
Sudah lama tak terluka. Terakhir saat ia kecelakaan mobil hingga meninggalkan efek bekas jahitan di kepalanya karena bocor. Itupun entah seperti apa rasanya, karena dirinya langsung tak sadarkan diri saat kecelakaan terjadi.
“Pak boleh minta tisunya?” tanya Zely dengan nada bergetar pada supir taksi.
“Iya, silakan.”
Laki-laki itu menyodorkan kotak tisu yang ada di depan pada Zely.
Lukanya tak parah, hanya saja rasanya sangat sakit dan berdenyut-denyut. Sampai-sampai tangannya gemetaran menahan rasa itu. Kalau bisa memilih, daripada menahan sakit seperti ini lebih baik ia tak sadarkan diri.
Perlahan menutup jarinya yang tampak membiru dengan tisu, begitupun dengan luka itu. Entah apa yang terjadi dengan jarinya, yang jelas sekarang rasanya sudah tak karuan lagi.
Sampai di rumah, Zely langsung berlari menuju ke arah dapur. Bik Anik yang saat itu berada di dapur, tentu saja kaget karena kemunculan gadis itu yang tiba-tiba. Karena setahunya Zely masih berada di rumah sakit.
“Non Zely kok ada di sini. Bukannya masih di rumah sakit?”
Pertanyaan itu tak dijawab oleh Zely. Ia membuka lemari es dan mengambil beberapa buah es batu dan meletakkan di atas sebuah handuk berukuran kecil. Kemudian menyingkirkan tisu dan sapu tangan yang menutupi cedera di tangannya.
“Astaga! Non tangannya kenapa?!”
Bik Anik langsung kaget saat mendapati jari Zely yang terluka. Tampak warna merah yang sudah mulai kebiru-biruan dan bengkak di tiga jari gadis itu, dengan salah satunya yang terluka. Ada bekas darah yang sudah mulai mengering di sana.
Perlahan Zely meletakkan sebuah handuk berukuran kecil dengan es batu di dalamnya, tepat di jarinya yang terluka. Jangan ditanya lagi seperti apa rasanya saat ini. Air matanya sampai jatuh menahan sakitnya. Jangankan digerakkan, bahkan saat tersentuh sedikit saja rasanya sakit.
Zely menyerahkan benda itu ke tangan Bik Anik. Kemudian ia duduk di lantai bersandar pada lemari es. Menarik napasnya dalam-dalam.
“Bik, bantu kompres,” pintanya dengan suara bergetar. Iya, efek menahan sakit.
“Tapi, Non …”
“Cepetan, Bik!”
Memejamkan matanya dengan menekuk kedua lututnya. Kalau ia yang melakukan sendiri, tak akan bisa menahan. Tapi kalau orang lain, mau tak mau akan ia tahan sesakit apapun itu.
Bik Anik perlahan melakukan apa yang disuruh oleh Zely. Meskipun ia yakin sekali jika gadis ini merasakan kesakitan, tapi ia tak bisa menolak karena Zely memaksanya.
Langsung meringis ketika benda itu bersentuhan dengan jarinya. Sampai-sampai Zely sengaja menggigit lengan sweater yang ia kenakan demi suara ringisan dan tangisnya tak lepas.
__ADS_1
“Non, ke dokter saja, ya. Bibik takut kenapa-kenapa.”
“Ulang lagi, Bik.” Setahunya saat terkilir atau terjepit segeralah mengompres dengan batu es agar meminimalisir pembengkakan di area cedera. Jarinya sudah tampak bengkak, makanya kukuh memaksa Bik Anik melakukan itu.
“Non, ini rasanya pasti sakit. Kalau nggak, Non nggak mungkin nangis kayak gitu.”
Zely memang sedang menangis, karena air mata dia terus keluar dan memasahi pipi. Hanya saja mencoba untuk tak mengeluarkan suara tangis.
Mengangguk cepat. “Rasanya benar-benar sangat sakit. Kalau bisa memilih, aku berharap tak sadarkan diri saja. Sakitnya bahkan terasa sampai ke jantungku.”
“Bibik nggak tega kalau Non kesakitan,” ujar Bik Anik tak berani untuk mengompres.
“Aku nggak akan nangis. Sakitnya akan ku tahan. Bibik kompres aja.”
“Tapi, Non …”
Di saat yang sama, Rafa muncul dihadapan keduanya. Zely langsung menghapus air mata di pipi dia dengan cepat, sedangkan Bik Anik beranjak dari dekat Zely.
“Bawa ke kamar, Bik,” ujar Rafa meminta wanita paruh baya itu untuk membawa batu es yang digunakan untuk mengompres.
