
Zely hanya diam, tapi sesekali terlihat seakan sedang menahan perasaan sedih. Hanya saja tak langsung menunjukkan semua yang dirasakan. Mungkin kalau ada di dalam kamarnya dan mengurung diri, bisalah mengeluarkan tangisan sepuasnya.
Nanta tadinya ingin bertemu dengan Rafa membahas acara reuni malam ini dan datang ke ruangan Zely, karena berpikir jika sahabatnya itu ada bersama dia. Ternyata saat sampai, tak ada Rafa. Sedangkan Zely hanya sendirian.
Sekarang Nanta memilih duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan rawat Zely, menunggu Rafa. Perempuan kalau lagi kesal suka bikin takut. Apalagi muka dia kayak tertekan gitu. Bisa-bisa ia kena amuk efek kesal pada sobatnya.
“Lo di sini?”
Pertanyaan itu membuat Nanta agak kaget. Karena Rafa tiba-tiba muncul begitu saja di depannya saat ia fokus pada layr ponsel.
“Ya ampun, Raf … lo dari mana aja, sih?”
“Dari rumah, ngambil ponselnya dia,” jawabnya. “Tapi karena ngantuk, gue ketiduran.”
Rafa melanjutkan langkah masuk ke dalam ruangan itu. Begitupun dengan Nanta yang ikut masuk. Bukan kepo, ia ingin memastikan Rafa akan ikut menghadiri malam malam atau tidak.
“Kamu tidur, ya?” tanya Rafa meletakkan beberapa barang bawannya di meja, kemudian lanjut berjalan menghampiri Zely yang posisi dia memang dalam posisi rebahan.
Zely tak tidur sama sekali, malah matanya melek dengan sempurna. Hanya sedang tak berminat menjawab, apalagi bicara dengan siapapun termasuk Rafa.
Rafa memutar bola matanya jengah saat mendapati Zely dalam kondisi melek, tapi malah mengabaikan pertanyaannya.
“Mogok bicara?”
Memilih diam dan memicingkan kedua matanya. Berharap benar-benar tertidur saja, daripada harus menghadapi Rafa. Bukan ingin jadi seorang istri yang durhaka, tapi hatinya saat ini sedang tak baik-baik saja. Paham, kan, bagaimana rasanya di saat sakit dan kita hanya sendirian.
Mencoba menelan sedihnya dalam-dalam. Jangan sampai rasa itu menjadi bulir air mata yang tiba-tiba jatuh, hingga memperlihatkan betapa sedihnya ia.
Rafa menghampiri Nanta. “Ada apa?”
“Gimana acara malam ini?”
Rafa tak langsung menjawab, tapi malah mengarahkan fokusnya pada Zely yang masih mode kesal. Entah kesal atau apa, yang jelas saat ini dirinya dia abaikan.
“Gue nggak ikut, ya.”
“Serius?” tanya Nanta memastikan.
Biasanya Rafa memang juga jarang mau ikut acara-acara begini, tapi pada akhirnya ikut juga karena dipaksa oleh Nanta dan William. Sekarang, otomatis alasan dia menolak jauh lebih kuat. Lagian, nggak mungkin juga Rafa akan ikut, karena Zely lagi tak sehat.
“Lo mau liat gue diamuk sama tiga wanita sekaligus!”
Nanta menahan tawa yang nyaris menyembur saat mendengar umpatan Rafa. Tadinya dua wanita, Diana dan Hesty. Sekarang otomatis nambah satu lagi, Zely. Mana yang ini lebih parah kalau sudah mode kesal.
“Yaudah, kalau gitu gue pergi dulu. Itu tadi obatnya udah disiapin sama suster, nanti kalau sudah makan langsung kasihin aja,” jelas Nanta pada Rafa.
__ADS_1
“Hm, oke.”
Nanta berlalu dari sana, meninggalkan Rafa bersama Zely. Lebih tepatnya mereka berdua berada dalam pikiran masing-masing. Padahal tadi Zely mengomel terus karena Rafa belum balik-balik. Sekarang saat Rafa datang, malah diam seribu bahasa.
Rafa kembali menghampiri Zely. “Kamu kenapa, sih?”
“Kenapa ke sini? Harusnya kamu di rumah aja. Tidur yang nyenyak.”
“Tadi kamu nelepon aku buat segera ke sini, kan? Kenapa sekarang malah nanya kayak gitu?” Rafa langsung kesal. “Heran. Mau kamu sebenarnya apa, sih, Zel. Tiba-tiba ngomel nggak jelas, tiba-tiba ngambek. Dan sekarang diam dengan muka menyedihkan seperti seseorang yang sedang terkena serangan mental.”
Zely bangun dari posisi rebahannya, kemudian tersenyum miris saat mendengar perkataan demi perkataan Rafa yang nyatanya semua adalah benar.
“Ponselku mana?”
Rafa memutar bola matanya jengah dengan semua sikap Zely yang … entahlah. Dia seperti abege labil dengan semua tindak tanduk yang membingungkan. Barusan ngomel, kan, sekarang dengan santainya meminta ponsel padanya.
Tak mau ambil resiko terburuk, Rafa menyambar ponsel milik Zely di meja dan menyodorkan pada dia.
“Makasih,” ucap Zely.
Rafa duduk di sofa. Tak lama, ponsel milik Zely terdengar berdering. Sepertinya panggilan telepon, hanya saja dia seakan mengabaikan. Bahkan dua kali panggilan, tetap saja tak dia jawab.
“Itu panggilan telepon kenapa nggak dijawab? Berisik tahu nggak.”
