Istri Tercinta Pak Dosen

Istri Tercinta Pak Dosen
BAB 23 : Tumben Kalem


__ADS_3

Rafa merasakan ada sentuhan di wajahnya, tapi mau bangun rasanya kok berat banget rasanya mata. Tapi ketika suara itu terdengar sayu-sayup, matanya langsung melek saat itu juga.


“Udah pagi,” ujar Zely.


“Udah pagi, ya.” Rafa mengucek kedua matanya yang terasa perih, berat dan ngantuk. “Udah pagi?!” Tiba-tiba kaget seperti seseorang yang baru sadar dari pingsan.


“Jam tujuh,” ungkap Zely mengarahkan telunjuknya pada layar ponsel milik Rafa yang ada di meja, kemudian berlalu dari hadapan dia.


“Ya ampun, telat!”


Rafa langsung bangun dan bergegas menyiapkan file makalah yang akan diserahkan pada Willi. Untung saja semalam dirinya tidur setelah semua kerjaan selesai, jadi sekarang saat bangun telatpun, masih aman karena ia hanya tinggal kirim.


“Akhirnya,” keluh Rafa dengan hembusan napasnya yang panjang saat semua sudah selesai. Iya, selesai dikerjakan semalaman dan terkirim pagi ini.


Rafa mengarahkan pandangannya pada Zely yang duduk di kursi dekat jendela, menatap ke luar seperti tanpa ujung dengan kedua dagu yang dia topang dengan tangan.


“Aku mau pulang, kamu di sini saja, ya.”


“Iya,” jawab Zely singkat.


Mendapatkan jawaban seperti itu, Rafa malah kaget sendiri. Biasanya dia kan selalu ada bantahan dalam setiap perkataannya. Sekarang tiba-tiba jadi  mode kalem, tentu saja ia heran.


 Segera berberes karena pagi ini ada meeting di kantor, kemudian lanjut siang nya mengajar. Semalam lembur hingga jam 4 subuh, rasanya kepalanya terasa pusing sekarang.


Rafa menghampiri Zely. “Yakin nggak apa-apa sendirian di sini?”


Zely mengangguk.


“Kamu nggak berpikir untuk melakukan sesuatu yang aneh-aneh, kan?”


Zely yang awalnya hanya fokus pada suasana pagi di luar sana yang tampak begitu indah, mendengar perkataan Rafa tentu saja membuatnya merasa kesal. Memutar posisi duduknya dan menatap Rafa dengan muka jutek.


“Kamu kenapa, sih, Rafa? Aku diam, kamu nyari-nyari perkara. Aku jawab, kamu malah tak percaya. Sekarang ku bilang aku baik-baik saja di sini sendirian, malah langsung berpikiran negative gitu.”


“Bukan nggak percaya, tapi lebih tepatnya kok tumben. Biasanya pasti langsung kamu bantah apapun itu setiap perkataanku.”


“Capek,” responnya singkat.


Tak ingin memperpanjang urusan dan masalah dengan Zely. Hari ini ia benar-benar akan sibuk. Jangan sampai mood nya berantakan gara-gara diberikan sikap buruk oleh Zely.


“Nanti aku minta mama buat nemenin kamu di sini.”


“Sudah ku bilang, kan … aku nggak apa-apa sendirian.”

__ADS_1


Rafa memutar bola matanya jengah. Baiklah, akan ia abaikan. Hanya saja tentang mamanya, itu sebenarnya bukan permintaannya. Dari semalam beliau memang sudah berniat akan datang, tapi ia larang karena sudah malam. Otomatis ya hari ini pasti datang.


“Aku pergi dulu. Kalau ada apa-apa, telpon saja.” Sudah melangkah dan sampai di dekat pintu, tapi Rafa malah balik lagi menghampiri Zely.


“Ada yang ketinggalaan?” tanya Zely bingung.


Rafa menyambar tangan Zely dan memberikan satu lembar kartu kredit.


 “Pake ini kalau butuh apa-apa. Pin nya angka belakang nomer ponselku,” jelasnya segera berlalu dari sana.


Zely menatap fokus pada benda di tangannya yang baru saja diberikan oleh Rafa. Agak aneh memang, ketika yang biasanya ia dapatkan dari tantenya, sekarang malah diberikan oleh Rafa. Padahal ia juga tak meminta, tapi dia malah memberikannya.


Rafa pergi, kini dirinya tinggal sendirian. Rasanya lebih baik jika ia berada dan istirahat di rumah daripada di rumah sakit. Toh, kondisinya juga sudah baik-baik saja. Tak ada efek dari kejadian kemarin lagi.


