Istri Tercinta Pak Dosen

Istri Tercinta Pak Dosen
BAB 13 : Tiba-tiba Jadi Baik


__ADS_3

Zely sampai kaget ketika mendengar kalau Rafa khawatir akan dirinya. Padahal ia pikir jika cowok ini malah bersyukur jika dirinya tadi benar-benar tak akan tertolong. Karena itu artinya antara ia dan Rafa tak akan melanjutkan pernikahan.


“Kondisinya udah mulai membaik. Tapi, seperti yang gue bilang … untuk dua atau tiga hari ke depan agar dirawat di sini dulu. Dengar barusan, kan, dia sampai menelan obat sebanyak itu. Takut jika ada hal-hal yang buruk terjadi.”


Rafa mengangguk, memahami semua penjelasan Nanta tentang kondisi Zely.


“Kalau gitu gue keluar, ya.”


“Oke. Makasih, ya,” ucap Rafa.


Nanta berlalu pergi dari ruangan itu, meninggalkan Rafa dan Zely.


“Maaf,” ucap Zely pada Rafa. “Aku bikin kamu repot.”


“Uji nyali sebelum benar-benar bakalan dihadapkan pada kerepotan selanjutnya,” balas Rafa seakan sengaja menyindir Zely dengan kata-katanya.


“Tapi aku benar-benar tak berniat untuk bunuh diri, kok,” ungkap Zelysta jujur. “Tadi hanya berharap bisa tidur dengan tenang, karena semalam nggak tidur gara-gara pusing memikirkan hari ini.”


Di saat yang bersamaan, Bella datang dengan raut cemas dan menghampiri keduanya. Fokus wanita itu tertuju pada Zely yang terbaring di tempat tidur dengan jarum infus yang tertancap di pergelangan tangan gadis itu.


“Ya ampun, Sayang … kamu benar-benar bikin Tante cemas. Kenapa, sih, pake acara bunuh diri segala?”


Zely memutar bola matanya jengah dengan pemikiran semua orang. Tadi Rafa, sekarang malah tantenya juga ikut-ikutan berpikir jika ia bunuh diri. Terserahlah mereka lah mau mikir gimana.


“Gimana kondisi kamu, baik-baik aja, kan? Apa ada yang sakit?”


Zelysta menggeleng menjawab pertanyaan Bella. Agak sedih memang. Padahal ia pikir justru tantenya yang akan merasa paling khawatir saat ia sakit. Tetapi pada kenyataannya justru Rafa yang memberikan sikap itu. Apa semakin dewasa usianya, rasa sayang tantenya juga ikut berkurang.


“Masih mual?” tanya Rafa melihat raut tak mengenakkan tersirat di wajah gadis itu.


“Enggak,” jawab singkat.


Kembali memejamkan kedua matanya, sembari menunggu suster menyiapkan ruang perawatan untuknya. Maaf, jika dirinya akan membuat semua orang kerepotan untuk beberapa hari ke depan.


Sekitar lima belas menit kemudian, Zely sudah berada di ruang rawat. Seorang suster membantu dia mengganti baju dengan baju pasien.


“Bisa keluar dulu nggak, sih.”


Gimana Zely nggak mengumpat, jelas-jelas ini dirinya mau ganti baju, tapi Rafa dengan tampang tak berdosa malah tetap saja tak berniat beranjak dari posisi dia yang duduk di sofa.


Rafa mengarahkan pandangannya pada Zely. Akhirnya ia beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari sana. Bukannya sengaja, tapi barusan fokus pada ponsel di tangannya. Makanya tak menyadari jika Zely mau ganti baju. Otaknya tak semesum itu juga, hingga dengan sengaja mencari kesempatan untuk cuci mata.


Sampai di luar, Rafa duduk di kursi tunggu yang ada di dekat pintu masuk. Bella yang datang dan ikut duduk.


“Gimana Zely?” tanya Bella.

__ADS_1


“Udah mendingan, Tan. Sekarang lagi ganti baju, makanya aku keluar.”


“Jadi, gimana dengan masalah pernikahan?” tanya Bella mengingatkan. Bukan berniat egois, tapi ia hanya tak mau jika Rafa dan keluarga dia dengan sengaja melupakan hal itu karena alasan kondisi Zely.


Pandangan Rafa yang awalnya terarah pada layar ponsel karena mendapat email sebuah file kerjaan, seketika beralih pada Bella. Menatap wanita paruh baya itu dengan pandangan aneh.


“Tante, di kondisi kayak gini bisakah sedikit memberikan waktu untuk dia istirahat?”


“Zely udah baik-baik saja, kan. Jadi, pernikahan tetap bisa dilanjut hari ini. Ingat masalah yang kalian perbuat? Menunggu hingga Zely pulang ke rumah, bisa-bisa nama keluarga kami akan tercoreng lebih dulu!”


Rafa bisa melihat dengan jelas, tatapan Bella yang penuh tuntutan padanya. Ia tahu dan mengingat masalah itu, tapi haruskah hari ini keduanya tetap nikah. Tak menyukai gadis itu, tapi karena kondisi dia saat ini sedang tak sehat, harusnya pernikahan bisa diundur hingga besok atau lusa.


Dari kejauhan tampak Nanta datang menghampiri. Tak sendiri, tapi justru bersama orang tua Rafa dan juga Hesty.


“Rafa, gimana Zely?” tanya Diana langsung pada putranya.


“Udah baikan, Ma,” jawabnya.


“Om, Tante … aku tugas dulu, ya. Maaf nggak bisa nemenin,” ujar Nanta pamit.


“Makasih ya, Nan,” ucap Malik.


Nanta segera berlalu pergi dari sana, karena memang sedang banyak tugas yang sedang menunggunya.


