Istri Tercinta Pak Dosen

Istri Tercinta Pak Dosen
BAB 6 : Bunuh Diri


__ADS_3

Zely kini berhadap-hadapan dengan Bella dan juga laki-laki yang sedang punya masalah besar bersamanya. Lebih tepatnya, dia yang mencari masalah. Karena di sini posisinya adalah sebagai korban.


“Kalian yakin nggak saling mengenal, kan?” tanya Bella masih meragukan posisi keduanya.


“Ya ampun, Tante. Sudah ku bilang berkali-kali, kan, kalau aku nggak mengenal dia. Saking nggak kenalnya, aku juga nggak tahu nama dia siapa.”


“Kamu nggak berniat bertanya namaku siapa? Perasaan dari tadi cuman bilang dia dia dan dia terus.”


Zely menatap garang pada dia yang masih saja terlihat mode santai. Padahal ini masalah besar, loh … tak bisakah sedikit memperlihatkan raut waspada atau khawatir.


“Siapa namamu?”


Bukan pertanyaan dari Zely, tapi justru Bella yang bertanya. Karena ia yakin sekali jika ponakannya ini tak akan bertanya. Setidaknya saat ia tanya dan dia menjawab, Zely akan tahu nama dia.


“Rafandra,” jawabnya singkat.


Bella kini melirik tajam ke arah Zely yang duduk di sampingnya sambil bersidekap dada, pertanda kalau dirinya sedang menuntut dia untuk memperkenalkan diri.


“Apa, sih, Tante. Toh dia juga sudah dengar Tante nyebut namaku terus dari tadi. Masa iya nggak ngeh,” berengutnya karena Bella menuntutnya terus, padaha Rafa juga sudah tahu namanya.


“Zely,” gumam Rafa.


“Hmm,” dengkus Zely menyahuti.


Bella melirik waktu di jam yang ada di pergelangan tangannya. Terlihat waktu sudah menunjukkan hampir pukul delapan malam.


“Masalah ini nggak akan bisa dibiarkan begitu saja tanpa sebuah solusi yang pasti.” Bella mengambil napas, mengarahkan pandangannya pada Rafa. “Besok saya tunggu kamu dan keluarga di sini. Keputusan sudah diambil dan saya harap kamu bisa mempertanggungjawabkan semua itu.”


Rafa tersenyum sinis, seakan tak terima dengan kata-kata Bella yang memposisikan dirinya sbagai pelaku dalam kejadian ini.


“Bisa tidak, jangan mengatakan kalau semua ini adalah sebuah tanggung jawabku? Kesannya di sini malah aku yang salah. Padahal bisa, kan … mengatakan kami berdua adalah korban. Kita juga nggak tahu siapa pelaku dan dalang dari semua kejadian ini.”


“Ya ampun, dia merasa jadi korban,” cetus Zely merespon penjelasan Rafa.


“Terserah, kamu di sini mau berada di posisi apa. Yang jelas, saya sebagai tante dan mencakup orang tuanya Zely sudah mengambil keputusan. Silakan datang bersama keluarga kamu besok ke sini. Nggak mau, kan, kehidupan kalian ke depannya hancur gara-gara fotonya menyebar, sedangkan kalian bukan berstatus sebagai pasangan suami istri.”


Zely merasa kepalanya seperti habis ketiban balok kayu, rasanya sakit. Kenapa juga harus besok? Berasa habis kepergok melakukan tindakan asusila saja, yang nikahnya mode gercep.

__ADS_1


“Tan, ini nggak bisa dipikirkan lagi, ya, solusi lain? Bayangin dong, masa aku nikah sama dia. Ntar kalau aku dianuin beneran gimana? Tante mau ponakan satu-satunya ini mengalami pelecehan di usia yang masih muda?”


Zely merasa takut kalau sampai dirinya dgrepe-***** lagi. Yang di hotel kan nggak sadar karena dijebak, tapi sekarang kan mode sadar. Otaknya benar-benar belum sampai memikirkan hal begituan.


“Ya ampun, pikiranmu kenapa mesum sekali,” respon Rafa menanggapi ketakutan dan pemikiran Zely yang menurutnya terlalu pendek. Dikira dirinya cowok apaan, yang main sikat wanita tanpa rasa. Kalau memang modelan begitu, mending saat sadar pas di hotel, langsung saja ia ambil.


Rafa beranjak dari posisi duduknya. Kelamaan menghadapi Bella, sepertinya sama dengan menghadapi mamanya sendiri. Karena wanita selalu benar meskipun kadang justru salah.


“Aku pamit pulang dulu,” ujar Rafa berlalu begitu saja tanpa basa-basi lagi.


Rafa pergi, Bella ikut beranjak dari posisinya. “Tante ada kerjaan, setelah makan malam segera istirahat,” ujarnya pada gadis yang masih memasang wajah cemberut dan tak terima akan kepurusan yang dirinya ambil.


“Iya,” sahut Zely dengan nada tak bersemangat.


