Istri Tercinta Pak Dosen

Istri Tercinta Pak Dosen
BAB 36 : Seperti Pasangan


__ADS_3

“Tanganmu,” protes Zely saat merasakan tangan Rafa malah seenaknya melingkar di badannya.


Rafa tersentak dan spontan menyingkirkan tangannya dari badan Zely. Tak hanya itu, ia langsung menjaga jarak dari dia.


“Bukan salahku loh, ya. Kamu kan memintaku untuk tutup mata. Jadi, mana tahu aku aku posisi kancingnya,” ujar Rafa tak mau dikira mengambil kesempatan lagi oleh Zely.


Zely memasang muka kesal.


“Bilang aja kamu nggak niat bantuin aku,” umpatnya.


“Ya ampun Zely nyebelin banget ya, kamu. Semua udah selesai, gara-gara salah satu aja kamu bilang nggak niat. Iya, tentu saja nggak niat. Kalau terniat, pasti udah ku …”


“Nah, kan,” sanggah Zely langsung menghentikan perkataan Rafa.


Rafa berlalu dari hadapan Zely dengan tarikan napas panjang, kemudian berjalan menuju lemari dan kembali dengan sesuatu di tangannya.


Mendorong hingga gadis itu terduduk langsung di kursi. “Biar sekalian kamu ngiranya terniat,” ujarnya mulai fokus pada rambut Zely yang masih tampak basah, makanya ia bantu mengeringkan dengan hairdryer.


Setelah mengeringkan, Rafa langsung lanjut membantu untuk menyisir rambut Zely. Tadinya ia berpikir jika cewek dengan rambut pendek akan lebih mandiri dan berpikiran dewasa. Makanya lebih menyukai tipe seperti itu.


Namun, sekarang saat dihadapkan pada gadis ini semua yang terjadi dan dirasakannya sebelumnya seakan berbanding terbalik. Kenapa Dirinya beranggapan kalau Zely begitu manis. Jangan-jangan ada masalah dengan pemikirannya.


“Rafa.”


“Apa?”


Zely tersenyum, menatap dia yang membantu merapikan rambutnya. “Makasih,” ucapnya singkat.


“Gajiku jadi dua kali lipat, ya.”


“Bayar?” Zely kaget.


“Tentu saja,” sahut Rafa langsung. “Mana ada yang gratis di dunia ini.”


“Pelitnya kebangetan!”


Selesai dengan semua permasalahan hidup Zely yang ikut menyeretnya untuk buang-buang waktu dari perkara pakaian dalam, resleting, hingga sisir rambut.


“Aku bantuin kamu, kamu nya memberikan tuduhan yang bukan-bukan. Jadi, kamu enggak rugi apa-apa, tapi sebagai seseorang yang membantu, kamu sudah merugikan ku, Zely. Jadi, wajar dong kalau aku minta bayaran.”


“Lah, kamu rugi apaan?”


Perasaan ia hanya minta bantuan narik-narik doang. Apa itu begitu sulit hingga harus bayar juga.


“Kamu bikin waktuku terbuang. Harusnya saat ini aku sedang duduk santai menunggu jam kelas ku. Akan tetapi, aku masih mentok di dalam kamar sama kamu ngurusin rambut. Sekarang apalagi? Apa aku juga yang harus bantuin kamu dandan, hem?”


Zely menyipitkan kedua matanya, menatap Rafa dengan cemberut.

__ADS_1


“Bahkan yang dirugikan di sini malah justru aku. Kamu pegang-pegang gitu. Jangan-jangan barusan kamu juga enggak tutup mata, ya, waktu bantuin aku.”


Rafa yang tadinya mengomel layaknya seseorang yang jadi korban, seakan terpental ketika apa yang Zely katakan memang benar. Karena tanpa dia ketahui, dirinya juga bukan hanya menyentuh, tapi juga melihat.


“Aku tunggu kamu di bawah,” ujar Rafa malah jadi canggung sendiri. Padahal Zely tak tahu sikapnya tadi.


Zely memutar bola matanya jengah dengan sikap Rafa yang selalu begitu. Kini ia fokus pada polesan bedak dan beberapa kosmetik di wajahnya.


“Tadi mengomel layaknya korban, sekarang diserang balik malah memilih pergi. Dasar nyebelin.”


Rafa segera turun menuju lantai bawah dengan napas yang sedikit tak beraturan. Bagaimana tidak, ini otaknya rasanya begitu panas. Berpikir jika berada di dekat Zely akan aman saja, tapi saat menyadari jika dia ternyata juga wanita dengan segala godaan, malah membuatnya  gerah sendiri.


“Kenapa kamu?” tanya Diana pada Rafa yang berpapasan di ruang tengah.


Cemas dengan muka tampak kaget. Itulah yang terlihat di wajah Rafa. Maka dari itu, Diana bertanya untuk memastikan apa yang terjadi pada putranya.


“Enggak kenapa-kenapa,” jawabnya pada pertanyaan mamanya.


“Zely mana?”


“Ada di kamar.”


“Sudah melakukan kewajiban kamu sebagai seorang suami, kan?”


