
Ketika dua insan manusia itu sedang memperdebatkan hal yang nggak jelas, Bella tiba-tiba datang. Membuat Rafa dan Zely seketika menghentikan perdebatan itu. Tak sendirian, kali ini Bella datang dengan seorang pria.
“Duh, akhirnya Tante datang,” keluh Zely saat Bella datang. “Tante, aku nggak mau sama Rafa di sini. Minta dia pulang aja, Tante di sini nemenin aku, ya.”
Rafa menggerutu saat Zely bersikap begitu menyebalkan. Harusnya tadi ia tak berbaik hati pada dia. Sekarang di saat kesal, malah seakan menendangnya jauh-jauh dari peredaran. Benar-benar tak tahu terimakasih sekali kaum hawa yang satu ini.
“Nggak boleh bersikap seperti itu, Zely. Meskipun kamu nggak suka atau benci sekalipun, tetap Rafa adalah suami kamu.”
“Tapi, Tante …”
“Tante datang ke sini bukan untuk mendengar kamu mengeluh, apalagi bersikap kekanak-kanakan seperti itu!”
Untuk kesekian kalinya Zely dihadapkan pada sikap Bella yang menurutnya makin sering emosi. Haruskah memberikannya balasan begitu? Bukankah bisa bicara sedikit lebih pelan.
“Aku heran sama Tante. Bukankah aku sudah emlakukan apa yang Tante mau? Kenapa sekarang masih saja bersikap begitu? Apa ada hal lain yang Tante inginkan, selain aku dan Rafa menikah?”
Zely melirik ke arah laki-laki yang berdiri di samping Bella.
“Dia siapa?” tanya Zely dengan raut menelisik, karena merasa tak tahu apalagi mengenal sosok laki-laki itu.
“Bicara yang sopan,” peringatkan Bella
“Tante, itu dia udah nanya baik-baik, kan. Tak sopannya di bagian mana?” tanya Rafa balik.
Anggap saja agak aneh jika Rafa seolah sedang membela Zely. Hanya saja ia juga merasa heran, sikap Bella begitu egois dan emosi saja setiap bicara dengan Zely.
“Ini namanya Om Bima. Kami punya hubungan khusus,” ungkap Bella.
“Hubungan khusus. Maksudnya, pacar gitu?”
“Bisa dikatakan seperti itu.”
“Hah?” Reaksi Zeli menunjukkan rasa kaget.
Bukan sengaja, hanya saja reaksi itu spontan keluar dari bibirnya. Langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan saat menyadari sikapnya yang tak baik.
“Kenapa kamu kaget begitu?” tanya Bella.
__ADS_1
Zely tersenyum berat. “Enggak, Tante.”
Bella menyerahkan sebuah amplop pada Zely.
“Ini apa, Tan?”
“Tante sudah mengurus surat pindah kamu ke sini, termasuk pindah kuliah.”
Zely yang awalnya hendak membuka isi dari amplop tersebut, menghentikan niatnya dan fokus pada Bella.
“Kok pindah? Aku susah-susah loh bisa masuk ke sana, Tante masa nggak nanya atau minta pendapatku dulu tentang masalah ini. Bisa tanya aku setuju atau enggaknya, kan. Ini malah main pindahin langsung!”
Jujur saja rasanya begitu kesal, sedih, marah … semua berasa campur aduk. Perjuangannya untuk sampai kuliah di sana nggak gampang. Butuh modal nilai. Sekarang malah dengan mudah Bella memindahkannya.
“Tante pikir ini yang terbaik. Jangan lupa kalau kamu sekarang adalah istrinya Rafa. Bukan hanya ego kamu sendiri yang jadi hal utama, tapi juga status kamu adalah hal paling penting kamu harus ingat.”
“Tapi, kan …”
Rafa menyambar tangan Zely, membuat perkataan dia terhenti saat mendapatkan sikap itu.
“Besok hingga seminggu ke depan Tante ada pertemuan dengan klien di Surabaya. Tante harap kamu nggak melakukan tindakan yang mengecewakan lagi, Zel. Cukup sekali, jangan bikin posisi kamu dan Tante di dalam keluarga kita makin buru,” jelas Bella.
“Semua sudah Tante urus. Kamu bisa lanjut kuliah di kampus keluarga kita. Tanya Rafa kalau ada hal yang kamu nggak paham. Dia merupakan salah satu dosen di sana.”
