
Rena semakin penasaran, kemudian semakin mendekat ke arah Zely dan mengendus aroma yang ada di sweater itu.
“Jangan bilang kalau ini beneran punya cowok?”
“Ini memang punya cowok,” ungkap Zely mengakui.
Mata Renata membola. “Lo beneran balikan sama Nico?”
“Enggaklah,” jawab Zely. “Kan udah gue bilang, seperti apapun dia mendekati gue dan baik sama gue, tapi kalau untuk balikan nggak akan lagi.”
“Setahu gue lo cuman dekat sama satu cowok yaitu Nico. Jangan-jangan lo sekarang udah punya pacar baru, ya?”
Zely sejujurnya ingin bungkam tentang hubungannya dan Rafa. Hanya saja tidak pada Renata dan Jean. Sebelumnya masalah yang ia hadapi tak terlalu berat, hingga memilih untuk diam. Sekarang berbeda, rasanya kalau hanya diam sendiri, sepertinya begitu sulit.
“Tapi, kok gue agak nggak asing sama aromanya.”
Saking penasarannya, Renata malah kembali mengendus aroma parfum yang berasal dari sweater yang dikenakan Zely.
“Kayak pernah mencium aroma yang sama, tapi gue bingung dan lupa di mana.”
“Yaiyalah, kecuali ini cowok punya parfum limited edition yang hanya satu-satunya di dunia. Baru lo curigain.”
Renata menggaruk kepalanya sambil kembali berpikir. “Iya juga, sih.”
“Trus, pacar lo sekarang siapa? Bule kah?”
Tiba-tiba Renata langsung sumringah berharap apa yang ia katakan benar-benar terjadi.
Zely menarik napasnya dalam-dalam sebelum memberikan jawaban dan penjelasan pada Renata.
“Bukan pacar, tapi sebenarnya gue udah nikah kemarin,” ungkap Zely dengan nada ragu-ragu. Takut jika sahabatnya ini kaget.
Renata masih diam. Tiba-tiba otak nya malah ngelag mendapat info dadakan itu dari Zely.
“Maksud lo?”
“Gue kemarin nikah.”
Rena tertawa miris. “Jangan bercanda. Lo masih anak kuliahan, itupun masih dua semester. Yakali nikah. Gabut banget lo sampai nikah.”
Zely mengarahkan jemarinya pada Renata. Lebih tepatnya, mengarah pada cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya.
“Gue beneran udah nikah, Rena.”
Tadinya tak percaya sama sekali, tapi saat melihat benda berbentuk ring yang tersemat di jari manis Zely, Rena sampai kaget. Menutup mulutnya dengan telapak tangan, saat bingung harus berekspressi seperti apa saat ini.
Kaget, tak percaya dan agak aneh. Kecuali kalau Zely nikah dengan mode normal, sebar undangan dan dirinya jadi bridesmaid. Mungkin ia akan sangat bahagia. Masalahnya ini dadakan banget.
“Lo beneran nikah, Zel?”
__ADS_1
“Hmm,” respon Zely mengangguk.
“Bentar, gue mau minum dulu.”
Renata bergegas turun dari tempat tidur dan mengisi satu gelas penuh air minum yang ada di nakas. Kemudian meneguk hingga habis tanpa sisa. Merasa tenggorokannya kering saat mendengar kabar tentang pernikahan Zely.
Setelah agak lega, Rena kembali menghampiri Zely. Bingung, ekspressi macam apa yang akan ia gunakan saat ini. Ketika sahabat nikah, itu akan membahagiakan. Masalahnya sekarang Zely nikah tiba-tiba, sama siapa dan entah karena apa.
“Gue kaget. Serius. Rasanya mau teriak, tapi gue bingung.”
“Bayangin kalau elu berada di posisi gue. Mungkin akan memilih untuk bunuh diri.”
“Jadi, perkara overdosis itu beneran lo niat mau bunuh diri?”
Zely menggeleng. “Nggak lah.”
“Lo ada masalah? Cerita sama gue. Selama ini gue tahu lo punya banyak masalah, tapi tetap saja nggak mau cerita sama gue ataupun Jean. Tapi untuk yang satu ini, bisa kan kasih kita toleransi untuk tahu tentang apa yang lo rasain.”
“Gue ke sini memang mau cerita, kok. Karena rasanya capek banget. Bukan capek juga, sih … cuman rasanya kok kayak tertekan banget, ya.”
“Tante Bella?”
Zely hanya menggeleng.
Lihat, kan … bukan hanya Rafa yang mengatakan jika tekanan Zely berasal dari Bella. Bahkan Renata dan Jean pun beranggapan sama perihal hal itu. Sayangnya Zely terlalu naif untuk mengakui jika semua yang mereka katakan adalah salah.
