Istri Tercinta Pak Dosen

Istri Tercinta Pak Dosen
BAB 31 : Bersikap Baik


__ADS_3

Perlahan Rafa melepaskan lengan Zely yang memeluknya saat tidur. Bukan tak ingin menemani, hanya saja ponselnya kehabisan daya, takut jika ada panggilan telepon dari rekan kerja atau pihak kampus. Apalagi tadi Bik Anik bilang kalau Bella meminta Zely untuk datang ke kampus.


Menyambar sebuah guling. Secara perlahan dan hati-hati meletakkan tangan dia yang cedera di atasnya. Kemudian menarik selimut dan menutupi kaki hingga bagian pinggang.


Rafa menyambar ponselnya dan mencari charger di lemari dan juga meja, tapi tetap saja tak bisa ia temukan benda itu. Nggak mungkin juga, kan, ia bangunkan Zely hanya untuk bertanya di mana charger.


Melonggarkan kancing kemejanya di bagain atas. Kemudian membuka pintu yang mengarah ke balkon hingga terbuka lebar. Begitupun dengan tirai yang masih menutupi jendela, agar udara di dalam ruangan ini juga bisa berganti.


“Ya ampun, dia narok carger di mana, sih,” decak Rafa seolah sudah berputar-putar di dalam kamar ini, tapi tak berhasil menemukan apa yang ia cari.


Berniat untuk keluar dari kamar dan bertanya pada Bik Anik, tapi langkahnya ia surutkan saat matanya fokus pada tas ransel milik Zely yang ada di gantungan dekat rak buku.


Memeriksa isi dari dalam tas dan akhirnya bisa bernapas lega setelah menemukan benda yang ia cari di dalamnya. Hanya saja fokusnya ikut tertuju pada beberapa botol obat-obatan yang juga ada di sana. Penasaran, Rafa mengeluarkan benda-benda itu. Ada tiga botol, dengan masing-masing berisi butiran obat-obatan yang lumayan banyak.


Mengarahkan pandangannya pada Zely yang masih tidur sambil berpikir.


“Ini obat apaan?”


Rafa berjalan menuju tempat tidur dengan botol obat yang ada di tangannya. Kemudian mengambil ponsel milik Zely dan memotret benda-benda itu. Langsung mengirimkan sample foto ke nomer ponselnya dan menghapus file dari ponsel Zely agar dia tak tahu.


“Nanti bisa minta bantuan sama Nanta buat mastiin ini obat-obatan apa. Masa iya dia yang cerewet dan nggak bisa diam gini sakit?”


Jam menunjukkan pukul satu siang, itu artinya satu jam lagi ia harus sampai di kampus. Beberapa hari yang lalu sempat meninggalkan tugas di kelas, otomatis hari ini semua tugas itu harus sampai ke tangannya.


Turun menuju lantai bawah dan menemui Bik Anik.


“Maaf, Bik … bisa siapin makan siangnya sekarang? Soalnya satu jam lagi aku ada kelas di kampus. Setidaknya Zely makan dulu sebelum aku pergi.”


‘Baik, Den … ini Bibik lagi masak, kok. Nanti saat Non turun, bisa langsung makan,” terangnya.


“Makasih ya, Bik,” ucapnya kembali berlalu menuju kamar.

__ADS_1


Bik Anik sampai dibuat pangling oleh Rafa yang nyatanya adalah suami dari Zely yang merupakan majikannya sendiri. Tadinya, sebelum tahu sosok yang menjadi suami dari gadis itu, ia sempat berpikiran begitu buruk. Apalagi saat malam di mana Zely berniat mau bunuh diri.


“Semoga Non Zely benar-benar dijaga sama orang yang tepat. Udah sendirian dari kecil, kurang kasih sayang. Setidaknya saat dewasa banyak yang sayang dan benar-benar tulus padanya.”


Sekarang pemikiran buruknya seolah dihempas sudah oleh semua yang terjadi di depan matanya. Mungkin memang benar jika mereka menikah tanpa cinta, tapi perhatian Rafa pada Zely memecah semua. Apalagi melihat Zely tadi tidur seolah merasa nyaman memeluk dia.


