
Zely dan Rafa keluar dari ruangan Rektor. Rafa masih mode diam dengan muka jutek, sedangkan Zely masih tertawa puas dengan semua kejadian di dalam tadi.
“Puas-puasin aja kamu ketawanya.”
“Maaf,” ucap Zely berusaha meredam tawanya. Meskipun masih tergurat senyum di bibirnya.
Di saat keduanya masih adu emosi, seseorang datang menghadap mereka. Seorang laki-laki yang sepertinya juga pengajar di kampus ini.
“Anda keren Bapak Rafa. Tadi mengumbar foto mesra di WA story yang bikin semua kaget dan sekarang langsung go publick.”
Padahal Rafa berusaha agar Zely tak mengetahui permasalahan yang tak sengaja ia buat, tapi sekarang malah William, sahabatnya sendiri yang datang memberikan informasi secara jelas tepat di depan gadis ini.
“Foto apa?” tanya Zely tertuju pada Rafa. “Dan lagi-lagi WA story. Ini ada apa, sih, sebenarnya, Raf?”
“Manis banget suaranya,” puji Willi saat mendengar suara Zely saat bicara dengan Rafa. “Pantesan dikekepin.”
Rafa menatap Willi dengan rasa tak suka. Haruskah Willi memberikan pujian seperti itu di depannya yang merupakan suami Zely. Untung sahabat, jadi ia anggap sebagai candaan.
Serius, ya … ternyata saat salah dan cara menyelesaikan masalah adalah hal yang paling mengerikan. Yang ia hadapi hanyalah Zely, tapi berhubung posisinya salah, jadinya berasa kayak mau dia hajar saja kalau ketahuan.
“Nanti penjelasannya di rumah. Aku ada kelas. Kamu mau pulang atau gimana? “
Daritadi sebenarnya Zely menunggu penjelasan perihal WA story yang di maksud semua orang. Tetap saja Rafa berat banget mau memberikan penjelasan.
“Lama?”
“Satu setengah jam.”
“Ya ampun, auto kering aku kalau nungguin.” Memberengut ketika tak mendapatkan penjelasan dari Rafa dan sekarang ia harus menunggu dia sampai dua jam lamanya.
Zely menyodorkan telapak tangannya pada Rafa.
“Apa?” Rafa bingung dengan sikap Zely.
“Kunci mobil.”
“Trus kamu mau kemana?”
“Pulang lah,” jawabnya. “Nanti dua jam lagi kamu aku jemput.”
“Mending kamu ikut aku ke kelas. Lumayan, kan … daripada kamu bolak-balik nggak jelas kayak gitu.”
__ADS_1
“Mama bilang kan tadi kalau aku belum boleh masuk? Kenapa sekarang malah kamu ajak aku masuk kelas?”
“Duduk dong, Zely. Astaga! Dari tadi perasaan nggak bisa diam kamu.”
Willi yang dari tadi hanya diam dan jadi pendengar yang baik dalam adegan perdebatan di depan matanya, kini dibuat tertawa. Rafa yang ia kenal, tak banyak bicara apalagi sama cewek. Sekarang tiba-tiba dapat istri yang tingkat kecerewetannya justru berada di level atas. Jadi, bisa bayangkan jika disatukan dengan Rafa, kan.
“Tiba-tiba dia tertawa tanpa sebab,” ujar Zely melihat sikap Willi.
“Dia salah satu dosen mu, loh.”
“Ya, t
Rafa berasa sesak napas jika harus berdebat dengan gadis ini di sini. Bisa-bisa hancur imej nya di depan semua orang.
“Ikut denganku,” ajaknya menyambar tangan Zely dan mengajak dia pergi dari sana.
Bayangkan, di mana semua orang mendambakan sosok Rafa sebagai pasangan, kini dia justru datang ke kampus dengan seorang gadis di samping dia. Malah jalan gandengan gitu, gimana nggak bikin gempar. Bahkan info sudah langsung tersebar, termasuk dalam kelas yang akan diajar oleh Rafa.
Sampai di depan pintu masuk salah satu kelas, Rafa melepaskan pegangannya di tangan Zely. Hanya saja saat lepas, dia justru menghentikan langkah. Untuk kesekian kalinya Rafa menarik napasnya panjang.
“Masuk,” suruh Rafa.
“Nggak mau,” tolak Zely.
