Istri Tercinta Pak Dosen

Istri Tercinta Pak Dosen
BAB 14 : Pengertian


__ADS_3

Zely awalnya masih tampak tersenyum, tapi senyumannya seakan pudar begitu saja. Bukan tak bahagia, hanya saja ia merasa agak sedikit sedih.


“Tante darimana? Kenapa baru ke sini menemuiku?”


Bella yang datang menghampiri Zely, mengumbar senyuman.


Rafa memilih untuk beranjak dari posisinya dan duduk di sofa yang tak jauh dari sana. Ia masih kesal pada wanita ini, apalagi kalau bukan karena sikap dia yang sepertinya terlalu mendesak tentang pernikahannya dan Zely. Iya, kalau gadis ini sehat. Masalahnya sekarang justru sebaliknya.


“Tante ada, kok, di luar nungguin kamu. Ada Rafa kan sama kamu.”


Zely tersenyum hambar mendengar balasan Bella. Iya, ada Rafa yang bahkan bukan siapa-siapa baginya.


“Tante, maaf bikin khawatir,” ucap Zely pada Bella dengan wajah sendu. “Tapi sungguh, aku nggak berniat melakukan hal itu. Apalagi sampai berpikir kalau aku berniat bunuh diri. Enggak benar kok, Tan.”


Kemarin baru sampai, sudah ia suguhkan masalah yang besar pada tantenya. Sekarang, untuk kedua kalinya ia berikan lagi masalah. Kadang sampai berpikir, apa dirinya pembawa masalah. Hingga saat baru sampai saja sudah menimbulkan berbagai masalah.


Diana dan Hesty saling pandang. Mau ikut bicara dan komentar, tapi rasanya nggak enak saja. Apalagi itu urusan Zely dan Bella. Sedangkan Malik,  lebih fokus pada Bella. Ternyata inilah adik yang di maksud oleh Ryan waktu itu. Ya, hanya sekadar tahu nama dan info, tapi tidak dengan wajah.


Diana menyodorkan tangannya pada Bella dengan senyuman ramah.


“Saya Diana, mamanya Rafa,” ujarnya memperkenalkan diri pada Bella yang merupakan tante dari Zely.


Bella menyambut uluran tangan Diana. “Bella, Mbak,” balasnya memperkenalkan diri.


“Ini Malik, papanya Rafa.” Memperkenalkan suaminya. “Dan ini Hesty, tantenya,” lanjut mengarah pada Hesty di yang ada di samping kirinya.


Bella bersikap ramah, karena bukan hanya berstatus sebagai tantenya Bella. Posisinya di sini juga lebih muda dari ketiganya, otomatis sikapnya akan lebih sopan.


“Maaf ya, Mas, Mbak … kejadiannya malah bikin semua berantakan,” ucap Bella tak enak akan apa yang menimpa Zely.


“Nggak ada yang bisa menebak alur kehidupan. Termasuk kejadian yang menimpa Zely,” respon Malik dengan tenang menanggapi perkataan Bella. “Kita bersyukur, Zely nya juga baik-baik saja.”


Bella mengangguk dengan senyuman. Sedari tadi itulah yang jadi pikirannya. Takut, jika keluarga Rafa berpikiran yang tidak-tidak tentang Zely yang kesannya malah seperti sengaja ingin bunuh diri.


“Zely baik-baik saja, jadi bisakah kita tetap lanjut pada rencana semula?”


Malik, Diana dan Hesty sampai dibuat terdiam mendengar permintaan Bella yang lebih terkesan menuntut.


“Maaf, maksudnya nikah?”


Bella mengangguk. “Iya, Mbak.”


Rafa yang posisinya duduk di sofa sampai geleng-geleng kepala mendengar perkataan Bella. Tadi padanya, sekarang langsung pada orang tuanya.

__ADS_1


“Tante, yang benar aja dong,” komentar Zely akan permintaan tantenya. “Aku lagi sakit, loh, ini.”


Bella mengarahkan pandangannya pada Zely, seakan lirikannya dengan sengaja memberikan kode pada gadis itu agar tetap diam dan menerima keputusan yang ia buat.


Zely memberengut. Kemudian mengarahkan pandangannya pada Rafa yang ternyata hanya diam mendengar semua itu. Apa cowok itu tak berminat untuk menolak atau memberikan komentar pada tantenya.


“Tapi, apa nggak sebaiknya kita tunggu Zely keluar dari rumah sakit dulu, ya,” usul Diana.


“Lebih cepat lebih baik,” balas Bella langsung. “Bukankah saya juga sudah memberikan penjelasan pada Rafa kemarin. Jadi, sepertinya tak ada alasan untuk melakukan penundaan dengan rencana itu.”


Zely merasa kepalanya mau meledak detik ini juga, hingga memilih untuk kembali merebahkan badannya. Sudahlah, ia tak tahu lagi harus menolak atau meberikan komentar seperti apa dengan semua ini. Terserah, mau tantenya bagaimana.


“Bagaimana kalau kita bicara di luar,” ajak Malik. “Biar Zely bisa istirahat dulu.”


Jadilah, mereka berempat keluar dari ruangan itu. Zely yang istirahat, sedangkan Rafa diminta oleh Malik untuk tetap di sana, menemani gadis itu.


“Kenapa kamu nggak komentar?” tanya Zely pada Rafa.


“Maksudmu permintaan agar kita tetap nikah hari ini?”


“Ya apalagi?”


Rafa tak langsung memberi penjelasan. Ia beranjak dari posisi duduknya, kemudian berjalan dan menghampiri Zely yang kembali bangun.


