
Rafa merasa badannya ikutan remuk setelah menghantam pintu dengan begitu kuat, ditambah lagi dengan dirinya yang terhempas ke lantai. Hanya saja itu ia abaikan, karena lebih fokus pada keadaan Zely.
Langsung bangun dari posisinya dan bergegas menuju ke arah tempat tidur. Mendapati Zely yang berada di posisi tidur, miring menghadap ke arah jendela. Posisi dia memang seperti tidur, namun menurut Rafa ini tak wajar. Bagaimana mungkin tidur, tapi tak menyadari gedoran, bahkan ketika ia mendobrak pintu tak membuat dia bangun.
Bella, Bik Anik dan Pak Satpam mengikuti Rafa masuk.
“Zel, Zely bangun.”
Rafa mencoba membangunkan Zely, tapi tak ada hasilnya sama sekali. Jangankan bangun, bahkan gadis itu seakan tak merespon sedikitpun.
“Zely kenapa, Raf? Kok nggak bangun?” Bella langsung cemas.
Fokus Rafa tiba-tiba mengarah pada sebuah botol obat yang ada di nakas samping tempat tidur. Menyambar dan menelisik jenis benda-benda berukuran kecil itu. Memang tak ada merek di bagian botolnya, tetapi ia langsung panik saat memikirkan perihal keadaan Zely.
Mengecek denyut nadi Zely, sangat lemah. Bahkan hanya samar-samar terasa.
“Dia harus segera mendapatkan pertolongan. Denyut nadinya sangat lemah,” ujar Rafa langsung menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh Zely dan segera menggendong dia dari sana.
Bella hanya dibuat cemas tanpa tahu kondisi apa yang dialami oleh keponakannya. Karena Rafa tampak begitu panik, hingga pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan bahkan tak dia jawab.
Rafa bergegas membawa Zely yang dalam kondisi tak sadarkan diri dari kamar. Bahkan saat menuruni anak tangga saja, tak berpikir akan jatuh saat fokus utamanya tertuju pada keselamatan gadis yang ada dalam pangkuannya ini.
“Astaga! Ada apa, Raf?”
Rafa datang, tapi dalam kondisi yang justru bikin semua panik. Seorang gadis ada dalam pangkuannya dalam keadaan tak sadarkan diri.
“Pa, bisa tolong telepon Nanta. Zely kondisinya kritis, bilang padanya tunggu aku di IGD. Cepat ya, Pa.”
“Iya, Raf. Papa hubungi Nanta langsung,” sahut Malik segera melakukan apa yang diminta oleh putranya.
Malik tak tahu apa yang sedang terjadi, tapi sepertinya terjadi sesuatu pada gadis yang justru akan menikah dengan putranya. Bertanya pun sepertinya tak tepat. Apalagi Rafa bilang kalau kondisi gadis itu sedang kritis.
Sedangkan Diana dan Hesty ikut menunjukkan wajah panik. Apalagi Rafa bilang kalau Zely, gadis itu kondisinya buruk.
__ADS_1
Rafa bergegas menuju mobil dengan Bella yang mengikuti. Wanita itu masuk mobil lebih dulu, kemudian barulah Rafa membaringkan Zely di sana. “Tante, usahakan posisi dia tetap miring, ya.”
Rafa memberikan peringatan seperti itu, takut jika tiba-tiba Zely muntah hingga malah semakin memperburuk keadaan. Atau, bahkan cairan itu tertelan dan memasuki paru-paru.
“Iya,” sahut Bella.
Rafa bergegas masuk dan duduk di kursi kemudi, kemudian segera melajukan kendaraannya menuju rumah sakit. Panik, cemas, khawatir … tiba-tiba semua rasa itu seakan muncul begitu saja. Berharap tak terjadi hal yang buruk pada dia, yang bahkan memiliki hubungan apapun dengannya.
Melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Untung saja tak ada macet di perjalanan, hingga waktu yang ditempuh menuju rumah sakit lebih cepat.
Rafa segera turun dari mobil, seperti yang ia pesan pada papanya … meminta Nanta untuk menunggu dirinya di depan IGD. Yap, saat turun dokter muda itu langsung menghampirinya. Lengkap dengan dua orang perawat yang sudah standby dengan emergency bed.
“Kenapa?” tanya Nanta pada Rafa.
Tak langsung menjawab, Rafa fokus mengeluarkan Zely dari kursi penumpang. Kemudian segera menggendong gadis itu dan memindahkan ke emergency bad. Kemudian segera dibawa oleh perawat menuju ruang IGD untuk mendapatkan pertolongan lebih lanjut.
