
“Aku nggak mau,” tolaknya akan saran yang diberikan Rafa.
“Memangnya kenapa?”
“Aku bisa sampai kuliah di luar juga lewat jalur nilai. Di saat orang-orang susah buat masuk, sementara aku bisa. Jadi nggak segampang itu jugalah ku lepas.”
Rafa malah tak percaya dengan apa yang dikatakan Zely. Sikap bocah kayak gini bisa lolos lewat jalur nilai. Sepertinya ada masalah dengan pihak kampus.
“Masalahnya sekarang adalah kamu itu istriku. Bukan gadis bebas lagi yang bisa seenaknya bisa pergi kemanapun kamu mau. Sudah dewasa, kan … otomatis kamu juga harus memahami status seorang istri.”
Zely menopang kedua dagunya dengan tangan, membuat posisi keduanya makin dekat berhadapan dengan Rafa yang duduk di depanya.
“Tiba-tiba aku merasa seperti punya suami beneran,” pikirnya menatap Rafa dengan fokus.
“Seperti suami beneran? Jadi maksudmu kita nikah tadi cuman main-main gitu?”
Zely malah tertawa melihat muka kesal Rafa. Jujur, ia lebih suka melihat muka kesal dia dibandingkan muka serius. Karena saat serius, Rafa itu agak menakutkan. Salah satunya saat kejadian tadi, ketika ia ditampar oleh tantenya dan Rafa tak terima.
“Asli, Zel … kamu itu bikin kesal!”
Rafa memilih untuk kembali duduk di sofa, ketika menghadapi Zely justru malah membuat otaknya tak beres. Tadinya berpikir jika dia yang stress, tapi kini malah merasa dirinya juga diajak stress bareng-bareng.
“Rafa, ponsel ku mana?”
“Mana ku tahu,” jawab Rafa.
“Tadi pagi nggak kamu bawa?”
“Kamu udah sekarat, yakali ku ingat ponsel.”
“Hmm, bisa ambilin di rumah, nggak?”
“Males,” jawab Rafa.
“Ish, dasar! Suami nggak bertanggung jawab. Masa dimintai tolong ngambil ponsel aja kamu nggak mau. Ayolah, Rafa. Ntar kalau ada yang hubungin aku, gimana? Atau, kalau ada info dan tugas dari kampus, gimana?”
Rafa merasa terkena serangan mental di saat usia pernikahannya dengan Zely baru berusia sekian jam. Entah sejak kapan seorang suami menolak permintaan istri untuk mengambil ponsel di rumah merupakan suami yang tak bertanggung jawab.
Dari tadi berniat untuk tidur sejenak, hingga detik ini belum berhasil matanya tertidur. Baru rebahan, Zely mulai lagi dengan ocehannya. Ini baru juga duduk, dia mulai lagi membuat dirinya harus bolak-balik nggak jelas hanya perkara ponsel.
“Jangan membahas masalah tugas kuliah lagi. Untuk masalah yang satu itu, masuk dalam aturanku.”
Rafa menyambar kunci mobil yang ada di nakas dengan muka malasnya.
__ADS_1
“Kamu balik ke sini lagi, kan?” tanya Zely memastikan.
“Kamu maunya aku balik ke sini atau enggak? Kalau enggak, ya aku pulang dan tidur.”
“Jangan lama-lama.”
Rafa hanya mendengkus saat membalas perkataan Zely. Rasanya capek banget tahu, nggak. Seperti seseorang yang kekurangan pekerjaan, bolak-balik nggak jelas. Padahal kerjaannya sedang banyak-banyaknya. Ini saja karena sedang mode bermasalah makanya bisa seperti manusia santai.
Menelusuri lorong-lorong rumah sakit yang seperti tak berujung. Sampai di parkiran langsung masuk ke dalam mobil. Di saat yang bersamaan, ponsel miliknya berdering. Terlihat di layar datar tampak sebuah nama yang tertera.
“William,” gumamnya.
Rafa segera menggeser tanda ikon berbentuk gagang telepon dengan warna hijau itu untuk menjawab panggilan.
“Hallo,” sahutnya.
“Lo di mana? Tadi gue lihat di kelas lo kok ada Pak Zayn?”
“Iya, hari ini gue izin libur. Ada masalah. Jadi, gue minta Pak Zayn buat gantiin jam ngajar.”
“Masalah apaan?”
Rafa menghela napasnya sejenak. “Ceritanya panjang. Kapan-kapan gue ceritain.”
Saking capek dan otaknya dibuat fokus untuk memikirkan kondisi Zely, sampai-sampai dirinya lupa kalau nanti malam ada acara makan malam yang diadakan oleh alumni kelasnya saat SMA.
“Raf, lo baik-baik aja, kan?”
“Iya, gue baik-baik aja. Nanti gue kabari lagi.”
Rafa menutup percakapan dengan Willi begitu saja, kemudian meletakkan kembali benda pipih itu di kursi samping.