Zely merebahkan badannya di sofa, saat Bella sudah berlalu pergi dari sana. Jangankan makan, istirahat saja sepertinya malam ini matanya tak akan bisa diajak tidur nyenyak. Mikirin nikah dan punya hubungan sama Rafa, rasanya bikin jantungnya dibuat pengap duluan. Pacaran aja ia baru mencoba beberapa kali, itupun saat masih jaman SMA, sekarang malah gass langsung nikah.


“Padahal niatku pulang sekalian mau jalan-jalan, ini kenapa malah terhempas jauh dari niat dan ekspektasi, sih,” racaunya merutuki sendiri apa yang sedang dialaminya.


Di saat yang bersamaan, Rafa yang tadinya sudah pergi malah muncul lagi di depannya. Seakan-akan waktu memaksa cowok ini agar tetap berkeliaran di depan matanya.


Zely seketika memasang muka jutek. “Apalagi, sih?” tanyanya dengan nada emosi, tanpa berniat bangun dari posisi tidurannya. “Udah, sana pulang.”


“Buat apaan?”


“Numpang main game,” jawab Rafa asal.


“Hah?” Zely sampai dibuat bingung dengan jawaban yang diberikan Rafa.


Mata Rafa fokus pada benda segiempat berbentuk pipih yang ada di samping Zely. Langsung menyambar dan mengetikkan sesuatu di layat datar itu.


“Ponselku diapain?” Langsung curiga tingkat dewa. Enak saja main sambar ponselnya yang jelas-jelas itu adalah barang pribadinya.


Rafa memperlihatkan layar ponsel milik Zely. “Lihat, sudah ku save, kan. Besok ada apa-apa kabari aku.”


Zely dengan cepat merebut ponsel miliknya yang ada di tangan Rafa. Benar-benar kebangetan, kan, ini cowok.


“Iya, besok ku kabari pas mau bunuh diri,” ujarnya memberengut.

__ADS_1


Rafa malah terkekeh mendengar niat Zely yang sedari tadi terus saja berniat mau bunuh diri. “Iya, ku tunggu kabar duka cita sekalian,” ledeknya sambil berlalu pergi dari sana.


Zely kesal, spontan melempar Rafa dengan bantal sofa yang ada di sampingnya. Keberuntungan berpihak pada dia, bahkan bantal pun tak mau berakhir di kepala cowok itu. Dan sekarang apalagi kerjaannya kalau bukan merenungi nasib buruk yang sedang menimpa dirinya.


Berjalan gontai dan tak bersemangat menuju ruang makan. Kemudian duduk di kursi dengan makan malam yang sudah tersaji di meja.


“Non Zely kenapa?” tanya Bik Anik pada majikannya yang tampak lemas seperti kurang asupan makanan sekian hari.


“Kepalaku mumet,” sahutnya menopang dagu dengan tangannya di meja. “Rasanya mau meledak.”


“Non sakit, ya?”


Zely menggeleng memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Lanjut duduk dan mengarahkan pandangannya pada wanita paruh baya yang sudah sekian tahun mengabdikan diri di dalam keluarganya.


“Bik, boleh tanya sesuatu?”


“Ya, silakan, Non.”


“Bunuh diri sakit nggak, Bik?” tanya Zely dengan muka serius.


“Kok Non tanyanya begitu?”


“Buat riset, Bik. Tugas dari kampus.” Riset dadakan maksudnya.


Bik Anik sampai menggaruk kepalanya sendiri mendapat pertanyaan seperti itu. Kecuali nanya resep masakan, baru dirinya bisa langsung memberikan jawaban langsung.


“Bibik bingung mau ngasih jawaban kayak gimana, Non,” responnya.


“Kok bingung, sih, Bik? Kan tinggal jawab.”


“Masalahnya Bibik kan belum nyobain mana yang sakit dan mana yang enggak. Non Zely aneh-aneh aja, nanya efek bunuh diri kok sama Bibik. Mending nanya sama Google, Non … lebih akurat jawabannya daripada nanya sama Bibik.”


Zely tiba-tiba mengangguk, membenarkan saran yang diberikan Bik Anik. Tak berkomentar lagi, ia memilih untuk menikmati makanan yang sudah disajikan di meja. Anggap saja ini makan malam terakhirnya, karena besok mau mengakhiri hidupnya.


“Non, makannya pelan-pelan aja. Jangan buru-buru kayak dikejar kang kredit panci gitu. Ntar keselek,” peringat Bik Anik dengan cara makan Zely yang tergesa-gesa, seperti makanan dia mau diembat saja.


Bik Anik sampai heran sendiri melihat gelagat dan tingkah laku Zely yang aneh. Sepertinya benar perkiraannya tadi, gadis ini kurang asupan makanan berhari-hari hingga kalap saat dihadapkan pada makanan.

__ADS_1


“Ini makan malam terakhirku, Bik. Harus puas-puasin. Soalnya besok aku mau bunuh diri.”


“Non!”


__ADS_2