Istri Tercinta Pak Dosen

Istri Tercinta Pak Dosen
BAB 38 : Tak Sengaja Tersebar


__ADS_3

Rafa menyalakan ponselnya yang sedari tadi bahkan semenjak dicharge, belum ia buka sama sekali. Melirik sesaat pada layar datar itu, sambil terus berjalan menuju ruang dosen yang di maksud oleh Bella. Ya, setidaknya ia akan selesaikan dulu masalah Zely, setelah itu baru lanjut masuk kelas.


Kembali menatap layar ponsel saat sebuah pesan masuk ke beranda chat miliknya. Berpikir hanya satu atau dua pesan, tapi justru banyak. Sampai ia sendiri bingung dengan apa yang terjadi.


Rafa menghentikan langkahnya, hanya demi mencari tahu apa yang terjadi. Tak langsung membuka pesan, tapi ia hanya melihat dari rentetan besan yang belum terbuka ini.


“Ini jangan-jangan foto tadi yang malah …”


Seketika Rafa merasa seperti baru tersadar dari tidurnya. Bukan hanya berpikir buruk, tapi sepertinya kali ini ia melakukan sebuah kesalahan yang akan berimbas agak lumayan parah.


Mengecek WA story miliknya dan langsung terkena mental. Benar apa yang ia pikirkan barusan. Hal yang tadinya berniat untuk menjahili Zely, malah sekarang ia sendiri yang kena karma.


Zely yang awalnya berjalan lebih dulu, kembali balik menghampiri Rafa saat melihat cowok itu malah diam membatu dengan tatapan cemas pada layar ponsel dia.


“Kamu kenapa?”


“Zel, mana ponselmu.” Rafa meminta ponsel Zely untuk mengecek keamanan dirinya dari amukan gadis ini.


“Buat apa?”


“Jangan banyak tanya. Siniin.”


“Mode maksa,” gerutu Zely dengan tanggapan Rafa.


Zely merogoh tas nya untuk mengambil benda pipih itu dari sana.


“Kamu suka buka WA story?”


“Enggak,” jawabnya. “Tergantung juga. Kalau lagi gabut.”


Menyerahkan ponselnya ke arah Rafa, entah apa yang sedang dia perbuat. Barusan tampak cemas, tapi sekarang setelah mengecek ponselnya malah begitu lega.


“Ngapain, sih?” tanya Zely penasaran.


“Nggak kenapa-kenapa. Hanya memastikan ponsel kamu aman dari pihak ketiga,” jawabnya mengembalikan benda pipih itu pada Zely.


Setelah mengatakan hal itu, Rafa berlalu lebih dulu, meninggalkan Zely yang masih bingung. Hanya saja di saat yang bersamaan, sebuah panggilan telepon muncul.


“Mama,” gumamnya bingung saat melihat Diana lah yang sedang menghubunginya. Langsung menjawab panggilan itu sambil melangkah mengikuti Rafa yang sudah jalan duluan beberapa langkah darinya.


“Ya, Ma?”

__ADS_1


“Zel, kamu dan Rafa sudah sampai di kampus?”


“Udah, Ma. Ini lagi jalan ke ruangan siapa gitu, aku juga nggak paham. Ngikut Rafa doang.”


“Kamu lihat WA story nya Rafa tadi nggak?” tanya Diana pada Zely.


“Hah. Maksudnya gimana, Ma?”


Zely sampai heran sendiri. Masalahnya barusan Rafa juga membahas perkara WA story dan sekarang giliran Diana yang bertanya. Berasa tersesat sendiri karena tak tahu apa-apa.


“Ituloh, kamu tadi buka WA story nya Rafa atau enggak?”


“Enggak, Ma. Tadi cek hp juga karena teman yang nelpon, habis itu ku tarok tas lagi. Tapi Rafa barusan pinjam hp ku dan juga bahas WA story. Nggak tahu buat apaan.”


“Dia nggak bilang apa-apa?”


“Nggak ada.”


Diana terdengar jelas sedang menahan tawa, tapi seakan tak mau berbagi dengan Zely.


“Yasudah, mama tutup dulu, ya.”


“Tapi, Ma ….”


Zely sedikit berlari mengejar Rafa yang sudah jalan duluan darinya. Kemudian menyambar tangan dia, hingga membuat langkah Rafa terhenti.


“Aku butuh penjelasan,” ujar Zely.


“Nanti saja, habis kelasku usai.”


“Ada apa dengan WA story, sih? Kenapa mama tiba-tiba nelpon dan bahas hal itu. Tadi kamu juga, kan?”


Rafa berasa dihadapkan pada sebuah sidang kepemilikan seorang gadis. Ini dirinya mau kasih jawaban apa pada Zely perkara foto di WA story nya yang tiba-tiba menyebar begitu saja. Bisa-bisa ia dikira sengaja.