“Acara nanti malam, gimana caranya bisa pergi kalau Zely masih di rumah sakit. Ngeyel ninggalin dia, bisa-bisa ibu negara malah ngamuk mantunya ditinggal pergi.”
Segera melanjutkan niatnya untuk pulang dan mengambil ponsel milik Zely.
Sekian menit perjalanan menuju rumah keluarga Baskara. Pak satpam membuka gerbang pembatas, hingga mobil yang dikendarai oleh Rafa segera memasuki area pekarangan rumah.
Luas, mewah dan benar-benar terlihat berkelas. Itulah pandangan semua orang saat memasuki area rumah. Hening, seperti tak ada orang yang tinggal di rumah ini. Ya, bagaimana tidak. Dengan ukuran pekarangan dan rumah seluas ini, hanya dihuni oleh Bella dan beberapa asisten rumah tangga. Jadi, bagaimana kesannya tak sepi.
Turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama yang tampak terbuka lebar. Belum sampai ke dekat pintu, terlihat Bella yang kebetulan baru keluar dari rumah.
“Loh, kamu kok di sini, Raf. Zely gimana?” tanya Bella pada Rafa.
__ADS_1
Rafa menyambar dan mencium punggung tangan Bella pertanda hormat. Mau bagaimanapun kesalnya ia pada wanita paruh baya ini, tapi tetap saja status dia adalah tantenya Zely yang harus dihormati.
“Aku mau ngambil ponselnya Zely, Tante,” ujarnya.
“Yaudah, kamu cek ke kamarnya saja, ya. Tante mau pergi, ada kerjaan. Nanti kalau ada apa-apa, kamu tinggal tanya atau minta sama Bibik, ya.”
Rafa mengangguk, kemudian melangkah memasuki area rumah. Siapa yang menyangka, semalam ke sini cuman niat memastikan kondisi Zely, ternyata hari ini sudah berganti status menjadi suami dari gadis itu.
Lanjut melangkah menaiki anak tangga menuju lantai atas. Tadi pagi ia sudah ke sini, otomatis tahu lah di mana posisi kamar Zely.
Melangkah masuk ke dalam kamar ketika pintu dibuka. Seumur-umur, ini adalah pengalaman pertamanya masuk ke dalam kamar seorang cewek. Sebenarnya tadi pagi, kan … tapi kan fokus pada Zely, hingga tak perduli dengan apa yang ada di ruangan ini.
Rafa tersenyum dengan pemikirannya sendiri, mengarahkan pandangannya ke seisi ruangan. “Kirain kamar cewek benar-benar dominan berwarna pink, ternyata enggak juga,” gumamnya saat mendapati kamar Zely justru dominan warna putih dan cream. Tak terlihat girly, tapi justru lebih minimalis.
Cerewet, ngeselin, nyebelin … tapi tidak dengan kebiasaan dan gaya dia. Ruangan ini benar-benar rapi dan bersih. Tak tampak sama sekali jika pemilik kamar ini adalah seorang cewek.
Memilih duduk di pinggiran tempat tidur, kemudian merebahkan badan di sana. Awalnya masih menikmati keheningan, tapi entah karena mata yang mengantuk atau justru kamar ini yang bikin nyaman … membuat Rafa malah benar-benar tidur.
Sebuah deringan ponsel membuat Rafa melakukan pergerakan. Tak berniat bangun, bahkan membuka mata. Langsung merogoh sakunya dan mengeluarkan benda pipih itu dari sana.
“Hallo,” sahutnya dengan nada malas.
“Rafa! Kamu di mana, sih?”
Rafa langsung melek dan duduk saat mendengar suara bak halilintar yang sedang menyambar pendengarannya.
“Zely?” Kurang yakin. Hanya saja langsung menebak, karena cuman gadis itu yang berani melabrak dengan seenaknya.
“Kamu mikirnya siapa?”
Rafa tak langsung menjawab, tapi malah melirik nama yang tertera di layar datar itu. Tampak nama Nanta di sana.
“Nanta.”
“Buruan ke sini elah. Kamu lagi ngapain, sih? Ngambil ponsel doang kok lama banget. Tidur, ya?”
“Ngantuk, Zel. Makanya ketiduran. Lumayan, kamarmu bikin betah. Dikira nemenin kamu seharian suntuk nggak bikin ngantuk,” balasnya dengan nada menggerutu.
“Tega banget, sih. Aku sendirian di sini, kamu malah tidur di rumah.”
Percakapan langsung terhenti begitu saja saat Zely dengan sengaja menutup sambungan telepon. Akhirnya ia tambahkan list wanita cerewet di dalam kehidupannya. Pertama, mamanya. Kedua, tantenya. Dan sekarang Zely. Bukan yang ketiga, melainkan kepala sukunya. Dia lebih cerewet daripada mama dan tantenya.
Beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Tapi matanya dibuat membola saat melihat waktu di jam dinding.
__ADS_1