Rafa kembali masuk ke dalam kamar, saat sampai di sana ternyata Zely sudah bangun. Berdiri menatap dia yang memasang wajah murung.


“Masih sakit?”


Zely hanya menggeleng. Kemudian bangun dari posisi tidurnya. Jujur saja, sakit di tangan benar-benar seakan menghalangi aktifitasnya.


“Mau ngapain?” tanya Rafa.


“Buka sweater.”


Tidur dalam keadaan mengenakan sweater, apalagi saat bangun ia dapati selimut juga nemplok di badannya. Asli, rasanya benar-benar gerah seperti terkurung dalam ruangan sempit tanpa udara.


“Jangan ditarik paksa, ya. Awas!”


Zely mengancam Rafa. Ya siapa tahu saja jahil ni cowok kumat, kan. Sudah tahu tangannya sakit malah dengan seenaknya menarik lengan sweater.


“Ya ampun, Zel … bisa lihat kebaikanku sedikit saja nggak, sih.”


“Nggak,” jawab Zely langsung. “Semua tertutupi dengan sikap jahil dan menyebalkan kamu.”


Rafa perlahan melepaskan tangan Zely yang berada dalam lengan sweater hingga akhirnya bisa lepas tanpa adanya teriakan ataupun banjir air mata kesakitan.


“Aku kan sudah mengaku salah. Aku juga sudah minta maaf, kan. Masih belum maafin?”


“Belum,” jawab Zely. Menunjukkan tangannya yang sakit dihadapan Rafa. Seakan dengan sengaja mengingatkan dia akan sikap tadi. “Sampai tanganku pulih, kamu nggak ku maafkan. Mungkin kamu pikir rasanya tak sakit, tapi kalau kamu merasakannya langsung, aku yakin sebagai seorang cowok pun kamu akan menangis merasakan sakitnya.”

__ADS_1


Seakan dibuat menciut oleh seorang bocah. Hanya saja mau melawan ataupun membantah, semua yang dia katakan memang lah benar. Gara-gara dirinya, Zely terluka.


Rafa mengarahkan pandangannya pada jam yang ada di pergelangan tangannya.


“Tadi aku udah minta Bibik untuk nyiapin makan siang. Aku ada kelas siang ini. Kamu ku antar pulang setelah makan, ya.”


Zely diam, tapi tatapannya seakan fokus menatap pada Rafa yang ada di depannya.


“Terserah, kamu mau tetap di sini atau pulang.”


Rafa akhirnya memberikan Zely pilihan. Memaksa juga sepertinya dia tak akan mau. Setidaknya saat ini Bella tak ada di rumah, meskipun ia malah khawatir jika dia di sini sendirian.


“Di sini nggak ada yang jagain kamu, setidaknya di rumah ada mama. Aku lebih lebih merasa aman jika kamu sama mama,” saran Rafa.


“Aku ikut,” ujar Zely.


“Pulang?”


“Kampus,” jawabnya.


“Jangan ngada-ngada, ya. Tangan masih sakit juga, malah minta ikut. Daripada kamu ikut juga bikin aku susah, mending kamu tidur di rumah. Terserah, kamu mau masuk atau mau acak-acak kamarku juga silakan.”


“Bilang aja kalau kamu memang nggak mau mengajakku. Iya, kan? Pake ngeles tanganku sakit segala. Ini kan terjadi juga gara-gara kamu, Rafa. Toh, harusnya aku juga ke kampus.”


Rasanya jengkel sekali saat mengingat jika dirinya harus pindah kuliah. Berasa sia-sia banget satu tahu di luar sana mengejar pelajaran mode cepat, tapi pada akhirnya tetap saja balik ke sini.


“Zel, kamu kok suka banget, sih, bermasalah denganku?”


“Aku bersikap sesuai dengan apa yang ku terima. Kamu bahkan nggak berpikir  apakah sikapmu membuatku kesal, sakit hati dan tersakiti, kan. Jadi, bagaimana bisa aku memberikan kamu sikap baik?”


Zely hendak berlalu dari hadapan Rafa, tapi langkahnya tertahan saat dia menyambar lengannya hingga membuat langkahnya terhenti.

__ADS_1


__ADS_2