Dahi Zely tiba-tiba berkerut seakan tak percaya saat mengetahui jika Rafa adalah seorang dosen. Mengarahkan pandangannya pada cowok yang berdiri di sampingnya.
“Kenapa ngeliatin aku gitu banget? Tanya Rafa dengan pandangan Zely yang terarah padanya, menunjukkan seolah-olah dia tak percaya saja dengan apa yang Bella katakan.
“Seorang anak akan jadi tanggung jawab orang tuanya hingga dia melepas masa lajang. Sebagai wali kamu satu-satunya, tante juga akan begitu. Sekarang tanggung jawab kamu akan jatuh ke tangan Rafa.”
Zely benar-benar tak paham dengan semua yang dikatakan Bella. Intinya saat ini yang ia pikirkan adalah permasalahan kuliahnya yang dengan seenaknya dipindah.
“Aku menolak pindah kuliah!”
“Tante, Om. Maaf, sudah malam. Zely sepertinya butuh istirahat. Biar aku yang jaga dia di sini,” ujar Rafa secara sopan meminta agar Bella dan Bima untuk pergi.
Bella mengangguk, begitupun dengan Bima. Dia menebar raut wajah yang memahami perkataan Rafa.
__ADS_1
“Tante pulang dulu, ya. Jangan bikin Rafa kerepotan.”
Setelah mengatakan hal itu pada Zely keduanya pun pamit. Bella dan Bima segera berlalu pergi dari sana.
Pintu tertutup rapat, kini pandangan Zely fokus pada Rafa yang berdiri di sampingnya.
“Aku belum selesai bicara sama Tante, kenapa kamu malah minta mereka pergi?! Aku kesal, aku marah dan kecewa, Rafa!”
Rafa masih belum memberikan respon. Karena ia yakin akan ada banyak stok kata-kata yang akan dia keluarkan padanya.
Buliran air mata jatuh di pipi Zely. “Kenapa semuanya seakan membuatku tertekan! Masalah pernikahan dan sekarang perkara kuliah pun aku dipaksa untuk mengikuti!”
Menyeka dengan cepat kedua pipinya. “Rasanya benar-benar berharap kalau tadi pagi adalah hari kematianku! Capek banget. Mau hidup normal aja banyak banget masalahnya.”
Berusaha menahan dan tetap menghapus air mata yang makin deras keluar dari kelopak matanya. Percuma, karena pada akhirnya tangisannya pun pecah.
Menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Karena merasa benar-benar berada di titik terendah hati dan mentalnya diuji. Dari kecil, harus kehilangan orang tua. Dan sekarang, semua ujian itu masih tetap berlanjut.
“Jujur, ya … aku nggak mengenal kamu, Zel. Yang jelas dan pasti, kamu itu cerewet. Hanya saja dengan semua kejadian, sikap dan tindakan yang kamu lakukan. Aku memikirkan sesuatu. Yap, aku ingin menertawakan kamu yang tampak begitu bodoh.”
Sontak, Zely yang menangis dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya langsung dibuat fokus pada Rafa. Lebih tepatnya menatap dengan penuh rasa kesal.
“Iya, kamu bukan orang pertama yang mengatakan hal itu. Bahkan semua mengatakan aku bodoh!”
“Dan kamu menikmatinya?”
“Selama aku nyaman, kenapa tidak.”
“Bagaimana hal barusan? Apa kamu juga menikmatinya, hem?”
Zely tiba-tiba terdiam. Pertanyaan Rafa terasa begitu sulit ia jawab.
“Saat seseorang melakukan kebohongan, di lain waktu ketika dia berkata jujur sekalipun … kemungkinannya sangat kecil akan dipercaya. Pun yang kamu alami, Zely. Biasanya hanya menerima, pasrah tanpa perlawanan. Lihat, kan … saat apa yang kamu tolak, tetap saja kamu nggak akan berhasil.”
“Dan kamu puas, kan?!”
Rafa malah tersenyum. “Sebenarnya ini sama sekali nggak ada untungnya buatku.” Rafa bersidekap dada dihadapan Zely. “Tapi berhubung karena sekarang kamu adalah istriku, tentu saja aku juga nggak mau memiliki seorang istri yang bodoh.”
__ADS_1
“Jangan membuat semuanya berbelit-belit.”
“Jadilah seorang wanita yang pintar, bukan seorang keponakan yang bodoh. Tante Bella sudah melepaskan kamu dari tanggung jawabnya, sekarang kamu adalah tanggung jawabku. Lakukan apa yang ku sarankan padamu.”