Istri Tercinta Pak Dosen

Istri Tercinta Pak Dosen
BAB 28 : Rasanya Begitu Sakit


__ADS_3

Setelah mengambil beberapa file di kamar, Rafa segera turun dan bergegas untuk segera kembali ke kantor. Sampai di bawah, langkahnya terhenti saat mendapati mamanya dan Zely sedang ngobrol di ruang keluarga.


“Masih mau pulang?” tanya Rafa pada Zely.


Zely diam seribu bahasa. Memahami apa yang dijelaskan oleh mama mertuanya, tapi tetap saja ia masih kesal pada Rafa.


“Rafa, jangan gitu,” komentar Diana saat putranya masih saja cari gara-gara. “Harusnya sebagai seorang suami dan kamu lebih dewasa dari Zely, jelaskan padanya.”


“Mulutku sampai berbusa memberikan penjelasan sama dia, tetap saja otaknya nggak cukup luas untuk menerima penjelasanku.”


“Rafa!”


“Kamu minum sabun cuci piring, ya … sampai-sampai berbusa gitu,” ledek Zely akan perkataan Rafa.


Diana menahan tawanya yang nyaris menyembur saat mendengar balasan dari Zely untuk Rafa. Padahal ia pikir Zely itu tipe yang takut pada Rafa, tapi ternyata justru keduanya seakan baku hantam tanpa kenal waktu.


“Mama lihat sendiri, kan, betapa menyebalkannya dia.”


“Semua tergantung kamu, Rafa. Kalau kamu baik, ya dia juga bisa memahami. Ini kamu ngomel mulu, jangankan Zely, mama aja kesal.”


Zely tersenyum puas saat Rafa kena omel.


Rafa menyambar dan mencium punggung tangan Diana, kemudian berlalu pergi begitu saja.


“Kamu mau kemana?” tanya Zely yang membuat langkah Rafa terhenti dan berbalik badan menatapnya.


“Sudah ku bilang, kan … aku mau ke kantor. Banyak kerjaan, Zely. Ntar siang juga ngajar. Jadilah anak, bocah dan istri yang baik serta penurut. Diam di rumah sampai aku pulang. Paham?”


“Trus, aku di rumah ngapain?”


“Tidur kek, atau mau ngapain juga terserah kamu.”


Diana menghela napasnya dan memilih untuk duduk di sofa, sambil menonton adegan baku hantam antara anak dan menantunya.


Zely berdidekap dada. Menatap tajam ke arah Rafa.


“Yaudah, aku tidur!”


Zely langsung berbalik badan dan bergegas ke arah anak tangga menuju lantai atas.


“Kamu mau kemana?” tanya Rafa.

__ADS_1


“Kamu suruh tidur, kan? Yaudah, aku tidur. Welcome to kamar suami!” teriak Zely langsung bergegas menuju lantai atas dengan sedikit berlari.


“Kamar suami?” tanya Rafa bingung sendiri.


“Kamar kamu maksudnya, Rafa,” ingatkan Diana pada Rafa yang tampak bingung.


“Zely!”


Rafa yang tadinya sudah bersiap untuk balik ke kantor, sekarang malah adegan kejar-kejaran dengan Zely di rumah. Jangan sampai dia masuk ke dalam kamarnya. Bisa dibikin amburadul ntar kamarnya oleh makhluk satu itu.


“Dilarang masuk!” Rafa langsung menghentikan tangan Zely yang nyaris menarik handle pintu kamar.


“Kenapa?”


“Karena ini kamarku.”


“Aku ini istrimu, Bapak Rafa.”


Zely bersidekap dada dihadapan Rafa dengan wajah bersungut dengan sengaja menjelaskan statusnya saat ini.


“Kamu masuk kamarku, kan … kenapa aku nggak boleh masuk kamarmu? Jangan-jangan ada sesuatu yang kamu sembunyikan di dalam, ya?”


“Enak saja nuduh-nuduh.”


“Nggak boleh,” larang Rafa kukuh pada aturannya.


Mamanya saja nggak pernah masuk-masuk kamarnya. Iya, Zely memang istrinya, tapi hanya istri karena terpaksa. Mungkin akan berbeda aturan jika dia adalah istri tercinta baginya.


“Kamu tadi minta aku tidur, kan. Sekarang aku mau tidur malah kamu halangi.”


Saat Rafa lengah, Zely dengan cepat menarik handle pintu hingga langsung terbuka. Hanya saja karena reflek, Rafa malah menarik kembali pintu hingga tertutup. Tapi malah berujung dengan rintihan kesakitan dari Zely.