Rafa dan Zely malah cek cok di dekat pintu masuk, apalagi kondisi pintu dalam keadaan terbuka lebar. Tentu saja adegan dan penampakan itu membuat seisi ruangan jadi penasaran. Bukan hanya para mahasiswi yang fokus pada Rafa, tapi para mahasiswa juga fokus pada Zely yang tentu saja menarik perhatian.
“Kamu gimana, sih. Masa aku tiba-tiba disuruh masuk kelas. Belum ada persiapan juga ini kepalaku untuk dengerin kamu ngajar, Rafa,” terang Zely dengan sedikit mengurangi volume suaranya saat bicara. Bagaimana tidak, tatapan penduduk kampus yang lalu lalang membuat dirinya tak nyaman. Rasanya seperti diperhatikan.
Rafa diam sejenak, memikirkan kata-kata Zely yang ada benarnya juga.
“Selain pulang?”
“Aku tunggu di mobil aja.”
“Dua jam lagi, loh, Zel.”
“Kamu juga nggak kasih izin aku pulang.”
Rafa menyodorkan kunci mobil pada Zely, yang langsung diterima oleh gadis itu.
“Punya SIM?”
__ADS_1
“Ada,” jawab Zely.
“Pulang saja, nanti jemput aku jam lima.”
“Kok jam lima?”
“Ada kelas tambahan.”
Tadi katanya satu setengah jam, sekarang malah bilang jemput jam lima. Benar-benar nyebelin banget kan dia. Untung saja ia tak benar-benar menunggu di dalam mobil hingga sore hari.
Zely tersenyum sembringah. “Kalau gitu aku pulang duluan, ya. Dah,” pamit Zely.
“Hati-hati.”
“Iya.”
Zely segera berlalu dari hadapan Rafa, hanya saja beberapa langkah kemudian dia balik lagi pada cowok itu.
“Kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa,” jawab Zely. Kemudian langsung menyambar dan mencium punggung tangan Rafa untuk pamit.
“Aku pulang duluan” pamitnya segera berlalu dari sana dengan sedikit berlari.
Diana memberikannya saran agar berusaha menjadi istri yang baik dan patuh. Meskipun tak ada rasa sedikitpun pada Rafa, tapi setidaknya sikap dan kewajiban sebagai istri harus terus lanjut.
Pada orang yang lebih tua, bisa dikatakan itu sering dilakukan. Hanya saja kali ini berbeda, karena itu dilakukan pada Rafandra yang berstatus sebagai suaminya. Rasanya aneh sekali saat bibirnya menyentuh tangan Rafa.
Pertama, karena merasa malu dan aneh saja akan sikapnya barusan. Kalau bukan menghormati Diana sebagai mertua, mungkin rasanya tak sanggup bersikap begitu.
Kedua, ini kampus. Seperti sedang menyulut api dengan satu botol bensin. Gelagat dan pandangan orang-orang yang ada di sekitarnya dan Rafa, memastikan jika mereka tak suka.
Ketiga, ia akan tunggu hasilnya. Sepertinya akan ada masalah yang sedang berjalan ke arahnya perkara kedekatannya dan Rafa.
Tak hanya Zely, bahkan Rafa sendiri dibuat kaget akan sikap yang ia terima barusan. Ya, mungkin memang seorang istri harus hormat dan bersikap begitu pada suami. Hanya saja dirinya dan Zely punya hubungan karena suatu kejadian, hingga berujung paksa … jadinya terasa aneh.
Tersenyum simpul. Haruskah ia merasa senang sekarang saat sikap Zely padanya perlahan berubah. Ya, mungkin tak menyeluruh, karena terkadang saat ia mulai memuji, gadis itu kembali bertingkah. Meskipun begitu, rasanya puas saja.
“Terserah kamu mau ngapain juga, Zel … yang penting nggak bikin otakku panas dan mulutku keram gara-gara harus dan terus menerus baku hantam sama kamu,” gumamnya.
Menghela napas, kemudian bersiap masuk kelas. Hanya saja langkahnya tertahan saat mendapati hal yang bikin geram. Ia terlalu fokus pada Zely, hingga lupa dengan keadaan sekitar yang ternyata malah membuatnya jadi salah satu fokus utama.
__ADS_1
“Kalian kurang kerjaan, ya?!”
Langsung, saat mendengar suara tegas itu membuat mahasiswa dan mahasiswi bergegas kembali ke kursi masing-masing.