Istri Tercinta Pak Dosen

Istri Tercinta Pak Dosen
BAB 43 : Shopping Time


__ADS_3

Rafa tak mengubris pertanyaan Zely. Padahal ia pikir kata-katanya barusan tak dia sadari, tapi ternyata malah sadar juga. Dasar perkataan, terkadang susah sekali mengontrol agar tak lepas begitu saja.


“Jangan yang bikin repot saat dipakai, ya … nanti aku lagi loh yang susah dan kerepotan,” ujar Rafa memperingatkan.


Sebenarnya ingin tertawa dengan kata-katanya sendiri. Bukan merasa kerepotan, tapi lebih tepatnya ia tak tahan jika untuk kesekian kalinya harus membantu Zely mengenakan pakaian. Tadi masih bisa bertahan dari godaan, siapa yang tahu bagaimana nantinya. Karena sebagai laki-laki normal, tentu saja itu rasanya begitu berat. Apalagi status keduanya yang merupakan suami istri. Mau ngapain juga sudah tak ada batasan.


“Berharap kalau tanganku sakit terus, ya?”


“Itu peringatan, Zely … bukan harapan.”


Keduanya kembali lanjut, tiba-tiba Rafa malah fokus pada sebuah dress selutut berwarna krem yang berada di deretan pakaian formal.


“Ini?”


“Bagus,” respons Zely dengan senyuman mengembang. Hanya sesaat, senyumannya kembali hilang. “Tapi ini lebih ke formal. Nanti saja lah, kalau sudah dibutuhkan.”


“Dua hari lagi ada acara di rumahnya tante Hesty. Nggak mau mempersiapkannya dari sekarang?”


Zely menghela napasnya panjang ketika diberikan informasi seperti itu dari Rafa. Niatnya yang tadinya tak ingin belanja, pada akhirnya lepas kendali juga dihadapan cowok ini. Ya gimana, saat Zely menolak, tapi Rafa menyukai. Zely bilang, cukup satu saja, tapi Rafa malah mengatakan ambil dua biar ada pilihan.


Yang awalnya hanya fokus pada pakaian harian dan outfit ke kampus, sekarang malah jadi merembes ke pernak-pernik dan ***** bengek outfit acara formal. Dan sekarang keduanya berada di sebuah toko sepatu.


“Bisa pake hels, kan?”


“Asal jangan kamu ajak lari pake hels aja,” respon Zely.


“Ini.”


Rafa menunjukkan sepasang sendal hels dengan tinggi hak seukuran dua belas centi berwarna hitam pada Zely. Tak terlalu glamor, tapi menurut Rafa ini sangat cocok untuk dia yang suka gaya simple. Ya, mungkin karena usia yang masih muda, jadinya Zely seolah ogah-ogahan dengan apapun yang menurut dia merepotkan.


Zely duduk di sebuah kursi. Berniat untuk menanggalkan sepatu yang ia kenakan, untuk mencoba kecocokan dan ukuran hels. Hanya saja Rafa malah berjongkok dihadapannya dan lebih dulu melakukan niatnya.


Bukan hal yang pertama, tapi beberapa kali sikap Rafa membuat dirinya seolah lupa daratan, keadaan dan status. Tadi di kampus, dia juga bersikap begitu manis saat mengenakan tali sepatunya yang lepas. Sekarang lagi-lagi dia bersikap yang jelas membuat hatinya berdesir.

__ADS_1


Ingin mengelak dengan semua sikap Rafa, tapi rasanya sulit sekali. Apalagi ini Rafa yang melakukannya, jujur saja bapernya sampai ke hati.


Satu hal lagi yang harus diketahui. Ini adalah kali pertamanya kakinya dipegang-pegang oleh seorang cowok dan justru malah Rafa yang melakukannya.


Setelah kedua sepatu milik Zely lepas, Rafa lanjut memasang hels yang dipilihkannya untuk dia. Tersenyum ketika benda itu terpasang di kedua kaki dia dengan sempurna. Entahlah, apa karena benda ini yang bagus, atau malah kaki Zely yang cocok.


Bukannya fokus pada hels, Zely malah fokus pada Rafa.


“Gimana?” tanya Rafa mendongak menatap pada Zely yang ada dihadapannya duduk di kursi.


Zely tak langsung memberikan jawaban. Beranjak dari posisi duduknya dan berdiri tegak. Ia berjalan dan berdiri di depan sebuah cermin berukuran besar, sembari mengecek dan mencoba benda yang membalut kakinya.


Tinggi badan Zely yang awalnya 160 centi, otomatis ya bertambah 10 centi setelah mengenakan hels. Yang tadinya berada di samping Rafa dirinya mungkin sebatas dada dia, sekarang tentu saja ikut baik level.