“Gue rasa dia overdosis obat tidur. Denyut nadinya sangat lemah,” ungkap Rafa pada Nanta. Menyerahkan botol obat milik Zely yang sengaja ia bawa sebagai sample.
Mendengar penjelasan Rafa, Nanta tak bertanya lagi. Langsung berlalu dari sana dan bergegas masuk ke dalam ruang IGD. Jika benar apa yang dikatakan Rafa, artinya kondisi gadis itu dalam keadaan buruk.
Sebenarnya Rafa sempat berpikir demikian, apalagi semalam gadis itu juga mengancam akan bunuh diri. Hanya saja ia merasa tak yakin jika Zely akan benar-benar nekad melakukannya.
“Enggak,” jawab Rafa. “Dia tak akan berani melakukan hal sebodoh itu.”
“Tapi Bibik bilang semalam dia juga berniat bunuh diri,” balas Bella lagi.
Di saat yang bersamaan, ponsel milik Bella berdering. Setelah melihat siapa yang menghubungi, wanita itu beranjak dari posisi duduk dan berjalan menjauh dari Rafa untuk menerima telepon.
“Ck, bodoh sekali kamu kalau beneran nekad bunuh diri,” gumam Rafa malah dibuat kepikiran.
Tak lama, pintu ruang IGD dibuka dari arah dalam. Tampak Nanta keluar dari sana, langsung menghampiri Rafa.
“Gimana, Nan?” tanya Rafa langsung penasaran akan keadaan Zely.
__ADS_1
“Lo bener, dia overdosis obat tidur. Kondisinya lemah. Itu kalau tadi aja lo telat dikit lagi bawa ke sini, bisa lewat. Sekarang belum sadar, tapi kita lagi fokus agar zat beracun yang di dalam perut bisa keluar dan menggunakan arang aktif agar dapat menyerap obat yang sudah memasuki saluran pencernaan. Beberapa jenis obat juga sudah kita gunakan buat
“Tapi dia baik-baik aja, kan?”
Nanta mengangguk. “Akan lebih baik lagi setelah dia sadar, hingga kita bisa memancing agar dia bisa memuntahkan isi perutnya, untuk mengeluarkan zat-zat yang berbahaya.”
Rafa sedikit lega, meskipun belum sadar, tapi setidaknya Zely sudah menunjukkan kondisi yang lebih baik daripada tadi. Serius, ia tadi merasa jika gadis itu seakan tak tertolong, mengingat denyut nadi dia saja sudah benar-benar lemah.
“Ngomong-ngomong dia siapa? Kok kayaknya lo khawatir banget sama dia?”
Padahal Rafa tak berharap jika Nanta akan menanyakan siapa Zely baginya. Ternyata pertanyaan itu begitu sulit dihindarkan. Apalagi mengingat bentuk khawatir dirinya tadi akan kondisi gadis itu, tentu saja Nanta makin dibuat penasaran.
“Calon istri gue,” jawab Rafa singkat.
“Hah?”
Nanta sampai dibuat kaget saat mendengar jawaban Rafa perihal status gadis yang sedang tak baik-baik saja di dalam ruang IGD. Jujur, ia tak kepikiran kalau gadis itu adalah calon istri dari sahabatnya.
“Jangan bercanda, Raf?” tanya Nanta memastikan.
“Gue serius. Dia calon istri gue.” Rafa meyakinkan Nanta jika jawaban dan pengakuannya adalah benar, bukan sebuah candaan.
“Kok bisa?” tanya Nanta. “Maksud gue, kok tiba-tiba udah ada calon istri aja? Dan lagi, kayaknya gue juga baru pertama kali lihat gadis itu. Baru jadian, atau gimana, sih?”
“Ceritanya panjang. Kapan-kapan gue ceritain,” balas Rafa tak berminat untuk bicara panjang lebar sekarang.
Fokusnya buyar semua karena memikirkan Zely. Kebayang kalau tadi ia beneran sampai telat membawa gadis itu ke rumah sakit. Ini saja masih cemas, karena tadi membawa dia ke sini saja sudah begitu mengkhawatirkan.
Seorang suster keluar dari ruang IGD, dia bergegas menghampiri Nanta yang masih mengobrol dengan Rafa.
“Maaf, Dokter. Pasien mulai sadar,” ungkapnya pada Rafa.
“Gue ke dalam dulu, ya.” Nanta langsung bergegas memasuki ruang IGD saat mendapatkan info dari suster.
__ADS_1
Barusan Bella masih bicara di telepon yang tak terlalu jauh dari posisinya, tapi sekarang tak terlihat lagi di sana. Berniat mencari, tapi sebuah pesan ia terima dari papanya. Membuat niatnya terhenti dan menelepon balik orangtuanya.