Otaknya sedang tak baik-baik saja, sedangkan mamanya malah bertanya dengan pertanyaan yang ambigu begitu. Tentu saja ia tak bisa berpikiran lurus.


Diana sampai menghela napas saat Rafa seolah tak paham dengan pertanyaan yang ia ajukan.


“Bukankah tadi kamu mama suruh bantuin Zely mengenakan pakaiannya. Udah kamu bantuin atau belum?”


“Ya ampun, ku pikir kewajiban suami mana lagi yang mama maksud,” balasnya tiba-tiba paham. “Udah, Ma. Tinggal dandan. Dan nggak mungkin juga aku paham cara menggunakan bedak di wajah, kan?”


Rafa duduk di sofa, sambil menunggu Zely selesai. Berniat membaca majalah bisnis yang ada di meja, tetapi baru juga menyambar buku itu, yang ditunggu ternyata sudah nongol. Alhasil, kembali ia letakkan di posisi semula.


Atasan blus berwarna putih tulang dan rok selutut. Membuat penampilan Zely memang mengundang perhatian. Apalagi gayanya yang lebih terlihat simple dengan sepatu kets dan tas ransel. Intinya, outfit dia sesuai dengan usia anak muda.


Mungkin masalah di awal membuat fokus Rafa tak tertuju pada sosok dia, tapi sekarang otak cowok itu seakan hanya berputar-putar pada Zely. Apalagi beberapa hari ini keduanya sering berinteraksi.


“Udah, Zel?”


“Udah, Ma,” jawabnya tersenyum semringah. Kemudian mengarahkan pandangannya pada Rafa yang menatapnya tajam. Bukan tajam juga, sih. Lebih tepatnya tatapan aneh dan tak biasa. “Kenapa kamu liatin gitu banget?” tanya Zely pada cowok itu.


“Tiba-tiba naksir sama istri sendiri,” respons Diana terkekeh melihat reaksi Rafa yang menurutnya jadi agak aneh. “Atau jangan-jangan kamu tadi khilaf benaran, ya?”


Rafa malah dibuat salah tingkah dengan pertanyaan mamanya yang lebih terkesan tuduhan. Kalau tak melakukan, mungkin ia tak akan bersikap biasa saja, atau mungkin mengelak dengan kukuh. Masalahnya karena ia melakukan hal itu, makanya jadi bingung dan canggung saat bersikap.


“Khilaf?” Zely ikut bingung dengan maksud Diana.

__ADS_1


“Apa sih, Ma. Jangan mikir yang aneh-aneh. Otak dan pikiran ku masih aman. Ntar, aku pikirin dulu benaran mau khilaf atau enggak.”


“Kamu ini …”


Diana dan Rafa seakan membahas hal yang sama, sedangkan Zely malah dibuat bingung sendiri. Entah apa yang sedang Ibu dan anak itu bicarakan.


“Ketinggalan di kamar,” ujar Zely menyodorkan ponsel milik Rafa yang tadi ketinggalan di kamar, yang langsung dia terima.


“Tapi Zely nggak langsung masuk kuliah, kan? Tangannya masih belum pulih, loh,” ujar Diana pada putranya.


“Enggak,” jawab Rafa. “Ini juga mau konfirmasi masalah nilai aja, Ma. Ntar aku tendang dia pulang.”


Lihat, kan … Zely diam dan mencoba tetap tenang. Hanya saja Rafa terkadang suka mencari gara-gara dengan gadis itu seakan dengan sengaja untuk terus berinteraksi.


“KDRT,” umpat Zely.


Jadilah, keduanya berangkat menuju kampus setelah pamit pada Diana.


“Kalau aku telat, kamu yang tanggung jawab, ya,” ujar Rafa pada Zely saat kendaraan mulai melaju.


“Iya, ntar aku pecat sekalian kamu,” ancam Zely balik.


Diancam balik, Rafa malah diam seketika. Padahal ia juga tak yakin jika Zely akan melakukan hal itu. Hanya saja melihat dia memberengut, justru dirinya tak tega untuk lanjut bersitegang.


“Zel, kenapa tangan kamu nggak ditutupi? Kena debu bisa makin parah nanti.”


“Kan, bukan luka.”


“Kan, ada luka.”


“Dikit doang.”


“Tetap ada, kan?”


Zely menarik napasnya panjang ketika sikap cerewet Rafa kembali aktif. Padahal ia sudah berharap banyak jika dia mode kalem selamanya, tapi tetap saja tak akan bisa.


Rafa menghentikan kendaraannya di parkiran depan sebuah apotek.


“Mau ngapain ke sini?”


“Aku mau beli obat, kamu tunggu di sini dulu.’


“Kamu sakit?”


“Iya, otak ku sedikit sakit,” jawab Rafa asal. Menanggalkan sabuk pengaman yang membelit badannya dan segera turun dari mobil.


Alhasil Zely hanya mengikuti perkataan Rafa. Diam di dalam mobil menunggu dia kembali.

__ADS_1


“Nanti kalau benar-benar telat, awas saja kalau sampai menyalahkanku akan hal itu.”


__ADS_2