Istri Tercinta Pak Dosen

Istri Tercinta Pak Dosen
BAB 40 : Berasa Punya Mama


__ADS_3

Zely segera menuju parkiran. Langsung masuk ke dalam mobil dan pulang ke rumah seperti perkataannya pada Rafa barusan. Untungnya saat mengemudi, tangannya tak terlalu bermasalah.


Masih jam makan siang, di beberapa titik jalan ia sampai terjebak macet. Untungnya tak lama, hanya saja rasanya pasti tetap kesal karena otomatis butuh waktu tambahan hingga sampai di rumah.


Seorang Satpam membukakan  pagar pembatas area rumah, saat kendaraan yang dikemudikan oleh Zely datang. Memarkirkan mobil dan segera turun.


“Loh, Zel … kamu udah pulang?”


“Iya, Ma.” Zely mencium punggung tangan Diana.


“Kirain mama kamu pulang bareng Rafa.”


“Masih lama, Ma. Ngapain aku nungguin dia sekian jam di sana. Aku juga belum langsung masuk kuliah, kan.”


“Iya juga, sih,” respons Diana.


“Mama mau ke mana?” tanya Zely karena melihat penampilan wanita paruh baya ini seperti akan pergi.


“Ini, loh … mama ada acara makan siang di luar sama teman-teman arisan. Kebetulan salah satu dari mereka ulang tahu dan ngajakin makan di luar,” jelas Diana pada gadis itu.


“Oo,” respons Zely tersenyum.


“Ikut mama, yuk,” ajak Diana pada Zely penuh harap. “Daripada kamu di rumah sendirian nggak ada teman, mending ikut sama mama aja.”


“Tapi, Ma …”


“Nanti biar mama yang hubungi Rafa dan bilang kalau kamu ikut mama. Sekalian, nanti bisa mama kenalin sama teman-teman mama. Biar nggak disangka nyari calon mantu tanpa kenal waktu terus,” jelas Diana tampak begitu antusias dan berharap jika Zely benar-benar mau ikut bersamanya.


Biasanya ke mana-mana hanya sendirian. Paling diantar doang sama Rafa, kemudian ditinggal. Sekarang punya mantu, tentu saja ia begitu berharap jika Zely mau ikut bersamanya.


“Ya udah, aku ikut sama mama,” ujar Zely pasrah.


Tadinya ia berniat memilih pulang untuk istirahat. Rasanya capek banget, karena beberapa hari ini jam tidurnya berantakan. Ya, bahkan otaknya terasa lelah. Lumayan beberapa jam hingga sore, karena akan kembali ke kampus. Sekarang saat sampai di rumah, malah diajak Diana untuk pergi. Mau menolak, kok rasanya nggak enak.


Jadilah, keduanya segera meninggalkan rumah menuju sebuah pusat perbelanjaan. Karena kebetulan lokasi dan posisi restoran berada di dalam area itu. Tadinya Diana akan diantar oleh supir, tapi Zely kukuh agar dirinya saja yang mengemudi.


“Tangan kamu nggak apa-apa kan, Zel? Atau nggak, biar mama yang gantiin.”


Diana merasa khawatir dengan tangan Zely yang cedera, apalagi ini dia mengemudi. Padahal tadi sudah menyarankan agar diantar supir, tapi Zely menolak dengan alasan sudah lama tak mengemudi.


“Nggak apa-apa, Ma. Ini udah membaik, kok.”

__ADS_1


“O iya, mama hubungi Rafa dulu.” Diana segera mencari kontak putranya itu di deretan list kontak pada beranda ponselnya. “Nanti dikira kamu nggak ijin lah, itulah. Padahal yang ngajakin kamu, kan, mama. Heran, itu anak jadi berubah cerewet kayak petasan.”


Zely langsung tertawa mendengar perkataan Diana tentang Rafa. Kenapa semua orang berpikir jika Rafa itu berubah. Padahal menurutnya dari awal pun dia sudah seperti itu. Di kampus juga, sampai Rektor pun bilang Rafa itu terlalu dingin  dan kalem. Nah, kenapa saat dengannya nggak sama sekali.


“Halo, Rafa.”


“Ya, Ma?”


“Lagi di kelas?”


‘Iya.”


“Ini loh, mama cuman mau minta izin bawa Zely, ya.”


“Bawa kemana? Ngapain?”


“Mama ada undangan ke acaranya tante Rika di sebuah restoran. Jadi, kebetulan Zely baru nyampe rumah trus mama ajakin aja. Ya, dari pada dia sendirian di rumah, kan sepi.”


“Dia mau atau mama yang maksa?”


“Ih, kok mikirnya gitu, sih? Mama nggak paksa, kok … cuman ngajakin doang.”


Meskipun tak mendegar pertanyaan apa yang diajukan Rafa pada Diana, tapi Zely bisa menangkap dengan yakin jika Rafa pasti berpikir kalau ia terpaksa untuk ikut.