“Sebelum sama orang tuaku, tadi tante kamu sudah memintaku lebih dulu. Jadi, mau kuberikan komentar seperti apalagi barusan? Percuma juga, tak akan ada efeknya. Toh, tetap saja akhirnya kita akan nikah hari ini, Zelysta.”


“Kamu kan cowok, harusnya bisa tegas dong, Rafa.”


Rafa memutar bola matanya jengah dengan sikap menyebalkan Zely. Dia pikir menghadapi wanita seperti Bella begitu gampang. Bukan takut, tapi sikap egois dia membuatnya emosi. Bahkan dari semalam dirinya berasa dihantui oleh wanita itu. Seakan-akan berpikir jika dirinya mau kabur dari pernikahan ini.


“Sadar nggak, sih, kalau tante kamu itu terlalu egois?”


“Aku nggak perduli,” respon Zely. Ya memang ia tak perduli akan hal itu. Baginya Bella begitu baik padanya selama ini menggantikan tugas orang tuanya yang sudah tiada. Terserah orang lain mau bicara atau menilai seperti apa dia.


“Yasudah, kita lanjut nikah hari ini. Puas kamu,” balas Rafa berniat pergi dari sana, tapi niatnya tertahan karena Zely menyambar lengannya. “Apalagi?!”


Zely memberikan senyuman termanisnya pada Rafa.


“Senyumanmu mencurigakan.”


“Aku lapar,” ungkapnya.


“Urusannya denganku?”

__ADS_1


“Peka dikit napa, sih,” berengutnya.


Baru kali ini ia berhadapan dengan seorang bocah yang justru malah akan jadi istrinya. Entah dosa apa yang ia perbuat jaman dahulu kala, hingga sampai diberikan jodoh model begini. Sikap Zely itu loh yang bikin emosinya suka naik. Ngeselin, nyebelin dan cerewet.


Rafa berjalan menuju meja yang ternyata suster sudah menyiapkan makanan untuk Zely. Kemudian menyodorkan satu piring makanan sejenis bubur ke arah gadis itu.


“Ini apaan?” tanya Zely melotot menatap makanan yang dihadapkan padanya.


“Bubur,” jawab Rafa.


“Aku nggak mau,” tolaknya.


“Katanya kamu lapar.”


“Iya lapar, tapi bukan makan makanan orang sakit begini maksudku, Raf. Ngeliatnya aja mualku auto kumat,” keluhnya memilih untuk kembali merebahkan badan.


Zely berharap makanan biasa. Nasi goreng atau apa gitu. Lah, ini Rafa malah menyodorkan makanan orang sakit. Bukan bubur juga, sih … lebih terlihat seperti nasi yang agak lembek. Sudahlah, ia sudah kenyang melihat bentukannya.


“Kamu kan pasien di sini. Ya jelas makanannya dari pihak rumah sakit lah. Semua yang kamu makan otomatis dikontrol. Jadi jangan berharap makanan cepat saji.”


“Sana, kamu pergi saja. Aku mau tidur.”


Lihat sendiri, kan, sikapnya Zely. Benar-benar suka bikin kesal. Tadi ia mau pergi, malah menahannya. Sekarang dengan seenaknya mengusir dirinya secara langsung.


Rafa kembali meletakkan piring berisi makanan itu di meja, kemudian berlalu pergi dari sana meninggalkan Zely sendirian. Tapi baru juga tangannya nyaris menyentuh gagang pintu, tiba-tiba terhenti karena ada yang membuka dari arah luar. Menghindar saat pintu dibuka. Terlihat Diana dan Hesty sudah kembali, tapi tidak dengan Malik.


“Papa mana, Ma?” tanya Rafa yang tak melihat keberadaan papanya.


Hesty mengarahkan pandangannya pada Diana yang merupakan iparnya.


“Papa pergi barusan, Raf. Seperti permintaan Bella, pernikahan tetap akan dilaksanakan hari ini. Jadi, Papa kamu sekarang menjemput penghulu dan menyiapkan semuanya,” jelas Diana.


Tak kaget lagi. Karena feelingnya sudah menebak jika ini akan tetap terjadi.


“Dia nggak mau makan, haruskah ku gunakan cara paksa?” tanyanya pada Diana.


“Bisakah kamu lebih bersikap lembut sama dia?” tanya Hesty pada ponakannya itu. “Satu yang harus kamu sadari Rafa. Zely itu seorang gadis. Dan lagi, usia dia juga terlalu muda untuk menghadapi masalah ini. Berpikirlah lebih dewasa. Bukankah kamu seorang tenaga pengajar? Harusnya lebih memahami cara bersikap yang lebih baik, kan?”


Hesty kesal pada Rafa, karena seolah tak terlalu perduli pada Zely. Ia tahu jika hubungan keduanya akan terjadi tanpa adanya perasaan, tapi bukankah bersikap lebih baik justru akan terkesan baik.


“Dengar apa yang tantemu bilang, kan? Kami berdua adalah wanita. Meskipun tak mengalami, tapi kami bisa memahami apa yang dia rasakan. Lihat, kan … mungkin dari cara dia bersikap terlihat baik-baik saja seolah tak ada beban. Tapi apakah kamu yakin jika hatinya juga dalam keadaan baik?”


Rafa terdiam. Ia berasa diserang habis-habisan oleh dua wanita paruh baya ini secara bersamaan. Hanya saja, hatinya sedikit terketuk dengan apa yang mereka jelaskan.

__ADS_1


Tak berkomentar lagi. Langsung berbalik badan dan kembali menghampiri Zely yang dalam posisi tidur. Hanya sekadar memejamkan mata, karena yakinlah dia tak tidur sama sekali.


“Kamu mau makan apa?”


__ADS_2