“Ih, Rafa … jawab dong,” rajuk Zely ketika Rafa malah berpikir panjang dulu saat menjawab pertanyaan darinya.


“Tapi jangan marah,” peringatkan Rafa sebelum ia jujur tentang masalah yang tak sengaja dilakukannya.


“Tergantung.”


“Nggak jadilah kalau gitu.”

__ADS_1


Rafa  memilih melanjutkan langkahnya, hingga Zely kembali menggerogotinya layaknya semut rang-rang. Terserahlah apapun yang penduduk kampus pikirkan, ia sudah tak perduli lagi. Ini saja rasanya sudah anjlok banget dirinya di mata semua orang. Lebih tepatnya di mata orang-orang yang sudah melihat WA storynya.


Keduanya masuk ke dalam sebuah ruangan, hingga membuat Zely akhirnya mengalah dan sejenak menahan rasa kesalnya pada Rafa tentang WA story yang entah apa itu.


Yang pindah kuliah memang Zely, tapi yang sibuk mengurus malah Rafa. Sedangkan gadis itu hanya akan menjawab jika Rafa melempar pertanyaan padanya. Itupun paling tentang nilai.


“Anda ada kelas?” tanya rektor pada Rafa.


“Iya, Pak. Udah telat beberapa menit ini,” ujar Rafa seakan dengan sengaja bicara begitu agar Zely ikut tersindir.


“Belum satu jam,” sambut Zely tersenyum penuh arti.


Terlihat raut canggung yang begitu kentara di wajah laki-laki paruh baya yang menjabat sebagai rektor di kampus ini. Ya, bingung cara bersikap pada Zelysta yang ia tahu adalah keluarga Baskara. Lebih tepatnya gadis ini merupakan pewaris tunggal keluarga Baskara, pemilik kampus.


“Saya jadi takut salah bersikap,” ujarnya pada Rafa dan juga Zely. “Anda pewaris tunggal Baskara group, sedangkan Bapak Rafa menantu di keluarga Baskara.”


Zely yakin sekali jika ini pasti akan terjadi jika ia berkeliaran di dalam kampus yang nyatanya adalah milik keluarganya sendiri. Padahal tadinya berharap jika dirinya tak akan dikenal sebagai pewaris. Hanya saja semua langsung terjadi.


“Jangan bersikap begitu, Pak. Saya di sini sebagai pelajar, bukan pemilik. Jadi, tolong bersikaplah sama seperti pada mahasiswa dan mahasiswi lain. Kalau dibedakan, itu sama saja dengan Bapak membuat posisi saya yang jadi utama, bukan nilai atau isi kepala saya.”


Rafa berpikir awalnya Zely akan bersikap bar-bar dan seenaknya seperti biasa, tapi setelah mendengar kalimat-kalimat yang dia katakan, pikiran buruknya seakan berkurang pada gadis ini.


“Tapi saya jadi merasa tak enak kalau posisi Anda harus disamakan dengan …”


“Sekarang malah saya yang jadi nggak enak, Pak. Abaikan tentang siapa saya. Ya, anggap saja saya orang biasa yang tiba-tiba muncul di kampus ini.”


“Bagaimana menurut Bapak Rafandra?”


Rafa mengangguk, seakan menyetujui apa yang dikatakan oleh Zely barusan.


“Devenisi suami yang ikut pendapat istri, kan, Bapak Rafa,” ujar Zely tersenyum manis ke arah Rafa, saat mendapati tanggapan dia pada pertanyaan yang diajukan oleh rektor.


Rektor sampai menahan tawa saat mendengar perkataan Zely pada Rafa yang menurutnya tak takut atau canggung sama sekali. Padahal di kampus, Rafa termasuk salah satu dosen yang dikenal tak banyak bicara dan kalem.


Rafa hanya bisa menahan kesal tanpa bisa membalas. Baru juga begitu memuji sikap bijak Zely, sekarang seketika pujiannya seolah dibawa angin tornado.


Pernikahan Zely dan Rafa tak pernah ditutup-tutupi oleh kedua belah pihak keluarga. Begitupun Bella yang sudah memberikan info tentang hubungan mereka pada semua staff kampus. Jadi, wajar jika semua tahu status Rafa dan Zely saat ini.


“Tapi jujur saya nggak nyangka loh, Bapak Rafa ternyata diam-diam main cepat, ya.”


“Maksudnya gimana, Pak?” tanya Rafa seakan bingung dengan perkataan laki-laki peruh baya itu.

__ADS_1


 “Ya, pantas saja saat dideketin sama dosen-dosen wanita, atau mahasiswi … bawaannya suka sensi. Nggak main-main, ternyata pawangnya pemilik kampus.


Zely ingin menenggelamkan wajahnya dalam ransel rasanya. Bukan malu, tapi gara-gara tawanya seakan ingin meledak saat Rafa dikatakan seperti itu. Demi apa ini tuh receh banget. Tapi sukses membuat pipinya keram menahan tawa.


__ADS_2