Tiba-tiba Rafa kesal. Kalau nggak mau jawab, kan tinggal riject. Ini malah dipantengin terus, seperti tak tega untuk meriject.
“Ngapain?”
“Sini bentar.”
Rafa tak tahu mau berkata seperti apalagi sekarang. Entah otaknya yang mulai tak pintar, atau justru hatinya yang malah tak tegaan. Harusnya ia kesal saat sikap Zely selalu saja membuatnya repot, tapi malah dengan bodohnya ia masih perduli.
“Kalau mau makan, aku udah bawa makanan.”
Sebenarnya Zely masih mode kesal pada Rafa, tapi sekarang malah nggak jadi karena tiba-tiba butuh bantuan. Begini amat nasibnya.
“Bukan makan, Rafa,” berengut Zely. “Hmm, bisa jawab panggilan telepon ini?” Menunjukkan layar ponselnya ke arah Rafa.
“Nico,” ujar Rafa menyebut nama yang tertera di layar datar itu.
Zely langsung menyodorkan ponselnya ke tangan Rafa. “Jawab aja. Terserah kamu mau ngomong apaan. Yang penting, bikin dia nggak nelepon aku lagi.”
“Tapi ini siapa? Nggak mungkin lah aku tiba-tiba yang jawab. Nanti dia pikir yang enggak-enggak karena aku yang jawab.”
“Nah, itu lebih baik.”
__ADS_1
Zely langsung menggeser layar berbentuk gagang telepon berwarna hijau, pertanda menjawab panggilan. Sontak, membuat Rafa kaget dengan sikap dia.
“Kamu …”
Zely mengatupkan kedua telapak tangannya lengkap dengan wajah memelas. Berharap Rafa membantunya kali ini. Bukan takut, tapi ia sudah malas menjawab panggilan telepon dari cowok itu. Bukannya menjauh, malah makin menjadi-jadi kembali mendekatinya.
“Hallo,” sahut Rafa.
Si penelepon sedikit terdiam saat menyadari kalau Rafa yang menjawab.
“Ini siapa? Kok bukan Zely?”
Rafa mengarahkan pandangannya pada Zely.
“Aku … pacarnya Zely,” ungkap Rafa ragu-ragu. Ya, ragu, meskipun hanya ucapan, tetap saja berat.
Zely menghembuskan napasnya lega, saat Rafa mengaku sebagai pacar. Bukan suami seperti status dia yang sebenarnya. Nggak apa-apalah, yang penting si mantannya nggak kukuh lagi mendekati.
“Pacar Zely?”
“Iya. Memangnya kenapa?” tanya Rafa balik, ketika dia seolah tak percaya dengan pengakuan yang ia katakan.
“Sejak kapan Zely punya pacar lagi? Setahuku dia belum dekat dengan cowok manapun semenjak kita berdua putus.”
Rafa tadinya berpikir jika cowok yang sedang bicara dengannya ini hanyalah seseorang yang kurang kerjaan mendekati Zely. Akhirnya ia sadari ternyata dirinya sedang bicara dengan mantan kekasih si istrinya ini.
“Semenjak putus denganmu tentunya,” balas Rafa.
Terdengar seringaian di sana, saat mendengar jawaban Rafa. “Jangan mengada-ada. Bahkan selama ini Zely nggak pernah membahas kalau dia sudah punya kekasih lagi. Sekarang tiba-tiba kamu mengaku sebagai kekasih. Mendadak banget rasanya.”
Rafa menyodorkan ponsel ke arah Zely. “Zel, dia nggak percaya. Kamu aja yang ngomong.”
“Aku nggak mau,” tolak Zely langsung. “Kamu aja. Males aku.” Zely dengan sengaja meninggikan volume suaranya agar bisa didengar oleh Nico.
Rafa menghela napasnya dan kembali bicara. “Zely nggak mau bicara denganmu. Jadi, terserah mau percaya ataupun tidak. Yang jelas jangan pernah nelpon ataupun hubungin dia lagi. Karena sebagai pacar, aku merasa ini bukanlah hal yang baik!”
Rafa langsung menutup percakapan itu dan mengembalikan ponsel pada Zely.
“Puas kamu,” kesalnya merasa disuruh-suruh oleh Zely.
“Makasih,” ucapnya tersenyum puas atas bantuan Rafa. Ternyata nggak sia-sia juga punya suami. Maksudnya, nggak sia-sia ada Rafa di sini.
Rafa menyambar satu gelas minuman di meja, kemudian meneguk hingga habis. “Makanya, kalau udah jadi mantan jangan ngasih harapan lagi. Dianya baper, kamunya malah kelabakan, kan.”
Zely memberengut mendengar perkataan Rafa yang sok tahu tentang perasaannya. “Siapa juga yang ngasih harapan. Cowok kan kebanyakan emang suka gitu. Habis dibuang, trus dipungut lagi. Memangnya sebagai wanita kami ini seperti sampah daur ulang. Yang habis diputusin, trus ditarik lagi pas lagi butuh. Enak bener.”
__ADS_1
“Nggak semua cowok seperti itu, bocah.” Rafa merasa tak terima ketika Zely menilai cowok begitu buruk.
Zely menarik napasnya dalam-dalam, saat Rafa merasa tersinggung dengan apa yang ia katakan. “Kan aku bilang kebanyakan, bukan semua cowok, Rafa. Dengerin dan pahami dong kata-kata istrimu ini. Katanya sudah dewasa, kenapa sekarang kamu lebih anjlok daripada aku, ya.”