Istri Tercinta Pak Dosen

Istri Tercinta Pak Dosen
BAB 32 : Perubahan Sikap


__ADS_3

“Bisa kita mulai semuanya dari awal, kan?”


Mendengar pertanyaan Rafa yang menurutnya aneh, tentu saja Zely dibuat bingung. Dia kesambet atau gimana, sih.


“Maksud kamu apa?” tanya Zely butuh penjelasan.


“Kita mulai dari awal lagi.”


“Hah?” Memasang muka kaget.


“Anggap semua masalah yang sebelumnya terjadi, sudah selesai. Saat ini aku dan kamu adalah suami istri. Bisa, kan, bersikap layaknya seorang istri pada suaminya? Pun denganku yang akan memberikan hal sama padamu.”


“Aku nggak mau,” tolak Zely langsung melepaskan tangan Rafa yang masih memegang lengannya.


“Kamu nggak capek kita berantem terus? Mungkin kamu enggak, tapi aku capek, Zel. Rasanya akan ada masalah yang muncul dalam setiap hariku. Dan itu bikin semua kerjaan bahkan aktifitasku jadi berantakan.”


Zely yang awalnya mengabaikan, tapi sepertinya ia harus memberikan sebuah penjelasan pada Rafa.


“Aku tanya sama kamu, Raf. Pertanyaan yang sangat penting.”


“Apa?”


“Kamu jadi, kan, menceraikanku setelah semua masalah itu selesai?”


Rafa seketika seakan terhantam oleh perkataannya sendiri. Sebelumnya ia pernah mengatakan kalau setelah menikah, akan segera menceraikan Zely. Karena yang dibutuhkan hanyalah status pernikahan demi keamanan nama keluarga besar dia perkara masalah di hotel itu.


Sekarang Zely justru seolah menuntutnya untuk melakukan itu. Kenapa rasanya tak rela jika itu semua benar-benar terjadi. Ada apa dengan dirinya. Kenapa pikirannya sebelumnya seolah tak sesuai dengan apa yang ia rasakan kini.


“Rafa!”


“Aku nggak akan melakukan itu. Sampai kapanpun.”


“Kenapa sekarang malah berubah?”


“Aku nggak tahu,” jawabnya.


“Plin plan,” balas Zely.


“Bukankah seseorang juga bisa berubah. Waktu itu aku memang menginkannya, tapi sekarang aku juga menginginkan …” Rafa menghentikan kata-katanya. “Sekarang aku menginginkan kamu tetap denganku. Aku akan menikah satu kali dalam hidupku, yaitu denganmu. Jadi, aku tetap akan jalani semua ini.”


Zely sampai bingung sendiri dengan sikap Rafa yang menurutnya tiba-tiba jadi aneh dan berubah drastis.


“Kamu salah makan, ya tadi?”


Rafa menyentil dahi Zely saat mendapatkan pertanyaan yang lebih tepat berbentuk ledekan itu. Ia serius, tapi dianya malah membuat keseriusannya seolah dipermainkan.


“Jadi, gimana? Kamu mau tetap di sini atau pulang denganku?”

__ADS_1


Zely berpikir sejenak. Sebenarnya ia malas sekali, tapi perkataan Rafa barusan seperti membuatnya berubah pikiran. Bukan perkara memulai hubungan yang di maksud oleh Rafa, ya … lebih tepatnya saat dia bilang jika ia sendiri di sini, sedangkan di sana ada Diana yang bisa menemani.


“Aku ikut sama kamu,” jawab Zely.


“Jangan minta dan memaksa untuk pulang, karena di mana aku berada, itu artinya itu adalah rumahmu.”


“Kenapa kamu jadi aneh gini, sih?”


“Setuju atau tidak?”


“I-iya udah, oke. Untuk sekarang ku turuti perkataanmu.”


Bukan salah makan, tapi sepertinya Rafa mengalami benturan yang cukup sighnifikan di kepala dia hingga bersikap tak seperti biasanya gini. Mana pernah dia bicara mode kalem dan baik padanya, tiba-tiba sekarang jadi seperti sosok suami beneran.


“Katakan barang-barang apa saja yang kamu butuhkan, aku siapin.”


“Itu barang-barang ku masih ada di dalam koper, belum ku keluarkan sama sekali. Bawa itu saja,” ujar Zely.


Daripada kemas-kemas lagi, otomatis buang-buang waktu juga, kan. Saat sampai kemarin ia juga belum sempat mengeluarkan barang-barangnya dari koper.


“Buku?”


“Aku belum jelas kapan masuk kuliah, kan?”


“Jangan lupa kalau Tante Bella sudah mengurus semuanya, kan. Itu artinya kamu diminta sesegera mungkin untuk masuk kulih.”


“Tadi juga sudah menghubungi Bibik, beliau minta kamu datang ke kampus untuk menemui pihak yayasan. Aku nggak tahu ada permasalahan apa, tapi sepertinya membahas nilai.”


