Istri Tercinta Pak Dosen

Istri Tercinta Pak Dosen
BAB 27 : Istri Ikut Suami


__ADS_3

Ketiganya duduk di kursi yang ada di teras. Ya, apalagi kalau bukan menunggu Rafa menjemput Zely. Padahal ia sudah bikin Jean sampai datang ke rumah Rena, tapi malah tak jadi menceritakan semua permasalahannya pada kedua sahabatnya.


“Gue penasaran sama suami lo,” ujar Renata.


“Yaudah, lihat aja ntar.”


“Ganteng?” tanya Jean.


Zely sampai memutar bola matanya karena mendapatkan pertanyaan semacam itu dari Jean. Sedangkan Renata malah tertawa melihat ekspressinya.


“Lo gimana, sih, Jean. Di mana-mana, menurut para suami, istri mereka adalah yang paling cantik. Begitupun sebaliknya.”


“Berarti ganteng dong, Zel?” tanya Jean lagi butuh kepastian.


Di saat yang sama ponsel milik Zely berdering. Ternyata nama Rafa yang tertera di layar datar itu. Langsung menjawab agar si cowok cerewet itu tak mengamuk lagi.


“Ya,” sahutnya.


“Aku nunggu di depan gerbang,” ujar Rafa.


“Iya, bentar.”


Zely menutup sambungan telepon dengan Rafa, kemudian menyambar sweater yang ia gantung di kursi.


“Gue pulang dulu, ya.”


“Udah dijemput?”


“Udah, itu dia udah nunggu di depan,” jawab Zely. “Dah, gaes.”


Zely langsung berlalu dari sana, meninggalkan kedua sahabatnya dengan sedikit berlari menuju gerbang utama. Pak satpam membukakan pagar pembatas itu untuk Zely.


Sampai di luar, tampak Rafa sudah berdiri bersandar di dekat pintu mobil sambil bersidekap dada. Menatap ke arahnya dengan tatapan horor dan mematikan.


Zely mengumbar senyum ke arah Rafa. Lumayan, siapa tahu bisa meredam semburan lahar panas gunung berapi yang siap menyemburnya.


“Senyum aja sepuasmu,” berengut Rafa saat dihadapkan pada gadis menyebalkan yang membuatnya kena omel mamanya sedari tadi. Untung saja hanya lewat telepon, kalau secara langsung, bukan hanya omelan, tapi juga serangan fisik yang ia dapatkan.


“Udah, jangan ngomel terus.”


“Bisa nggak sih itu sweater dipake aja,” komentar Rafa tak terima.


 Zely hanya mengenakan tanktop berwarna putih dengan tali di bagian pundak dia seukuran jari kelingking. Bisa dibayangin, kan … itu pundaknya terbuka dengan bebas. Meskipun hubungannya dengan Zely hanyalah pernikahan tanpa rasa, tetap saja statusnya adalah seorang suami yang tak akan rela jika dia mengumbar badannya.


“Panas,” respon Zely.


Rafa malah menarik benda yang diikatkan Zely di pinggangnya, kemudian malah memaksa mengenakan sweater itu lagi.


“Mau mengumbar tubuhmu?”


“Siapa yang mengumbar, sih, Rafa. Kamu pikir aku nggak pake baju.”


“Tahu kewajiban seorang istri, kan?”

__ADS_1


“Mengomeli suaminya,” jawab Zely ngasal.


Rasanya Rafa kehabisan stok kata-kata kalau sudah adu mulut dengan Zely. Tak akan pernah berhenti jika di antara keduanya tak ada yang mengalah. Kali ini sebagai seseorang yang merasa normal, ia akan mengalah.


Rafa membukakan pintu mobil untuk Zely.


“Kirain kamu yang bawa mobil,” ujar Zely saat Rafa membukakan pintu mobil untuknya masuk, dan ternyata di dalam sudah ada supir yang standby di kursi kemudi.


“Capek.”


“Sebagai suami, Anda tidak boleh mengeluh, Bapak,” ingatkan Zely.


“Aku juga manusia normal.”


“Siapa juga yang mengatakanu manusia nggak normal,” berengut Zely dengan nada perlahan.


Setelah Zely masuk, Rafa ikut masuk.


“Maaf, Pak Rafa. Ini kita balik ke kantor atau langsung pulang?”


“Kantor dulu.”


Seketika Zely merasa terpental. Menyenderkan punggungnya dengan paksa dan memejamkan kedua matanya. “Tadi maksa-maksa pulang. Trus kamu ke kantor, aku ngapain? Harusnya nggak usah jemput aku barusan.”


Sebenarnya Rafa ingin memberi hukuman pada Zely karena sudah membuatnya kesal dan kena omel. Hanya saja kenapa jadi tak tega.


“Langsung pulang aja, Pak.”


“Nah, plin plan,” komentar Zely pada sikap Rafa.


“Siapa yang ngomel, sih, Rafa? Itu aku barusan cuman mengeluarkan pendapat doang.”