Seorang suster datang lengkap dengan sarapan dan obat-obatan yang dia bawa. Kemudian meletakkan semua itu di nakas.


“Suster, dokter kapan masuk?” tanya Zely pada suster itu.


“Satu jam lagi, Mbak.”


“Saya sudah baik-baik saja, kenapa masih belum diijinkan untuk pulang ke rumah?”


“Maaf, Mbak … sesuai dengan apa yang sudah diberitahukan oleh dokter di awal. Demi menjaga dan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, Anda bisa pulang ke rumah besok. Itupun harus melalui pemeriksaan dokter lebih lanjut.”


Suster segera berlalu dari sana setelah menyiapkan sarapan untuk Zely.


Menyambar ponselnya yang ada di nakas, kemudian menghubungi seseorang. Tak lama, panggilan telepon darinya mendapatkan sahutan.


“Hallo.”


“Ren, lo di mana?”


“Ya ampun, Zel … ini tuh masih pagi. Di mana lagi gue kalau bukan dibalik selimut tebal. Semalam gue lembur ngerjain tugas kuliah yang seabrek. Sekarang mata gue ngantuk parah.”


Zely berpikir semua orang berada di jalur sibuk. Rafa, semalam lembur sama kerjaan. Dan sekarang saat ia menghubungi Renata, sahabatnya … juga melakukan hal yang sama.


“Eh, betewe lo sekarang udah di rumah, kan? Sorry, kemarin gue sama Jean harusnya mampir ke rumah pas pulang kuliah. Tapi nggak jadi gara-gara Jean sakit perut bulanan. Gue kalau ke rumah lo sendirian ngeri sama Tante Bella.”


Renata tetap bicara panjang, meskipun dengan nada serak karena masih diposisi tiduran.


“Iya nggak apa-apa.”


“Gue kemarin nelepon lo, tapi juga nggak di respon.”

__ADS_1


“Ponsel gue ketinggalan di rumah. Sekarang lagi di rumah sakit.”


Terdengar reaksi kaget saat Renata bangun dari posisi tidur nya.


“Rumah sakit? Siapa yang sakit? Lo baik-baik aja, kan?”


“Ceritanya panjang,” Balas Zely. “Intinya, gue dari kemarin pagi dirawat di rumah sakit gara-gara overdosis obat tidur.”


“Lo mau bunuh diri, sampain overdosis gitu.”


Satu tarikan napas panjang ia keluarkan saat tanggapan Renata juga sama perkara dirinya yang malah mau bunuh diri.


 “Hari ini lo ada kelas?”


“Ada, tapi masuk siang,” jawab Renata. “Gue ke sana, ya, nemenin lo. Pasti lo sendirian di rumah sakit.”


“Nggak usah,” jawab Zely.


“Tapi …”


“Gue ke rumah lo, ya.”


“Lo kan lagi dirawat, kenapa malah mau ke rumah gue?”


Zely tak menjawab, tapi malah langsung menutup percakapan dengan Renata begitu saja tanpa aba-aba. Segera beranjak dari posisi duduknya dan mengambil pakaiannya yang ada di dalam lemari.


Selesai berganti pakaian, ia menyambar ponsel dan dompetnya.


“Ya ampun, dompet gue,” paniknya saat menyadari jika benda terpenting itu tak ada. Ya jelas tak ada, kemarin Rafa hanya ia minta untuk mengambil ponsel, tapi tidak dengan dompet.


Di saat bingung, karena otomatis kalau pergi ke rumah Renata ya dirinya butuh ongkos. Sekarang ongkosnya nggak ada, jadi solusinya apalagi.


Bingung perkara ongkos, tiba-tiba ia teringat dengan kartu kredit yang ada di pegangannya.


“Pake punya Rafa aja kali, ya,” pikirnya.


Menutup wajahnya dengan masker agar tak ada suster yang ngeh saat ia keluar dari kamar dan kabur dari rumah sakit  ini. Nggak sulit, hanya saja ia ngeri tiap berpapasan dengan dokter atau suster. Berasa ketahuan.


Berhasil dengan selamat hingga keluar dari rumah sakit. Zely bergegas menuju sebuah mesin atm yang ada di sekitaran rumah sakit untuk mengambil sejumlah uang. Anggap saja ini hutangnya pada Rafa yang akan ia ganti saat dompetnya kembali padanya.


Menghentikan sebuah taksi yang lewat dekat sebuah halte.


“Jalan mangga nomer 25 ya, Pak.”

__ADS_1


“Baik, Mbak.”


Supir taksi melajukan kendaraannya sesuai dengan alamat yang sudah dikatakan oleh Zely.


__ADS_2