Zely spontan langsung terduduk. Bukan hanya teriakan ya, tapi malah menangis. Lebih tepatnya tangisan yang tertahan.


Awalnya Rafa juga kaget saat reaksi Zely begitu berlebihan menurutnya hanya karena pintu yang ia tarik dan terhempas. Namun rasa itu seketika berubah jadi cemas, saat melihat jemari dia tampak membiru dan ada darah yang keluar dari salah satu jari dia.


Segera mendekati Zely yang masih menangis. Bukan hanya satu, tapi tiga jari dia jadi korban. Ternyata ketika ia menarik pintu barusan, tangan Zely ada di sana hingga terjepit antara daun pintu.


Rafa bergegas masuk ke dalam kamar, kemudian kembali menghampiri Zely yang masih menangis. Menyambar tangan dia yang bahkan dengan jelas bisa ia rasakan gemetaran itu.


Rasanya pasti sangat sakit, hingga dia sampai menangis. Kejepit satu jari saja rasanya sakit, ini malah tiga dan Rafa yakini jika yang barusan juga lumayan kuat menarik pintu.

__ADS_1


Zely itu akan membalas semua yang ia lakukan kalau membuat dia kesal. Mau mencubit, ataupun menabok lengannya. Hanya saja kali ini berbeda. Dia sampai terluka dan kesakitan, tapi malah tak membalasnya.


“Aku minta maaf,” ucap Rafa benar-benar merasa bersalah.


Perlahan membersihkan darah yang keluar dari jari manis Zely dengan sapu tangan. Berniat mengoleskan sebuah obat berbentuk cream, tapi baru juga menyentuh … Zely langsung menarik tangan dia yang ada di pegangannya.


Zely menarik napasnya panjang seolah memaksakan tangisnya untuk terhenti detik itu juga. Kemudian menghampus air mata di kedua pipi dengan punggung tangannya hingga mengering dan memperlihatkan wajah baik-baik saja.


“Aku baik-baik saja. Jangan merasa bersalah, karena ini salahku, kan.”


Zely beranjak dari posisi duduknya. Rasanya seperti ingin menangis sejadi-jadinya, saking sakitnya. Iya, jarinya yang terjepit, tapi rasa sakitnya seakan menjalar hingga lengannya.


“Aku obati.”


“Nggak usah,” tolak Zely menghindar dari Rafa.


Zely langsung berbalik badan. Kemudian berlalu pergi dari sana dengan langkah cepat menuruni anak tangga.


Mungkin orang-orang akan berpikir jika dirinya terlalu cengeng, tapi jujur saja rasanya benar-benar sakit. Daripada ia menangis dihadapan Rafa seperti seorang bocah, lebih baik menghindar.


“Zel, kamu mau kemana?!”


Rafa segera mengikuti langkah Zely yang berlalu cepat meninggalkan rumah.


“Kamu kenapa?” tanya Diana pada Rafa yang tampak khawatir dan bergegas keluar dari rumah. Hanya saja putranya itu tak menghiraukan pertanyaan darinya.


Zely sampai di depan pagar setinggi dua meter itu, kemudian mendorong sedikit agar ia bisa keluar. Beruntung saat sampai di luar, sebuah taksi kebetulan lewat hingga bisa segera pergi.


“Zel!”


Rafa bergegas kembali masuk ke dalam rumah. Menyambar kunci mobil yang ia letakkan di meja dekat ruang keluarga hendak menyusul Zely. Dirinya bersalah akan hal ini, maka dari itu ia ingin meminta maaf dan bertanggung jawab atas sikap buruknya barusan.


“Ada apa, sih, Rafa? Mama tanya kok nggak dijawab. Dan lagi, Zely mana?” tanya Diana gregetan karena Rafa tak menjawab pertanyaannya tadi.


“Udah pergi, Ma,” jawab Rafa.


“Bukannya tadi dia mau tidur, kan?”


Mata Diana tiba-tiba fokus pada bercak dengan warna merah yang mengenai kemeja Rafa dekat pinggangnya. Tiba-tiba pikirannya malah langsung tak baik.


“Ini darah, Raf?” tanya Diana semakin menelisik noda itu.

__ADS_1


Ternyata darah yang berasal dari tangan Zely tadi tak sengaja mengenai kemeja Rafa.


Rafa mengangguk. “Aku nggak sengaja bikin Zely terluka,” ungkap Rafa langsung mengakui apa yang terjadi. Lebih tepatnya ia mengakui jika dirinya membuat Zely terluka.


__ADS_2