Rafa mengangguk, kemudian mengajak orang tua dan tantenya masuk ke dalam ruang rawat inap Zely. Saat masuk, semua malah dibuat khawatir, karena ternyata gadis itu kembali mengalami muntah-muntah di kamar mandi. Seorang suster sedang memegangi tabung infus di dekat pintu masuk. Sementara Zely dengan sedikit menunduk, di depan wastafle.


Rafa segera menghampiri, kemudian menggosok tengkuk dia agar merasa lebih baik. Helaian rambut yang tergerai, ia bawa ke arah belakang.


Zely mencuci wajahnya dengan air, ketika rasa itu perlahan surut. Rasanya tak mengenakkan. Karena setelah muntah, pasti kepala dan perutnya akan terasa sakit. Tenaganya ikut terkuras habis dibuatnya.


“Udah?” tanya Rafa.


“Hmm,” angguknya singkat. Air matanya mengalir, hidungnya juga ikutan meler.


Rafa menyambar handuk yang berada di gantungan, kemudian mengeringkan wajah Zely dengan benda itu. Setelah selesai, segera membantu dia kembali menuju tempat tidur.


“Cewek-cewek ribet banget, ya. Perkara rambut aja bikin kerjaan jadi dua kali lipat lebih lama,” gumam Rafa menarik selimut dan menutupi bagian kaki Zely agar sedikit tertutup.


Sejujurnya Rafa ingin memuji rambut Zely yang menurutnya sangat sehat dan bagus, tapi nggak mungkin juga kan ia berikan pujian itu langsung. Auto kembang kempis ntar hidung gadis ini karena dapat pujian.


“Ikhlas bantuin dikit bisa nggak, sih?”


“Ini udah ikhlas banget malahan, Zel,” respon Rafa.


“Lebih terdengar seperti umpatan dengan penuh keterpaksaan,” gerutu Zely. Rafa memang membantunya, tapi tetap saja mengumpat.

__ADS_1


“Potong pendek ajalah. Ribet.”


“Rafa, kalau ngomong yang sopan dong.”


Seketika Rafa lupa diri. Iya, lupa kalau barusan ia masuk bersama orang tua dan juga tantenya. Parah, kan … fokus pada Zely yang muntah-muntah, membuatnya lupa dengan keadaan sekitar.


Rafa tersenyum berat mendapatkan tatapan horor dari mamanya. “Aku cuma bercanda doang,” kelakarnya.


Diana, Malik dan Hesty menghampiri Zely. Tampak gadis itu memasang wajah bingung dengan tiga orang asing yang menghampirinya. Bahkan sampai menelisik satu persatu pun tetap tak bisa ia ketahui siapa mereka.


Zely melirik Rafa, seakan sedang meminta penjelasan tentang mereka bertiga.


“Ini orang tua ku.” Rafa mengarahkan Zely pada Malik dan Diana. “Dan ini tanteku,” lanjutnya tertuju pada Hesty.


Spontan, Zely langsung bangun dari posisi tidurnya. Berpikir mereka siapa, ternyata malah orang tua Rafa. Bukan sok sopan, tapi ia memang suka begitu kalau sama orang yang jauh lebih tua darinya. Maklum saja, efek tak memiliki orang tua, rasanya ingin saja bersikap lebih baik.


Zely duduk, kemudian menyambar dan mencium tangan ketiganya satu-persatu sebagai tanda hormatnya.


“Maaf, Om, Tante. Aku kurang sopan,” ucapnya sedikit menunduk karena merasa tak enak.


“Cantik ternyata,” puji Hesty pada penampakan Zely.


 Hesty tadi sempat melihat foto Zely saat menunggu di ruang tamu, tapi siapa sangka jika aslinya jauh lebih cantik. Bukan cantik layaknya wanita dewasa, tapi kesan wajah Zely itu menurutnya lebih ke manis. Kayak anak abege.


“Bener,” setuju Diana pada perkataan Hesty. “Kalau sama yang begini mah nggak apa-apa, Raf,” lanjutnya tersenyum puas, jika ternyata Rafa benar-benar sama Zely.


“Ya ampun, kakak dan adik sama saja kelakuannya,” gumam Rafa dengan nada pelan mendapati sikap mama dan tantenya yang dengan santainya bicara seperti itu.


Zely hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal ketika mendengar perkataan dua wanita yang ada di depannya. Entahlah  mereka sedang memahas apa. Ia memilih pura-pura tak paham saja.


Malik dibuat tertegun saat melihat wajah Zelysta. Bukan hanya karena alasan yang sama dengan istri dan adiknya, tapi justru wajah gadis ini membuatnya teringat akan sahabatnya, Ryan dan Indira.


“Om kenapa?” tanya Zely agak heran saat  Malik seakan sedang memperhatikannya.


“Enggak,” jawab Malik tersenyum. “Cuman Om agak kaget aja, ternyata korbannya Rafa begitu baik dan anaknya sopan.”


“Ya ampun. Itu artinya Papa sebut aku sebagai pelaku di kejadian itu?”


“Udah, Raf. Nggak apa-apalah, kalau korbannya kayak Zely begini. Papa Ikhlas kok kalau kamu jadi pelaku.”


Tawa Zely seakan ingin meledak detik itu juga, ketika mendengar perkataan Malik. Jujur, ia tak yakin jika Rafa adalah anak kandung. Kenapa vibesnya kayak anak yang terzholimi begitu.


“Ketawa aja kamu,” sungut Rafa melihat ekspressi wajah Zely yang begitu puas saat dirinya dinistakan.


Pintu dibuka dari arah luar, spontan pandangan semuanya mengarah pada seseorang yang datang.

__ADS_1


__ADS_2