Menatap Rafa dengan tatapan serius.


“Kamu memintaku memulai semua dari awal, itu artinya yang bertanggung jawab atasku adalah kamu, Rafa. Tapi kamu masih saja seolah tak berkutik menghadapi tanteku.”


Jujur saja ia lama-lama kesal pada Bella. Dulu, bahkan sebelumnya wanita itu seolah tak pernah memberikannya sebuah aturan dari hal sekecil apapun. Sekarang seolah semuanya berubah dalam hitungan detik.


“Kamu mau aku begitu?”


“Menurutmu?”


“Ya, aku pikir kamu terlalu menjunjung tante Bella. Padahal sudah jelas-jelas kamu itu hanya …” Rafa menghentikan perkataannya dan menghela napasnya panjang. “Sudahlah, ayo makan dulu. Setelah itu kita pulang. Otakku tak bisa tenang kalau mengajar dalam kondisi bad mood.”


Rafa menyambar ponsel miliknya yang ada di meja dan menanggalkan charger yang masih melekat. Kemudian menyambar ponsel milik Zely dan memberikan pada dia.


“Ada lagi yang mau dibawa?”


“Tas ku.” Zely menunjuk ke arah tas ransel miliknya yang ada di dekat rak buku. Ya, satu hal yang paling penting … karena di dalam tas itu ada obat-obatan miliknya.


Rafa menyambar benda itu dan menetengnya. Sedangkan satu tangannya menyeret koper.

__ADS_1


“Sudah?”


“Hmm,” angguk Zely.


Keduanya meninggalkan kamar dengan Rafa yang membawa koper dan tas milik Zely. Sedangkan gadis itu berjalan lebih dulu dengan sweater milik Rafa yang berada di pundaknya.


“Hati-hati,” ujar Rafa pada Zely saat menuruni anak tangga. Takut saja jika tangan dia yang sakit, tersenggol.


Zely sampai bergidik ngeri saat Rafa bersikap begitu. Tiba-tiba jadi kalem, baik dan sekarang malah begitu perhatian  padanya. Apa dia melupakan sudah membuat tangannya kejepit pintu. Sekarang malah berbanding terbalik.


“Non, gimana tangannya?” tanya Bik Anik menghampiri Zely dan turun bersama Rafa.


Zely menunjukkan tangannya pada wanita paruh baya itu.


“Masih bengkak dan sakit,” ungkapnya dengan muka cemberut. “Hanya saja sakitnya kalau digerakkan dan disentuh. Tak seperti sebelumnya yang dalam kondisi diam saja tetap berdenyut-denyut.”


Zely duduk di kursi, sedangkan Rafa langsung menuju mobil untuk memasukkan koper dan barang-barang milik Zely.


“Tapi, Non … bibik salut sama Den Rafa.”


“Nyebelin gitu kenapa juga bibik sampai salut.”


“Ya, bibik cuman nembak dari sikapnya Den Rafa doang, sih, Non. Tadi juga pas lagi tidur, itu dijaga terus. Turun bentar minta bibik nyiapin makan siang, habis itu langsung balik lagi ke kamar.”


“Mungkin merasa bersalah.”


Dahi wanita itu berkerut, hingga raut bingung itu sangat nyata terlihat.


“Tanganku tadi kejepit pintu gara-gara dia nggak ngijinin aku masuk kamarnya.”


“Mungkin nggak sengaja, Non. Kalau sengaja, nggak mungkin juga, kan, Den Rafa ke sini nyusulin dan ngobatin. Mana mukanya cemas banget waktu Non nangis. Sampai Non tidur nyenyak dalam durasi yang lama sambil meluk pun, tetap aja dibiarin.”


“Siapa yang meluk, sih? Pliss … itu bukan aku.”


Keterlaluan banget candaannya Bik Anik. Yakali ia tidur meluk Rafa. Jangankan nyata, dalam mimpi pun dia nggak pernah ia ijinkan muncul.


“Lah, Non nggak sadar atau lupa ingatan?”


“Bibik halu, ya?”


“Non, Bibik beneran, loh. Tadi Bibik ke kamar Non waktu tidur. Non Zely meluk Den Rafa sampai Aden nggak bisa kemana-mana.”


Tetap saja Zely mengabaikan semua pernjelasan Bik Anik. Sesuatu yang mustahil sekali ia lakukan. Kejadian di kamar hotel, itu merupakan hal yang tak bisa ia tebak bagaimana sampai begitu. Bisa saja Rafa benar jika keduanya dijebak. Tapi ini dirinya dalam keadaan sadar, yakali sikapnya seperti itu pada Rafa.


“Harusnya tadi Bibik rekam itu adegan manis.”


“Ih, Bibik apaan banget, sih.”

__ADS_1


__ADS_2