Rafa berdiri di belakang Zely.


“Apa ini terlalu tinggi, ya?”


Rafa menyadari jika tinggi Zely malah naik drastis. Sebelumnya hanya sedadanya, sekarang berasa sama tinggi dengannya.


Rafa dengan cepat menyambar tangan Zely ketika dia nyaris jatuh. Kemudian merangkul agar posisi dia tetap aman. Hanya saja karena tarikan spontan darinya, malah membuat Zely terlalu tertarik hingga jatuh di pelukannya.


Sesaat keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing, hingga Zely langsung tersadar dan melepaskan rengkuhan Rafa di badannya dan menghindar.


“Maaf,” ucap Rafa merasa tak enak.


“Udah, Raf … ini aja, ya. Enakan dipakenya,” balas Zely mengalihkan pembicaraan dan mencairkan kembali suasana yang terasa kikuk. Entah Rafa juga merasakan hal yang sama, tapi ia akui jika dirinya benar-benar salah tingkah.


Rafa mengangguk setuju. Karena ia merasa jika Zely di matanya juga cocok dengan hels itu.


“Bajunya gimana tadi? Kamu nggak cobain dulu, loh. Takutnya ukuran atau bahannya nggak enak dipake.


“Udah sesuai dengan ukuran bajuku, kok. Kelamaan kalau nyocokin dan cobain satu persatu,” kilah Zely.

__ADS_1


Rafa membeli pakaian untuknya seperti orang kesetanan gitu. Iya, sih, tanggung jawab seorang suami pada istrinya. Masalahnya dia seperti mabok sendiri milah-milih barang-barang untuk dirinya. Yakali mau nyobain satu-satu. Duh, kelamaan.


“Menurutku juga pas di badan kamu,” respon Rafa ikut mengeluarkan pendapat.


“Heleh, sok tahu.” Zely memberengut, kemudian kembali ke kursi dan duduk di sana.


“Beberapa kali meluk kamu, ya bisalah menebak ukuran badanmu tanpa harus mengukur terlebih dahulu,” terang Rafa dengan tawanya yang penuh ledekan. Hanya terlihat meledek, tapi sejujurnya ia serius perkara perkataannya itu.


“Ya ampun, keterlaluan,” umpat Zely. “Meluk, meluk. Kapan? Itu barusan juga nggak sengaja, Rafa.”


Bisa banget, kan, dia mencari-cari kesalahannya. Meluk, katanya. Jangankan meluk, dia mendekat  saja rasanya bikin engap. Nggak mungkin juga kan jika dirinya yang meluk. Ogah!


“Iya, kamu benar. Nggak disengaja. Semuanya memang tanpa sengaja.”


Rafa kembali ke posisi tadi. Kembali membantu Zely melepas hels di kaki dia. Dirinya masih mengingat jika tangan gadis ini masih sakit, jadi otomatis ia yang jadi tangan kedua baginya.


Setelah semua beres, Rafa dan Zely menuju kasir untuk membayar semua tagihan belanjaan. Rafa menyodorkan satu lembar kartu sebagai alat bayar.


“Terimakasih, Mbak,” ucapnya setelah transaksi selesai dan membawa semua paperbag yang berisi barang-barang belanjaan.


Sampai di luar toko, Zely malah terkekeh sendiri melihat Rafa yang meneteng barang belanjaan di tangan kanan dan kiri dia. Maaf, bukan meledek, ia lebih merasa seperti benar-benar jadi seorang istri. Ya, meskipun istri benaran, tapi nggak pake cinta.


“Kenapa kamu?”


“Aku nggak maksa kamu beli semua ini, loh, Rafa. Jadi, jangan ngeluh, ya … kalau kamu capek atau kesal bawanya.”


“Siapa yang ngeluh? Aku tahu tangan kamu masih belum pulih, makanya mode pasrah ditindas begini.”


Tawa Zely terhenti seketika. Yang awalnya sudah jalan duluan, kini balik dan berdiri dihadapan Rafa.


“Kapan aku menindasmu?” Zely tak terima dengan tuduhan Rafa.


“Nggak bisa bantu bawain, tapi setidaknya bisa, kan, jalan bareng? Ya, biar kesannya aku nggak kayak kang bawa-bawa barang gitu loh.”

__ADS_1


Zely tak menanggapi perkataan Rafa, tapi hanya membalas dengan senyuman simpul. Kemudian berdiri di samping Rafa, agar bisa jalan bareng.


Rasanya tuh jadi aneh. Emosinya seolah mode anjlok dengan sikap Rafa yang menurutnya terlalu jadi baik. Padahal sebelumnya seakan menyulut emosinya terus.


__ADS_2