Rafa dan Zely seperti sebuah petasan di malam tahun baru yang akan meledak bersahut-sahutan. Yang satu ngomel, yang satu langsung balas. Yang satu diam, yang satu malah menyulut.


Bahkan Pak supir pun dibuat menahan tawa saat dihadapkan pada adegan baku hantam atasannya itu. Heran, Rafa yang setahunya mode kalem dengan sikap dingin pun bisa dibuat tak berhenti bicara oleh Zely.


Mobil memasuki pekarangan rumah. Hanya saja mata Zeli langsung mengedarkan pandangannya ke segala arah saat merasa jika ini bukanlah rumahnya.


“Ini rumah siapa?”


“Rumah orang tuaku.”


“Trus, kenapa ke sini? Katanya pulang.”


Rafa tak langsung menjawab pertanyaan Zely. Ia langsung turun dari mobil dengan pintu sudah dibukakan oleh supir.


Zely ikut turun dan berdiri dihadapan Rafa dengan sengaja menghalangi langkah dia yang akan masuk ke dalam rumah.


“Kenapa ke sini?”


“Jangan bilang kalau kamu tiba-tiba amnesia,” respon Rafa.


“Berharap banyak bisa begitu.”

__ADS_1


“Kamu itu istriku, Zely. Tentu saja kamu akan ikut kemanapun aku pergi. Termasuk di mana aku tinggal, kamu pun akan ada di sana. Paham?”


“Tapi, kan …”


Rafa berlalu dari hadapan Zely dan melanjutkan langkah masuk ke dalam rumah. Menyambar lengan Rafa karena masih tak terima dengan aturan itu, tapi tetap saja diabaikan.


“Rafa, cepetan dong. Anterin pulang,” rengek Zely seperti bocah yang merengek minta beli es krim.


“Capek aku ngomong sama kamu.”


Rafa hendak menaiki anak tangga menuju lantai atas, di mana posisi kamarnya berada. Hanya saja langkahnya terhenti ketika Zely malah dengan cepat mendahuluinya dan menghalanginya untuk lanjut.


“Zel, aku mau balik ke kantor loh ini. Kerjaanku masih banyak.”


“Anterin pulang.”


“Mulai detik ini, kamu di sini denganku.”


“Rafa, tapi kan aku …”


“Ya ampun, ini ada apa, sih. Kok pada heboh.”


Diana yang berada di halaman belakang saja sampai datang menghampiri karena mendengar suara ribut-ribut di dalam rumah. Berpikir jika Rafa dan Nanta atau Willi. Ternyata pemikirannya salah, karena yang sedang cek cok malah Rafa dan Zely.


“Zely, kamu di sini, Nak?”


Diana langsung sumringah saat mendapati Zely ada dihadapannya. Akhirnya emosinya seakan langsung turun, tak seperti tadi saat menelepon Rafa, malah mengatakan Zely kabur.


“Nah, kamu bicara sama Mama sana. Kalau bicara denganku, bukannya menyelesaikan masalah, malah bikin otakku makin mumet gara-gara kamu.”


Alhasil, Rafa melanjutkan langkahnya menuju kamar untuk mengambil beberapa berkara pekerjaan.


Kini Diana dan Zely duduk di ruang keluarga. Zely bingung harus memulai pembicaraan dari mana, sedangkan Diana malah bingung masalah apa yang dipikirkan oleh Zely hingga dia sampai membuat Rafa tampak kesal.


“Zely, kamu ada masalah apa? Rafa sepertinya agak kesal.”


“Aku mau pulang, tapi Rafa nggak mau ngaterin.”


“Pulang?”


“Hmm,” angguk Zely. “Pulang ke rumahku.”


Diana akhirnya paham permasalahannya. Rafa memang agak menyebalkan, tapi ia yakin jika putranya pasti melakukan apa yang ia minta. Meskipun tahu jika dia tak suka.


“Nak, kamu nggak lupa, kan, kalau status kamu dan Rafa adalah suami istri?”


“Aku tahu itu, Ma.”


“Lalu, kenapa sekarang kamu minta pulang? Kalau kamu nggak lupa statusmu sebagai istrinya Rafa, berarti kamu juga ingat, kan … kalau seorang istri akan menjadi tanggung jawab suaminya. Seorang istri juga akan ikut kemana suaminya melangkah. Pun, kamu akan tinggal di sini, karena ini rumahnya Rafa.”


“Jadi, maksudnya aku akan tinggal di sini?”


“Tentu saja,” jawab Diana. “Karena kamu adalah tanggung jawab Rafa. Kemana pun dan di manapun Rafa berada, kamu akan ada di sisi dia.”

__ADS_1


Napasnya seperti berhenti mendadak. Apa pernikahan memang seperti ini. Padahal ia berpikir jika masih punya hak untuk kembali ke rumah, tapi malah harus ikut dengan Rafa.


__ADS_2