Istri Tercinta Pak Dosen

Istri Tercinta Pak Dosen
BAB 41 : Jadi Fokus Utama


__ADS_3

Jawaban Diana sukses membuat semuanya tampak kaget dan tak percaya. Karena setahu mereka Rafa tak memiliki kekasih. Jangankan kekasih, bahkan dekat dengan seorang wanita pun seperti nya tidak dan terkesan ogah-ogahan. Kini tiba-tiba muncul seseorang yang ternyata istri Rafa.


“Serius, Jeng? Ini istrinya Rafa?”


Diana mengangguk. “Iya, Zely ini istrinya Rafa.”


Yang punya acara adalah Rika, tapi yang jadi fokus utama malah Zelysta. Sampai-sampai ia dibuat bingung harus bersikap seperti apa. Hanya saja rasanya bahagia, karena melihat senyuman Diana yang begitu lepas saat menjelaskan siapa dirinya.


Zely agak sempat khawatir dan bingung saat mereka bertanya tentang pernikahannya dan Rafa yang terkesan mendadak. Bukan hanya mendadak, tapi bahkan dilakukan di rumah sakit. Namun, dengan jurus emak-emak Diana dengan santainya membuat sebuah alur yang tentu saja semua orang percaya.


“Rafa berarti sayang banget sama Zely, sampai-sampai mau nikah dadakan begitu biar bisa jagain di rumah sakit.”


“Benar, Jeng. Kadang ada, kan … yang suka ngeyel harus bikin acara mewah dan heboh dulu lah.”


“Kan kalau sudah berstatus sebagai suami istri bisa bebas bersikap lah, Jeng Hana. Kalau hanya pacaran, kan tetap ada batasan.”


Sebagai pendengar yang baik, Zely hanya mengulas senyum saat semua emak-emak terus saja membahas dirinya dan Rafa. Dirinya merasa sudah mengambil alih acara orang.


“Pantesan Rafa selama ini nggak mau dekat sama wanita. Ternyata, sudah punya pawang. Pas muncul, eh ternyata langsung nikah.”


“Iya, benar Jeng Hana,”sahut ibu-ibu yang lain. “Saya udah pernah juga sodorin anak perempuan saya loh sama Rafa, tapi nggak direspons sama sekali.”


“Nggak jodoh, Jeng.” Yang lain ikut nimbrung sambil diiringi tawa.


“Ya, Rafa nya anteng, dingin, kalem gitu. Pasti jodohnya ya sesuai dengan sikap dan pribadi dia juga dong, Jeng. Dan lagi, lihat … Zely masih muda. Gimana Rafa nggak kesemsem.”


“Iya, saya kalau jadi Jeng Diana juga bakalan langsung tarik Zely jadi mantu. Sayangnya anak saya nggak ada yang cowok.”


Zely sampai mengaruk tengkuknya yang tak gatal, saking bingungnya menghadapi semua ini. Stok receh nya seakan tak mau keluar di situasi ini. Takut salah bersikap dan mengeluarkan kata-kata juga, sih, sebenarnya.


“Zely, kamu kerja atau masih kuliah?”


“Masih kuliah, Tante. Itu juga baru dua semester.”


“Kuliah di mana?”


“Hmm, itu … di Singapura, tadinya. Cuman ini aku baru ngurus kepindahan ke sini.”


“Ya ampun, Rafa dapatnya daun muda. Nah, gimana nggak beruntung. Intinya yang satu tampan dan pintar, yang satu cantik dan pintar. Cocok lah.”


Diana merasa tak enak karena Zely seakan diberondongi pertanyaan-pertanyaan yang tak ada hentinya. Padahal ia pikir mereka hanya sekadar ingin tahu satu atau dua info. Lah, ini malah menantunya yang jadi bahan pembahasan.

__ADS_1


Ponsel milik Zely yang ada di pegangannya berdering. Saat ia cek, ternyata nama Rafa yang tertera di layar datar itu. Baru kali ini rasanya senang dan bersyukur banget ditelepon oleh Rafa.


“Maaf, Tante … aku mau jawab telepon bentar, ya,” ujarnya.


“Ah, iya. Silakan.”


Seperti baru keluar dari oven. Panas dan bikin mual. Iya, mual karena kekenyangan dengan semua pertanyaan dan pembahasan para emak-emak di dalam sana.


“Ma, aku jawab telepon bentar, ya,” ujarnya pada Diana.


“Iya, Sayang,” jawab Diana dengan senyuman.


