS_1


“Benar,” jawab Rafa membenarkan tebakan papanya. “Karena tantenya memberikan semua informasi itu padaku, lengkap.”


Jujur, Malik sampai dibuat kaget dengan semua yang dikatakan oleh Rafandra. Bukan hal biasa baginya saat putranya sendiri ternyata malah membuat masalah dengan putri dari keluarga Baskara. Karena pada kenyataannya dirinya mengenal detail keluarga itu. Makanya ia sampai begitu kekeuh agar Rafa mengajar di kampus yang notabennya adalah milik keluarga Baskara.


__ADS_2