Istri Tercinta Pak Dosen

Istri Tercinta Pak Dosen
BAB 9 : Masa Lalu


__ADS_3

“Papa kenal?” tanya Diana pada suaminya.


“Bukan hanya kenal, tapi bahkan sangat kenal. Terutama Almarhum Ryan dan Indira,” ungkap Malik pada pertanyaan Diana.


“Maksud Papa?” Kini giliran Rafa yang bertanya.


Malik menarik napasnya agak panjang, seakan mengatur kalimat penjelasan yang akan ia berikan pada istri dan putranya. Selama ini ia tak pernah mengumbar apalagi sampai menceritakan kejadian ini pada siapapun, tapi sepertinya sekarang adalah saat yang tepat. Rafa sudah dewasa, ditambah lagi dia juga bermasalah dengan keluarga Baskara. Entah ini sebuah pertanda atau apa … hanya saja ia merasa kejadian yang menimpa putranya bukan hanya kebetulan.


“Dulu Papa punya sahabat, namanya Ryan Baskara. Sahabat dari jaman kecil hingga kami dewasa. Berasal dari keluarga terpandang, tapi sikap dan kepribadian dia justru begitu baik. Intinya, dia dekat dengan siapapun tanpa mempermasalahkan harta ataupun tahta. Dekat dengan dia, Papa bisa masuk dan kuliah di kampus milik keluarga dia dengan jalur beasiswa. Karena Papa juga mengenal orang tua dia.”


“Maksud Papa, Papa sahabatan sama anak pemilik kampus?” tanya Diana malah makin dibuat penasaran.


Diana tadinya fokus pada masalah putranya, tapi sepertinya kisah yang akan diceritakan suaminya seolah akan ada sangkut pautnya dengan masa lalu dari keluarga gadis itu.


“Iya. Ryan itu anak tunggal, otomatis ya pewaris keluarganya dia. Tapi tiba-tiba keluarganya bermasalah, papa juga nggak tahu masalah apa. Hingga dapat info kalau ternyata dia punya adik bernama Bella. Ya, Bella Gia Baskara … yang sekarang menjabat sebagai pemilik kampus.”


“Hanya sementara, Pa,” respon Rafa membenarkan. “Karena setahuku beliau memang yang mengurus, tapi banyak yang bilang kalau itu hanya sementara hingga putri dari Alm. Ryan Baskara dewasa dan bisa memegang kendali yayasan. Hanya saja selama ini aku juga nggak pernah ketemu sama yang namanya Bella ataupun putri dari Alm.”


“Ada kejadian masa lalu yang membuat Papa penasaran hingga detik ini.” Malik mengarahkan pandangannya pada Rafa. “Itulah kenapa kamu Papa minta untuk mengajar di kampus itu.”


Sontak dong baik Rafa maupun Diana agak tersentak mendengar pengakuan Malik.


“Maksud Papa apa?”


“Papa dan Alm. Ryan masih tetap berhubungan, meskipun kala itu berada di kota yang berbeda. Kejadian saat mereka akan berangkat liburan, tiba-tiba mobil yang mereka kendarai mengalami kecelakaan tunggal. Putri mereka selamat karena berhasil keluar, tapi Ryan dan Indira tak selamat karena mobil langsung meledak saat keduanya masih berada di dalam.”


“Ya ampun,” gumam Diana merasa tragis mendengar semua cerita suaminya.


“Dan hubungannya denganku apa?” tanya Rafa.


“Beberapa hari sebelum kecelakaan, Papa dan Ryan sempat bicara lewat telepon. Ada yang meneror keluarga mereka, tapi dia tak tahu pelakunya. Intinya, setiap apapun yang mereka lakukan pasti diketahui oleh si pelaku. Dia takut jika pelaku menyakiti istri dan putrinya.” Malik menghentikan penjelasannya, sembari menghela napas. “Asal tahu saja, sebenarnya mereka bukan mau liburan, tapi justru mau ketemu sama kita. Liburan hanya sebagai alasan, karena takut jika peneror mengikuti.”

__ADS_1


“Apa pelakunya sudah diketahui?” tanya Rafa.


Malik menggeleng dengan wajah sendu. “Bahkan hingga saat inipun pelaku tak diketahui. Itulah sebabnya Papa kirim kamu ke kampus. Setidaknya ketika kamu dekat dengan keluarga Baskara, bisa sedikit demi sedikit mendapatkan info itu.”


Rafandra sampai menghela napas saat tahu niat papanya yang sebenarnya.


“Pantas saja ketika aku fokus bisnis, malah memaksaku untuk jadi dosen,” umpatnya.


“Maaf, jika kamu berpikir kalau Papa egois. Papa cuman mau tahu kejadian sebenarnya.”


“Hanya itu?”