Rafa langsung saja menggendong Zely yang posisi dia masih duduk di lantai, bersandar pada lemari es. Tadi ia benar-benar kesal pada gadis ini, tapi tak tahu kenapa hatinya suka luluh jika mendapati dia dalam keadaan tertekan, sedih apalagi sampai menangis.
Zely yang sekarang fokus pada sakit di tangannya, tentu saja sudah tak perduli lagi dengan perkataan ataupun sikap Rafa padanya. Yang jelas baginya, tolong hilangkan rasa sakit ini.
Sampai di kamar mendudukkan dia di atas tempat tidur. Mengisi satu gelas air minum dan duduk dihadapan dia.
“Buka mulutmu.”
Zely tentu saja bingung dengan apa yang disuruh Rafa, tapi ketika satu butir obat dia sodorkan ke arah mulutnya barulah ia paham. Akhirnya menerima suapan dari Rafa dan lanjut meneguk minuman untuk mendorong benda berukuran kecil itu dari dalam mulutnya.
“Ini, Den.“ Bik Anik menyodorkan sebuah baskom berukuran kecil dengan handuk dan batu es yang ada di dalamnya.
Meletakkan beberapa bongkahan batu es di atas handuk dan membungkusnya. Rafa menyambar tangan Zely, tapi dia langsung mengelak.
Bik Anik yang tadinya masih berada di sana karena penasaran dengan kondisi tangan majikannya, memilih untuk segera keluar. Tak ada yang perlu dicemaskan. Toh, mereka berdua juga merupakan pasangan suami istri.
“Tanganmu, Zel.”
__ADS_1
“Biar aku saja,” balas Zely.
“Aku yang buat kamu terluka, jadi sekarang tolong biarin aku mengobati lukamu. Terserah nanti kamu mau kesal atau marah sekalipun, tapi sekarang biarin aku yang lakukan.”
Zely diam. Menatap Rafa dengan tatapan dingin.
“Bagaimanapun juga kamu adalah istriku. Sekarang kamu terluka, menurutmu aku bisa tenang?”
Sedikit berpikir, Zely akhirnya mengarahkan tangannya pada Rafa. “Perlahan saja, karena rasanya benar-benar sakit,” pintanya dengan suara tertahan.
Tangan Zely berada dalam pegangan Rafa. Gemetaran, bahkan bisa ia rasakan perasaan dia saat ini. Hanya saja seolah menahan tangisannya agar tak keluar. Padahal sudah tampak begitu jelas dari raut wajah dan air mata yang dia keluarkan.
Rafa perlahan meletakkan handuk berisi batu es di jari Zely agar dia tak merasa kesakitan. Meskipun masih bisa terasa, ketika dia spontan menarik tangannya saat rasa itu muncul.
Sakitnya sampai membuat Zely menyenderkan kepalanya pada sandaran tempat tidur. Bahkan dengan sengaja menghentakkan kepalanya demi meredam rasa sakit. Seperti sakit gigi, berdenyut-denyut. Bahkan ketika didiamkan saja sakit itu tetap ada.
“Tahan sedikit.”
“Hmm,” angguk Zely. Hanya sekadar anggukan belaka, bahkan rasanya badannya panas dingin karena menahan rasa itu.
Rafa jadi bingung harus bersikap seperti apa. Melihat dia kesakitan saja rasanya bikin tak tega. Akhirnya ia mengubah posisi duduknya tepat berada di sebelah Zely, kemudian merangkul dia agar rebahan.
“Obat barusan efeknya bikin sakitnya berkurang dan ada efek ngantuknya.”
“Kenapa memberiku obat tidur lagi? Kamu beneran mau bikin aku mati, ya. Sekalian aja tadi kamu dorong aku dari lantai dua, biar keinginan kamu terkabul.”
Rafa menatap Zely yang ada di sampingnya dengan tatapan menusuk.
“Pahami penjelasanku dong. Ku bilang, itu obat pereda rasa sakit. Efeknya bikin kamu ngantuk. Kenapa malah merembet ke obat tidur dan mati segala, sih.”
Jadilah, Zely menuruti perkataan Rafa. Tiduran di sebelah dia yang mengurusi tangannya yang sedang tak baik-baik saja.
“Pelan-pelan, Rafa,” ringisnya saat Rafa secara tak sengaja kadang terlalu menekan dengan handuk berisi batu es.
“Iya,” sahut Rafa.”
Tadinya benar-benar sakit, hingga tak bisa ia ungkap lagi dengan kata-kata rasanya seperti apa. Sekarang mulai berkurang, hanya saja jika tersentuh tetap masih sakit.
__ADS_1
“Jangan bagian yang luka!”