Zely memilih keluar dari restoran itu dan duduk di sebuah kursi tunggu yang ada di depan dekat pintu masuk. Kemudian menggeser layar datar di tangannya untuk menjawab panggilan dari Rafa.


“Halo.”


“Masih sama Mama?”


“Hmm,” sahut Zely. “Mama di dalam, ini aku di luar jawab telepon dari kamu.”


“Mama nggak lakuin hal yang aneh-aneh, kan?”


“Bukan mama, tapi teman-temannya mama yang bikin aku auto mabuk. Sumpah! Aku merasa gerah, Rafa.”


“Aku serius loh ini. Rasanya otakku mau meledak. Bisa-bisanya mereka malah fokus padaku. Jadi nggak enak sama yang punya acara.”


Zely menyenderkan kepalanya pada sandaran kursi. Rasanya mau rebahan, tapi ingat ini tuh bukan di rumah.


“Kenapa?”


“Nggak, cuman capek aja.”


“Aku minta mama buat segera pulang aja, ya.”


“Nggak usah. Aku nggak enak. Mama juga lagi asik ngobrol, yakali ku ajakin pulang.”


“Kenapa kamu nggak menelepon ku balik tadi?”


“Lupa,” jawab Zely langsung.


“Alasan yang bagus,” gerutu Rafa.“Kelas ku sudah selesai, kirim alamat, ya.”

__ADS_1


“Udah mau pulang? Tapi, mama …”


“Kirim alamatnya sekarang, Zel.”


“Baiklah.”


Percakapan ditutup oleh Zely. Setelah itu, ia segera mengirimkan alamat dan posisinya saat ini pada Rafa. Padahal ia pikir masih jam berapa, ternyata sudah sore. Efek dikerubungi oleh berbagai pertanyaan dari para emak-emak, membuatnya lupa waktu.


Zely kembali masuk ke dalam restoran dan duduk di samping Diana.


“Telepon dari siapa?”


“Dari Rafa, Ma,” jawab Zely.


“Rafa udah pulang?”


“Iya,” jawab Zely. “Tapi kayaknya mau ke sini deh, Ma. Soalnya barusan dia minta aku kirim alamat.”


“Baguslah kalau begitu. Setidaknya mama nggak merasa khawatir saat kamu harus mengemudi lagi. Nggak enak mama sama Rafa, kamunya baru keluar dari rumah sakit tapi malah mama ajakin ke acara seperti ini.”


“Ih, mama gitu terus ngomongnya. Aku baik-baik saja, Ma. Masih sehat walafiat. Istirahat? Toh nanti sampai di rumah juga bisa, kan.”


Sebuah pesan masuk di beranda ponsel milik Zely. Ternyata dari Jean di grup. Segera membuka isi dari pesan tersebut dan membacanya.


“Zely, lo di mana? Sibuk, nggak? Kalau enggak, kita berdua mau ketemu sama elo. Penting banget! Ini demi kelangsungan hidup kita bersama ke depan.”


Dahi Zely sampai berkerut saat membaca isi pesan dari sahabatnya itu. Belum juga menjawab, kini pesan dari Renata ikut muncul dengan hal yang sama.


“Zel, lo bisa udah sukses bikin kita semua, satu kampus, heboh!”


“Apa, sih ? Gue nggak paham,” balas Zely. “Memangnya gue bikin masalah apa di kampus? Perasaan tadi gue di sana aman-ama aja.”


Setelah memberikan balasan seperti itu, tak ada lagi pesan balasan dari dua gadis yang sedang menyerangnya dengan beberapa tanggapan. Baru juga mau menutup, tapi sebuah panggilan telepon muncul di layar. Tampak nama Jean yang terpampang nyata di depan matanya. Baru juga mau menjawab, tapi ternyata tak jadi karena ponselnya keburu mati efek kehabisan daya.


“Yah, mati,” gumamnya.


“Kenapa, Nak?”tanya Diana penasaran melihat raut muka Zely.


“Ah, enggak, Ma. Ini ponselku tiba-tiba mati kehabisan daya.


“Pakai ponsel mama aja kalau gitu.” Diana bersiap merogoh tas nya untuk mengambil benda pipih itu.

__ADS_1


“Enggak usah, Ma,” tolak Zely membuat niat wanita paruh baya itu tertahan. “ Itu tadi cuman teman yang mau nelpon, kok. Nanti saja ku lanjut di rumah.”


__ADS_2