“Papa dan Ryan sudah menjodohkan kamu dengan putri keluarga Baskara.”


“What!” Rafa sampai dibuat shock. Bisa-bisanya papanya punya niat sekolot itu.


Diana memutar bola matanya jengah mendengar pengakuan suaminya. “Pantesan tiap Mama nyariin jodoh buat Rafa, Papa komentar terus. Terlalu inilah, terlalu itulah. Kurang inilah, kurang itulah.”


Rafa menggetok-getok kepalanya yang tiba-tiba mendadak sakit. Tadi perasaan tak terlalu memikirkan, tapi setelah mendengar penjelasan papanya malah membuat pikirannya jadi kacau dalam seketika.


“Ini nasibku gimana sekarang? Aku tiba-tiba dibuat pusing dengan semua permasalahan.”


“Nikahi dia.”


“Aku memang mau menikahi dia, Pa. Tapi Papa bilang barusan kalau udah dijodohin sama dia. Trus nasibku selanjutnya gimana? Jangan katakan kalau aku dan dia akan tetap bersama setelah menikah.”


Diana melempar Rafa dengan bantal sofa, ketika niat putranya seakan sudah bisa ditebak. “Kamu pikir nikah itu main-main, ya. Habis nikah, ijab kabul, trus buang anak orang gitu aja? Raf, Mama memang nggak terima saat kamu bermasalah begini. Tapi kalau kamu nikahin anak orang kayak mainan yang bisa dibuang gitu aja, mending kamu jangan jadi anak mama!”


“Tapi tadi mama malah nangis-nangis. Bukankah artinya mama nggak setuju?”


“Mama nangis bukan nggak setuju, tapi mama nangis karena kepikiran kamu yang udah mama besarin jadi anak yang benar, malah kepergok satu kamar sama anak gadis orang. Itu yang bikin mama sedih!”

__ADS_1


Haruskah ia ikutan bunuh diri seperti niat Zely semalam. Rasanya begitu memusingkan. Tadinya berasa aman, kini kok ya berat banget mau ngejalaninnya. Efek kata dijodohkan, bikin semua alur seketika berubah.


“Bella nggak mengenal Papa, karena dulu juga nggak pernah ketemu. Jadi tolong jangan ada yang membahas hubungan masa lalu Papa sama Alm. Ryan. Anggap saja kita hanyalah orang luar yang tak tahu apa-apa.”


Diana mengangguk paham akan maksud suaminya, tapi tidak dengan Rafa. Jangankan memahami, ia saja rasanya kini tak ingin menjalani.


“Kamu dengar apa yang Papa bilang kan, Raf?” tanya Diana.


“Hmm,” sahutnya singkat.


“Sekarang ayo siap-siap. Kita akan ke sana. Terlebih kamu Rafa, jangan pikirkan yang lain-lain. Sekarang yang harus kamu jalankan adalah tanggung jawab seorang laki-laki. Karena lari dari sebuah masalah bukan menyelesaikan semua, tapi justru menambah masalah baru. Kamu pengajar, punya anak didik. Jadilah contoh yang baik bagi orang kamu didik.”


Setelah mengatakan hal itu, Malik beranjak dari posisi duduknya.


 “Awas, ya! Kalau sampai kamu kabur, atau bikin masalah … mama tendang kamu dari kartu keluarga!” ancam Diana sebelum akhirnya juga pergi menyusul suaminya.


Rafa mengacak-ngacak rambutnya sendiri, seakan frustasi dengan semua ini. Di saat yang bersamaan, ponsel miliknya berdering. Saat ia lihat, ternyata yang menghubungi malah tantenya Zely.


“Kadang heran, ini gue mau nikah sama ponakannya, tapi kenapa malah tantenya yang malah paling ngebet dan kekeuh hubungin gue, sih. Waduh, jangan-jangan ini tante-tante jenis kurang belaian. Alibi maksa gue sama Zely nikah, tapi plot twist nya malah dia yang …” Menggeleng cepat, saat pikirannya buruknya merajalela. Langsung menjawab panggilan itu.


“Hallo, Tante,” sahutnya dengan nada ramah.


“Nggak lupa, kan?”


Rafa sampai mabok sendiri saking kesalnya. “Sudah ku bilang, kan, Tante. Kenapa sekarang malah nanya lagi. Orang tuaku sekarang lagi siap-siap, kisaran satu jam lagi kita ke sana.”


“Hanya mengingatkan. Karena cowok banyak yang nggak bertanggung jawab sekarang.”


“Sudah ya, Tan. Aku mau siap-siap dulu.


Rafa langsung menutup percakapan itu. Kelamaan bicara, bisa-bisa ia langsung berubah pikiran dan bunuh diri.

__ADS_1


__ADS_2