Diana terdiam. Memang, sih, apa yang dikatakan Rafa ada benarnya. Ia juga tahu kalau Zely baru keluar dari rumah sakit, belum lagi tangannya yang lagi sakit. Dengan tak ada rasa kasihannya malah ia ajak jalan. Padahal tadi gadis ini juga sedikit tak berminat saat diajak, malah dirinya yang kukuh agar dia ikut.


“Ma.” Panggilan Rafa membuat Diana tersentak.


“Ya?”


“Zely mana, aku mau bicara sama dia.”


Diana menyodorkan ponselnya pada Zely yang fokus mengemudi.


“Zel, Rafa mau ngomong sama kamu.”


“Nanti saja, Ma. Aku hubungi dia balik,” respons Zely


“Rafa, Zely lagi bawa mobil. Nanti pas nyampe dia hubungin kamu balik.”


“Ya sudah, hati-hati ya, Ma.”

__ADS_1


Percakapan antara ibu dan anak itu terhenti ketika sambungan telepon terputus. Diana menarik napasnya dalam, kemudian mengarahkan pandangannya pada Zely yang fokus mengemudi. Sesekali tampak Zely menggerakkan jari-jari dia yang berbalik kain kasa, secara perlahan.


“Nak, mama minta maaf, ya. Harusnya mama nggak ngajakin kamu ikut. Lupa kalau kamu belum pulih.”


Zely tersenyum semringah, dengan pandangan fokusnya tetap tertuju pada jalanan. Hanya sesekali mengarahkan pandangannya ke samping, menatap wanita paruh baya yang tampak sekali raut tak enak hati akan sikap dia padanya.


“Loh, kok mama bicaranya gitu, sih? Lagian, siapa juga yang merasa dipaksa, sih, Ma. Aku senang, loh, bisa ikut dan nemenin mama. Selama ini mana pernah begini, jalan ya jalan sendiri. Atau nggak ya sama teman.”


“Iya, cuman mama merasa nggak enak aja sama kamu, sama Rafa,” ungkap Diana.


“Rafa bilang kalau mama paksa aku. Begitukah?”


“Sekarang mama juga merasa begitu, loh, Nak. Rafa mungkin juga khawatirin kamu, makanya bilang begitu. Tapi mama malah …”


“Udah, Ma. Jangan terlalu dipikirkan. Toh, aku baik-baik aja.”


Beberapa menit perjalanan, keduanya sampai. Memarkirkan kendaraan dan lanjut memasuki area pusat perbelanjaan itu. Kemudian lanjut menuju lokasi di mana acar di adakan.


Zely tiba-tiba menghentikan langkahnya. “Harusnya tadi aku ganti baju dulu, Ma. Ini berasa jadi salah kostum aku di antara semuanya,” ujar Zely saat Diana mengarahkan telunjuk pada sebuah restoran yang dari luar pun tampak beberapa tamu yang memang para ibu-ibu.


“Ya ampun, Sayang. Kamu udah cantik, manis, baik. Sampai-sampai orang nggak akan fokus sama pakaian dan penampilan  kamu. Lagian, ini kan kamu mama yang ajakin. Mendadak juga.”


Zely hanya mengangguk dengan senyuman beratnya. Bukan ia yang tak percaya diri dengan penampilannya, tapi justru dirinya malah merasa tak enak jika Diana yang menjadi bahan utama pembicaraan ibu-ibu karena mengajaknya, justru malah salah kostum.


Merapikan sedikit rambut dan pakaiannya yang tampak acak agar lebih rapi. Kemudian mengikuti Diana yang melangkah memasuki sebuah restoran.


“Aduh, Jeng Diana akhirnya datang juga,” ujar seorang wanita paruh baya yang segera menyambut. Ya, dialah si pemilik acara.


“Iya, maaf saya agak telat nih nyampenya,” balas Diana basa basi ala-ala ibu-ibu.


Diana biasanya diantar oleh Rafa atau nggak ya Malik. Hanya saja sekarang tampak berbeda, karena yang bersama dia adalah seorang gadis. Tak langsung bertanya, tapi mereka seolah bisik-bisik tentang Zely.


“Biasanya diantar oleh Rafandra, sekarang Jeng Diana sama siapa ini? Cantik.”


Pertanyaan wanita bernama Rika sudah pasti akan ia dapatkan. Dan lagi, pujian akan sosok Zely membuat dirinya sebagai mertua juga ikut merasa senang dan bangga.


“Hai, Tante. Aku Zelysta,” ucap Zely menyambar dan mencium punggung tangan Rika.


Bukan hanya Rika, ibu-ibu yang jadi tamu pun dibuat terkesima dengan paras cantik Zely. Ditambah lagi dengan sikap dan tutur bahasa dia … membuat rasa penasaran semuanya menjadi-jadi.


“Siapa ya, Jeng? Perasaan kita baru lihat gadis ini,” ujar yang lain.

__ADS_1


“Ini, loh … Zely, istrinya Rafandra.”


__ADS_2