“Lalu apa?” tanya Renata lagi.
Saat lulus SMA Zely juga mendapat izin dengan begitu mudah untuk lanjut kuliah dia luar. Ya, meskipun masuk lewat jalur nilai sekalipun. Padahal sebagai anak dan satu-satunya pewaris tunggal keluarga Baskara, Zely bisa masuk ke kampus yang merupakan milik keluarga dia.
“Lo udah sarapan?” tanya Renata mencairkan suasana.
Renata tahu jika Zely juga pasti sedang tak baik-baik saja. Terlalu menuntut dia untuk jujur dengan permasalahan yang dihadapi sepertinya juga bukan solusi yang bagus.
“Belum, kan gue kabur dari rumah sakit.”
“Astaga! Zel, lo udah sukses bikin migrain gue kumat di pagi hari,” cemas Renata akan sikap Zely.
Barusan bilang nikah, sekarang mengaku jika dia kabur dari rumah sakit. Nah, gimana dirinya sebagai sahabat nggak merasa khawatir.
“Nanti saja ceritanya. Ayok ke bawah dulu. Kita sarapan. Gue juga laper,” ajak Renata menggeret Zely untuk mengikuti langkahnya turun ke bawah dan lanjut menuju meja makan.
Keduanya sarapan dengan hidangan yang sudah disiapkan oleh asisten rumah tangga keluarga Renata. Seperti yang sudah dikatakan Amira tadi saat Zely datang.
Zely memang dekat dengan Bella, itu karena memang hanya Bella yang merawat sedari orang tua dia tiada. Hanya saja perkara perhatian dan kasih sayang, sejujurnya tak ia dapatkan dari siapapun. Makanya terkadang ada perhatian kecil dari orang tua Renata atau Jean, rasanya begitu haru. Sekarang ditambah lagi dengan orang tua Rafa yang merupakan mertua Zely.
Di saat keduanya sarapan, ponsel milik Rena berdering.
“Dari jean,” ujarnya pada Zely.
__ADS_1
“Suruh ke sini aja kalau mau.”
Rena mengangguk menyetujui permintaan Zely. Kalau mendengar penjelasan Zely langsung, setidaknya ia tak harus mengulang-ulang lagi pada Jean. Apalagi perkara pernikahan. Mungkin jean tak akan mempercayai jika itu dari mulutnya.
Rena menggeser layar pipih itu untuk menjawab panggilan Jean.
“Hallo, Je?”
“Ntar siang nebeng, ya. Mobil gue masuk bengkel.”
“Sekarang ada mobil lain di rumah?” tanya Renata balik.
“Mobil nyokap. Ya mana dikasih ijin gue bawa tu kendaraan.”
“Bisa ke rumah gue sekarang, nggak. Ada Zely di sini.”
“Serius?”
“Iya, ini kita lagi sarapan.”
“Ih, gue ditinggal sarapan. Baru bangun tidur, nih.”
Jean memberengut. Tapi terdengar jelas jika dia langsung bangun dan melompat turun dari atas tempat tidur. Untung saja nggak kejengkang.
“Tungguin. Gue ke sana, minta anterin supir.”
“Cepetan, ya.”
“Dadah!”
Percakapan antara Renata dan Jean terputus saat Jean yang memutus sambungan telepon itu.
Lanjut menikmati sarapannya, begitupun dengan Zely. Tadi di rumah sakit ia disuguhi sarapan nasi lembek yang otomatis membuat selera makannya anjlok dalam satu tarikan napas.
“Tadi belum sarapan di rumah sakit?”
“Udah, sih, cuman nggak gue makan.”
Renata sudah bisa menebak apa alasan Zely tak memakan makanan itu. Efek pengalaman bolak balik jadi pasien rumah sakit karena permasalahan dengan alergi yang dideritanya. Lebih tepatnya, suka melanggar pantangan makanan, makanya bolak-balik jadi pasien.
“Berarti dari kemarin lo belum makan dong?”
“Makan, tapi gue minta beliin di luar. Kebetulan temannya si ...” Zely memutar bola matanya saat akan menyebut nama Rafa, tapi tak jadi. “Teman dia adalah dokter yang rawat gue. Jadi, dia kasih rekomen makanan dari luar.”
“Trus, trus?”
“Trus apa?” tanya Zely balik.
“Ya ampun, gue lagi penasaran banget sama ini cowok yang nikahin elo. Eh, malah nanya balik.”
__ADS_1
Zely seolah bodo amat dengan sikap Renata yang penasaran. Lanjut menikmati sarapannya biar tetap hidup dan menghadapi beban hidup. Tapi bersamaan, orang yang membuat Renata penasaran malah tiba-tiba nongol di beranda ponselnya.